Rangkuman Berita Utama Timteng Kamis 20 April 2023

Jakarta, ICMES. Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran Mayjen Hossein Salami menyatakan bahwa gugurnya dua orang penas ehat militer Iran di Damaskus, ibu kota Suriah, pada awal bulan ini, terbalas dengan tewasnya tujuh orang Zionis Israel dalam beberapa serangan balasan.

Wasekjen kelompok pejuang Hizbullah Lebanon, Sheikh Naim Qassem, menyebutkan kesepakatan normalisasi hubungan Iran-Saudi sebagai keputusan berani yang mengubah arah perkembangan situasi di Timur Tengah.

Kecamuk serangan udara dan artileri telah menewaskan sedikitnya 270 warga sipil dan melukai hampir 2.000 orang saat para jenderal yang bersaing di Sudan bertempur pada hari kelima.

Berita Selengkapnya:

Panglima IRGC: 7 Zionis Tewas Sebagai Balasan atas Gugurnya Penasehat Militer Iran

Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Mayjen Hossein Salami menyatakan bahwa gugurnya dua orang penas ehat militer Iran di Damaskus, ibu kota Suriah, pada awal bulan ini, terbalas dengan tewasnya tujuh orang Zionis Israel dalam beberapa serangan balasan.

Dia menyebutkan bahwa rezim Zionis berada dalam kondisi mengerikan karena terkepung dari semua sisi oleh Poros Resistensi.

“Hari ini, rezim Zionis dihantam oleh rudal dari Suriah, Lebanon dan Jalur Gaza dan, pada saat yang sama, api kemarahan berkobar dari Tepi Barat,” ujarnya, seperti dikutip Fars, Rabu (19/4).

Menurutnya, Israel telah membangun tembok di sekelilingnya dan memantau mereka dengan sensor paling kuat dan bahkan seekor binatang pun tidak dapat melintasi perbatasan, tetapi “tangan tak terlihat” yang mempersenjatai Tepi Barat dan senjata otomatis modern telah sampai ke tangan orang Palestina.

Dia mengatakan bahwa dalam seminggu terakhir, Palestina telah melakukan 165 operasi yang setengahnya adalah penembakan, dan bahwa Israel membunuh dua orang Iran di Suriah, tetapi kehilangan tujuh Zionis dalam serangan oleh “pasukan tak terlihat”.

Dia juga menyebut Israel kini semakin terisolasi.

Penasihat militer IRGC Milad Heidari dan Meqdad Mehqani gugur dalam serangan udara yang dilakukan oleh Israel di pinggiran kota Damaskus beberapa pekan lalu.

Para pejabat Iran menegaskan Teheran berhak untuk menanggapi terorisme rezim Zionis Israel pada waktu dan tempat yang tepat.

Pemerintah Iran telah berulang kali mengecam Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena bungkam di depan berlanjutnya agresi Israel terhadap Suriah.

Teheran menyebut serangan Israel terhadap penduduk sipil dan infrastruktur Suriah sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia, dan mengingatkan bahwa kelambanan Dewan Keamanan telah membuat Rezim Zionis makin bernyali untuk mempeluas agresinya.

Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi memperingatkan bahwa pasukan Iran akan menghancurkan Tel Aviv dan Haifa jika Israel melakukan kesalahan terhadap Teheran.

Presiden Iran Sayid Ibrahim Raisi dalam pidato pada parade peringatan Hari Tentara Nasional di Teheran pada hari Selasa lalu memperingatkan rezim Zionis agar tidak mengambil tindakan militer sekecil apa pun terhadap Iran.

“Musuh, terutama rezim Zionis (Israel), telah menerima pesan ini bahwa langkah sekecil apa pun terhadap negara ini  akan menimbulkan tanggapan keras dari angkatan bersenjata dan akan disertai dengan penghancuran Haifa dan Tel Aviv,” tegasnya.

Dia juga mengatakan bahwa pesan Angkatan Bersenjata Iran kepada AS ialah pasukan negara arogan ini harus meninggalkan kawasan Timteng secepat mungkin. (fna)

Hizbullah: Kesepakatan Iran-Saudi Telah Mengubah Arah Timur Tengah, Kondisi Israel Makin Kritis

Wasekjen kelompok pejuang Hizbullah Lebanon, Sheikh Naim Qassem, menyebutkan kesepakatan normalisasi hubungan Iran-Saudi sebagai keputusan berani yang mengubah arah perkembangan situasi di Timur Tengah.

 “Kami melihat kawasan sedang menuju penyelesaian, stabilitas dan solusi politik, dan di atas apa yang terjadi di kawasan ini adalah perjanjian Saudi-Iran,” ungkapnya dalam sebuah acara buka bersama di Beirut, ibu kota Lebanon, seperti dikutip Al-Alam, Rabu (19/4).

