Jakarta, ICMES. Presiden Rusia Vladimir Putin menempatkan pasukan deterensi nuklirnya dalam status”siaga tinggi menyusul adanya pernyataan agresif dari Eropa dan negara anggota terkemuka NATO.

Presiden Iran Ayatullah Sayid Ebrahim Raeisi menyatakan negaranya menyambut baik setiap upaya diplomatik yang ditujukan untuk penyelesaian damai konflik yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina.
Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman Sayid Abdul Malik Badreddin Al-Houti menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Rezim Zionis Israel menggunakan sebagian rezim Arab sebagai alat untuk mengimplementasikan rencana kotor terhadap umat Islam.
Berita Selengkapnya:
Makin Menegangkan, Tanggapi NATO, Pasukan Nuklir Rusia Bersiaga Tinggi
Presiden Rusia Vladimir Putin menempatkan pasukan deterensi nuklirnya dalam status”siaga tinggi menyusul adanya pernyataan agresif dari Eropa dan negara anggota terkemuka NATO.
“Pejabat tinggi negara-negara NATO terkemuka memanjakan diri dalam membuat pernyataan agresif tentang negara kita. Karena itu, saya memerintahkan menteri pertahanan dan kepala staf umum untuk menempatkan pasukan pencegahan tentara Rusia ke dalam mode tugas tempur khusus,†kata Putin dalam sebuah briefing, Ahad (27/2).
Sehari sebelumnya, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya mengaku akan mempercepat persenjataan dan bantuan militer lainnya untuk membantu Ukraina melawan invasi pasukan Rusia.
Selain itu, Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss menyatakan bahwa jika operasi militer Rusia di Ukraina tidak “dihentikan†maka dapat menyulut konflik dengan NATO.
“Jika kita tidak menghentikan Putin di Ukraina, kita akan melihat negara-negara lain berada di bawah ancaman: Baltik, Polandia, Moldova. Dan itu bisa berakhir dalam konflik dengan NATO,” kata Truss, Ahad.
NATO telah meningkatkan perang verbal terhadap Rusia sejak Kamis, ketika Putin mengumumkan “operasi militer khusus†dengan dalih untuk “demiliterisasi†Republik Donetsk dan Lugansk di Ukraina timur.
Dua wilayah itu memisahkan diri dari Ukraina pada tahun 2014 setelah menolak mengakui pemerintah Ukraina pro-Barat yang telah menggulingkan pemerintahan sebelumnya yang bersahabat dengan Rusia dan dipilih secara demokratis.
Lebih dari 14.000 orang tewas sejauh ini di seluruh wilayah itu akibat dari konflik yang terjadi antara militer Ukraina dan separatis pro-Rusia.
Mengumumkan operasi tersebut, Putin mengatakan misi itu bertujuan “membela orang-orang yang selama delapan tahun terdera penganiayaan dan genosida oleh rezim Kiev.†(presstv)
Sindir Ekspansionisme NATO, Iran Dukung Upaya Diplomatik untuk Penyelesaian Krisis Ukraina
Presiden Iran Ayatullah Sayid Ebrahim Raeisi menyatakan negaranya menyambut baik setiap upaya diplomatik yang ditujukan untuk penyelesaian damai konflik yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina.
“Republik Islam Iran mendukung upaya apa pun yang akan mengarah pada penyelesaian damai konflik di Ukraina, dan siap memainkan peran untuk membantu memulihkan perdamaian dengan cara apa pun yang memungkinkan,” kata Raisi saat berpidato di sesi kabinet di Teheran, Ahad (28/2).
“Berdasarkan prinsip-prinsip dasar kebijakan luar negerinya, Republik Islam Iran menentang hegemoni dan ketundukan pada hegemoni, dan mendukung hak semua negara untuk menentukan nasib sendiri,” ungkapnya.
