Jakarta, ICMES. Institut Hubungan Internasional Prancis menerbitkan sebuah kajian yang mengungkap “kerapuhan Uni Emirat Arab dalam menghadapi serangan pesawat nirawak dan rudal Yaman, meskipun pengeluaran Abu Dhabi sangat besar untuk belanja persenjataan militer.”

Menteri luar negeri Saudi Faisal bin Farhan menyatakan negaranya semula berharap perang di Yaman tidak akan berlangsung terlalu lama, tapi ternyata berlangsung jauh melampaui harapan.
Rezim Israel menyerang kawasan sekitar Damaskus, ibukota Suriah, hingga menyebabkan tiga tentara tewas.
Presiden Israel Isaac Herzog mengkonfirmasi bahwa dia akan berkunjung ke Turki dan menyebut kunjungan ini sebagai bagian dari upaya untuk menggalang aliansi regional untuk melawan perubahan iklim.
Berita Selengkapnya:
Kajian di Prancis Ungkap Kerapuhan UEA di Depan Drone dan Rudal Yaman
Institut Hubungan Internasional Prancis (IFRI) menerbitkan sebuah kajian yang mengungkap “kerapuhan Uni Emirat Arab (UEA) dalam menghadapi serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal Yaman, meskipun pengeluaran Abu Dhabi sangat besar untuk belanja persenjataan militer.”
Peneliti dari IFRI Jean-Loup Samaan dalam sebuah penelitian menyebutkan telaknya serangan pasukan Yaman kubu Sanaa dalam operasi “Badai Yaman†pada 17 Januari, dan serangan-serangan susulannya serta kerapuhan UEA dalam menghadapi sengitnya serangan drone dan rudal Yaman.
Statistik resmi internasional mencatat rezim UEA telah menghabiskan sekira $5 miliar sejak 2015 untuk kesepakatan militer di tengah aktivitas untuk memicu perang di Yaman dan Libya serta intervensi di beberapa negara.
Impor UEA tercatat sebesar $4,98 miliar dalam lima tahun terakhir, yaitu dari 2015 hingga 2019.
Angka-angka tersebut hanya terkait dengan statistik yang diumumkan, sementara rezim UEA diduga kuat telah membuat banyak kesepakatan secara rahasia sebagai bagian dari kebijakannya menghamburkan banyak kekayaan negaranya demi persenjataan.
Data ini juga tidak termasuk pengeluaran tambahan untuk pasukan militer UEA dan tentara bayaran yang mereka biayai, atau pembiayaan berbagai ketegangan di Libya atau Yaman. (alalam)
Menlu Saudi Akui Perang Yaman Berkepanjangan di Luar Dugaan
Menteri luar negeri Saudi Faisal bin Farhan menyatakan negaranya semula berharap perang di Yaman tidak akan berlangsung terlalu lama, tapi ternyata berlangsung jauh melampaui harapan.
“Kami melakukan intervensi bersama para mitra kami untuk membantu dan melindungi pemerintah Yaman (pemerintahan presiden tersingkir Abd Rabbuh Mansour Hadi ). Kami semula berharap urusan ini tak akan berlangsung lama, tapi sayangnya memerlukan waktu lebih lama dari yang kami harapkan,†ungkapnya, Rabu (23/2).
Menurutnya, Saudi masih melanjutkan upayanya untuk menemukan jalur politik untuk menyelesaikan krisis. “Maret lalu, Arab Saudi mengusulkan gencatan senjata diikuti oleh proses politik, dan ini adalah yang kedua kalinya Riyadh mengajukan usulan ini,†tuturnya.
Bin Farhan sama sekali tak menyinggung desakan pemerintah Yaman kubu Sanaa (Pemerintahan Penyelamatan Nasional) agar blokade terhadap Yaman dan serangan koalisi pimpinan Saudi dan tentara bayarannya dihentikan demi membuka ruang dialog dan pencarian solusi politik. Dia malah mengklaim bahwa Houthi masih enggan menerima inisiatif Saudi dan menahan diri dari negosiasi positif dalam masalah ini.
Menlu Saudi menganggap Ansarullah (Houthi) bertanggung jawab atas eskalasi ketegangan dan enggan mengambil keputusan untuk perdamaian karena terus menjalankan operasi militer untuk membebaskan daerah-daerah yang berada di bawah kendali koalisi dan tentara bayarannya, termasuk Ma’rib.
“Kami mengerahkan segenap upaya kami untuk melindungi daerah-daerah di bawah kendali pemerintah Yaman. Kami melakukan intervensi secara lebih kuat di Ma’rib supaya tak diserbu dan demi mengirim sinyal yang jelas kepada Houthi bahwa jalan kekerasan tidak akan membantu, dan bahwa tidak ada cara lain selain dialog.”
