Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 5 Februari 2022

Jakarta, ICMES. Lobi Yahudi di Amerika Serikat (AS) gusar karena AS dan negara-negara Eropa melempem dan hanya dapat melontarkan gertak sambal di depan kebandelan Iran.

Juru bicara Komando Umum Angkatan Bersenjata Irak, Yahya Rasool, dan Perdana Menteri Irak Al-Kadhimi menyatakan bahwa intelijen Irak telah memberi AS informasi akurat yang mengungkap tempat persembunyian pemimpin ISIS, Abu Ibrahim al-Hashemi al-Qurayshi.

Presiden Turki Tayyip Erdogan menyatakan bahwa negaranya dan Rezim Zionis Israel dapat bekerjasama untuk menyalurkan gas alam Israel ke Eropa, dan kedua negara akan membahas kerjasama energi dalam pembicaraan bulan depan.

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi masih melanjutkan serangan militernya secara membabi buta di Yaman.  Jet-jet tempur Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) membom berbagai kawasan di Sanaa, ibu kota Yaman.

Berita Selengkapnya:

Merasa Dibohongi Soal Tenggat Perundingan Nuklir Iran, Lobi Yahudi AS Geram

Institut Yahudi untuk Keamanan Nasional Amerika (JINSA), memperlihatkan kegeramannya atas “kepalsuaan” tenggat waktu pemerintahan Presiden Joe Biden untuk urusan nuklir Iran.  Lobi Yahudi di Amerika Serikat (AS) gusar karena AS dan negara-negara Eropa melempem dan hanya dapat melontarkan gertak sambal di depan kebandelan Iran.

Dikutip Fars, Jumat (4/2), JINSA melalui sebuah infografik yang dirisnya menyatakan bahwa waktu seolah tak akan pernah habis untuk perundingan nuklir Iran.

“Sudah berlalu lebih dari satu bulan sejak pemerintahan Biden pertama kali menyatakan ‘beberapa minggu, bukan berapa bulan’ untuk masuknya kembali Iran kepada JCPOA,” ungkap JINSA di halaman Twitternya.

JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama) adalah nama yang lazim dipakai untuk menyebut perjanjian nuklir tahun 2015 yang diteken Iran bersama enam negara terkemuka dunia, termasuk AS, yang kemudian keluar darinya secara sepihak dan kemudian menerapkan sanksi lagi terhadap Iran di masa kepresidenan Donald Trump pada tahun 2018. 

“Peringatan yang dapat diprediksi dan tak terealisasi itu hanya justru memotivasi Teheran untuk mengulur perundingan, memajukan program nuklirnya, dan mendapatkan instrumen lebih banyak,” lanjut JINSA.

JINSA menyertai cuitannya dengan sebuah infografik waktu demi waktu di mana  para pejabat AS dan Eropa sejak Januari 2021 hingga awal Februari 2022 sudah 27 kali bersumbar bahwa tenggat waktu untuk kembali ke perjanjian nuklir Iran sudah hampir habis.

Infografik itu jelas menunjukkan bahwa karena tak memiliki opsi yang kongkret maka pemerintah AS terpaksa melanjutkan perundingan dengan Iran, dan semata demi menjaga pamornya, Washington bersumbar tentang tenggat waktu tapi kemudian melewati dan mengabaikannya begitu saja.

Para pengamat menyebutkan bahwa laju perudingan Wina, sebagaimana perundingan pada umumnya, tak bisa digantungkan pada tindakan sepihak, melainkan harus ada langkah kolektif dan mutual dari semua pihak.

Belakangan ini para pejabat negara-negara Eropa dan AS sendiri mengakui bahwa beberapa kemajuan yang dicapai dalam perundingan Wina lebih berkenaan dengan soal komitmen nuklir Iran daripada soal komitmen Barat untuk pencabutan sanksi terhadap Iran. (fna)

Tempat Persembunyian Pemimpin ISIS Terungkap Karena Informasi dari Tentara Irak

Juru bicara Komando Umum Angkatan Bersenjata Irak, Yahya Rasool, dan Perdana Menteri Irak Al-Kadhimi menyatakan bahwa intelijen Irak telah memberi Amerika Serikat (AS) informasi akurat yang mengungkap tempat persembunyian pemimpin ISIS, Abu Ibrahim al-Hashemi al-Qurayshi.

“Operasi pembunuhan teroris Amir Mohammad Said yang berjulukan Abu Abdillah Qardash (Abu Ibrahim al-Hashemi al-Qurayshi – red.) dilakukan setelah Badan Intelijen Nasional Iran memberikan informasi akurat kepada koalisi internasional.  Informasi ini telah mengarahkan (kepada mereka) kepada tempat (persembunyian) pemimpin ISIS hingga diapun terbunuh,” ungkap Rasool di Twitter, Kamis (4/2).

