Jakarta, ICMES. Militer Iran memperingatkan Israel bahwa bahwa Iran akan meratakan Tel Aviv dan Haifa dengan tanah jika Israel nekat menyerang Iran.

Amerika Serikat (AS) menyalahkan Iran atas kebuntuan dalam perundingan revitalisasi perjanjian nuklir tahun 2015, yang lazim disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
Komandan wilayah utara Israel, Mayjen Amir Baram, mengancam akan meluluh lantakkan insfrastruktut Lebanon jika terjadi perang Israel dengan kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon.
Berita Selengkapnya:
Jenderal Iran Ancam Ratakan Tel Aviv dan Haifa dengan Tanah
Militer Iran memperingatkan Israel bahwa bahwa Iran akan meratakan Tel Aviv dan Haifa dengan tanah jika Israel nekat menyerang Iran.
“Atas perintah Pemimpin Besar Revolusi (Ayatullah Ali Khamenei), kami akan meruntuhkan Tel Aviv dan Haifa untuk setiap kesalahan yang dibuat oleh musuh,†kata Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Kioumars Heydari dalam pidatonya di hadapan para kader militer Iran di kota Maragheh, Selasa (7/6).
Heydari menegaskan bahwa tanah Palestina yang diduduki Israel akan dapat dibebaskan dalam jangka waktu kurang dari 25 tahun.
“Hari ini, pencapaian militer dan pertahanan tentara Republik Islam Iran adalah duri di mata musuh,†sumbarnya.
Dia menambahkan, “Jangkauan drone dan rudal operasional Angkatan Darat telah meningkat.â€
Menyinggung pangkalan drone strategis 313 yang terletak di bawah tanah, Heydari mengatakan semua peralatan tersebut ditujukan untuk meladeni serangan musuh, dan senjata ringan pasukan darat Iran pun juga sedang “diubah, diperbarui, dan dipribumikan.â€
Para pejabat pemerintah dan petinggi militer Iran telah berulang kali melontarkan peringatan serupa terhadap negara-negara musuhnya, terutama Israel.
Peringatan terbaru itu mengemuka ketika seorang anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran tewas dalam serangan teror oleh dua orang tak dikenal yang diduga sebagai agen Israel pada bulan lalu.
Surat kabar AS The New York Times pada 25 Mei mengutip pernyataan seorang pejabat intelijen bahwa Israel telah memberi tahu para pejabat AS bahwa Israel memang berada di balik pembunuhan itu.
Pada hari Senin lalu surat kabar Israel Haaretz dalam editorialnya menyatakan bahwa pembunuhan tokoh-tokoh Iran yang telah dikaitkan dengan Israel “tak berguna”,dan tak ubahnya “pengganggu lingkungan.” (alalam/presstv)
Salahkan Iran, Ini Klaim AS Mengenai Faktor Kebuntuan Perjanjian Nuklir
Amerika Serikat (AS) menyalahkan Iran atas kebuntuan dalam perundingan revitalisasi perjanjian nuklir tahun 2015, yang lazim disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
AS dalam sebuah pernyataan pada pertemuan Dewan Gubernur Badan Energo Atom Internasional (IAEA) di Wina, Selasa (7/6), menegaskan bahwa kebuntuan itu disebabkan oleh tuntutan Teheran supaya sanksi terhadap Iran dicabut.
“Apa yang kami butuhkan ialah mitra yang memiliki kehendak di Iran. Dan persisnya, Iran harus menarik tuntutan pencabutan sanksi, yang jelas melampaui JCPO dan sekarang mencegah kita dari tercapainya kesepakatan.â€
Sehari sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menyatakan Teheran akan memberikan tanggapan “proporsional” terhadap tindakan apapun terhadap program nuklir Iran yang akan diambil oleh Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Â yang sedang melangsungkan pertemuan.
JCPOA diteken pada tahun 2015 oleh Iran dan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Inggris, Prancis, Rusia dan China) plus Jerman tapi lantas ditinggal oleh AS di masa kepresidenan Donald Trump pada tahun 2018. Trump kemudian menerapkan sanksi-sanksi berat terhadap Iran, lalu Iranpun membalasnya dengan menyurutkan komitmennya kepada JCPOA sejak tahun 2019.
