Jakarta, ICMES. Kemlu Iran dalam sebuah pernyataan menyebut pembunuhan mantan komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani oleh AS sebagai “contoh mencolok dari aksi teror terorganisir.â€

Ribuan orang Irak berkumpul di sebuah jalan menuju Bandara Internasional Baghdad, tempat terjadinya serangan yang menggugurkan Jenderal Soleimani dan Abu Mahdi Al-Muhandis serta beberapa rekan mereka, untuk menandai peringatan tiga tahun peristiwa tersebut.
Tentara Israel membunuh dua pemuda Palestina dalam serangan di sebuah desa dekat kota Jenin di bagian utara wilayah pendudukan Tepi Barat.
Berita Selengkapnya:
Kemlu Iran Sebut Pembunuhan Jenderal Soleimani “Aksi Teror Terorganisir†AS
Kemlu Iran dalam sebuah pernyataan, Senin (2/1) menyebut pembunuhan mantan komandan Pasukan Quds IRGC Jenderal Qassem Soleimani oleh AS sebagai “contoh mencolok dari aksi teror terorganisir.â€
“Tidak diragukan lagi, tindakan kriminal pembunuhan Jenderal Soleimani, yang dirancang dan dieksekusi oleh AS, merupakan contoh mencolok lain dari aksi teroris terorganisir,†bunyi pernyataan yang dirilis pada peringatan tiga tahun gugurnya Jenderal Soleimani dan sejumlah rekannya oleh serangan yang diperintahkan langsung oleh presiden AS saat itu, Donald Trump.
Kemlu Iran menambahkan bahwa berdasarkan peraturan hukum dan internasional, rezim AS memikul ‘tanggung jawab internasional yang pasti’ atas kejahatan ini, dan bahwa semua agen, penghasut, pelaku, pembantu dan pendukung kejahatan teror ini harus bertanggung jawab.
“Dalam hal ini, Kementerian Luar Negeri, bersama dengan Kejaksaan Republik Islam Iran dan badan-badan lainnya sejak semula telah mengadopsi sejumlah tindakan yang didasarkan pada prinsip hukum memerangi impunitas kejahatan untuk meminta pertanggungjawaban yang disebutkan di atas dan membawa mereka ke pengadilan,” tambahnya.
Kementerian mencatat bahwa Komite Yudisial Bersama antara Iran dan Irak juga terus bekerja untuk menindaklanjuti tindakan teror AS tersebut.
Di bagian lain dalam pernyataan itu, Kemlu Iranmenyatakan bahwa bekerjasama dengan lembaga terkait lainnya, pihaknya telah “membentuk Komite Khusus untuk Tindak Lanjut Hukum dan Internasional Kasus Pembunuhan Jenderal Soleimani dan Sahabatnya.”
Kemlu Iran menjelaskan, “Sejak didirikan, komite ini telah menyelidiki dan mengejar aspek hukum dari kasus tersebut dan sejauh ini telah mengambil beberapa langkah untuk menekan masalah ini di semua tingkat domestik, bilateral, regional dan internasional. Komite ini bertekad untuk melanjutkan dengan serius sampai tujuannya tercapai sepenuhnya dan diminta tanggung jawab internasional dari pemerintah AS.â€
Kemlu Iran juga menegaskan, “Sejalan dengan prinsip kebijakannya untuk melawan terorisme dan ekstremisme, Republik Islam Iran akan terus berupaya mewujudkan perdamaian dan stabilitas di tingkat regional dan internasional. Dan meskipun kesyahidan Jenderal Qassem Soleimani merupakan kerugian yang terlampau besar bagi Iran, hal itu tidak akan menghalangi Republik Islam Iran untuk mengejar tujuan mulianya.â€
Jenderal Soleimani, dan rekannya dari Irak Abu Mahdi al-Muhandis, wakil komandan pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi atau Unit Mobilisasi Populer (PMU), gugur bersama rekan mereka akibat serangan drone AS pada 3 Januari 2020.
Kedua komandan anti-teror itu sangat dihormati dan dikagumi karena peran penting mereka dalam penumpasan kelompok teroris ISIS, khususnya di Irak dan Suriah. (presstv)
Ribuan Orang Irak Berkumpul Peringati Kesyahidan Jenderal Soleimani dan Abu Mahdi Al-Muhandis
Ribuan orang Irak berkumpul di sebuah jalan menuju Bandara Internasional Baghdad, tempat terjadinya serangan yang menggugurkan Jenderal Soleimani dan Abu Mahdi Al-Muhandis serta beberapa rekan mereka, untuk menandai peringatan tiga tahun peristiwa tersebut.
