Jakarta, ICMES. Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam pidato pada Senin malam telah menyinggung berbagai isu Lebanon dan kawasan Timteng, termasuk Yaman serta biang kerok kekeruhan hubungan sesama negara Arab.

Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman Sayid Abdul Malik Al-Houthi menyatakan bahwa negara-negara agresor yang tergabung dalam koalisi pimpinan Arab Saudi telah membentur jalan buntu, gagal dan kalah dalam memerangi Yaman.
Satu orang tewas dan tiga terluka dalam ledakan di dekat pusat pramuka milik Gerakan Amal Syiah yang bersekutu dengan Hizbullah dekat Sidon di Lebanon selatan.
Moskow menyerahkan data kepada PBB mengenai “rekayasa†yang sedang dipersiapkan Kyiv, dan bahwa media Barat sebelumnya telah mengirim korespondennya ke Ukraina untuk “meliput†rekayasa tersebut.
Berita Selengkapnya:
Sayid Hassan Nasrallah Ungkap Biang Kerok Permusuhan Sesama Arab
Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam pidato pada Senin malam (11/4) telah menyinggung berbagai isu Lebanon dan kawasan Timteng, termasuk Yaman serta biang kerok kekeruhan hubungan sesama negara Arab.
“Siapa yang merusak hubungan sesama Arab? Siapa yang melancarkan perang terhadap Yaman selama tujuh tahun, dan sebelum itu terhadap Suriah? Siapa yang mendorong Suriah berhadapan dengan konspirasi?†ungkapnya
Sayid Nasrallah mengaku telah menonton dan menyimak wawancara televisi mantan perdana menteri Qatar Sheikh Hamad bin Jassim Al-Thani dengan surat kabar Kuwait, Al-Qabas, di mana Hamad mengkonfirmasi pembentukan komite segi lima Amerika Serikat (AS), Turki, Yordania, Arab Saudi dan Qatar, yang telah mengelola perang di Suriah dan mengirim ratusan ribu militan.
Dia menambahkan bahwa Sheikh Hamad telah mengungkap bahwa Kepala Badan Intelijen Saudi Pangeran Bandar bin Sultan telah meminta alokasi angggaran sebesar dua ribu miliar dolar untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al-Assad, dan kemudian disepakati anggaran besar yang tak disebutkan nilainya.
Menurut Sayid Nasrallah, hubungan Al-Assad semula sangat baik dengan klan yang berkuasa di Qatar di mana emirnya bahkan pernah menghabiskan banyak waktunya di Suriah, dan demikian pula halnya dengan para raja dan penguasa Saudi serta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang pernah mondar-mandir ke Suriah yang membuka pintu bagi komoditas Turki.
Mengenai hubungan sesama negara Arab, dia menyoal, “Siapa yang merusak hubungan sesama Arab, yang mengambil sikap agresif terhadap Yaman, atau siapa yang melancarkan agresi militer yang menghancurkan selama tujuh tahun?â€
Sayid Nasrallah menegaskan, “Orang-orang Yaman telah menerapkan kehendaknya pada masyarakat internasional dengan tekad dan perjuangan mereka.â€
Dia menyambut baik baik gencatan senjata yang sedang berjalan di Yaman dan mengharapkannya dapat menjadi “pintu masuk bagi solusi politikâ€.
“Apa yang kami minta sejak awal ialah penghentian perang dan pembantaian, dan tak seorangpun berusaha menyerang Saudi,†ujarnya.
Dia juga menekankan bahwa “solusi satu-satunya di Yaman adalah negosiasi dan pembicaraan langsung dengan Sanaa… Jangan berharap kepada siapapun untuk menekannya.†(raialyoum)
Pemimpin Ansarullah: Koalisi Saudi Cs Membentur Jalan Buntu dan Kalah
Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman Sayid Abdul Malik Al-Houthi menyatakan bahwa negara-negara agresor yang tergabung dalam koalisi pimpinan Arab Saudi telah membentur jalan buntu, gagal dan kalah dalam memerangi Yaman.
“Para agresor telah mencapai jalan buntu, dan menanggung kekalahan secara terbuka, “ ujar Sayid Al-Houthi dalam pidato pada malam ke-10 bulan suci Ramadhan, Senin (11/4).
Dia mengimbau kepada rakyat dan para pejuang Yaman untuk tetap teguh, sabar dan tabah dalam melanjutkan perjuangan melawan agresor, sembari mengutip ayat terakhir surat Ali Imran;
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.â€
Dia menegaskan, “Kesabaran bangsa kita telah membuat koalisi agresor menanggung kekalahan, yang semua orang di dunia mengetahui dan membicarakannya…. Negara-negara agresor tak sanggup mencapai tujuan mereka, dan rakyat kita telah mencapai banyak kemenangan.â€
Seperti diketahui, gencatan senjata untuk jangka waktu dua bulan telah dicapai dalam perang Yaman di bawah pengawasan utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Hans Grundberg dan kini sedang berjalan pada minggu kedua.
