Jakarta, ICMES. Seorang pria Palestina ditembak mati setelah membunuh sedikitnya empat orang Israel dan melukai dua lainnya di dekat sebuah pusat perbelanjaan di kota Beer al-Sabe (Be’er Sheva) Israel selatan.

Para pemimpin Mesir, Israel dan Uni Emirat Arab mengadakan pertemuan di resor Laut Merah Sharm el-Sheikh, Mesir, untuk pembicaraan tentang dampak ekonomi invasi Rusia ke Ukraina dan berkembanganya pengaruh Iran di Timteng.
Menteri Pertahanan Yaman kubu Sanaa, Mohammad Naser Al-Atefi, bersumbar bahwa koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) akan mendapat “kejutan-kejutan†serangan balasan yang lebih hebat dari Yaman.
Berita Selengkapnya:
Satu Orang Palestina Gugur Setelah Bunuh 4 Orang Israel dengan Sajam
Seorang pria Palestina ditembak mati setelah membunuh sedikitnya empat orang Israel dan melukai dua lainnya di dekat sebuah pusat perbelanjaan di kota Beer al-Sabe (Be’er Sheva) Israel selatan, Selasa (22/3).
Pria itu diidentifikasi oleh media lokal sebagai Ahmed al-Qiaan, 33 tahun, seorang guru yang berasal dari kota Hura di wilayah Naqab (Negev). Polisi Israel mengatakan pria itu ditembak oleh seorang pejalan kaki di sebuah pomp bensin, kata polisi Israel pada hari Selasa.
Pihak medis mengatakan tiga wanita dan seorang pria tewas ditikam, sementara dua orang lainnya terluka dengan kondisi satu diantaranya kritis.
Kantor Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengumumkan pasukan keamanan “dalam siaga tinggi”, dan menegaskan, “Kami akan bertindak tegas terhadap operasi teroris. Kami akan mengejar dan menangkap mereka yang memberikan bantuan kepada mereka.â€
Di pihak lain, Hamas dan Jihad Islam Palestina, memuji serangan itu. Juru bicara Hamas Abdel-Latif al-Qanou menegaskan bahwa kejahatan rezim pendudukan Israel terhadap rakyat Palestina hanya dapat dibalas dengan aksi heroik.
Juru bicara Jihad Islam Tariq Salmi menyebut serangan itu “respons alami terhadap kejahatan pendudukan di Naqab,” dan membuat Israel “akan menyadari untuk kesekian kalinya bahwa rakyat kami tidak akan menyerah”.
Orang-orang Badui Palestina yang berjumlah sekira 300,000 di kawasan Naqab mengalami diskriminasi karena Israel mencanangkan untuk mengganti desa-desa Badui dengan kota-kota khusus Yahudi. Mereka juga kerap tidak mendapat layanan negara, termasuk air, listrik dan fasilitas pendidikan.
Sedikitnya 30 persen dari mereka tinggal di sekitar 35 desa “tak dikenal” di bawah ancaman pembongkaran, dan dipandang sebagai “pelanggar” oleh pemerintah Israel.
Pasukan Israel secara teratur melakukan perintah pembongkaran di daerah tersebut dengan dalih bahwa desa-desa ini tidak memiliki izin bangunan, namun penduduk mengatakan tidak mungkin mendapatkan izin untuk membangun secara legal. (mm/raialyoum/aljazeera)
Ketakutan terhadap Iran Jadi Tema Utama Pertemuan Tiga Pemimpin Mesir, UEA dan Israel
Para pemimpin Mesir, Israel dan Uni Emirat Arab mengadakan pertemuan di resor Laut Merah Sharm el-Sheikh, Mesir, Selasa (22/3), untuk pembicaraan tentang dampak ekonomi invasi Rusia ke Ukraina dan berkembanganya pengaruh Iran di Timteng.
Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi menjadi tuan rumah pertemuannya dengan penguasa de facto Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan dan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett, dalam pertemuan puncak segi tiga pertama mereka sejak normalisasi hubungan antara UEA dan Israel.
Kantor kepresidenan Mesir menyatakan bahwa ketiganya membahas stabilitas pasar energi dan keamanan pangan, dua tantangan utama yang dihadapi Kairo setelah serangan Rusia di Ukraina mendongkrak harga gandum dan minyak mentah. Mereka juga membahas isu-isu internasional dan regional.
Ketiga negara tersebut adalah sekutu dan mitra AS dan merupakan bagian dari poros Arab-Israel yang bertujuan mengendalikan pengaruh Iran di tengah ketidakpastian tentang komitmen Washington terhadap keamanan regional.