Dia menjelaskan bahwa kesepakatan itu menyerupai mimpi, dan nyaris mustahil di mata banyak orang akibat kompleksitas permasalah antara kedua negara.

Namun, lanjut Syeih Qassem, hal itu terjadi karena ada keputusan yang berani dari Iran dan Arab Saudi karena mereka ingin bekerjasama dan mengarahkan kompas pada stabilitas politik untuk kepentingan negara mereka sekaligus kepentingan kawasan.

Dia  juga mengatakan, “Hari ini, iklim positif ini ada meski semula kita tidak menduganya. Bukankah akan lebih utama jika kita hidup di negeri yang satu, kita melihat bagaimana kita menerapkan penyelesaian-penyelesaian di antara kita sampai kita dapat saling memahami, sebab negeri ini adalah milik kita semua, kita bersama di dalamnya, dan akan menjadi milik generasi-generasi mendatang.”

Syeikh Qassem lantas menegaskan, “Apa yang dicapai dalam perjanjian Saudi-Iran telah mengubah arah kawasan Timteng. Semula arahnya ialah bahwa Iran adalah musuh, dan Israel ingin berkonsolidasi dengan sejumlah (negara) Arab demi menghadapi Iran. Sekarang, kesepakatan  Saudi-Iran telah mengubah arah, danIsrael kembali menjadi musuh sebenarnya bagi semua. Karena itu kita melihat kondisi frustasi dan pahit yang dialami Israel akibat kesepakatan itu. Semua ini adalah berkat keputusan berani Iran dan Saudi.”

Dia melanjutkan, “Arah di kawasan sekarang ialah bahwa entitas Israel-lah musuh. Yakni, kita kembali ke awal pada tahap di mana enitas ini mengalami berbagai kesulitan internal, pada tahap di mana entitas ini melemah, pada tahap di mana kita mendapati Poros Resistensi melangkah maju dengan berbagai prestasi dan kemenangannya serta pendahuluan untuk penyelesaian di Yaman, Suriah dan berbagai kawasan lain. Di samping itu juga meningkat kekuatan di Palestina, pada bangsa pejuang di dalam semua wilayah Palestina.”

Di bagian akhir kata sambutannya dia mengatakan, “Kita sebagai elemen resistensi harus tetap siap, kita tambah kekuatan kita seoptimal mungkin, dan jangan sampai ada batas untuk logistik, pelatihan, persenjataan, penjelasan alasannya, serta penambahan  para pendukung, penyokong, pekerja, dan para pengibar bendera pembebasan Palestina dan Al-Quds. Sebab, jika semua faktor kekuatan ini bertambah dan terhimpun pada kita maka kita dapat mewujudkan kemenangan besar, insya Allah, dengan jatuhnya entitas (Zionis) ini, yang telah menyebabkan kerusakan, kehancuran dan problema besar di kawasan kita.” (alalam)

Korban Konflik di Sudan Capai Ribuan, Keselamatan Para Diplomatpun Terancam

Kecamuk serangan udara dan artileri telah menewaskan sedikitnya 270 warga sipil dan melukai hampir 2.000 orang saat para jenderal yang bersaing di Sudan bertempur pada hari kelima.

Sebagaimana penduduk setempat, staf misi asing juga terjebak di zona konflik dan meminta pemerintah Sudan untuk memastikan keselamatan mereka sesuai perjanjian internasional.

Namun, situasi keamanan di lapangan sangat tidak pasti, karena tentara menghadapi paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang kuat di ibu kota, Khartoum.

Dua upaya sebelumnya untuk menerapkan gencatan senjata telah gagal sejauh ini, sehingga menyusahkan warga sipil untuk mendapat perawatan medis dan membeli kebutuhan seperti makanan dan air, serta mempersulit misi asing untuk mengevakuasi warga dan diplomat mereka dari Sudan. Ada laporan bahwa upaya ketiga akan dilakukan mulai pukul 18:00 waktu setempat pada hari Rabu.

Pemerintah Jepang pada hari Rabu (19/4) mengatakan bahwa Kementerian Pertahanannya sedang  mempelajari proses evakuasi sekitar 60 warganya dari Sudan.

Pada hari Selasa, tersiar kabar bahwa Wim Fransen, kepala badan kemanusiaan Uni Eropa di Sudan, telah ditembak dan terluka parah serta menerima perawatan medis.

Fransen hilang sejak Minggu malam di tengah kekacauan akibat pertempuran dan perintah untuk berlindung di tempat. Setelah mencarinya selama lebih dari 24 jam, rekan-rekannya dapat menemukannya dan membantunya. (mm/aljazeera)