Jakarta, ICMES. Parlemen Irak menyetujui undang-undang yang melarang normalisasi hubungan dengan Israel, pada saat sejumlah negara Arab secara resmi menjalin hubungan dengan rezim Zionis tersebut.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Saudi mengakui ada beberapa kemajuan dalam pembicaraan Riyadh dengan dengan Teheran, namun dia juga menyebut kemajuan itu “tidak cukup.”
melayangkan surat kepada Sekjen PBB Antonio Guterres berisi desakan kepada PBB agar mengutuk serangan teror yang menewaskan perwira Korps Garda Revolusi Islam Iran Kol. Hassan Sayyad Khodai.
Para pejabat Turki menyatakan aparat keamanan negara ini telah meringkus pemimpin baru kelompok teroris ISIS.
Berita Selengkapnya:
Irak Sahkan UU Larangan Hubungan dengan Israel
Parlemen Irak menyetujui undang-undang (UU) yang melarang normalisasi hubungan dengan Israel, pada saat sejumlah negara Arab secara resmi menjalin hubungan dengan rezim Zionis tersebut.
UU itu disetujui meski parlemen Irak masih gagal menyepakati berbagai persoalan lain, termasuk pemilihan presiden baru dan pembentukan pemerintahan, sehingga krisis politik pun di Negeri 1001 Malam inipun berkepanjangan.
Irak tidak pernah mengakui eksistensi Israel sejak rezim perampas tanah Palestina ini berdiri pada tahun 1948 sehingga orang maupun perusahaan Irak tidak dapat mengunjungi Israel. Namun, undang-undang baru tersebut melangkah lebih jauh dari itu karena menganggap setiap upaya menormalisasi hubungan dengan Israel sebagai tindak pidana.
UU itu diusulkan oleh ulama Syiah berpengaruh Irak Sayid Moqtada al-Sadr, yang partainya meraih lebih banyak kursi di parlemen dalam pemilu pada Oktober lalu.
Anggota parlemen Irak Hassan Salem, yang mewakili kelompok Asa’ib Ahl al-Haq yang didukung Iran, mengatakan bahwa pengesahan undang-undang tersebut merupakan kemenangan bukan hanya bagi rakyat Irak, melainkan juga bagi para pejuang Palestina dan Hizbullah di Lebanon.
Para anggota parlemen dari partai Sadr mengaku pihaknya mengusulkan undang-undang itu antara lain demi membantah tuduhan dari pihak-pihak yang didukung Iran bahwa Sadr membentuk aliansi dengan Sunni dan Kurdi yang diduga menjalin hubungan rahasia dengan Israel.
Undang-undang Irak itu mulai berlaku di tengah beredarnya laporan bahwa Kurdistan Irak menjalin hubungan dengan dinas rahasia Israel, Mossad, yang markas para agennya di kota Erbil telah dibom oleh Iran beberapa waktu lalu.
Rabu lalu kelompok-kelompok resistensi Irak mengatakan perdana menteri wilayah Kurdistan Masrour Barzani sedang melatih milisi bersenjata dengan “dukungan Israel” untuk menciptakan kekacauan di negara itu.
Komite Koordinasi Poros Resistensi Syiah, yang mewakili kelompok-kelompok perlawanan Irak, memberi peringatakan keras terhadap otoritas Kurdistan.
Komite itu menegaskan bahwa “upaya jahat dan api yang hendak mereka (Kurdistan) nyalakan akan kembali menyerang mereka dan membakar mereka sebelum melukai orang lain, dan mereka hanya akan mengalami kekecewaan dan kehilangan.â€
Dua negara Arab Teluk lain, UEA dan Bahrain, telah menjalin hubungan dengan Israel akibat Iranfobia. Sedangkan Arab Saudi yang notabene sekutu dekat Amerika Serikat dan juga mengalami Iranfobia sehingga menjadi rahasia umum bahwa Riyadh diam-diam menjalin hubungan dengan Israel, namun secara resmi masih dapat menahan diri dengan menyatakan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel hanya dapat dilakukan jika konflik Palestina-Israel terselesaikan dengan Solusi Dua Negara. (raialyoum/presstv)
Saudi Nyatakan Kemajuan dalam Perundingan dengan Iran “Tidak Cukupâ€
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Saudi, Kamis (26/5), mengakui ada beberapa kemajuan dalam pembicaraan Riyadh dengan dengan Teheran, namun dia juga menyebut kemajuan itu “tidak cukup.”
Dia kemudian menepis pernyataan pihak Iran bahwa akan segera ada pertemuan menteri luar negeri kedua negara.