Sembari menekankan perlunya melindungi integritas teritorial dan kedaulatan nasional semua negara, Sayid Raisi mengatakan, “Republik Islam Iran memahami masalah keamanan yang timbul dari beberapa dekade ekspansionisme NATO.â€
Presiden Iran menambahkan, “Kami sangat percaya bahwa diplomasi dan kepatuhan yang tulus terhadap kewajiban internasional oleh semua pihak memberikan satu-satunya jalan keluar yang langgeng dan adil dari situasi saat ini.”
Presiden Iran juga menekankan bahwa semua pihak dalam konflik Ukraina harus serius dalam melindungi kehidupan dan harta benda warga negara dan warga sipil serta mematuhi prinsip-prinsip hukum internasional dan kemanusiaan.
Seperti diketahui, Presiden Rusia Vladimir Putin Kamis lalu mengumumkan “operasi militer khusus” untuk “demiliterisasi” Republik Donetsk dan Lugansk di Ukraina timur, yang secara kolektif dikenal sebagai Donbass.
Donbass memisahkan diri dari Ukraina pada tahun 2014 setelah menolak mengakui pemerintah Ukraina pro-Barat yang telah menggulingkan pemerintahan sebelumnya yang bersahabat dengan Rusia dan dipilih secara demokratis.
Putin menyebut misi itu bertujuan “membela orang-orang yang selama delapan tahun menderita penganiayaan dan genosida oleh rezim Kiev.â€
Jumat lalu, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan kepada sejawatnya dari Rusia Sergei Lavrov bahwa pihaknya berharap krisis Rusia-Ukraina dapat diselesaikan melalui kanal politik.
Dia mengatakan, “Ini adalah prioritas serius kami untuk memastikan keamanan dan kesehatan warga Iran yang tinggal di Ukraina dan kami berharap bahwa alasan akan disiapkan untuk keluar dengan aman.†(presstv)
Sayid Al-Houthi: AS Gunakan Sebagian Rezim Arab untuk Konspirasi Anti-Muslimin
Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman Sayid Abdul Malik Badreddin Al-Houti menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Rezim Zionis Israel menggunakan sebagian rezim Arab sebagai alat untuk mengimplementasikan rencana kotor terhadap umat Islam.
Dalam pidato peringatan gugurnya Hussein Badreddin al-Houthi, Ahad (27/2), Sayid Abdul Malik memastikan bahwa AS dan Israel sebenarnya tidak menghargai rezim-rezim Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Arab Saudi, yang terlibat normalisasi hubungan dengan Tel Aviv atau cenderung kepadanya.
“AS dan Zionis memandang negara-negara Arab regional hanya sebagai alat yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan plot mereka,†ungkap Houthi, sembari mengecam keras “beberapa negara Arab pengkhianat karena berkolaborasi dengan plot AS dan Israel.â€
Pemimpin Ansarullah memastikan bahwa AS di Timur Tengah hanya bersahabat dan percaya kepada Israel sehingga pada akhirnya akan meninggalkan rezim-rezim lain.
Sayid Al-Houthi menyebut AS dan Israel “berpura-pura menjadi sahabat” melalui propaganda, dan di saat yang sama keduanya berusaha mencuri sumber daya alam dan manusia dari negara-negara Muslim.
Dia juga mengatakan bahwa rezim-rezim Arab penormalisasi hubungan dengan Israel berusaha memburukkan citra para pejuang dan rakyat Palestina serta menyangkal semua fakta bahwa Israel melakukan segala bentuk kejahatan.
“Media kaum agresor sedang mencoba untuk mendistorsi citra orang-orang Palestina, dan mengesankan bahwa mujahidinnya bekerja untuk Iran, bukan untuk urusan mereka sendiri.”
Sayid Al-Houthi juga menyatakan bahwa rezim-rezim Arab itu memerangi Hizbullah di gelanggang propaganda, politik dan ekonomi serta menghamburkan demi memblokade Hizbullah, kelompok pejuang Lebanon yang, menurutnya, telah mencetak kemenangan-kemenangan besar serta menjaga pamor umat Islam dalam konflik dengan kaum Zionis Israel. (alalam)







