Jakarta, ICMES. Serangan rudal Israel menggugurkan dua warga sipil dan meninggalkan kerusakan material di pinggiran Damaskus, ibu kota Suriah

Dua pasukan Zionis Israel terluka ditikam oleh seorang pemuda Palestina di daerah Pasar Al-Qattanin dekat Masjid Al-Aqsa, Quds (Yerussalem) pada Senin malam
Industri Militer Arab Saudi (SAMI) berencana memproduksi sendiri pesawat nirawak (UAV/drone),
Pejabat Iranmenyatakan bahwa prospek untuk mencapai kesepakatan yang baik dalam pembicaraan nuklir di Wina masih belum jelas karena Amerika Serikat belum membuat keputusan politik.
Berita Selengkapnya:
Dua Warga Sipil Suriah Gugur Terkena Serangan Israel Dekat Damaskus
Serangan rudal Israel menggugurkan dua warga sipil dan meninggalkan kerusakan material di pinggiran Damaskus, ibu kota Suriah, Senin (7/3)
Mengutip sumber militer, kantor berita resmi Suriah SANA melaporkan bahwa Israel melancarkan serangan sekitar pukul 05:00 waktu setempat dengan sasaran sebuah posisi di selatan Damaskus.
Kelompok pemantau Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris, menyatakan rudal itu mengenai “depot senjata dan amunisi yang dioperasikan oleh milisi yang didukung Iran di dekat Bandara Internasional Damaskus”.
Menurut SOHR, Israel telah melakukan sedikitnya tujuh kali serangan ke sejak awal tahun ini.
SOHR mengklaim bahwa serangan Israel di dekat Damaskus pada bulan lalu menggugurkan dua tentara Suriah dan empat pejuang milisi yang didukung Iran.
Kementerian Luar Negeri Suriah menyatakan bahwa serangan Zionis itu terjadi hanya beberapa jam setelah serangan kelompok teroris ISIS dan ini “menunjukkan adanya koordinasi yang cermat dan langsung antara kedua pihak penjahat ini.”
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip SANA, kementerian itu menyebutkan bahwa Zionis dan ISIS sama-sema sedang memanfaatkan gejolak situasi dunia untuk melancarkan kejahatan dan menutupinya.
Sejak perang pecah di Suriah pada tahun 2011, Israel telah melakukan ratusan serangan udara dari wilayah pendudukan Palestina ataupun Dataran Tinggi Golan Suriah terhadap posisi-posisi pemerintah serta pasukan sekutu yang didukung Iran dan Hizbullah.
Israel jarang mengakui serangannya itu setiap kali ada laporan mengenai adanya serangan Israel di Suriah. Dalam serangan terbarupun rezim Zionis tak berkomentar apapu. Meski demikian, Israel mengakui pihaknya menarget pangkalan milisi sekutu Iran, seperti Hizbullah, yang berperang di pihak pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad. (aljazeera/fna)
Tikam Pasukan Zionis, Seorang Pemuda Palestina Ditembak
Dua pasukan Zionis Israel terluka ditikam oleh seorang pemuda Palestina di daerah Pasar Al-Qattanin dekat Masjid Al-Aqsa, Quds (Yerussalem) pada Senin malam (7/3).
Di tengah simpang siur kabar mengenai nasib pelaku penikaman, polisi Israel mengaku telah “menetralisir†pelaku. Beberapa sumber menyebutkan bahwa dia terluka parah, namun surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa dia terbunuh setelah polisi menembaknya.
Sebuah rekaman video detik-detik usai penikaman memperlihatkan beberapa polisi Israel mengepung pelaku yang tergeletak di tanah dan tampak masih hidup, namun salah satu polisi Israel lantas menembaknya sebelum kemudian pelaku dipindahkan ke lokasi yang tidak diketahui tanpa ada kejelasan mengenai nasibnya.
Polisi Israel dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa seorang warga Palestina mendatangi daerah Bab Al-Qattanin di Kota Tua Quds dengan membawa senjata tajam dan kemudian menikam dua polisi dari Brigade Yerussalem dan Polisi Perbatasan yang bertugas di sana.
Polisi Israel mengaku telah menembak dan “menetralkannyaâ€, sembari mengakui bahwa penikaman mengakibatkan dua polisi terluka. Sumber medis menyatakan bahwa dua polisi itu menderita luka sedang dan dibawa ke rumah sakit untuk perawatan. (alalam)
Saudi Berencana Membuat Drone Militer Sendiri
Industri Militer Arab Saudi (SAMI) berencana memproduksi sendiri pesawat nirawak (UAV/drone), menurut laporan televisi Saudi al-Ekhbariya yang mengutip pernyataan Kepala Eksekutif Walid Abukhaled pada Ahad (6/3).