Sebelumnya di hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian mengatakan bahwa mungkin dia akan segera mengadakan pertemuan dengan mitranya dari Saudi, Faisal Bin Farhan Al-Saud, di negara ketiga.
Kepada Reuters Pejabat Saudi itu mengatakan, “Iran harus membangun kepercayaan untuk kerjasama di masa depan, dan ada beberapa masalah yang dapat didiskusikan dengan Teheran jika ingin mengurangi ketegangan di kawasan.†(raialyoum)
Iran Surati Sekjen PBB Soal Pembunuhan Perwira IRGC
Duta Besar dan Wakil Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Majid Takht Ravanchi, Rabu (26/5), melayangkan surat kepada Sekjen PBB Antonio Guterres berisi desakan kepada PBB agar mengutuk serangan teror yang menewaskan perwira Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Kol. Hassan Sayyad Khodai.
Dalam suratnya pada hari Rabu, Takht Ravanchi menyebut Khoda sebagai anggota Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran yang telah andil besar dalam perang melawan terorisme dan ISIS.
Dia menyebutkan bahwa perkiraan dan bukti awal menunjukkan bahwa aksi teror itu dilakukan sebagai kelanjutan dari pembunuhan sistematis terhadap tokoh dan ilmuwan Iran yang dilakukan demi melicinkan tujuan ilegal beberapa rezim asing.
Takht Ravanchi mengatakan bahwa pembunuhan itu melanggar Piagam PBB dan prinsip-prinsip hukum internasional dan hak asasi manusia serta merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan stabilitas regional dan internasional.
Dia menambahkan bahwa kejahatan teror demikian tidak akan pernah dapat mematahkan tekad Iran melanjutkan perjuangan melawan terorisme di kawasan, dan bahwa penyelidikan atas tindakan teror itu sedang dilakukan untuk membekuk pelakunya.
Takht Ravanchi menyerukan kecaman PBB terhadap aksi teror itu sebagai bagian dari tugas PBB dalam perjuangan nyata dan non-diskriminatif melawan terorisme.
Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian Selasa lalu mengutuk pembunuhan tersebut dan menekankan upaya serius kementerian luar negeri untuk memperkarakannya di badan-badan internasional.
Amir Abdollahian dalam pesan belasungkawa menyatakan bahwa pembunuhan itu membuktikan bahwa Iran yang berada di garis depan perang global melawan terorisme menjadi target “terorisme negara†oleh “dalang terorâ€.
Kol.Sayyad Khodai tewas akibat diberondong lima peluru oleh dua pengendara sepeda motor tak dikenal di Teheran pada Ahad lalu. Dia diserang oleh dua orang tak dikenal itu ketika hendak turun dari mobilnya untuk memasuki rumahnya di lingkungan timur Teheran. (fna)
Turki Mengaku Ringkus Pemimpin Baru ISIS
Para pejabat Turki menyatakan aparat keamanan negara ini telah meringkus pemimpin baru kelompok teroris ISIS/ISIL/IS/DAESH.
Bloomberg News dalam laporan segeranya, Kamis (26/5), memberitakan pernyataan para pejabat senior Turki bahwa pemimpin baru ISIS telah ditangkap di kota Istanbul, Turki, dalam sebuah operasi kontra-terorisme.
Para pejabat itu mengatakan bahwa polisi kontra-terorisme dan para petugas intelijen Turki telah mencokok seorang pria yang diyakini sebagai pengganti pemimpin ISIS sebelumnya yang tewas diserang pasukan AS di Suriah pada Februari tahun lalu.
Situs berita Turki OdaTV menyebut pria yang ditangkap itu sebagai Abu al-Hassan al-Qurayshi tanpa menjelaskan bagaimana mereka memperoleh informasi tersebut. Laporan sebelumnya telah memberikan nama yang sama untuk pemimpin baru ISIS.
Bloomberg News tak dapat secara independen memverifikasi identitas pria yang ditahan oleh otoritas Turki tersebut.
Kata para pejabat itu, Presiden Recep Tayyip Erdogan telah diberitahu ihwal penangkapan tersebut. Menurut OdaTV, Erdogan diperkirakan akan mengumumkan penangkapan dalam beberapa hari mendatang.
Para pejabat mengatakan bahwa pria itu ditangkap setelah sekian lama polisi memantau sebuah rumah yang dia tinggali. OdaTV menyebutkan polisi tidak melepaskan tembakan dalam penggerebekan terhadapnya.
Pada 10 Maret lalu ISIS dalam sebuah pernyataan resminya mengkonfirmasi keterbunuhan pemimpin ISIS Abu Ibrahim Al-Qurayshi sekaligus mengumumkan Abu al-Hassan al-Qurayshi sebagai penggantinya. (fna/alarabiya)







