Jakarta, ICMES. Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, mengaku telah mengadakan perbicaraan langsung dengan mitranya dari Arab Saudi,Faisal bin Farhan al-Saud, di sela-sela konferensi di Yordania.

Surat kabar Nezavisimaya milik Rusia melaporkan bahwa Rezim Zionis Israel bermaksud mencegah lalu lintas udara antara Suriah dan Iran, dan saat ini sedang mempelajari berbagai opsi untuk mencegah penerbangan tersebut, termasuk dengan meluncurkan serangan yang akan mengganggu aktivitas bandara Suriah.
Panglima Angkatan Bersenjata Republik Islam Mayjen Abdolrahim Mousavi menegaskan bahwa Iran akan membuat Rezim Zionis Israel atau siapapun yang membantunya menyesal jika berpikir untuk menyerang keamanan Republik Islam.
Berita Selengkapnya:
Usai Bertemu Menlu Saudi, Menlu Iran: Riyadh Siap Lanjutkan Dialog dengan Teheran
Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, mengaku telah mengadakan perbicaraan langsung dengan mitranya dari Arab Saudi,Faisal bin Farhan al-Saud, di sela-sela konferensi di Yordania, Selasa (20/12), dalam pertemuan tingkat tertinggi antara pejabat kedua negara sejak mereka memutuskan hubungan pada tahun 2016.
Arab Saudi dan Iran mendukung pihak yang berseberangan dalam konflik di seluruh wilayah, termasuk di Suriah dan Yaman. Irak telah menjadi tuan rumah lima pertemuan antara pejabat Iran dan Saudi sejak tahun lalu dalam upaya untuk meredakan ketegangan, dan pertemuan terakhir di antaranya terjadi pada April lalu tanpa ada terobosan diplomatik.
Amir-Abdollahian dalam postingan berbahasa Arab di Twitter menyebutkan bahwa Faisal termasuk di antara sejumlah menteri luar negeri yang berkesempatan melakukan “ramah tamah†di sela-sela pertemuan konferensi Yordania.
Kementerian Luar Negeri Saudi belum menanggapi permintaan komentar.
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan,”Menteri Saudi menekankan kepada saya tentang kesiapan negaranya untuk melanjutkan dialog dengan Iran.â€
Dalam pernyataan kepada Kantor Berita Republik Islam Iran, Amir-Abdollahian mengumumkan, “Kesiapan Teheran untuk melanjutkan kemajuan negosiasi yang dimulai di Baghdad.”
Dia menambahkan, “Kapan pun Arab Saudi siap untuk melanjutkan hubungan normal, Iran akan menyambutnya.â€
Ketegangan meningkat antara Iran dan Arab Saudi sejak aksi protes meletus di Iran. Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menuntut Arab Saudi mengontrol medianya, dan Menteri Intelijen Iran memperingatkan Riyadh bahwa tidak ada jaminan bahwa Teheran akan melanjutkan “kesabaran strategisnya”.
Iran memandang musuh-musuhnya di luar negeri menghasut rakyat Iran untuk menebar kerusuhan pasca kematian wanita muda Kurdi Iran Mahsa Amini ketika ditahan oleh polisi moral.
Komandan Pasukan Quds IRGC Brigjen Esmail Qaani menyebut rezim Arab Saudi sebagai rezim remeh dan “tidak pantas menjadi musuh†Iran.
Program nuklir Iran yang kontroversial telah memperburuk ketegangan. Pembicaraan antara Teheran dan negara-negara terkemuka dunia untuk pemulihan kesepakatan nuklir Iran 2015 terhenti sejak September lalu.
Menteri luar negeri Saudi pada bulan ini menyatakan bahwa negara-negara Teluk Arab akan bekerja untuk meningkatkan keamanan mereka jika Teheran memperoleh senjata nuklir, tuduhan yang selalu dibantah oleh Teheran.
Pertemuan Yordania, yang diselenggarakan oleh Prancis dan Irak dengan tujuan mendukung stabilitas di Irak dan kawasan secara umum, berakhir pada hari Selasa tanpa berita tentang pertemuan bilateral antara Arab Saudi dan Iran.
Amir-Abdollahian di Twitter juga mengaku telah berbicara dengan para sejawatnya dari Oman, Qatar, Irak, dan Kuwait. (raialyoum)
Israel Dilaporkan Siap Jalankan Skenario untuk Lumpuhkan Lalu-Lintas Udara Iran-Suriah
Surat kabar Nezavisimaya milik Rusia melaporkan bahwa Rezim Zionis Israel bermaksud mencegah lalu lintas udara antara Suriah dan Iran, dan saat ini sedang mempelajari berbagai opsi untuk mencegah penerbangan tersebut, termasuk dengan meluncurkan serangan yang akan mengganggu aktivitas bandara Suriah.
