Jakarta, ICMES. Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan bahwa pemimpin kelompok teroris ISIS telah “disingkirkan dari medan perang”, menyusul operasi serangan yang juga menewaskan sejumlah kecil dan wanita di Suriah.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang elemen utamanya adalah milisi Kurdi dan bersekutu dengan AS telah menandatangani perjanjian dengan kelompok teroris Jabhat Al-Nusra untuk pemasokan minyak dari ladang minyak yang dikendalikan oleh tentara AS di Suriah timur ke sebuah perusahaan yang berafiliasi dengan Jabhat Al-Nusra di Idlib, Suriah.
Pemimpin gerakan Ansarullah di Yaman Sayid Abdul Malik Al-Houthi menyebut Uni Emirat Arab (UEA) mendapat perintah dari AS, Inggris dan Israel dalam meningkatkan ketegangan militer di Yaman.
Pasukan Yaman kubu Sanaa menanggapi dan menyambut gembira kabar adanya serangan drone dari sebuah kelompok yang menamakan diri Brigade Janji Yang Benar terhadap Uni Emirat Arab.
Berita Selengkapnya:
13 Warga Sipil Suriah Tewas, Biden Umumkan Gembong ISIS Ledakkan Diri ketika Diserbu Pasukan AS
Presiden AS Joe Biden mengumumkan bahwa pemimpin kelompok teroris ISIS telah “disingkirkan dari medan perang”, menyusul operasi serangan yang juga menewaskan sejumlah kecil dan wanita di Suriah.
Seorang pejabat senior pemerintah AS mengatakan kepada wartawan pada hari Kamis bahwa pemimpin ISIS Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurayshi tewas dalam serangan itu.
Selanjutnya, Biden, Kamis (3/1), mengkonfirmasi kematian al-Qurayshi dan memuji operasi itu dalam sebuah pidato singkat, sembari menyalahkan al-Qurayshi sebagai penyebab tewasnya warga sipil. Kata Biden, gembong ISIS itu meledakkan dirinya dalam “tindakan pengecut putus asa” ketika pasukan AS mendekat.
“Dia memilih untuk meledakkan dirinya sendiri, tidak hanya dengan rompi, melainkan juga untuk meledakkan lantai tiga itu – daripada diadili atas kejahatan yang telah dia lakukan, membawa beberapa anggota keluarganya bersamanya,†kata Biden.
Biden mengatakan operasi itu menunjukkan “jangkauan dan kemampuan Amerika Serikat untuk mengatasi ancaman teroris†di seluruh dunia.
“Saya bertekad untuk melindungi rakyat Amerika dari ancaman teroris, dan saya akan mengambil tindakan tegas untuk melindungi negara ini,” lanjutnya.
Sementara itu, dikutip kantor berita resmi Suriah, SANA, sumber-sumber lokal mengatakan bahwa 13 orang, termasuk enam anak-anak dan tiga wanita, tewas ketika helikopter AS mendaratkan sekelompok anggota pasukan khusus di daerah Atma di pinggiran provinsi Idlib dekat perbatasan Turki.
Sanaa menyebutkan bahwa dalam peristiwa itu pasukan AS menyerbu dan menghancurkan sejumlah rumah di daerah itu setelah mengepung mereka, bersamaan dengan pemboman oleh pesawat nirawak.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) mengkonfirmasi tewasnya 13 orang, termasuk enam anak kecil dan empat wanita, dalam peristiwa tersebut. (aljazeera/alalam)
Tentara AS Jual Minyak Suriah Curiannya kepada Kelompok Teroris Al-Nusra
Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang elemen utamanya adalah milisi Kurdi dan bersekutu dengan Amerika Serikat (AS) telah menandatangani perjanjian dengan kelompok teroris Jabhat Al-Nusra untuk pemasokan minyak dari ladang minyak yang dikendalikan oleh tentara AS di Suriah timur ke sebuah perusahaan yang berafiliasi dengan Jabhat Al-Nusra di Idlib, Suriah.
Sumber lokal di Idlib mengatakan bahwa kesepakatan yang telah dicapai antara SDF dengan perwakilan Hay’at Tahrir al-Sham alias Jabhat Al-Nusra di Idlib itu menetapkan bahwa pihak pertama akan memasok minyak kepada pihak kedua sebanyak sekira 160 ton per hari ke Perusahaan Watad, yang dijalankan oleh gembong Jabhat al-Nusra, Abu Muhammad al-Jolani.
Sumber itu mengungkapkan bahwa perjanjian itu diteken setelah serangkaian pertemuan antara SDF dan para pemimpin Jabhat al-Nusra di dekat kota Manbij, di bagian timur laut provinsi Aleppo.
Pertemuan itu membuat SDF berjanji menjual pengiriman turunan minyak curian dari ladang Suriah di daerah yang dikendalikan oleh tentara AS di timur laut Sungai Efrat, dan mengirimkannya melalui truk-truk tanki ke provinsi Idlib dan menyerahkannya kepada perusahaan Watad.
Sumber itu juga menyebutkan bahwa nilai kesepakatan itu sekitar US$ 5 juta per bulan. (raialyoum)
Akui Pasukannya Mundur di Shabwah, Pemimpin Ansarullah: UEA Mendapat Perintah dari AS dan Israel
Pemimpin gerakan Ansarullah di Yaman Sayid Abdul Malik Al-Houthi menyebut Uni Emirat Arab (UEA) mendapat perintah dari Amerika Serikat (AS), Inggris dan Israel dalam meningkatkan ketegangan militer di Yaman.
