Jakarta, ICMES. Seorang pejabat Israel pada Ahad malam (20/10) menyatakan Tel Aviv sedang bersiap melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran sebagai tanggapan atas serangan balasan Iran beberapa pekan lalu.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam sebuah wawancara dengan NTV Turki memperingatkan bahwa Iran telah “mengidentifikasi semua targetnya” di wilayah pendudukan untuk serangan balasan terhadap Israel.
Tentara Israel mengumumkan keterbunuhan seorang “komandan brigade” berpangkat kolonel, yang merupakan pengumuman pertama bagi perwira berpangkat ini, sejak dimulainya pertempuran darat di Jalur Gaza pada bulan Oktober 2023.
Media Israel melaporkan bahwa 26 tentara Israel terluka selama 24 jam terakhir, dan sebagian besar dari mereka terluka dalam bentrokan di perbatasan dengan Lebanon.
Berita selengkapnya:
Israel Mengaku Siap Melancarkan Serangan Besar terhadap Iran
Seorang pejabat Israel pada Ahad malam (20/10) menyatakan Tel Aviv sedang bersiap melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran sebagai tanggapan atas serangan balasan Iran beberapa pekan lalu.
Seperti diketahui Iran telah menembakkan sekitar 180 rudal ke Israel pada awal Oktober ini, dan sejak itu Iran mengantisipasi kemungkinan serangan Israel terhadapnya.
Iran mengatakan bahwa serangannya merupakan balasan atas pembunuhan Israel terhadap Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran, dan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah di Beirut, selain “pembantaian berkelanjutan” Israel di Jalur Gaza dan Lebanon.
Dikutip Otoritas Penyiaran Israel, seorang pejabat anonim Israel mengatakan, “Israel sedang bersiap melakukan serangan besar terhadap Iran, dan persiapan ini termasuk memperkuat pertahanan untuk mengantisipasi kemungkinan tanggapan Iran.”
Dia menambahkan, “Kabinet (kabinet) keamanan akan bertemu di markas besar Kementerian Pertahanan di Tel Aviv pada Minggu malam ini, dan kemungkinan besar selama pertemuan tersebut Perdana Menteri (Benjamin) Netanyahu dan Menteri Pertahanan (Yoav) Gallant akan hadir untuk membuat keputusan mengenai waktu dan cara pelaksanaan serangan.”
Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam sebuah wawancara dengan NTV Turki memperingatkan bahwa Iran telah “mengidentifikasi semua targetnya” di wilayah pendudukan untuk serangan balasan terhadap Israel.
“Setiap serangan terhadap Iran berarti melewati batas merahnya. Kami tidak akan membiarkannya tanpa balasan. Balasan yang diperlukan akan diberikan atas setiap serangan terhadap fasilitas nuklir Iran atau serangan serupa,” katanya.
Dia juga mengatakan, “Sekarang, kami telah mengidentifikasi semua target kami di sana (di wilayah pendudukan Palestona) dan serangan serupa akan dilakukan terhadap mereka.”
Araghchi juga sempat berbicara mengenai operasi serangan rudal Iran pada tanggal 1 Oktober terhadap pangkalan militer, spionase, dan intelijen Israel yang dilakukan sebagai tanggapan terhadap tindakan pembunuhan terhadap para pemimpin utama front perlawanan.
Dalam operasi tersebut, katanya, 90 persen rudal Iran mengenai sasarannya, yang hanya berupa fasilitas militer, bukan fasilitas ekonomi atau sipil.
Sejak awal Oktober 2023, Israel telah melancarkan agresi brutal di dua front yang sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 42.519 orang di Jalur Gaza dan 2.448 lainnya di Lebanon.
Selama periode yang sama, Israel juga telah membunuh beberapa pemimpin perlawanan, termasuk Yahya Sinwar, pemimpin Hamas.
Araghchi mengatakan kesyahidan Sinwar tidak akan menghentikan aktivitas Hamas, melainkan justru akan memperkuat tekad kelompok tersebut dan memotivasi pemuda Palestina.
Dia mengecam dukungan AS terhadap Israel, dengan mengatakan rezim tersebut tidak dapat hidup dan melakukan kejahatan di Gaza dan Lebanon tanpa bantuan Washington.
“Jika Amerika memiliki kemauan politik yang nyata, mereka akan dapat menghentikan serangan dan menghentikan Israel,” tegasnya.
“Bagi kami, AS adalah sekutu Zionis. Jika perang berskala besar meletus di kawasan, AS akan terseret ke dalamnya, sesuatu yang sama sekali tidak kami inginkan,” sambungnya.