Sejak April 2021 Wina diwarnai perundingan Iran dengan negara-negara tersebut, kecuali AS, untuk menghidupkan kembali JCPOA setelah pengganti Trump, Joe Biden, berulang kali menyatakan hasratnya untuk mengembalikan AS kepada JCPOA. Meski demikian Uni Eropa dan Washington mengkonfirmasi keterlibatan AS dalam perundingan itu namun tanpa berkomunikasi langsung dengan pihak Iran.
Iran sendiri menolak berunding langsung dengan AS sebelum Negeri Paman Sam ini mencabut sanksinya terhadap Iran, sementara AS menekankan prinsip selangkah dibalas selangkah.
Belakangan, perundingan itu dikabarkan membentur jalan buntu setelah sempat dilaporkan mendekati kesepakatan. (mm/raialyoum)
Ancam Hizbullah, Militer Israel Bersumpah akan Luluh Lantakkan Infrastrukur di Lebanon
Komandan wilayah utara Israel, Mayjen Amir Baram, mengancam akan meluluh lantakkan insfrastruktut Lebanon jika terjadi perang Israel dengan kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon.
Radio Militer Israel, Selasa (7/6), mengutip pernyataan Amir Baram pada peringatan 16 tahun perang kedua Israel-Hizbullah pada Juli 2006 bahwa Hizbullah sedang mencoba memaksakan tantangan pada Israel, tetapi tantangan itu masih sangat tercegah.
“Stabilitas keamanan di front utara yang dihasilkan dari perang ini merupakan bukti terbaik kekuatan pencegahan yang diciptakannya,†ujarnya.
Menurutnya, tentara Israel memantau pergerakan para aktivis Hizbullah di area pagar perbatasan, dan memperingatkan bahwa Hizbullah akan membayar mahal.
“Baru-baru ini, Hizbullah telah mengintensifkan pembangunan pos-posnya di sini di sepanjang perbatasan,†katanya.
Dia menambahkan, “Kita bisa melihat para pelaku mendekati daerah perbatasan. Kami mengenal mereka: nama mereka, dari mana mereka berasal dan di mana mereka bekerja. Ketika saatnya tiba, mereka akan membayar harganya.â€
Dia juga mengatakan bahwa tentara Israel “akan terus beroperasi di Suriah dan Lebanon, baik dengan mengamankan keamanan harian maupun melalui pertempuran tersembunyi di antara perang untuk melemahkan semua upaya, pengadaan posisi dan pembesaran terorismeâ€.
Dia lantas menyebutkan bahwa dalam perang mendatang tentara Israel akan meluluh lantakkan semua bangunan infrastruktur di garis kontak militer Israel dengan Lebanon.
Baram melontarkan ancaman demikian sehari setelah seorang pejabat senior Hizbullah mengancam akan menggunakan kekerasan terhadap Israel di tengah sengketa perbatasan laut yang sedang berlangsung antara Israel dan Lebanon.
Dia juga berbicara demikian hanya beberapa hari setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyelesaikan latihan militer besar yang mensimulasikan serangan militer di Lebanon dalam perang yang mungkin berkobar di masa mendatang.
Wakil Sekjen Hizbullah Naim Qasim Senin lalu mengatakan kepada Reuters bahwa mereka siap menggunakan kekuatan melawan Israel jika Lebanon menentukan bahwa perbatasan lautnya dilanggar Israel dengan mendatangi anjungan produksi gas baru di perairan yang disengketakan.
“Ketika negara Lebanon mengatakan bahwa Israel menyerang perairan dan minyak kami, maka kami siap untuk melakukan bagian kami dalam hal tekanan, pencegahan dan penggunaan cara yang tepat, termasuk kekuatan,†kata Qasim.
Pada Ahad lalu, Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan bahwa tindakan Israel di kawasan tersebut merupakan “provokasi dan tindakan bermusuhan.” (raialyoum/ti)