Dalam pidato menyambut Jumat bulan Rajab, Kamis (3/2), Al-Houthi mengatakan, “Sejak awal agresi (koalisi pimpinan Saudi terhadap Yaman), UEA adalah alat utama AS, Israel dan Inggris, dan telah mencapai tahap-tahap tertentu eskalasi yang ujung-ujungnya gagal. Perintah AS, Inggris dan Israel kepada UEA telah keluar untuk eskalasi di Yaman.â€
Dia menambahkan, “Sesatlah orang yang mengira berada dalam posisi menang dengan cara memuaskan AS, Inggris dan Israel. Kerugianlah yang justru menjadi takdir baginya. Kita telah melihat jatuhnya rezim-rezim yang berdiri di barisan AS, Inggris dan entitas Israel, serta membunuhi dan bertindak jahat terhadap anak-anak bangsa mereka.â€
Al-Houthi mengakui pasukannya terdesak mundur dalam pertempuran melawan pasukan proksi UEA, Brigade Raksasa, di provinsi Shabwah dalam eskalasi militer yang terjadi belakangan ini, namun dia memastikan bahwa itu tak berarti kalah.
“Kemunduran di suatu front pertempuran sama sekali tak berarti kalah. Sebaliknya, kami semakin serius dan berketad untuk melawan, bersabar dan menang. Perubahan di semua level menguntungkan orang-orang yang teguh, dan ini akan semakin menyata di masa mendatang…Keteguhan kami menghadang agresi adalah bagian dari komitmen kami di semua level,†ujarnya.
Sembari menyerukan kepada rakyat Yaman untuk tetap teguh dan sabar, Al-Houthi mengatakan, “Musuh memerangi kita dengan tujuan menguasai kita dan akibatnya kita menderita, tapi kita berada dalam posisi terhormat, posisi mukminin yang sabar dan berjuang.â€
Dia menegaskan bahwa bangsa Yaman pantang tunduk kepada musuh-musuhnya.
“Pendirian kita ini memanistasikan kemerdekaan dan kehormatan dalam arti yang sebenarnya. Kita menolak khinaan, menolak dominasi musuh terhadap kita, betapapun besarnya penderitaan kita dalam pendirian kita yang benar ini, dan jangan sampai penderitaan ini berpengaruh pada pendirian dan komitmen kita,†ungkapnya.
Dia juga menandaskan, “Apa yang dilakukan musuh berupa pembunuhan anak kecil, kaum perempuan dan juga tahanan (dalam peristiwa pemboman sebuah penjara di Sa’dah – red) justru menambah keyakinan kita bahwa kita berada di pihak yang benar dan musuh adalah penjahat .†(alalam)
Pasukan Yaman Sambut Gembira Serangan Drone Kelompok Misterius terhadap UEA
Pasukan Yaman kubu Sanaa menanggapi dan menyambut gembira kabar adanya serangan drone dari sebuah kelompok yang menamakan diri Brigade Janji Yang Benar terhadap Uni Emirat Arab.
Seperti pernah diberitakan, UEA mengaku telah kedatangan tiga drone penyerang, dan mengaku berhasil menangkis serangan tiga drone di sebuah daerah terbuka jauh dari permukiman penduduk di wilayahnya, menyusul adanya pengakuan sebuah kelompok tersebut, pada Rabu lalu.
Jubur tentara Yaman yang bersekutu dengan Ansarullah, Brigjen Yahya Saree, Kamis (3/1), seakan tak percaya kepada klaim keberhasilan UEA menangkis serangan itu, menyambut gembira dan mengucapkan selamat atas terjadinya serangan kelompok yang masih misterius itu terhadap UEA.
“Kami mengucapkan selamat atas operasi jihad yang dilancarkan terhadap musuh, Emirat, dan kami berterima kasih atas pendirian cemerlang, bertanggungjawab dan solidaritas dengan bangsa Yaman terhadap Emirat ini,†ungkapnya.
Kelompok misterius itu sendiri dalam sebuah pernyataannya mengaku telah menarget instalasi-instalasi vital di Abu Dhabi, UEA, dengan melesatkan empat unit drone, dan berjanji akan terus melanjutkan serangan itu sampai “campurangan UEA†di Irak dan Yaman berhenti.
Pasukan Yaman sendiri sudah melancarkan tiga gelombang serangan rudal balistik dan drone terhadap UEA dalam operasi militer yang dinamai “Badai Yaman†dengan sasaran berbagai obyek vital di Abu Dhabi dan Dubai. Mereka juga mengancam akan menjadikan Expo 2020 di Dubai sebagai target serangan.
UEA adalah sekutu utama Arab Saudi dalam invasi militer ke Yaman yang dilancarkan sejak tahun 2015 sampai sekarang dengan dalih membantu pemerintahan tersingkir Abd Mansour Hadi melawan gerakan Ansarullah yang mereka sebut sebagai pemberontak. Invasi ini telah memasuki tahun ketujuh, namun Ansarullah justru semakin menguat, sementara jutaan rakyat sipil terdera bencana kemanusiaan yang dinilai PBB terburuk di dunia. (mna)