Dilaporkan bahwa jalan itu berubah menjadi tempat suci bagi warga Irak, sehingga dikunjungi oleh ratusan ribu orang sepanjang tahun, dan pada Senin malam (2/1), ribuan warga Irak berkumpul untuk memperingati gugurnya Jenderal Soleimani dan Abu Mahdi Al-Muhandis.
Warga Irak berbondong-bondong memadati jalan itu dan kawasan sekitarnya sepanjang ratusan meter serta jalan-jalan dekat lokasi gugurnya Jenderal Soleimani dan kawan-kawan.
Tembok Bandara Baghdad yang membentang puluhan meter dihiasi rangkaian bunga dan nama-nama para syuhada yang gugur dalam peristiwa serangan AS tersebut.
Rakyat Irak meneriakkan yel-yel menuntut balas dendam atas darah para syuhada itu serta keluarnya tentara AS dari Irak.
Acara haul yang diselenggarakan di jalan tersebut dihadiri oleh pejabat, tokoh, serta elit politik dan budaya, dan berlangsung hingga tengah malam dan setelah tengah malam, saat kejahatan AS itu terjadi.
Kepala Dewan Unit Mobilisasi Populer (MPU), Faleh Al-Fayyad, dalam pidatonya pada acara itu menegaskan, “Pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani dan Abu Mahdi Al-Muhandis direncanakan oleh Trump, tapi tidak lama kemudian kita melihat Trump berada dalam tong sampah sejarah.â€
Al-Fayyad menambahkan bahwa jutaan orang yang berduka atas Jenderal Soleimani dan ini menujukkan tingginya kedudukan dia di hati rakyat.
“Musuh kecewa ketika mereka mengira bahwa dengan pembunuhan dan ketidakhadiran, keinginan bangsa akan dipatahkan,â€ungkap Al-Fayyad.
Pada 3 Januari 2020, Letjen Qassem Soleimani gugur oleh pengeboman langsung AS di sebuah jalan menuju Bandara Baghdad. Dia gugur bersama wakil ketua MPU Mahdi Al-Muhandis, dan sejumlah rekan mereka. Pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) lantas membalas dengan membombadir pangkalan utama yang ditempati oleh pasukan AS di Irak. (alalam)
Pasukan Israel Bunuh Dua Pemuda Palestina
Tentara Israel membunuh dua pemuda Palestina dalam serangan di sebuah desa dekat kota Jenin di bagian utara wilayah pendudukan Tepi Barat.
Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan bahwa dua pemuda itu, Mohammad Samer Hoshiyeh, 22 tahun, dan Fouad Mohammad Abed, 25 tahun, ditembak mati di Kufr Dan, barat laut Jenin, pada Senin pagi (2/1), dan setidaknya tiga orang lainnya terluka dengan kondisi satu di antaranya kritis terluka akibat serangan itu.
Konfrontasi dan bentrokan bersenjata pecah antara orang Palestina dan pasukan Zionis Israel pada Minggu malam setelah pasukan Zionis menyerbu Kufr Dan untuk menghancurkan rumah dua warga Palestina yang gugur dalam baku tembak di sebuah pos pemeriksaan militer Israel di Jenin yang menyebabkan terbunuhnya seorang tentara Israel, Bar Falah, beberapa bulan lalu.
Ahmad Ayman Abed dan Abdulrahman Hani Abed ditembak mati di pos pemeriksaan Jalameh, titik masuk utama antara Tepi Barat utara dan Israel, pada 14 September 2022.
Pasukan Israel dalam sebuah pernyataan menyebutkan pihaknya telah melancarkan operasi di Kufr Dan untuk menghancurkan rumah kedua pria tersebut, dan mereka lantas diserang dengan tembakan serta lemparan batu dan bom molotov.
Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, faksi pejuang Palestina yang berkuasa Gaza, menyatakan bahwa Fouad Mohammed Abed adalah anggotanya.
Video yang dibagikan oleh media lokal memperlihatkan salah satu rumah diledakkan dengan menggunakan bahan peledak.
Video serupa menunjukkan penghancuran rumah kedua dengan cara yang sama.
Penghancuran rumah sedemikian rupa dianggap sebagai “hukuman kolektif†oleh warga Palestina dan organisasi HAM.
Serangan militer Israel berskala besar, yang melibatkan pasukan khusus, dimulai pada Minggu malam dan berlanjut hingga Senin pagi.
Kedua pria yang ditembak mati pada hari Senin adalah orang Palestina pertama yang dibunuh oleh pasukan Israel di Tepi Barat pada tahun ini. (aljazeera)







