TelAviv, LiputanIslam.com – Penduduk Israel akan mendapat perintah melakukan aksi bunuh diri dalam peperangan mendatang antara Israel dan musuh-musuhnya, ungkap penulis Israel Rogel Alpher dalam sebuah artikelnya yang dimuat di surat kabar Haaretz.

Dikutip Fars, Selasa (7/2), dalam artikel itu Alpher mencatat, “Ketika tentara Arab Mesir menang dan menduduki permukiman Nitzanim di selatan Israel pada tahun 1948, komandan umum angkatan bersenjata saat itu menginstruksikan kepada para prajurit dan perwira untuk terus bertempur sampai mati, yakni bunuh diri.â€
Menurut Alpher, instruksi itu keluar dengan alasan bahwa orang Yahudi pantang menyerah dan karena itu instruksi tersebut juga ditujukan kepada para prajurit dan perwira yang sudah menyerah, meskipun ternyata dalam peristiwa itu sebanyak 104 tentara, termasuk beberapa perwira, menjadi tawanan pasukan Mesir.
Dalam artikel yang juga diterjemahkan ke bahasa Arab oleh Rai Al-Youm itu, Alpher menyebutkan bahwa pada saat itu budaya kemartiran atau “ethosâ€, kosata Yunani yang berarti “karakterâ€, berkembang luas di Israel dan digunakan untuk menggambarkan keyakinan atau cita-cita yang menjadi karakteristik sebuah masyarakat, bangsa, ataupun ideologi selama peperangan Israel.
Karena budaya ethos inilah, lanjut Alpher, orang-orang Israel hidup dalam suasana di mana mereka mengetahui bahwa ribuan orang di antara mereka akan mati dalam perang multi-front yang akan meletus di masa mendatang. Badan-badan keamanan di Tel Aviv kerap memberitahukan kepada masyarakat bahwa dalam perang mendatang ribuan rudal dari Lebanon, Iran dan Jalur Gaza pasti akan jatuh di Israel, dan masalah ini hanyalah masalah waktu.
Alpher menuliskan bahwa Gush Dan atau Area Metropolitan Tel Aviv, yang merupakan tulang punggung pemerintah, akan menjadi target utama sehingga akan berubah menjadi timbunan kehancuran dalam konfrontasi mendatang. Namun, penduduk Israel yang tidak memiliki pertahanan dan pengawasan yang direncanakan sebelumnya dari pemerintah Israel tidak akan menerima perintah melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa mereka, melainkan perintah resmi dari otoritas terkait untuk bersembunyi dan kemudian bunuh diri.
Sebelumnya, di surat kabar yang sama, sembari menyebutkan beberapa faktor penyebab kehancuran Israel di masa mendatang, Alpher menyatakan, “Israel telah meneken serifikat kematian dan kebinasaannya, dan tak ada jalan bagi kita kecuali menunggu untuk mengetahui masa itu.†(mm/fna)
Berbelasungkawa atas Kematian Bocah Rayyan di Maroko, Sanaa Ingatkan Dunia Derita Bocah Yaman
Sanaa, LiputanIslam.com – Menlu Yaman kubu Sanaa Hisham Sharif menyatakan belasungkawa kepada bangsa Maroko dan keluarga yang berduka atas meninggalnya bocah Rayyan Oram dalam peristiwa dramatis yang telah mengundang perhatian dan simpati dunia.
Rayyan adalah bocah usia lima tahun yang terjebak di dalam sumur sempit sedalam 32 meter selama empat hari di kota kecil Tamorot di utara, sekitar 100 km dari kota Chefchaouen, pada Selasa (1/2). Bocah itu sempat ditemukan selamat pada Sabtu malam (5/2), tapi tak lama kemudian meninggal dunia.
Hisham Sharif kepada kantor berita Yaman, Saba, menyampaikan takziahnya atas tragedi itu, namun sembari mengingatkan kepada bangsa-bangsa Arab dan dunia ihwal nasib jutaan bocah Yaman dan keluarga mereka yang hidup menderita akibat blokade dan invasi militer pasukan koalisi pimpinan Saudi.
Sharif menyebutkan bahwa jutaan bocah Yaman “terisolasi bahkan dari haknya yang paling mendasar di era modern di mana kepentingan antarnegara telah melangkahi prinsip dan norma kemanusiaanâ€.
