Rangkuman Berita Utama Timteng Jumat 1 Maret 2024

Jakarta, ICMES. Para pemimpin Palestina serta berbagai negara dan lembaga dunia mengutuk pembantaian tentara Zionis Israel terhadap warga sipil Palestina  yang sedang mencari bantuan di Gaza, dalam sebuah serangan yang telah menggugurkan lebih dari 100 orang.

Badan penyiaran umum Britania Raya, BBC, membantah laporan Israel yang mengklaim bahwa serangan udara dan  darat Israel menyebabkan kematian lebih dari 10.000 pejuang Hamas.

Berita selengkapnya:

Makin Biadab, Israel Bantai Kerumunan Pencari Bantuan di Gaza, Dunia Ramai-Ramai Mengutuk

Para pemimpin Palestina serta berbagai negara dan lembaga dunia mengutuk pembantaian tentara Zionis Israel terhadap warga sipil Palestina  yang sedang mencari bantuan di Gaza, dalam sebuah serangan yang telah menggugurkan lebih dari 100 orang.

Dikutip oleh kantor berita Wafa, Kamis (29/2), kantor Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mengatakan “pembantaian buruk yang dilakukan oleh tentara pendudukan Israel” telah terjadi, menyusul laporan pada hari Kamis bahwa pasukan Israel menembaki warga penerima bantuan di barat daya Kota Gaza.

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan sedikitnya 112 orang tewas dan lebih dari 750 orang terluka, dan menyerukan komunitas internasional untuk “segera turun tangan”  mewujudkan gencatan senjata sebagai “satu-satunya cara untuk melindungi warga sipil”.

“Pembunuhan sejumlah besar korban sipil tak berdosa yang mempertaruhkan penghidupan mereka merupakan bagian integral dari perang genosida yang dilakukan oleh pemerintah pendudukan terhadap rakyat kami. Otoritas pendudukan Israel memikul tanggung jawab penuh dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan pengadilan internasional,” kata kantor Abbas.

Hamas menyebut serangan itu sebagai “pembantaian keji yang ditambah dengan serangkaian pembantaian panjang yang dilakukan oleh entitas kriminal Zionis terhadap rakyat Palestina”.

Dalam sebuah pernyataan, Hamas yang memerangi Israel di Gaza mengatakan serangan mematikan terhadap pencari bantuan  “belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kejahatan perang” dan merupakan bagian dari “perang pelaparan” Israel terhadap warga Palestina.

Mereka meminta Dewan Keamanan PBB dan negara-negara Arab untuk mengambil keputusan yang mewajibkan Israel menghentikan pembunuhan massal, pembersihan etnis, genosida dan pelanggaran hukum internasional di Gaza.

Hamas juga menyatakan pihaknya menganggap Israel dan pemerintahan AS di bawah Presiden Joe Biden bertanggung jawab atas eskalasi perang.

Tentara Israel mengklaim bahwa warga sipil di Gaza telah menyerang truk bantuan dan puluhan orang terinjak-injak, meskipun hal ini dibantah oleh keterangan saksi.

“Pada titik tertentu, truk kewalahan dan orang-orang yang mengemudikan truk, yang merupakan pengemudi sipil Gaza, menabrak kerumunan orang, yang pada akhirnya membunuh, menurut pemahaman saya, puluhan orang,” klaim juru bicara pemerintah Israel Avi Hyman kepada wartawan.

“Ini jelas sebuah tragedi, tapi kami belum yakin secara spesifik,” sambungnya.

Novelis Palestina Yusri al-Ghoul  menyaksikan kejadian tersebut  di Kamp Shati di Kota Gaza.

“Mereka (Israel) selalu mengatakan propaganda mereka… Saya mendengar mereka ketika mereka menghina kami dan meneriaki orang-orang Palestina, bahkan anak-anak… (mengatakan) kami akan membunuh kalian setiap hari,” katanya.

Dia menyoal, “(Kalau karena kepadatan), kenapa lutut dan sikunya ditembak? … Mengapa tank Israel membidik warga sipil Palestina?”

Gedung Putih mengaku sedang menyelidiki laporan penembakan Israel terhadap warga Palestina, dan menyebutnya  “insiden serius”.

“Kami berduka atas hilangnya nyawa orang tak berdosa dan mengakui situasi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza, di mana warga Palestina yang tidak bersalah hanya berusaha memberi makan keluarga mereka,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.

Biden kemudian mengatakan bahwa Washington sedang memeriksa “dua versi yang bersaing mengenai apa yang terjadi”.

Dia menambahkan bahwa pembunuhan tersebut akan membuat negosiasi gencatan senjata di Gaza menjadi lebih sulit. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller mengatakan negara ini telah meminta Israel memberikan penjelasan.

Kepala bantuan PBB Martin Griffiths mengaku terkejut atas “laporan pembunuhan dan cederanya ratusan orang”.

“Bahkan setelah hampir lima bulan terjadinya permusuhan brutal, Gaza masih memiliki kemampuan untuk mengejutkan kita. Kehidupan terkuras habis di Gaza dengan kecepatan yang mengerikan,”  kata Griffiths.  

