Jakarta, ICMES. Sekjen Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah, menyatakan bahwa tragedi dan aksi pembantaian yang dilakukan pasukan Zionis Israel di Rafah, selatan Jalur Gaza, merupakan satu pelajaran bagi orang yang menggantungkan harapan pada khalayak dan hukum internasional untuk melindungi Lebanon dari agresi Israel.

“Apakah Mesir diuntungkan oleh terowongan Gaza sebagai terowongan untuk kemungkinan serangan terhadap kita?” Pertanyaan ini menjadi julud pada artikel di situs berita Israel Nziv, yang mengklaim bahwa ada kaitan antara terowongan Gaza dan tentara Mesir.
Tiga tentara Israel tewas dan 10 lainnya terluka, beberapa di antaranya parah, dalam dua serangan para pejuang Palestina di kota Rafah di bagian selatan Jalur Gaza.
Berita selengkapnya:
Sayid Nasrallah: Pembantaian di Rafah Pelajaran bagi Orang yang Gantungkan Harapan kepada Khalayak Dunia
Sekjen Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah, menyatakan bahwa tragedi dan aksi pembantaian yang dilakukan pasukan Zionis Israel di Rafah, selatan Jalur Gaza, merupakan satu pelajaran bagi orang yang menggantungkan harapan pada khalayak dan hukum internasional untuk melindungi Lebanon dari agresi Israel.
Dalam pidato Nasrallah yang disiarkan televisi pada peringatan tiga hari wafat ibunya, Selasa (28/5), Sayyid Nasrallah menekankan bahwa tragedi itu “menegaskan kebrutalan dan pengkhianatan musuh,” dan bahwa “kita menghadapi musuh yang tak punya nilai atau moral, dan bahkan melampaui Nazi” serta “menghilangkan semua kosmetik palsu,” yang bertujuan mengesankan Israel sebagai “entitas yang beradab.”
Pemimpin Hizbullah menekankan keharusan mengutuk pembantaian itu, yang juga harus menjadi alasan kuat bagi dunia untuk memberikan tekanan demi menghentikan agresi terhadap Jalur Gaza, dan “harus menyadarkan semua orang yang lalai dan diam di dunia ini. ”
“Pembantaianoleh Israel itu hendaklah menjadi pelajaran bagi kita, dan bagi mereka yang bertaruh pada komunitas internasional dan hukum internasional untuk melindungi Lebanon (dari agresi Israel),” ujarnya, sebagai tanggapan terhadap suara-suara internal di Lebanon yang menyerukan kepada Hizbullah untuk menghentikan serangannya terhadap Israel agar tidak menyeret negara ini pada perang yang lebih luas.
“Israel menentang keinginan dunia, komunitas internasional, dan Mahkamah Internasional, yang memerintahkan penghentian serangan terhadap Rafah…. Lihatlah masyarakat internasional, yang tidak berdaya, lemah serta berpuas dengan sebatas mengeluarkan pernyataan keprihatinan dan kecaman,” sambungnya.
Sayid Nasrallah juga mengatakan, “Anak-anak dan ibu-ibu di Rafah berteriak di telinga semua orang yang lalai, bodoh, terputus dari kenyataan, dan menyangkal kenyataan sehari-hari.”
Israel membunuh 45 warga Palestina dan melukai 249 orang lainnya, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan perempuan, dengan serangan udara terhadap tenda-tenda pengungsi di daerah Tal al-Sultan, barat laut Rafah, pada hari Ahad lalu, meskipun lokasi yang diserang merupakan bagian dari daerah-daerah yang telah dinyatakan oleh tentara Israel sebagai kawasan yang aman bagi pengungsi.
Peristiwa itu membangkitkan kecaman internasional, namun tentara Israel malah kembali menyerang daerah Tal al-Sultan pada dini hari Selasa hingga mengakibatkan tujuh warga Palestina gugur dan beberapa lainnya luka-luka.
Tak cukup dengan itu, pada Selasa sore tentara Israel juga membunuh 21 warga Palestina dan melukai beberapa lainnya dalam pembantaian baru yang dilakukan dengan serangan udara terhadap kamp pengungsi di wilayah Al-Mawasi, wilayah utama yang diklaim sebagai “aman” mereka di awal masuknya pasukan Zionis ke Rafah pada 6 Mei lalu.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel melancarkan perang dahsyat di Gaza hingga jatuh korban jiwa dan luka sebanyak lebih dari 117.000 orang, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan wanita, dan sekira 10.000 orang hilang di tengah kehancuran besar-besaran dan kelaparan yang telah merenggut nyawa banyak anak kecil dan orang tua.
