Rangkuman Berita Utama Timteng Selasa 22 Februari 2022

Jakarta, ICMES. Pemerintah Suriah, Yaman kubu Sanaa dan Cechnya menyatakan dukungannya kepada keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui kemerdekaan dua wilayah bergejolak di Ukraina timur, Donetsk dan Lugansk.

Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad menegaskan Damaskus tak dapat menoleransi serangan Israel ke Suriah, dan karena itu  cepat atau lambat Damaskus akan melakukan pembalasan  dengan intensitas bahkan  bisa berlipat ganda.

Media Israel melaporkan adanya pembentukan aliansi pertahanan terhadap ancaman drone kamikaze Iran dan sekutunya, dan menyebut Iran miliki puluhan ribu drone bertujuan militer.

Berita Selengkapnya:

Suriah, Yaman dan Cechnya Dukung Pengakuan Putin atas Kemerdekaan Dua Wilayah di Ukraina Timur

Pemerintah Suriah, Yaman kubu Sanaa dan Cechnya menyatakan dukungannya kepada keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui kemerdekaan dua wilayah bergejolak di Ukraina timur, Donetsk dan Lugansk. Di pihak lain Uni Eropa (UE) mengutuk keras keputusan Putin tersebut.

Anggota Dewan Tinggi Keamanan Yaman Mohammad Ali Al-Houthi di Twitter, Senin (21/2), menyatakan, “Kami mendukung pengakuan atas Donetsk dan Lugansk sebagai dua negara republik yang merdeka.”

Dia juga menyatakan, “Kami menyerukan penahanan diri dan tidak terjerumus pada perang yang diinginkan untuk menguras kekuatan Rusia.”

Presiden Suriah Bashar Al-Assad menyatakan kesiapan Damaskus mengakui kemerdekaan Donetsk dan Lugansk. Anggota Duma Negara Rusia, Dmitry Sablin, kepada Sputnik mengatakan,”Presiden al-Assad mengatakan bahwa Damaskus akan siap untuk mengakui Republik Lugansk dan Donetsk.”

Presiden Cechnya Ramzan Kadyrov menyatakan dukungan penuhnya kepada keputusan Putin dan menyebutnya sebagai satu-satunya solusi bagi kebuntuan politik saat ini.

Sebelumnya, Presiden Putin dalam sebuah pidato berapi-api yang disiarkan di televisi pemerintah mengumumkan pengakuannya atas kemerdekaan Donetsk dan Lugansk. Keputusan Putin dibacakan meskipun Barat sudah memperingatkan bahwa tindakan itu akan memicu sanksi besar-besaran.

“Saya percaya perlu untuk mengambil keputusan yang lama tertunda, untuk segera mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Lugansk,” tegas Putin.

Putin juga meminta Duma Negara dan Majelis Federal untuk segera mengakui republik Donetsk dan Lugansk.

“Kami menuntut agar mereka yang merebut dan mempertahankan kekuasaan di Kiev segera menghentikan pertempuran, jika tidak, seluruh tanggung jawab atas pertumpahan darah yang berkelanjutan akan sepenuhnya jatuh pada rezim yang berkuasa di Ukraina,” desak Putin.

“Saya menganggap perlu untuk mengambil keputusan untuk mengakui republik Luhansk dan Donetsk,” lanjutnya, sembari meminta Majelis Federal untuk meratifikasi dokumen yang diperlukan.

Kecaman Keras Uni Eropa

Para pemimpin dari Uni Eropa dan Inggris berjanji Senin untuk menjatuhkan sanksi atas keputusan tersebut. Dalam sebuah pernyataan singkat, Presiden Dewan Eropa Charles Michel dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengaku “mengutuk sekeras mungkin keputusan Presiden Rusia melanjutkan pengakuanatas daerah-daerah yang dikendalikan non-pemerintah di oblast Donetsk dan Luhansk, Ukraina, sebagai entitas independen”.

Mengacu pada kesepakatan damai yang disepakati pada tahun 2014 dan 2015, dua pemimpin itu menambahkan, “Langkah ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional serta perjanjian Minsk. UE akan bereaksi dengan sanksi terhadap mereka yang terlibat dalam tindakan ilegal ini.”

Putin telah meminta Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menarik pasukan dan sistem alutsista dari negara anggota di perbatasan Eropa Timur.

Pada Januari lalu, Washington dan NATO menyerahkan tanggapan tertulis atas proposal Rusia. Namun, mereka tak memberikan penjelasan kepada Rusia mengenai hal-hal yang penting secara prinsip.

Hubungan Rusia dengan NATO dan Barat kemudian memanas belakangan ini, terutama setelah Putin mengerahkan ratusan ribu tentara dan peralatan tempur ke perbatasan Ukraina. (alalam/raialyoum/peu)

Dari Rusia, Menlu Suriah Ancam Israel dengan Serangan Balasan Berlipat

Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad menegaskan Damaskus tak dapat menoleransi serangan Israel ke Suriah, dan karena itu  cepat atau lambat Damaskus akan melakukan pembalasan  dengan intensitas bahkan  bisa berlipat ganda.

