Jakarta, ICMES. Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Mayjen Hossein Salami menyuarakan kembali prediksi Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei yang disampaikan beberapa hari lalu bahwa Suriah pada akhirnya akan bebas dari pendudukan di tangan para pemuda Suriah sendiri.

Rezim Zionis Israel menyetujui rencana penambahan jumlah pemukim Zionis di wilayah pendudukan di Dataran Tinggi Golan, beberapa hari setelah merebut lebih banyak wilayah Suriah menyusul penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Berita selengkapnya:
Ulangi Penyataan Ayatullah Khamenei, Panglima IRGC: Suriah akan Bebas
Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Mayjen Hossein Salami menyuarakan kembali prediksi Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei yang disampaikan beberapa hari lalu bahwa Suriah pada akhirnya akan bebas dari pendudukan di tangan para pemuda Suriah sendiri.
Dalam sebuah upacara pada hari Minggu (15/12), Salami mengatakan bahwa kekuatan asing saat ini mencabik-cabik Suriah seperti “serigala lapar” di mana pasukan Zionis beroperasi di selatan dan yang lain di utara dan timur Suriah.
“Zionis dapat melihat keluarga-keluarga di Damaskus dengan mata telanjang, ini benar-benar tidak dapat ditoleransi. Kita harus berdiri teguh, dan seperti yang dikatakan Pemimpin Besar kita, Suriah akan terbebas, dengan izin Allah, melalui para pemudanya yang kuat dan berpengalaman,” ungkap Salami.
Ayatullah Khamenei pada hari Rabu lalu menyatakan kaum muda Suriah akan bangkit berjuang melawan dan mengatasi situasi sebagaimana telah juga telah dilakukan oleh para pemuda Irak.
“Wilayah pendudukan Suriah akan dibebaskan oleh pemuda Suriah yang bersemangat. Jangan ragu bahwa ini akan terjadi,” tegas Ayatullah Khamenei.
Dia juga mengatakan, “Pijakan Amerika juga tidak akan bertahan lama. Dengan daya dan kekuatan ilahi, AS juga akan terusir dari kawasan (Timur Tengah) oleh front perlawanan.”
Salami juga memperingatkan bahwa Zionis akan membayar harga yang mahal atas aksi ilegal mereka di Suriah.
“Mereka akan dikubur di tanah ini, meski ini membutuhkan waktu,” katanya.
Panglima tertinggi IRGC menjelaskan bahwa di masa pemerintahan presiden terguling Bashar al-Assad, penasihat militer Iran pergi ke Suriah demi menjaga martabat Suriah, bukan untuk mengejar aneksasi atau ambisi
Dia memastikan bahwa selama kehadiran penasihat militer Iran di Suriah, rakyat negara ini menjalani kehidupan yang bermartabat.
Iran adalah negara pertama yang bergegas membantu Suriah ketika negara ini mulai dilanda pemberontakan dan terorisme yang disponsori asing pada tahun 2011.
Pada tahun 2017, pasukan Suriah yang didukung oleh Iran dan Rusia, berhasil mengalahkan kawanan teroris ISIS. Namun, bagian utara Suriah tetap berada di bawah kendali militan dan pasukan pendudukan asing.
Pada tanggal 27 November 2024, militan yang didukung asing, yang dipimpin oleh Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), mengumumkan jatuhnya pemerintahan Presiden Bashar al-Assad setelah serangan cepat selama dua minggu.
Tak lama kemudian, Israel gencar membombardir infrastruktur Suriah dan memperluas pendudukannya di negara Arab ini.
Beberapa negara regional mengatakan Israel memanfaatkan kekacauan di Suriah untuk merebut lebih banyak wilayah. (presstv)
Israel Setujui Rencana Peningkatan Jumlah Pemukim Zionis di Golan
Rezim Zionis Israel menyetujui rencana penambahan jumlah pemukim Zionis di wilayah pendudukan di Dataran Tinggi Golan, beberapa hari setelah merebut lebih banyak wilayah Suriah menyusul penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pemerintah Israel “dengan suara bulat telah menyetujui pengembangan demografis” wilayah pendudukan, dan akan berupaya menggandakan populasi Israel di sana.