Sehari kemudian, hal yang sama juga dinyatakan oleh Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhimi, yang menyebutkan bahwa Irak berperan kunci dalam pengungkapan tempat persembunyian gembong ISIS tersebut.

Seperti pernah diberitakan, Kamis lalu Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan tewasnya al-Qurayshi dengan menyebutnya telah “disingkirkan dari medan perang”, menyusul operasi penyergapan yang juga menewaskan 13 orang, termasuk enam anak-anak dan tiga wanita.

“Dia memilih untuk meledakkan dirinya sendiri,  tidak hanya dengan rompi, melainkan juga untuk meledakkan lantai tiga itu – daripada diadili atas kejahatan yang telah dia lakukan, membawa beberapa anggota keluarganya bersamanya,” kata Biden.

Dia juga mengatakan bahwa pasukan AS semula bermaksud meringkus Al-Qurayshi, tapi dia segera meledakkan diri di tingkat ketiga sebuah bangunan di mana dia berada ketika akan disergap oleh pasukan AS. (fna)

Erdogan Mengaku Berusaha Alirkan Gas Israel ke Eropa

Presiden Turki Tayyip Erdogan menyatakan bahwa negaranya dan Rezim Zionis Israel dapat bekerjasama untuk menyalurkan gas alam Israel ke Eropa, dan kedua negara akan membahas kerjasama energi dalam pembicaraan bulan depan.

“Kami dapat menggunakan gas alam Israel di negara kami, dan selain menggunakannya, kami juga dapat terlibat dalam upaya bersama dalam perjalanannya ke Eropa,” kata Erdogan kepada wartawan dalam penerbangan pulang dari Ukraina, sebagaimana dikutip media Turki pada hari Jumat (4/2).

“Sekarang, insya Allah, masalah ini akan menjadi agenda kami dengan Tuan Herzog selama kunjungan mereka ke Turki,” lanjutnya.

Erdogan telah mengunjungi Ukraina untuk membahas krisis di sana.

Pada November lalu Erdogan telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett melalui panggilan telepon untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam penerbangan pulang dari Ukraina, Erdogan mula-mula mengritik sikap Barat terhadap krisis antara Rusia dan Ukraina dan menyebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden sampai sekarang belum memperlihatkan metode yang positif untuk menyelesaikan krisis ini, dan bahwa Barat malah memperparah keadaan.

Dia juga mengaku bahwa setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa waktu lalu dia mendapat tugas untuk menengahi antara Rusia dan Ukraina.

“Kami akan menerima tugas ini dan berusaha melaksanakan tanggungjawab yang dilimpahkan kepada kami,” ujarnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, para pejabat dan media Barat mengklaim bahwa Ukraini akan segera diinvasi oleh Rusia. Klaim ini tak pelak meningkatkan tekanan pada Moskow. AS dan sekutunya menyiapkan sanksi berat terhadap Rusia dan bahkan  menambah jumlah pasukan dan peralatan militer mereka di Eropa Timur. (reuters/anadolu)

Jet Tempur Koalisi Bombardir Ibu Kota Yaman

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi masih melanjutkan serangan militernya secara membabi buta di Yaman.  Jet-jet tempur Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) membom berbagai kawasan di Sanaa, ibu kota Yaman, Jumat (4/2).

Di saat yang, wilayah provinsi Hadhramaut di Yaman juga menjadi sasaran gempuran jet tempur Saudi.  Sumber Yaman mengatakan bahwa serangan itu menyasar banyak daerah permukiman.

Serangan itu terjadi ketika tentara Yaman dan kelompok Ansarullah (Houthi) belakangan ini meluncurkan beberapa operasi serangan terhadap kubu Saudi-UEA yang sudah bertahun-tahun melancarkan invasi militer di Yaman.

Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman Yahya Saree Selalu lalu mengumumkan, “Dalam Operasi Badai Yaman ke-3, pasukan Yaman menargetkan pusat-pusat vital dan strategis di Abu Dhabi di UEA.”

Saudi dan UEA memulai agresi dan blokade mereka di Yaman sejak 26 Maret 2015 dengan lampu hijau Amerika Serikat dan negara-negara Barat dengan dalih mengembalikan pemerintahan Mansur Hadi yang digulingkan oleh revolusi rakyat Yaman yang digerakkan oleh Ansarullah.

Pejabat Pemerintah Keselamatan Nasional Yaman di Sanaa telah berulang kali menegaskan bahwa tentara Yaman dan Ansarullah akan terus melawan selama koalisi pimpinan Saudi tidak menghentikan agresi dan blokadenya terhadap Yaman. (almasirah)