Peringatan terhadap Rezim Zionis Israel itu dilontarkan Mekdad dari Rusia dalam konferensi pers bersama dengan mitra di sana, Sergei Lavrov, (Senin (21/2).

“Damaskus sanggup membalas satu sha’ dengan dua sha’”, sumbarnya, seperti dikutip Al-Alam, mengacu pada satuan ukuran berat yang popular dalam budaya tradisional Arab di mana satu sha’ setara dengan 3,8 kg.

Mengenai sepak terjang pasukan pendudukan Amerika Serikat (AS) di negaranya, Mikdad menyatakan bahwa AS di Suriah bukan hanya menyokong pasukan separatis melainkan juga kelompok-kelompok teroris.

Di pihak lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam konferensi pers ini menegaskan bahwa serangan udara Israel di Suriah harus segera dihentikan, terutama karena serangan ini menghambat upaya Damaskus memberantas terorisme.

Sementara itu, dalam pertemuan antara keduanya, Lavrov menuding Barat “berusaha menciptakan konfrontasi yang nyaris tidak dapat diatasi” dengan Rusia karena ketegangan terus meningkat di Ukraina.

Menimpali pernyataan ini, Mekdad menyatakan bahwa Barat “mendorong Ukraina dalam melakukan agresi terhadap Rusia” dan  bahwa “kampanye kemunafikan, kebohongan dan kesalahan representasi” Barat “sama dengan” apa yang mereka lakukan terhadap pemerintah Suriah. (alalam/rw)

Laporkan Pembentukan Aliansi Anti-Iran, Media Israel Sebut Iran Miliki 40,000 Drone

Media Israel melaporkan adanya pembentukan aliansi pertahanan terhadap ancaman drone kamikaze Iran dan sekutunya, dan menyebut Iran miliki puluhan ribu drone bertujuan militer.

Mengutip sumber-sumber politik dan keamanan senior di lembaga keamanan Israel, TV saluran 12 milik Israel pada Ahad malam (20/2) menyebutkan bahwa aliansi pertahanan itu mencakup Israel dan negara-negara di kawasan, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Pembentukan aliansi itu terjadi setelah pasukan Yaman kubu Sanaa meluncurkan drone kamikaze dan rudal jelajah ke wilayah UEA dan Arab Saudi, dan setelah Israel mengakui bahwa kota Eilat di selatan berada dalam jangkauan rudal Yaman.

Saluran itu menekankan bahwa aliansi itu dibentuk dalam beberapa hari terakhir dengan negara-negara yang dekat maupun yang jauh dari Israel untuk memanfaatkan kemampuan mendeteksi serta mencegat drone dan ancaman.

Pada hari yang sama, UEA meminta tentara negara-negara sekutu bekerjasama membangun “perisai” yang melindungi dari bahaya drone, setelah UEA mendapat serangan rudal dan drone dari Yaman.

Para pengamat dan pakar di Israel menyatakan bahwa bagian terpenting dalam Perjanjian Abraham untuk normalisasi antara Israel dan negara-negara Teluk antara lain ialah pembentukan aliansi pertahanan di antara mereka dengan tujuan membendung “ekspansi Iran” di Timteng dan menjadikan negara republik Islam itu sebagai musuh mereka.

Sementara itu, surat kabar Israel Jerusalem Post mengutip sebuah laporan baru lembaga think tank Alma Israel bahwa “Hizbullah memiliki sekira 2000 pesawat nirawak” yang  “banyak diantaranya canggih dan diproduksi di Iran, selain diproduksi secara independen oleh Hizbullah.”

Menurut laporan itu, “Hizbullah memiliki 200 drone buatan Iran pada tahun 2013, dan dengan bantuan Iran, jumlah itu kini meningkat secara signifikan” dan rencanya akan “digunakan dalam serangan terhadap target-target strategis di Israel,” serta untuk pengintaian terhadap pasukan dan pangkalan Israel.

Mengenai Iran, Alma menyebut negeri mullah ini “telah membangun pasukan untuk drone sejak 1984” dan “armadanya tidak hanya memiliki jangkauan lebih dari 2.000 kilometer melainkan juga memiliki pengembangan dan kemampuan operasional yang sangat maju.”

Menurut Alma, Iran memiliki sekira 40,000 drone yang terdiri atas sembilan jenis dan 48 model, yang sebagian sudah dioperasikan  dan lainnya yang masih dalam tahap percobaan. Berbagai model drone Iran itu digunakan oleh Hizbullah, Hamas dan Jihad Islam di Gaza.

Alma juga menyebutkan, “Iran menggunakan drone bukan hanya untuk menyerang, melainkan juga untuk mengirim senjata ke sekutunya… Iran telah mengembangkan drone dengan hulu ledak tempur berbobot  5- 15 kilogram dengan  jangkauan operasional hingga 400 km.” (raialyoum)