Sebagai solidaritas dengan Gaza dalam menghadapi perang ini, faksi-faksi Lebanon dan Palestina di Lebanon, terutama Hizbullah, terlibat pertempuran dengan tentara Zionis setiap hari dengan melintasi “garis biru” pemisah hingga jatuh banyak korban jiwa dan luka pada kedua belah pihak. (raialyoum)
Media Israel Kuatir Tentara Israel Serbu Tel Aviv Melalui Terowongan Bawah Tanah
“Apakah Mesir diuntungkan oleh terowongan Gaza sebagai terowongan untuk kemungkinan serangan terhadap kita?” Pertanyaan ini menjadi julud pada artikel di situs berita Israel Nziv, yang mengklaim bahwa ada kaitan antara terowongan Gaza dan tentara Mesir.
Situs berbahasa Israel itu menyebutkan bahwa pada awal perang di Gaza, sebuah terowongan besar ditemukan di Gaza utara yang dapat dilalui kendaraan orang Mesir, dan memungkinkan Hamas mempersenjatai diri
Nziv menentang keras tindakan tentara Israel menguasai poros Philadelphia. Situs ini menyatakan bahwa dimensi lain yang tidak dipertimbangkan adalah aspek militer dari terowongan yang tersebar di sepanjang perbatasan Mesir dengan Gaza, karena terowongan Hamas dapat digunakan sebagai jalan pintas penting bagi tentara Mesir untuk mencapai jantung Israel.
Menurut Nziv, dalam perang tahun 1948, tentara Israel yang baru terbentuk mampu menghentikan tentara Mesir di pinggiran kota Ashkelon setelah dihentikan oleh pemukim Kibbutz yang menghalangi mereka untuk memasuki wilayah Israel.
Nziv menyoal; “Apa yang akan terjadi jika besok sebuah divisi tentara Mesir muncul dari sebuah terowongan di Gaza utara pada tengah malam dan bergerak menuju Tel Aviv dan pangkalan udara di sana?” dan “Apa yang terjadi pada tanggal 7 Oktober akan tampak kekanak-kanakan jika dibandingkan.”
Seperti pernah diberitakan, dua hari lalu tentara Mesir mengumumkan insiden terbunuhnya satu anggotanya di tangan tentara Israel dalam kontak senjata di perbatasan Rafah, dan menyatakan adanya penyelidikan atas insiden tersebut. Upacara pemakaman tentara itu hingga tempat peristirahatan terakhirnya telah dilangsungkan.
Media Mesir mengutip pernyataan sebuah sumber bahwa setelah insiden tersebut, Kairo “memperingatkan (Israel) agar tidak membahayakan keamanan dan keselamatan personel keamanan Mesir yang ditempatkan di perbatasan”.
Gugurnya tentara Mesir itu menimbulkan kekuatiran akan pecahnya perang antara Mesir dan Israel, terlebih ketika hubungan antara keduanya mengalami ketegangan pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. (raialyoum)
Tiga Tentara Zionis Tewas dan 10 Lainnya Cedera Disergap Pejuang Gaza
Tiga tentara Israel tewas dan 10 lainnya terluka, beberapa di antaranya parah, dalam dua serangan para pejuang Palestina di kota Rafah di bagian selatan Jalur Gaza.
Media Israel pada hari Selasa (28/11) melaporkan tentara Israel mengalami dua “insiden sulit” di Rafah; pertama adalah terjadinya ledakan bom ketika tentara memasuki sebuah klinik di Rafah hingga menewaskan tiga orang dan melukai empat lainnya, sedangkan yang kedua terjadi ketika tentara Israel dijebak dan disergap di sebuah rumah sakit.
Rekaman video memperlihat pesawat-pesawat Israel mengangkut tentara pendudukan yang tewas dan terluka.
Tentara pendudukan mengakui bahwa 13 anggotanya terluka dalam pertempuran di Jalur Gaza selama beberapa jam terakhir.
Sementara itu, Hamas di hari yang sama mengutuk pembantaian Israel terhadap pengungsi di kota Rafah, selatan Jalur Gaza, dan mendesak masyarakat internasional menghentikan pelanggaran “mencolok” Israel terhadap hukum internasional.
Pada hari itu, 21 warga Palestina gugur dan beberapa lain lainnya terluka dalam pembantaian baru yang dilakukan oleh tentara Israel dengan membom sebuah kamp pengungsi di daerah Al-Mawasi di Rafah. Peristiwa ini adalah serangan ketiga kalinya terhadap tenda-tenda pengungsi dalam waktu 48 jam daerah-daerah yang pernah dinyatakan Israel sebagai kawasan yang aman bagi pengungsi.
Hamas dalam sebuah pernyataan menyebutkan Israel terus “menyerang tenda-tenda pengungsi di sebelah barat Rafah, dan melakukan pembantaian baru yang merenggut nyawa puluhan syuhada dan terluka.”
Dia menambahkan bahwa aksi itu menunjukkan bahwa Israel “secara aktif menentang keputusan Mahkamah Internasional” yang memerintahkan penghentian serangan terhadap kota Rafah. (alalam/raialyoum)