Abukhaled juga mengatakan bahwa lebih dari 50 persen pengeluaran militer akan dilokalisasi pada tahun 2030, dan bahwa perusahaan tersebut bekerja untuk membangun “pabrik amunisi terbesar di dunia†dan melokalisasi industri pertahanan.
Didirikan pada tahun 2017, SAMI, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Dana Investasi Publik Kerajaan (PIF) dan National Champion of Military Industries Localization, adalah salah satu mitra strategis di World Defense Show (WDS) yang dimulai di Riyadh sebelumnya pada Ahad.
Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan pada Sabtu lalu SAMI mengatakan pihaknya bertujuan mempercepat “transformasi menjadi salah satu dari 25 perusahaan pertahanan dan keamanan teratas di dunia pada tahun 2030.â€
Pertunjukan Pertahanan Dunia pertama Arab Saudi dibuka untuk umum pada Ahad pagi. Acara ini menampilkan hampir 600 peserta pameran dari lebih dari 40 negara, dan penyelenggara memperkirakan bahwa 30.000 orang akan hadir.
Sementara itu, situs Saudi Gazette melaporkan bahwa Perusahaan Sistem Komunikasi dan Elektronik Tingkat Lanjut Arab Saudi (ACES), pada Sabtu lalu, menandatangani perjanjian strategis dengan perusahaan transfer pengetahuan global China untuk memproduksi pesawat nirawak di Saudi.
Perjanjian itu ditandatangani setelah ACES mengumumkan pendirian perusahaan baru Aerial Solutions untuk pesawat nirawak.
Perjanjian itu akan memfasilitasi perusahaan China untuk mendirikan pusat penelitian dan pengembangan dan tim manufaktur untuk berbagai jenis sistem muatan drone, termasuk unit komunikasi, unit kontrol penerbangan, sistem kamera, sistem radar, dan sistem deteksi nirkabel.
Saudi akan memanfaatkan pengalaman luas perusahaan China yang mencakup lebih dari 20 tahun dalam penelitian dan pengembangan, dengan puluhan lembaga penelitiannya. (alarabiya/saudigazette)
Pejabat Iran Sebut Prospek Perundingan Wina Masih Tak Jelas Akibat Sikap AS
Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Ali Shamkhani menyatakan bahwa prospek untuk mencapai kesepakatan yang baik dalam pembicaraan Wina yang sedang berlangsung antara perwakilan Iran dengan pihak-pihak yang tersisa dalam kesepakatan 2015 masih belum jelas karena Amerika Serikat (AS) belum membuat keputusan politik.
“Prospek kesepakatan di #ViennaTalks masih belum jelas karena keterlambatan Washington dalam membuat keputusan politik. Prioritas negosiator Iran adalah untuk menyelesaikan masalah yang tersisa yang dianggap di garis merah. Akses cepat ke kesepakatan yang kuat membutuhkan inisiatif baru dari semua pihak, â€tulis Ali Shamkhani di Twitter, Senin (7/3).
Pejabat tinggi keamanan Iran ini sebelumnya menyatakan bahwa penjagaan kepentingan rakyat Iran adalah satu-satunya faktor yang mempengaruhi jalannya negosiasi di ibu kota Austria tersebut.
Shamkhani menyebutkan bahwa Teheran sedang mengerjakan inisiatif negosiasi baru dan metode kreatif untuk “mempercepat solusi.”
“Peserta Wina bertindak & bereaksi berdasarkan minat dan itu bisa dimengerti. Interaksi kami dengan 4+1 (Inggris, Prancis, Rusia dan China plus Jerman – red.) juga semata-mata didorong oleh kepentingan rakyat kami,†cuitnya.
Dia menambahkan, “Jadi, kami menilai elemen baru yang mendukung negosiasi dan karenanya akan mencari cara kreatif untuk mempercepat solusi.â€
Perundingan untuk pemulihan kesepakatan 2015, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), masih berlangsung di Wina.
Negosiasi itu dimulai April lalu dengan asumsi bahwa AS, di bawah pemerintahan Biden, bersedia menyudahi “tekanan maksimum†yang diterapkan oleh mantan presiden AS Donald Trump.
Teheran bersumpah tidak akan menerima apa pun selain penghapusan semua sanksi AS dengan cara yang dapat diverifikasi, dan menginginkan jaminan bahwa Washington tidak akan meninggalkan perjanjian itu lagi.
AS meninggalkan JCPOA pada tahun 2018 dan mulai menerapkan apa yang disebutnya kampanye sanksi “tekanan maksimum†terhadap Iran. (presstv)