Kemlu Mesir  mengutuk serangan itu dengan mengatakan, “Kami mengutuk tindakan tidak manusiawi yang dilakukan Israel terhadap… warga sipil Palestina yang tidak bersenjata di bundaran Nabulsi di Gaza utara,”

Mesir menyebut peristiwa itu “kejahatan yang memalukan dan  pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional.”

Kemlu Yordania juga angkat suara dengan menegaskan, “Kami mengutuk tindakan brutal pasukan pendudukan Israel yang menyasar kerumuman warga Palestina yang sedang menunggu bantuan di bundaran Nabulsi dekat Jalan Al-Rashid di Gaza.”

Kemlu Saudi menegaskan Riyadh menolak “pelanggaran hukum humaniter internasional dari pihak mana pun dan dalam keadaan apa pun”, dan menyerukan komunitas internasional untuk memaksa Israel membuka koridor kemanusiaan yang aman ke Gaza.

Wakil Perdana Menteri Belgia, Petra De Sutter, mengaku merasa “ngeri atas berita pembantaian hari ini”.

“Membunuh orang-orang yang mengantri untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan? Ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum humaniter internasional dan sepenuhnya bertentangan dengan tindakan sementara (Mahkamah Internasional),” tulis De Sutter dalam postingan media sosial.   

 Iran mengecam kebungkaman AS dan  Eropa selama ini atas  genosida  di Gaza.

“Lebih dari 100 warga Palestina yang mengantri untuk menerima bantuan kemanusiaan di Jalan al-Rashid di Gaza gugur syahid, lebih dari 800 orang terluka akibat serangan biadab rezim Zionis,” tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Nasser Kanaani  pada platform X.

Dia menambahkan, “Luka Gaza tidak akan terhapuskan dari ingatan orang-orang bebas di dunia, dan rasa malu karena mendukung dan tetap diam terhadap pembunuhan massal dan genosida warga Palestina oleh rezim kriminal Zionis akan terlihat jelas di dahi para  pembela HAM gadungan di AS dan Eropa.” (aljazeera/presstv)

Investigasi BBC Tepis Klaim Israel Bunuh 10,000 Pejuang Hamas

Badan penyiaran umum Britania Raya, BBC, membantah laporan Israel yang mengklaim bahwa serangan udara dan  darat Israel menyebabkan kematian lebih dari 10.000 pejuang Hamas.

BBC menyebutkan bahwa rincian demografi terbaru yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza, pada tanggal 29 Februari, menunjukkan bahwa lebih dari 70% korban adalah perempuan dan anak-anak.

Menurut BBC, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa “kurang dari 30%” dari para korban adalah laki-laki, dan kemungkinan besar beberapa dari mereka berusia di atas usia berperang, sehingga para ahli mempertanyakan bagaimana mungkin Israel   berhasil membunuh 10.000 pejuang Hamas.

BBC meninjau seluruh 280 video yang dipublikasikan di saluran YouTube tentara  Israel pada periode 7 Oktober 2023 hingga 27 Februari 2024, dan menemukan bahwa sedikit di antaranya berisi “bukti  visual keterbunuhan para kombatan (Hamas) di Jalur Gaza.”

BBC menunjukkan bahwa satu video diterbitkan pada tanggal 14 Desember, di mana mayat para pejuang di Jalur Gaza muncul, dan setelah dihitung di saluran  Telegram tentara Israel, ternyata ada 160 postingan yang mengklaim bahwa sejumlah pejuang telah terbunuh, sehingga total kematian menjadi 714 pejuang.

BBC juga menjelaskan bahwa ada juga 247 referensi yang menggunakan istilah seperti “banyak”, “puluhan”, atau “ratusan” yang terbunuh, sehingga tidak mungkin melakukan penghitungan keseluruhan yang berarti.

Data kematian akibat agresi saat ini, yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza, menunjukkan peningkatan tajam persentase perempuan dan anak-anak yang menjadi korban, dibandingkan dengan perang sebelumnya.

Rachel Taylor, direktur eksekutif sebuah organisasi yang berbasis di Inggris yang bertujuan  mendaftar  korban konflik kekerasan, menjelaskan, “Hampir separuh penduduk Gaza berusia di bawah 18 tahun, dan sekitar 44% kematian akibat perang adalah anak-anak.” Hal ini dikonfirmasi oleh data demografi yang dikeluarkan Kementerian Pertahanan Kesehatan pada 29 Februari.

Taylor mengatakan bahwa  Israel  secara acak membunuh warga Palestina di Jalur Gaza.

Sebaliknya, para ahli mengatakan kepada BBC bahwa jumlah sebenarnya korban tewas akibat serangan Israel mungkin “jauh lebih tinggi,” karena banyak rumah sakit, tempat pencatatan kematian biasanya, tidak lagi berfungsi.

Sebelumnya, penyelidikan Israel mengungkapkan bahwa pasukan Israel menyerang warga sipil di Gaza secara “disengaja dan diperhitungkan sebelumnya.” (raialyoum)