Jakarta, ICMES. Jet tempur pasukan Zionis Israel melancarkan sedikitnya dua serangan udara di kota pesisir Ghaziyeh di Lebanon selatan, menurut militer Israel dan media pemerintah Lebanon.

Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan pihaknya telah menyerang dua kapal AS di Teluk Aden dengan dua operasi militer menggunakan sejumlah rudal maritim.
Brasil menarik duta besarnya untuk Israel, sementara Israel mengatakan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva tidak diterima di Israel karena adanya keretakan diplomatik setelah Lula membandingkan kejahatan militer Israel di Gaza dengan Holocaust.
Berita selengkapnya:
Israel Membom Target di Kota Ghaziyeh di Lebanon Selatan, Depot Senjata Hizbullah?
Jet tempur pasukan Zionis Israel melancarkan sedikitnya dua serangan udara di kota pesisir Ghaziyeh di Lebanon selatan, menurut militer Israel dan media pemerintah Lebanon.
Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon dan Israel hampir setiap hari terlibat baku tembak di sekitar perbatasan sejak Israel melancarkan serangannya ke Gaza sebagai tanggapan atas serangan pimpinan Hamas pada 7 Oktober.
“Pesawat-pesawat tempur Israel melakukan serangan di kota Ghaziyeh,” lapor Kantor Berita Nasional (NNA) yang dikelola pemerintah pada hari Senin (19/2).
Belum jelas apakah ada korban jiwa, sedangkan korban jiwa ada sekitar 14 orang, yang sebagian besarnya adalah pekerja Suriah dan Palestina
Ghaziyeh berjarak sekitar 5 km dari kota pelabuhan selatan Sidon, dan sekitar 60 km di utara perbatasan dengan Israel.
Juru bicara militer Israel, Avichay Adraea, mengatakan “Kami membidik depot senjata Hizbullah di dekat Sidon sebagai respons terhadap ledakan pesawat (nirawak) musuh yang puing-puingnya kami temukan di dekat daerah Tiberias sore ini. Kami akan terus bertindak tegas dalam menanggapi serangan Hizbullah.”
Klaim yang sama juga dilontarkan oleh juru bicara militer Israel lainnya, Daniel Hagari, sementara hingga berita ini disusun belum ada komentar dari Hizbullah.
Dilaporkan bahwa sebuah pabrik menjadi sasaran serangan tersebut, tak lama setelah Hizbullah mengaku bertanggung jawab atas dua serangan terhadap pos-pos Israel di daerah perbatasan Shebaa Farms.
Sebuah kelompok Lebanon yang menamakan dirinya Gerakan Pemuda Lebanon dalam sebuah pernyataan membantah adanya hubungan antara pemilik perusahaan generator Infinite Power dan aktivitas apa pun yang terkait dengan senjata, amunisi, dan bahan peledak.
“Perusahaan pembangkit listrik Infinite, yang menjadi sasaran musuh Israel sore ini (Senin) di wilayah Ghaziyeh di Lebanon selatan, dan medianya mengklaim bahwa perusahaan tersebut berisi senjata dan bahan peledak, mitra utama dan manajer umumnya adalah Muhammad Hassan Laila, anggota biro politik gerakan di Kegubernuran Selatan Sejak 2017,” bunyi pernyataan itu.
Gerakan itu menegaskan kembali “penolakannya terhadap operasi kriminal yang dilancarkan oleh musuh bengis di wilayah Lebanon dan Palestina pendudukan,” dan menekankan bahwa “operasi itu tidak akan menyurutkan semangat masyarakat Lebanon untuk mempertahankan setiap inci tanah mereka”. (raialyoum/aljazeera)
Pasukan Yaman Serang Kapal AS dan Tenggelam Satu Kapal Inggris
Angkatan Bersenjata Yaman mengumumkan pihaknya telah menyerang dua kapal AS di Teluk Aden dengan dua operasi militer menggunakan sejumlah rudal maritim.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Brigjen Yahya Saree, dalam sebuah pernyataan pada Senin malam (19/2) menyatakan, “Dua kapal Amerika yang menjadi sasaran di Teluk Aden adalah Sea Champion dan Navis Fortuna.”
Dia menyebutkan bahwa empat operasi laut dan udara dilakukan oleh angkatan bersenjata Yaman dalam 24 jam terakhir.
Saree juga memastikan bahwa kapal Inggris yang menjadi sasaran telah tenggelam secara total.
“Hak penuh kami untuk mengambil tindakan militer lebih lanjut di Laut Merah dan Laut Arab untuk membela rakyat kami, negara kami, dan bangsa kami,” tegas Saree.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman bersumpah bahwa pihaknya akan terus meningkatkan operasi militer dan tidak akan berhenti sampai agresi berhenti dan blokade terhadap Gaza dicabut. (alalam)
Buntut Pernyataan Presiden Lula tentang Perang Gaza, Brasil Tarik Dubesnya dari Israel
Brasil menarik duta besarnya untuk Israel, sementara Israel mengatakan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva tidak diterima di Israel karena adanya keretakan diplomatik setelah Lula membandingkan kejahatan militer Israel di Gaza dengan Holocaust.
“Apa yang terjadi di Jalur Gaza terhadap rakyat Palestina belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Sebenarnya hal itu pernah terjadi: ketika Hitler memutuskan untuk membunuh orang-orang Yahudi,” kata Lula pada konferensi pers di sela-sela pertemuan puncak Uni Afrika di Addis Ababa pada hari Ahad.
Selama Perang Dunia II, Nazi secara sistematis membunuh enam juta orang Yahudi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut pernyataan Lula “memalukan dan serius”.
Pada hari Senin (19/2), Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz mengumumkan bahwa Lula tidak diterima di Israel sampai dia menarik kembali pernyataannya.
“Kami tidak akan melupakan atau memaafkan. Ini adalah serangan anti-Semit yang serius. Atas nama saya dan nama warga Israel, sampaikan kepada Presiden Lula bahwa dia adalah persona non grata di Israel sampai dia mengambilnya kembali,” kata Katz kepada duta besar Brazil, menurut pernyataan dari kantor Katz.
Menanggapi pernyataan itu, Kementerian Luar Negeri Brasil menyatakan akan memanggil duta besar Israel untuk Brasil, Daniel Zonshine, untuk bertemu di Rio de Janeiro.
“Dia (Menteri Luar Negeri Brasil Mauro Vieira) juga memanggil duta besar Brasil di Tel Aviv, Frederico Meyer, untuk berkonsultasi. Dia akan berangkat ke Brasil besok,” tambah Kementerian Luar Negeri pada Senin.
Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb dalam pertemuan dengan Duta Besar Duta Besar Brasil untuk Mesir, Paulino Neto, memuji sikap Brasil tersebut
Al-Tayeb dalam pertemuan di Kairo yang membahas mekanisme peningkatan kerja sama itu mengatakan bahwa sikap Brazil adil dan manusiawi terhadap orang Palestina di Gaza.
Menurutnya, ada keselarasan sikap Brasil dengan pendirian Arab dan dunia kaum merdeka, yang mengutamakan hati nurani dan kemanusiaan, dan bahwa sikap itu tidaklah asing dengan sikapBrazil dan beberapa negara Amerika Selatan, yang bertolak dari pengetahuan besar akan penderitaan rakyat Palestina. (raialyoum)







