Jakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa salah besar apabila Amerika Serikat (AS), Rezim Zionis dan para sekutunya mengira bahwa resistensi telah berakhir dan bahwa Israel tidak akan termusnahkan.

Abu Muhammad al-Julani, pemimpin militan bersenjata yang menggulingkan mantan presiden Bashar al-Assad di Suriah, menyatakan Suriah tidak akan digunakan sebagai landasan peluncuran serangan terhadap Israel.
Pengamat politik Irak Haitham Al-Khazali menegaskan bahwa keputusan yang dikeluarkan oleh pengadilan Irak terhadap teroris Abu Muhammad al-Julani tidak akan dibatalkan bahkan jika ada visi internasional untuk mencabut sanksi terhadapnya.
Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, menyatakan pihaknya telah “meledakkan sebuah rumah jebakan untuk pasukan pendudukan yang terdiri dari 11 tentara di tengah kamp pengungsi Jabalia, Jalur Gaza utara, hingga menyebabkan mereka tewas dan luka.”
Berita selengkapnya:
Ayatullah Khamenei: Israel Tetap akan Musnah, dan Salah Besar Anggapan Resistensi Telah Padam
Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa salah besar apabila Amerika Serikat (AS), Rezim Zionis dan para sekutunya mengira bahwa resistensi telah berakhir dan bahwa Israel tidak akan termusnahkan.
“Di kawasan (Timteng) ini, dengan adanya gerakan yang dilakukan di Suriah, dan dengan kejahatan yang sedang dilakukan oleh Rezim Zionis, dan juga kejahatan yang sedang dilakukan oleh Amerika, serta bantuan-bantuan yang diberikan oleh sebagian orang kepada mereka, mereka mengira bahwa isu perlawanan sudah berakhir. Mereka salah besar,” ungkapnya dalam kata sambutan pada sebuah pertemuan dengan kaum wanita Iran menjelang peringatan hari milad putri Nabi saw, Sayyidah Fatimah al-Zahra as, di Teheran, Selasa (17/12).
“Ruh Sayyid Hassan Nasrallah (mantan Sekjen Hizbullah) dan Yahya Sinwar (mantan kepala Biro Politik Hamas) tetap hidup,” lanjutnya.
Ayatullah Khamenei menjelaskan, “Kesyahidan tidak membuat keduanya keluar dari arena eksistensi. Raga merekalah yang pergi, sedangkan ruh dan pikiran mereka tetap ada, dan jalan mereka pun berlanjut. Anda melihat Gaza setiap hari diserang dan jatuh korban syuhada, tapi mereka (para pejuang) tetap bertahan, bangkit kembali dan terus melawan.”
Dia menambahkan, “Lebanon pun juga masih melawan. Rezim Zionis tentu saja menyiapkan diri untuk mengepung Hizbullah melalui Suriah dan berkhayal dapat memberantasnya. Tapi ketahuilah bahwa pihak yang akan terberantas adalah Israel.
Pemimpin Besar Iran menyatakan optimismenya bahwa para pejuang perlawanan akan mengalami masa di mana “musuh yang jahat akan terinjak di bawah kaki mereka.”
Di bagian lain kata sambutannya, Ayatullah Khamenei memuji peran perempuan Iran dalam kemenangan Revolusi Islam 1979 serta dalam perang Iran-Irak pada tahun 1980-an dan pembelaan tempat-tempat suci di Suriah dan Irak. Dia juga mengapresiasi kegiatan perempuan di arena politik, internasional, dan ilmiah.
Ayatullah Khamenei menyebutkan bahwa musuh menggunakan metode lunak seperti propaganda, dan slogan-slogan yang menggoda namun palsu, setelah mereka menyadari Iran tidak dapat dikalahkan melalui dengan cara-cara paksa seperti perang dan pemboman.
Dia mengimbau kaum perempuan untuk waspada terhadap “godaan, metode jahat, dan perang lunak ” yang bertujuan menyimpangkan mereka dari nilai-nilai.
Ayatullah Khamenei menekankan bahwa Sayyidah Fatimah as merupakan teladan abadi bagi setiap wanita Muslim dalam ibadah, politik, pendidikan dan kehidupan, serta merupakan sosok yang telah menyertai ayahandanya, Rasulullah saw, di masa-masa sulit, serta suaminya, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra, dalam perjuangan.
