Rangkuman Berita Utama Timteng  Senin 30 Desember  2024

Jakarta, ICMES. Pemimpin pemerintahan baru Suriah, Abu Muhammad al-Julani, yang belakangan menggunakan nama Ahmed Al-Sharaa, menyatakan negaranya ingin menjalin hubungan dengan Iran, namun harus didasari apa yang disebutnya “kedaulatan” dan “tidak adanya campur tangan dalam urusan” Suriah.

Ledakan di dekat Damaskus, ibu kota Suriah, menjatuhkan banyak korban tewas.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) melaporkan sedikitnya 11 orang tewas dalam ledakan di gudang senjata dekat ibu kota, Damaskus, pada hari Minggu, beberapa pekan setelah kejatuhan pemerintahan Bashar al-Assad.

Gerakan Perlawanan Palestina, Hamas, menyatakan pihaknya“menantikan hasil positif dan bukan pesan positif dari pemerintah AS mengenai gencatan senjata di Jalur Gaza.”

Berita selengkapnya:

Al-Julani Mengaku Ingin Jalin Hubungan Baik dengan Iran

Pemimpin pemerintahan baru Suriah, Abu Muhammad al-Julani, yang belakangan menggunakan nama Ahmed Al-Sharaa, menyatakan negaranya ingin menjalin hubungan dengan Iran, namun harus didasari apa yang disebutnya “kedaulatan” dan “tidak adanya campur tangan dalam urusan” Suriah.

“Suriah tidak dapat melanjutkan tanpa hubungan dengan negara regional besar seperti Iran, namun harus didasarkan pada rasa saling hormat atas kedaulatan kedua negara dan tidak ada campur tangan dalam urusan internal kedua negara,” ungkapnya dalam wawancara dengan stasiun saluran Al Arabiya milik Arab Saudi yang disiarkan pada hari Minggu (29/12.

“Saya berharap Teheran akan mempertimbangkan kembali campur tangannya di kawasan dan mempertimbangkan kembali kebijakannya,” sambungnya.

Dia juga menambahkan bahwa “banyak sekali orang yang menginginkan peran positif Iran di kawasan.”

Dia menyebutkan bahwa Departemen Operasi Militer “menjalankan tugasnya terkait markas-markas Iran meskipun ada luka.”

“Kami mengharapkan pernyataan positif dari Teheran,” ujarnya.

Dia menekankan bahwa pihaknya tidak ingin Rusia keluar dengan cara yang tidak sesuai dengan hubungannya dengan Suriah.

 “Rusia adalah negara terkuat kedua di dunia dan memiliki kepentingan yang besar,” tuturnya, sembari menilai Damaskus mempunyai kepentingan strategis dengan Moskow.

Dia juga berharap pemerintahan presiden terpilih AS Donald Trump bersedia mencabut sanksi yang dijatuhkan terhadap Suriah pada masa pemerintahan Presiden terguling Bashar al-Assad.

Al-Julani menyebut pernyataan Saudi baru-baru ini mengenai Suriah sebagai hal yang “sangat positif,” dan menjelaskan bahwa “Kerajaan mengupayakan stabilitas Suriah, dan memiliki peran besar dalam masa depan negaranya.”

Dua hari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah klaim Liga Arab bahwa Iran mencampuri urusan Suriah.

“Sebagaimana Anda, kami juga menginginkan stabilitas, ketenangan, dan pencegahan kekacauan dan gangguan di Suriah karena alasan yang sangat jelas,” tulis Araghchi dalam sebuah posting berbahasa Arab di akun X miliknya pada hari Jumat (27/12).

Araghchi menyebutkan adanya sembilan alasan Teheran menginginkan stabilitas di Suriah, antara lain demi terjaganya integritas teritorial Suriah, keamanan semua kelompok etnis dan agama, dan kehormatan tempat-tempat suci, serta pencegahan kepemilikan senjata ilegal. (raialyoum/alalam)

Ledakan di Dekat Damaskus Tewaskan Belasan Orang

Ledakan di dekat Damaskus, ibu kota Suriah, menjatuhkan banyak korban tewas.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) melaporkan sedikitnya 11 orang tewas dalam ledakan di gudang senjata dekat ibu kota, Damaskus, pada hari Minggu, beberapa pekan setelah kejatuhan pemerintahan Bashar al-Assad.

SOHR menyebutkan ledakan itu terjadi di kawasan industri di Adra, sekitar 30 kilometer dari Damaskus, dan “kemungkinan” disebabkan oleh pemboman Israel.

Seorang pejabat anonim di daerah dekat lokasi kejadian mengatakan kepada AFP bahwa “ledakan yang tidak diketahui asalnya” mengguncang kawasan industri Adra, dan mencatat bahwa sejumlah korban jatuh, dan operasi penyelamatan terus berlanjut.

Direktur SOHR, Rami Abdel Rahman, mengatakan kepada AFP, “Setidaknya 11 orang tewas dalam ledakan yang kemungkinan besar disebabkan oleh pemboman Israel yang menyasar gudang senjata milik pasukan rezim di dekat kota industri di Adra.”

Sumber militer Israel membantah dugaan itu dengan mengatakan, “Kami tidak mengetahui adanya serangan tentara Israel di wilayah tersebut. Tentara Israel tidak menyerang daerah tersebut.”

Abdul Rahman menambahkan bahwa korban tewas “kebanyakan adalah warga sipil”. Menurutnya, sejak penggulingan Assad, beberapa warga sipil di Suriah yang miskin telah menuju ke bekas lokasi militer untuk mencari “apa pun yang bisa mereka jual,” termasuk logam.

Israel melakukan ratusan serangan udara terhadap fasilitas militer Suriah setelah faksi bersenjata yang dipimpin oleh Hay’at Tahrir al-Sham menggulingkan Assad pada tanggal 8 Desember. Israel beralasan bahwa hal ini bertujuan mencegah fasilitas tersebut jatuh ke tangan musuh. (raialyoum)

Hamas: Israel Menolak Keluar Secara Penuh dari Gaza

Gerakan Perlawanan Palestina, Hamas, menyatakan pihaknya“menantikan hasil positif dan bukan pesan positif dari pemerintah AS mengenai gencatan senjata di Jalur Gaza.”

Pemimpin Hamas, Osama Hamdan, dalam pernyataan televisi pada hari Sabtu (29/12) mengatakan, “Israel menolak penarikan penuh dari Jalur Gaza dan penghentian operasi militer dalam perundingan.” Dia menuduh Israel berbelit dan berbalik arah di setiap tahap perundingan mengenai apa yang semula sudah disepakati.

Hamdan menekankan bahwa Hamas “bersikap sangat lentur terkait tawanan dengan syarat agresi Israel dihentikan dan dilakukan penarikan pasukan secara komprehensif serta dilakukannya bantuan dan rekonstruksi tanpa syarat.”

Dia menambahkan bahwa Hamas “melakukan kontak dengan mediator, Turki dan pihak-pihak lain, untuk memobilisasi sikap internasional yang mewajibkan rezim pendudukan melakukan gencatan senjata. Musuh mengatakan bahwa mereka belum siap untuk sepenuhnya menarik diri dari Jalur Gaza dan menghentikan agresi. Musuh berkutat pada dua poin ini.”

Sabtu lalu, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membantah laporan bahwa Israel dan gerakan Hamas mendekati kesepakatan penyanderaan terbatas sebagai tanda persiapan Presiden terpilih AS Donald Trump untuk memasuki Gedung Putih.  (raialyoum)