Rencana baru tersebut hanya berlaku untuk sebagian Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel sejak 1967. Pada 1981, Knesset Israel bergerak untuk memberlakukan hukum Israel atas wilayah tersebut, dalam aneksasi yang efektif.
Rencana tersebut tidak terkait dengan sebagian tanah Suriah yang direbut Israel setelah al-Assad digulingkan seminggu yang lalu. Daerah yang direbut, yang telah didemiliterisasi sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai setelah perang 1973, juga mencakup Gunung Hermon yang menghadap ke ibu kota Suriah, Damaskus.
Dalam sebuah pernyataan, Netanyahu memuji rencana tersebut, yang menyediakan lebih dari 40 juta shekel ($11 juta) untuk meningkatkan populasi pemukim Zionis.
Sudah ada sekitar 31.000 pemukim Israel yang tersebar di puluhan pemukiman ilegal di Dataran Tinggi Golan. Mereka tinggal bersama kelompok minoritas, termasuk Druze, yang sebagian besar mengidentifikasi diri sebagai warga Suriah.
“Memperkuat Golan berarti memperkuat Negara Israel, dan itu sangat penting saat ini. Kami akan terus mempertahankannya, membuatnya berkembang, dan menetap di sana,” kata Netanyahu.
Pendudukan Israel atas Dataran Tinggi Golan merupakan tindakan ilegal di mata hukum internasional. Meski demikian, Presiden terpilih AS Donald Trump selama masa jabatan pertamanya, dari tahun 2017 hingga 2021, telah menjadikan AS sebagai negara pertama di dunia yang secara resmi mengakui kedaulatan Israel atas wilayah pendudukan tersebut.
Trump akan kembali menjabat pada tanggal 20 Januari setelah memenangkan pemilihan presiden AS pada bulan November.
Netanyahu tampak menggunakan momen ini untuk mengumumkan lebih banyak aktivitas permukiman demi memperkuat pendudukan dan menjadikannya permanen. Hal yang sama juga dia dilakukan di wilayah pendudukan Tepi Barat di mana Israel melakukan perampasan tanah, memperbanyak permukiman, dan melakukan pendudukan permanen.
Di tengah kondisi ini, penguasa baru Suriah secara de facto telah memecah kebungkamannya terkait dengan serangan berkelanjutan Israel terhadap Suriah, dengan mengatakan bahwa Damaskus enggan berkonflik dengan Tel Aviv.
“Kami tidak akan terlibat dalam konflik dengan Israel,” kata pemimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS) Ahmed al-Sharaa di TV Suriah pada hari Sabtu (14/12), dengan dalih bahwa negara Suriah sedang lemah.
Pendiri cabang Al-Qaeda di Suriah dan mantan wakil komandan ISIS itu juga mengatakan bahwa Israel tidak lagi memiliki alasan untuk menyerang Suriah karena “Hizbullah dan Iran sudah tidak ada lagi.”
Namun,al-Sharaa, yang dikenal dengan nama samaran Abu Mohammad al-Julani, terlihat enggan menyinggung sejumlah serangan Israel terhadap industri militer Suriah, yang menghancurkan angkatan laut Suriah, menduduki wilayah yang sangat luas di Dataran Tinggi Golan, dan rencananya untuk tetap berada di sana “hingga musim dingin.”
Dia mengatakan bahwa HTS dan sekutunya “tidak bermusuhan dengan masyarakat Iran,” namun juga menyatakan bahwa serangan yang didukung AS dan Turki dan menggulingkan pemerintahan Assad di Suriah merupakan “kemenangan atas proyek politik Iran yang berbahaya di kawasan.” (aljazeera)