Dia menyebutkan bahwa putri Rasulullah itu adalah wanita yang ibadahnya menakjubkan para malaikat serta merupakan sosok orator yang fasih dan penebar nasihat yang berpengaruh. (alam)
Al Julani: Suriah Tidak akan Dipakai untuk Serangan terhadap Israel
Abu Muhammad al-Julani, pemimpin militan bersenjata yang menggulingkan mantan presiden Bashar al-Assad di Suriah, menyatakan Suriah tidak akan digunakan sebagai landasan peluncuran serangan terhadap Israel. Dia juga mengaku berkomitmen pada perjanjian tahun 1974 yang menetapkan zona demiliterisasi di wilayah Suriah sebagai penyangga antara kedua negara.
“Kami berkomitmen pada perjanjian tahun 1974, dan siap mengembalikan (para pemantau) PBB,” kata Julani kepada surat kabar Inggris The Times, mengacu pada pasukan penjaga perdamaian yang menjaga zona demiliterisasi bersama pasukan Suriah.
“Kami tidak menginginkan konflik apa pun baik dengan Israel atau siapa pun, dan kami tidak akan membiarkan Suriah digunakan sebagai landasan peluncuran untuk serangan. Rakyat Suriah butuh istirahat, serangan harus diakhiri, dan Israel harus mundur ke posisi sebelumnya,” sambungnya.
Julani menilai Israel berhak menyerang pasukan yang didukung Iran sebelum jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad awal bulan ini, tapi tidak memiliki dasar yang sah untuk terus beroperasi di Suriah.
Seperti diketahui, dalam beberapa minggu sejak rezim Assad jatuh, Israel telah menyerang dan menghancurkan sebagian besar aset militer Suriah dengan dalih kuatir digunakan oleh kelompok-kelompok bersenjata. Israel juga mengambil alih kendali zona penyangga.
Kepada wartawan di markas perdana menteri di Damaskus, al-Julani mengatakan faksi pemberontak di Suriah akan dibubarkan, dan para pejuang mereka akan ditempatkan di bawah kementerian pertahanan.
Menurut The Times, Al-Julani mengecilkan prospek Suriah jika dijalankan oleh hukum Islam. Dia berjanji melindungi hak-hak minoritas, dan menyerukan pencabutan sanksi agar para pengungsi dapat pulang.
Al-Assad yang telah lama berkuasa dan bersekutu dengan Iran digulingkan dalam serangan kilat selama 11 hari yang dipelopori oleh kelompok Islam Sunni Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), yang para militan dan sekutunya menyerbu dari barat laut Suriah dan memasuki ibu kota Damaskus pada tanggal 8 Desember.
Al-Julani, yang belakangan menggunakan Ahmad al-Sharaa, pada hari Senin di saluran Telegram HTS mengatakan bahwa semua faksi pemberontak “akan dibubarkan dan para pejuang dilatih untuk bergabung dengan jajaran kementerian pertahanan,” dan “semua akan tunduk pada hukum.”
Irak Tidak akan Mencabut Status Buron Al-Julani
Pengamat politik Irak Haitham Al-Khazali menegaskan bahwa keputusan yang dikeluarkan oleh pengadilan Irak terhadap teroris Abu Muhammad al-Julani tidak akan dibatalkan bahkan jika ada visi internasional untuk mencabut sanksi terhadapnya.
Menurutnya, pemerintah Irak tidak akan dapat berinteraksi dengan rezim baru Suriah karena HTS dan al-Julani sejauh ini masih masuk dalam daftar teroris, dan pemerintah Irak berkomitmen terhadap klasifikasi internasional.
Pengadilan Irak menjatuhkan hukuman mati secara in absensia terhadap Abu Muhammad al-Julani atas tuduhan terorisme dan pembunuhan warga Irak, dan dia masih berstatus sebagai buronan pengadilan Irak. (alalam/ti)
Brigade al-Qassam Ledakkan Rumah yang Didalamnya Terdapat Belasan Tentara Zionis
Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, menyatakan pihaknya telah “meledakkan sebuah rumah jebakan untuk pasukan pendudukan yang terdiri dari 11 tentara di tengah kamp pengungsi Jabalia, Jalur Gaza utara, hingga menyebabkan mereka tewas dan luka.”
Brigade Al-Qassam dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (17/12) juga mengumumkan para pejuangnya “dapat bertempur dengan pasukan Zionis di sebelah barat kamp Jabalia, dan melenyapkan 3 tentara dari jarak dekat, dan helikopter terlihat mengevakuasi korban tewas dan terluka.”
Brigade Al-Qassam hampir setiap hari mengumumkan serangannya terhadap tentara pendudukan dan kendaraan militer yang memasuki Jalur Gaza, dan mendokumentasikan beberapa operasi ini dengan audio dan video, sementara Tel Aviv, menurut para pengamat, menyembunyikan jumlah korban tewas dan terluka sebenarnya di pihak tentara Zionis di Jalur Gaza, yang mulai diserang pada 27 Oktober 2023. (alalam)