Wakil Menteri Luar Negeri Israel Aidan Roll kepada Radio Kan mengatakan, “Kami menyaksikan dengan jelas penguatan poros yang menghadirkan narasi lain di Timteng, yaitu bahwa kami dapat bekerja dan bekerjasama dalam masalah ekonomi dan pertahanan.â€
Dia menambahkan, “Israel berkomitmen untuk membangun kemitraan yang baik dengan siapa pun dalam menghadapi poros ekstremis Iran.â€
Saluran 12 Israel melaporkan bahwa Bennet mengusulkan kepada El-Sisi dan Bin Zayed pembentuan aliansi regional anti-Iran.
Sumber-sumber keluarga Kerajaan Saudi menyatakan bahwa pertemuan puncak segi tiga itu sangat penting bagi masa depan kawasan Timteng.
Kekhawatiran terhadap Iran mendorong UEA dan Bahrain untuk menjalin hubungan dengan Israel pada tahun 2020, sementara Mesir adalah negara Arab pertama yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada sekira 40 tahun silam.
Tiga negara itu secara khusus mengkhawatirkan kesepakatan yang mulai terbentuk untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015 antara Iran dan negara-negara besar dunia, di mana sanksi terhadap Iran akan dicabut sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya. Mereka takut Iran sedang berusaha mengembangkan senjata nuklir, meski Teheran kerap membantah tuduhan demikian.
Pada bulan lalu Bennett mengatakan bahwa kesepakatan yang diharapkan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir itu lebih lemah dari pengaturan awal dan akan menyebabkan lebih banyak kekerasan di Timur Tengah. Dia juga mendesak AS agar tidak menghapus pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dari daftar hitam organisasi teroris asing dengan imbalan “janji-janji kosong.”
Negara-negara Arab Teluk Persia juga mengkritik pembicaraan nuklir karena tidak membahas program rudal Iran dan proksi Teheran di kawasan, terutama Ansarullah (Houthi) di Yaman yang kerap meluncurkan rudal dan drone serang ke Arab Saudi dan UEA.
Saudi dan UEA kuatir pengaruh Iran semakin membesar jika dapat mengekspor minyak lagi di bawah perjanjian nuklir dengan Washington.
Pengamat politik UEA Abdul Khaleq Abdullah mengatakan, “Beberapa sekutu utama AS di sini tidak senang dengan pendekatan (Presiden AS Joe) Biden… Bagi mereka, pendirian bersama mereka dan berbicara dengan satu suara mungkin beresonansi”.
Kepala Pusat Studi Strategis Mesir, Khaled Okasha, mengatakan bahwa pertemuan El-Sisi dengan Bennett mungkin berfokus pada dampak konflik Ukraina, dan di saat yang sama ketiga negara itu sependapat tentang Iran. (raialyoum)
Tahun ke-8 Perang, Menhan Yaman: Saudi dan UEA akan Mendapat Kejutan lebih Besar
Menteri Pertahanan Yaman kubu Sanaa, Mohammad Naser Al-Atefi, bersumbar bahwa koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) akan mendapat “kejutan-kejutan†serangan balasan yang lebih hebat dari Yaman.
Dikutip Al-Mayadeen, Selasa (22/3), Al-Atefi menegaskan, “Kejutan-kejutan ini akan mengubah perimbangan kekuatan dan menimbulkan ketakutan negara-negara koalisi agresor.â€
Dia menambahkan, “Tahun ke-8 resistensi (Yaman) akan menjadi tahun badai-badai (serangan) dari Yaman, raihan-raihan senjata dan strategi yang lebih maju, lebih kuat dan lebih mencegah di depan koalisi dan para pendukungnya.â€
Al-Atefi memastikan bahwa kontinyuitas agresi militer Saudi dan UEA terhadap Yaman tak akan mendatangkan apapun bagi keduanya kecuali kerugian yang lebih besar.
“Apa yang akan terjadi di masa mendatang akan berbeda dari segi format dan konten,†ujarnya.
Menurutnya, kekuatan rudal Yaman sekarang menempati posisi yang tinggi dari segi pengembangan dan modernisasi di mana jarak tempuh, akurasi dan daya destruktifnya terus bergerak maju serta dilengkapi sistem pintar sehingga tak mudah dicegat oleh berbagai sistem pertahanan udara.
Mengenai drone Yaman, dia mengatakan bahwa salah satu alutsista andalan ini juga akan terus dikembangkan dengan pengalaman dan kemampuan pribumi agar lebih berkemampuan menjalankan misi geopolitik. (almayadeen)