Gencatan senjata itu dicapai setelah terjadi eskalasi militer mencolok di mana kedua pihak Saudi dan Yaman kubu Sanaa saling gempur ketika perang memasuki tahun ke-8 serta terjadi pertemuan-pertemuan langsung di Muscat, ibu kota Oman, antara Saudi dan Yaman. (tasnim/raialyoum)
Ledakan di Beirut Tewaskan Satu Orang dan Lukai Beberapa Lainnya
Satu orang tewas dan tiga terluka dalam ledakan di dekat pusat pramuka milik Gerakan Amal Syiah yang bersekutu dengan Hizbullah dekat Sidon di Lebanon selatan, pada dini hari Selasa (12/4), ungkap sumber keamanan mengatakan kepada Reuters.
Ledakan itu menghancurkan gedung, dan personel militer melakukan pemeriksaan di antara puing-puing untuk mencari korban lain yang mungkin jatuh akibat ledakan yang juga merusak balai kota di dekatnya.
Tanpa mengungkapkan rincian lebih lanjut, sumber keamanan menyatakan ledakan itu bukan tindakan sabotase.
Warganet di Twitter memosting gambar-gambar dan klip video dari lokasi ledakan.
Gerakan Amal Lebanon mengumumkan bahwa ledakan itu disebabkan oleh kebakaran yang terjadi akibat hubungan arus pendek, yang menyebabkan meledaknya botol oksigen yang disimpan di dalam gedung.
Otoritas keamanan belum mengeluarkan pernyataan tentang penyebab ledakan.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa satu orang tewas dan tujuh lainnya terluka akibat ledakan tersebut, sementara tentara Libanon memberlakukan penjagaan keamanan di sekitar lokasi ledakan. (raialyoum)
Moskow Ajukan Bukti kepada PBB bahwa Ukraina Persiapkan Video Hoax Anti-Rusia
Operasi militer Rusia di Ukraina telah memasuki hari ke-48 pada Selasa (12/4), ketika tentara Rusia terus menghancurkan posisi-posisi militer Ukraina, di tengah sepak terjang Barat untuk menekan Presiden Rusia Vladimir Putin agar menyudahi operasi militer Rusia yang ia mulai pada 24 Februari.
Dalam perkembangan terakhir, Moskow mengumumkan telah menyerahkan data kepada PBB mengenai “rekayasa†yang sedang dipersiapkan Kyiv, dan bahwa media Barat sebelumnya telah mengirim korespondennya ke Ukraina untuk “meliput†rekayasa tersebut.
Dilansir media Rusia, wakil pertama Rusia untuk PBB, Dmitry Polyansky, pada pertemuan Dewan Keamanan PBB mengatakan, “Dalam beberapa hari terakhir kami telah memberikan informasi kepada PBB tentang provokasi mendatang” yang disiapkan oleh Kyiv.
Menurutnya, salah satu provokasi ini adalah tuduhan bahwa kuburan massal telah ditemukan di desa Rakovka dekat Kyiv.
Dia menyebutkan bahwa koresponden media Barat tiba di kota Kreminna untuk memfilmkan provokasi yang disiapkan oleh pasukan Ukraina guna menyebar hoax pemboman “ambulans yang mengangkut pasien” oleh tentara Rusia.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Rusia telah mengumumkan bahwa dengan dukungan Inggris, rezim Kyiv sedang menyiapkan pembuatan film-film baru secara bertahap untuk menebar tuduhan bahwa tentara Rusia “memperlakukan warga sipil secara brutal” di provinsi Sumy di Ukraina selatan.
Kepala Pusat Pemantauan Pertahanan Nasional Rusia, Letjen Mikhail Mizintsev, mengatakan, “Rezim Kyiv di bawah naungan pasukan khusus Inggris sedang menyiapkan rekayasa baru dan tuduhan bahwa pasukan Rusia bertindak brutal terhadap penduduk Ukraina di Sumy di Ukraina selatan.â€
Dia menjelaskan, “Mayat-mayat diseret ke salah satu ruang bawah tanah gedung apartemen, untuk menampilkan mereka sebagai korban tentara Rusia. Sesuai rencana Inggris, pasukan Rusia akan dikesankan telah membantai dan memutilasi warga sipil secara massal ketika mereka mundur.â€
Mizintsev melanjutkan: “Media Barat akan mulai merangkai citra palsu dalam waktu dekat untuk membangkitkan ketakutan terhadap Rusia menyusul krisis ekonomi yang berkembang di Eropa.”
Dia beragumentasi, “Pasukan Rusia meninggalkan kota ini tiga minggu lalu pada 20 Maret, dan peristiwa seperti itu, kalau memang terjadi maka tak mungkin tak terekspos ke publik sejak saat itu juga.”
Dia juga menjelaskan, “Ada juga kekuatan tentara Prancis dan gendarmerie yang tiba di Ukraina dan akan mencoba untuk menutupi kejahatan perang yang dilakukan oleh Kyiv dan untuk mengarang tuduhan terhadap pasukan Rusia… Tentara dari pasukan operasi khusus Prancis, bersama dengan ahli teknik dari pasukan gendarmerie dan Kementerian Dalam Negeri Prancis, tiba di Ukraina pada hari Senin melalui Jerman dan Polandia melalui apa yang disebut koridor diplomatik.” (raialyoum)