Menlu Iran memperingatkan bahwa perang dapat menyebar ke negara-negara Teluk Persia, namun dia juga mengatakan “masih ada peluang untuk diplomasi; kita tidak dapat menyerahkan segalanya pada kemauan satu orang di rezim Zionis.” (mm/raialyoum/presstv)
Petama Kali dalam Perang Gaza, Israel Aku Tewasnya Komandan Berpangkat Kolonel
Tentara Israel pada Minggu malam (20/10) mengumumkan keterbunuhan seorang “komandan brigade” berpangkat kolonel, yang merupakan pengumuman pertama bagi perwira berpangkat ini, sejak dimulainya pertempuran darat di Jalur Gaza pada bulan Oktober 2023.
Tentara Israel dalam sebuah statemen singkat menyatakan, “Kolonel Ihsan Daqsa (41 tahun) terbunuh dalam salah satu pertempuran yang terjadi di Jalur Gaza utara. Dia adalah komandan Brigade 401.”
Ihsan Daqsa tercatat sebagai komandan brigade pertama berpangkat kolonel yang kematiannya diumumkan tentara Zionis dalam pertempuran di Jalur Gaza, yang menjadi sasaran perang genosida Israel dengan dukungan AS sejak 7 Oktober 2023.
Surat kabar swasta Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Kolonel Daqsa tewas akibat sebuah tank diledakkan oleh alat peledak dalam pertempuran di Jabalia, utara Jalur Gaza.
Pada tanggal 5 Oktober, tentara Israel memulai pemboman yang belum pernah terjadi sebelumnya di kamp dan kota Jabalia serta wilayah yang luas di Jalur Gaza utara.
Pada hari berikutnya, mereka mengumumkan invasi militer dengan dalih “mencegah gerakan Hamas mendapatkan kembali kekuasaannya di wilayah tersebut,” sementara pihak Palestina mengatakan bahwa Israel berupaya menggusur warga dan menduduki wilayah tersebut melalui pemboman, pelaparan, dan blokade ketat.
Dengan terbunuhnya Kolonel Daqsa, jumlah kematian di pihak militer Israel sejak 7 Oktober 2023 bertambah menjadi 749, sementara 4.995 orang terluka, di Gaza, Tepi Barat, dan di bagian utara Israel (dalam perang melawan Hizbullah di Lebanon selatan), menurut data dari militer Israel, yang bahkan oleh publik Israel sendiri dituduh menyembunyikan jumlah korban yang lebih besar.
Perang genosida Israel di Gaza mengakibatkan lebih dari 142.000 orang Palestina menjadi gugur dan terluka, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan kaum perempuan, dan lebih dari 10.000 orang hilang, di tengah kehancuran besar-besaran dan kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak, dalam salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia. (raialyoum)
Tentara Israel Nyatakan Puluhan Anggotanya Terluka dalam Pertempuran dengan Hizbullah
Media Israel melaporkan bahwa 26 tentara Israel terluka selama 24 jam terakhir, dan sebagian besar dari mereka terluka dalam bentrokan di perbatasan dengan Lebanon.
Dilaporkan bahwa 23 dari 26 tentara itu terluka di perbatasan dengan Lebanon, sementara 3 lainnya di Gaza.
Hizbullah terus meningkatkan frekuensi tembakannya ke arah wilayah utara Palestina pendudukan, khususnya Haifa dan Safed, bersamaan dengan serangan terhadap konsentrasi tentara pendudukan dan pemukiman di garis depan di bagian selatan Lebanon.
Serangan itu dilakukan Hizbullah untuk mendukung keteguhan rakyat Palestina di Jalur Gaza dan perlawanan para pejuangg Palestina, membela negara dan rakyat Lebanon, dan untuk membalas serangan Israel terhadap desa-desa dan rumah-rumah penduduk.
Tiga hari yang lalu, media Israel melaporkan bahwa drone Hizbullah menyerang sekelompok tentara Israel di perbatasan dengan Lebanon selatan, dalam sebuah insiden yang mereka sebut “berat” dan mengakibatkan 31 tentara terluka.
Pusat Komando Operasi Hizbullah dalam sebuah pernyataan beberapa hari yang lalu mengumumkan peralihan ke “fase baru, dan eskalasi dalam konfrontasi dengan Israel akan terjadi dalam beberapa hari mendatang. ”
Hizbullah mencatat jumlah korban di pihak militer Israel sejak dimulainya operasi darat, yaitu sekitar 55 orang tewas dan lebih dari 500 orang terluka, termasuk perwira dan tentara, dan sebanyak 20 unit tank Merkava hancur. (railayoum)