Mengenai serangan pasukan Sanaa ke wilayah Saudi dan UEA, Bin Farhan mengklaim, “Semua ini, sayangnya, merupakan indikasi bahwa Houthi belum memutuskan untuk melakukan apa yang bermaslahat bagi Yaman, melainkan apa yang mereka anggap jalan yang lebih baik bagi mereka.â€
Bin Farhan mendesak para mitra Saudi menambah tekanan terhadap Ansarullah agar menerima apa yang disebutnya gencatan senjata Saudi, karena jika tidak maka, menurutnya, akan ada konsekuensi-konsekuensi tertentu.
Arab Saudi dan sejumlah sekutu regionalnya melancarkan invasi militer Yaman pada Maret 2015 dengan dalih untuk memulihkan pemerintahan Abd Rabbuh Mansur Hadi, dan menumpas gerakan Ansarullah yang telah menggerakkan revolusi rakyat terhadap pemerintahan Hadi.
Ansarullah, yang didukung oleh banyak tentara Yaman dan kelompok-kelompok rakyat justru semakin kuat melawan pasukan pendudukan yang dipimpin Saudi, dan membuat Riyadh dan sekutunya terperangkap dalam peperangan yang tak lagi dapat mereka kendalikan. (mm/alalam)
Israel Serang Suriah, Tiga Tentara Terbunuh
Rezim Israel menyerang kawasan sekitar Damaskus, ibukota Suriah, hingga menyebabkan tiga tentara tewas.
Televisi pemerintah Suriah dini hari Kamis (24/2) melaporkan serangan itu dan menyebutnyai “serangan rudal.”
Beberapa media sebelumnya melaporkan bahwa pertahanan udara Suriah telah menghadapi serangan udara Israel di sekitar Damaskus.
Kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan sejumlah ledakan terdengar di angkasa Suriah dan sekitarnya.
Serangan ini tercatat sebagai yang keempat kalinya serangan Israel ke wilayah Suriah dalam dua pekan terakhir.
Sehari sebelumnya, Suriah menyatakan Israel telah melancarkan serangan rudal ke berbagai sasaran di pinggiran kota Quneitra di barat daya Suriah, dekat wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan.
Pekan lalu, Israel menggempur daerah-daerah di sekitar Damaskus dan kota barat Homs.
Suriah secara teknis berperang dengan Israel yang menduduki Golan milik Suriah. Israel mempertahankan kehadiran militer secara signifikan di Golan dan menjadikan kawasan ini sebagai salah satu landasan untuk serangannya terhadap Suriah.
Israel kerap menyerang posisi-posisi militer di Suriah, terutama yang ditempati oleh para pejuang Hizbullah, yang gigih dan berperan kunci membantu tentara Suriah memerangi teroris yang disponsori pihak-pihak asing, termasuk Israel.
Senin lalu Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad menegaskan cepat atau lambat Damaskus akan melakukan pembalasan dengan intensitas bahkan bisa berlipat ganda. (presstv/alalam)
Jelang Kunjungan ke Ankara, Presiden Israel Nyatakan Ingin Bentuk Aliansi Regional dengan Turki
Presiden Israel Isaac Herzog mengkonfirmasi bahwa dia akan berkunjung ke Turki dan menyebut kunjungan ini sebagai bagian dari upaya untuk menggalang aliansi regional untuk melawan perubahan iklim.
Meskipun jabatan presiden di Israel lebih bersifat seremonial namun Herzog mempromosikan diplomasi Israel yang bertujuan meningkatkan hubungan dengan Ankara.
Israel berharap Ankara mengakhiri dukungan Turki kepada Hamas, dan berusaha meyakinkan Yunani dan Siprus yang bermusuhan dengan Turki bahwa hubungan Israel dengan Yunani dan Siprus tetap erat.
“Selama bulan depan saya akan mengunjungi tetangga kami di sepanjang pesisir Mediterania – Yunani, Siprus, dan Turki, dan untuk bertemu dengan para pemimpin mereka,” katanya.
Dia menambahkan, “Selain mereka, saya tetap berhubungan dekat dan hangat dengan kepemimpinan Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Otoritas Palestina. Saya bermaksud mengajak mereka semua bergabung untuk kemitraan regional menghadapi krisis iklim.â€
Media Turki melaporkan bahwa kunjungan Herzog akan dilakukan pada 9-10 Maret. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kerjasama energi akan dibahas dalam kunjungan tersebut. (raialyoum/ti)