Menurut Sharif, jutaan bocah Yaman itu kini tak berarti apa-apa di mata masyarakat dunia, termasuk pihak-pihak yang selama ini mengaku peduli hak anak kecil
Dia menjelaskan bahwa sudah tujuh tahun anak-anak Yaman mempertaruhkan nyawa mereka setiap hari ketika mereka pergi ke sekolah, sementara ratusan ribu anak tak dapat lagi bersekolah akibat kondisi kehidupan keluarga mereka.
“Berlanjutnya agresi pemerintah Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) terhadap bangsa Yaman adalah agresi krusial yang takkan pernah dilupakan oleh sejarah, dan menjadi noda hitam dalam sejarah hubungan Yaman dengan Saudi dan UEA,†ungkap Sharif.
Dia lantas menegaskan lagi apa yang sudah berulang kali dinyatakan oleh pemerintah Sanaa bahwa pasukan koalisi pimpinan Saudi harus segera menghentikan agresi dan blokadenya terhadap bangsa Yaman. (mm/alalam)
Plesiran ke Tel Aviv, Wanita Saudi ini Ikut Promosikan Normalisasi Hubungan dengan Israel
TelAviv, LiputanIslam.com – Seorang wanita Saudi yang menyebut dirinya bergelar Doktor dan berprofesi sebagai peneliti komunikasi politik berkunjung ke Israel, dan begitu tiba di Tel Aviv dia segera memosting foto-foto keberadaannya di sana, dengan maksud tentunya untuk mempromosikan normalisasi hubungan Saudi dengan negara Zionis ilegal di tanah Palestina tersebut.
Wanita bernama Najat al-Saeed itu di akun Twitternya pada hari Senin (6/2) tampak berusaha memecah ketabuan hubungan dengan Israel dengan cara memosting foto disertai komentar berbahasa Inggris yang artinya: “Baru saja mendarat di Tel Aviv. Perasaan apa ini. (betapa asyiknya – red).â€
Dia juga memosting beberapa foto lain keberadaannya di salah satu kota Israel disertai komentar; “Tersayangku, Avital Shneller, mengambil gambarku di sekitar sejak saya mendarat. Gambar luar ruangan pertama berada di sebelah Kediaman Presiden. Dia membuatku merasa di rumah (sendiri). Keluarganya sangat manis dan sangat ramah.â€
Sebelumnya, plesiran ke Israel dan aktivasi diplomasi publik untuk mempromosikan normalisasi hubungan dengan rezim Zionis juga pernah dilakukan oleh beberapa warga Saudi lain, yang tak ayal menimbulkan banyak reaksi, terutama dari orang-orang Palestina.
Pada tahun 2019, beberapa media melaporkan kunjungan sekelompok warga Saudi ke Israel, tapi Riyadh membantahnya. Namun sekarang Riyadh malah terkesan membiarkannya agar tercipta opini bahwa plesiran warganya itu mefleksikan bahwa normalisasi hubungan Saudi dengan Israel merupakan aspirasi dan kehendak masyarakat Saudi.
Beberapa negara Arab jirannya di Teluk Persia sudah menormalisasi hubungan dengan Israel, sedangkan Saudi selama ini tampak sangat berminat melakukan hal yang sama namun masih ragu dan masih mempertimbangkan reaksi publik Arab. (mm/fna)
Militer Iran akan Segera Pamerkan “Rudal Strategisâ€
Teheran, LiputanIslam.com – Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan akan segera mengungkap sebuah “rudal strategis†di bidang sistem pertahanan udara yang telah dibuat oleh negara republik Islam ini.
Komandan Pasukan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Amir-Ali Hajizadeh, menyatakan hal itu, Senin (6/2), dalam sebuah acara mengenang pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini, pada HUT ke-43 kemenangan revolusi Islam.
Sembari menyinggung berbagai capaian terbaru IRGC di bidang pertahanan, terutama rudal, Hajizadeh mengatakan, “Rudal strategis akan diluncurkan dalam waktu dekat.â€
Perwira tinggi Iran ini menambahkan bahwa rudal tersebut sudah cukup lama dibuat dan sekarang menjadi bagian dari kemampuan tempur IRGC.
Sebuah studi Pentagon baru-baru ini mengakui besarnya kekuatan rudal Iran dan menyebut persenjataannya lebih besar daripada negara-negara lain di Timur Tengah.
Kemhan AS itu menyatakan, “Iran memiliki program pengembangan misil yang ekstensif, dan ukuran serta kecanggihan kekuatan misilnya terus tumbuh meskipun beberapa dekade upaya kontra-proliferasi bertujuan untuk membatasi kemajuannya.†(mm/presstv)