Surat kabar itu dalam sebuah laporannya menyebutkan bahwa Israel membenarkan hal ini dengan menggunakan armada udara untuk mengangkut senjata, dan bahwa pemboman bandara Damaskus mengganggu lalu lintas udara.
Nezavisimaya menambahkan bahwa organisasi-organisasi sipil Suriah yang pro-Iran belakangan ini mulai bertindak lebih leluasa dalam hal operasional di Suriah, dan ini mendorong Israel untuk mempertimbangkan berbagai cara untuk manggapinya.
Menurut Al-Jazeera, Iran enggan menggunakan konvoi darat untuk mengangkut produk militer, sehingga fokusnya beralih ke penerbangan sipil.
Laporan tersebut mengutip Pusat Penelitian dan Pendidikan Israel Alma bahwa sebagian besar penerbangan dari Iran ke Suriah dan kemudian ke Lebanon dilakukan oleh maskapai penerbangan Mahan Air, yang dikenai sanksi oleh Barat 10 tahun lalu karena bekerjasama erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dalam pengangkutan senjata.
Nezavisimaya menyebutkan bahwa sumber dari website Breaking Defense, yang berbasis di AS dan berspesialisasi dalam urusan militer, menganggap serangan Israel kebandara Damaskus sejauh ini lebih merupakan peringatan simbolis daripada upaya penghancuran yang sesungguhnya.
Surat kabar Rusia itu juga mengutip pernyataan pejabat Israel bahwa jika para pejabat Israel memutuskan untuk melumpuhkan bandara, maka mereka tidak hanya akan menyerang landasan pacu dan infrastruktur, melainkan juga akan meretas sistem kontrol dan navigasi. (raialyoum)
Jenderal Mousavi: Israel Sadar Takkan Sanggup Menghadapi Balasan Iran
Panglima Angkatan Bersenjata Republik Islam Mayjen Abdolrahim Mousavi menegaskan bahwa Iran akan membuat Rezim Zionis Israel atau siapapun yang membantunya menyesal jika berpikir untuk menyerang keamanan Republik Islam.
Dalam sidang Dewan Tinggi Panglima Angkatan Bersenjata, Rabu (21/12), dia menyinggung pernyataan pejabat Israel belakangan ini tentang Iran, dan kemudian mengatakan, “Rezim Zionis mulai tertekan oleh intensitas perselisihan politik dan munculnya krisis legitimasi internal di satu sisi, dan rasa ketidakamanan daerah di sisi lain.â€
Mengenai ancaman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap Iran, Mousavi mengatakan, “Rezim Zionis berada dalam situasi kritis hari ini sehubungan dengan krisis politik dan keamanan dan menyerah pada tekanan internal dan eksternal yang parah, korupsi kelembagaan dan keuangan, skandal pejabat entitas ini, dan ketidak amanan akibat eskalasi operasi perlawanan Palestina terhadapnya.â€
Dia menambahkan, “Perselisihan internal, ketakutan dan ketidakamanan adalah sifat yang menonjol dari entitas Zionis dewasa ini, dan faktor-faktor ini meningkatkan kekerasan entitas ini terhadap Palestina dan mengarahkan ancaman verbal terhadap Iran.â€
Mousavi memperingatkan bahwa Rezim Zionis kini dibenci oleh khalayak dunia karena pelanggarannya yang meluas terhadap hukum internasional, penyebaran kejahatan terhadap Palestina dan berlanjutnya kekejiannya di kawasan, dan fakta ini telah menyebabkan warga di wilayah pendudukan merasa sangat tidak aman.
“Ancaman kosong dari para pemimpin entitas Zionis dipengaruhi terutama oleh ekstremisme partai lawan, dan otoritas entitas ini tahu persis bahwa jika terjadi tindakan agresif (terhadap Iran) maka mereka tak akan sanggup menghadapi reaksi mematikan dari Iran,†tegas Mousavi.
Panglima Angkatan Bersenjata Iran melanjutkan, “Pergerakan musuh terpantai secara terus kontinyu dan akurat, dan tentara (Iran) sepenuhnya siap untuk menghadapi tindakan apa pun, dengan cara yang membuatnya mendapat reaksi yang tegas dan secepat kilat.â€
Dia bagian akhir pernyataannya, Mousavi bersumbar, “Kami akan membuat entitas Zionis ataupun pihak yang membantunya menyesal jika berani menyerang keamanan Republik Islam.†(alalam)







