Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 18 Desember 2021

Jakarta, ICMES. Mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa orang-orang Yahudi di Negeri Paman Sam “tidak menyukai Israel atau tidak peduli dengan Israel”.

Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh menegaskan bahwa Perjanjian Abad Ini dan pengakuan  Amerika Serikat atas Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel adalah keputusan yang diabaikan dan diinjak-injak oleh orang-orang Palestina.

Kepala perunding nuklir Iran Ali Bagheri Kani mengatakan bahwa tiga kekuatan Eropa (E3; Inggris, Prancis dan Jerman) bersedia menerima perspektif Teheran sebagai dasar  pembicaraan “serius, berorientasi pada hasil”.

Sebanyak 10 tentara bayaran Saudi asal Sudan tewas dan 17 lainnya menderita luka dalam pertempuran terbaru dengan dengan pasukan Ansarullah (Houthi) di kawasan Al-Huthaira, provinsi Hajja, dan wilayah perbatasan Yaman-Saudi.

Berita Selengkapnya:

Trump: Yahudi Amerika Tak Suka Israel

Mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa orang-orang Yahudi di Negeri Paman Sam “tidak menyukai Israel atau tidak peduli dengan Israel”.

 â€œOrang-orang di negara ini yang beragama Yahudi tidak lagi mencintai Israel. Saya akan memberi tahu Anda bahwa orang-orang Kristen evangelis lebih mencintai Israel daripada orang-orang Yahudi di negara ini,” kata Trump dalam wawancara dengan jurnalis Israel Barak Ravid untuk episode podcast “Unholy: Two Jews on the news”, yang bagian pertamanya disiarkan pada Kamis malam (16/12).

Trump juga menyalahkan mantan presiden Barack Obama dan Presiden Biden atas apa yang dicirikan Trump sebagai hilangnya pengaruh Israel di Capitol Hill, dan menyesalkan banyak orang Yahudi AS memilih dua orang Demokrat itu.

Trump mengatakan, “Dulu Israel memiliki kekuasaan mutlak atas Kongres, dan hari ini saya pikir justru sebaliknya, dan saya pikir Obama dan Biden melakukan itu. Namun dalam pemilihan, mereka masih mendapatkan banyak suara dari orang-orang Yahudi, yang memberi tahu Anda bahwa orang-orang Yahudi, dan saya sudah mengatakan ini sejak lama, orang-orang Yahudi di AS juga tidak menyukai Israel, atau tidak peduli dengan Israel.”

Dalam wawancara itu Trump juga mengecam keluarga Sulzberger, yang mengontrol tata kelola perusahaan yang menerbitkan New York Times.

“Maksud saya, Anda melihat New York Times, New York Times membenci Israel, membenci mereka, dan ada orang Yahudi yang mengelola New York Times, maksud saya keluarga Sulzberger,” kata Trump. (wp)

Haniyeh: “Perjanjian Abad ini” Ada di Bawah Telapak Kaki Kami

Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh menegaskan bahwa Perjanjian Abad Ini dan pengakuan  Amerika Serikat (AS) atas Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel adalah keputusan yang diabaikan dan diinjak-injak oleh orang-orang Palestina.

“Perjanjian Abad Ini dan deklarasi AS yang menganggap Quds sebagai ibu kota rezim okupasi Israel adalah keputusan yang ada di bawah telapak kaki kami, kami mencabiknya dengan roket, senapan dan slogan-slogan kami, dan dengan kebertahanan di Quds dan Al-Aqsa,” tegas Haniyeh dalam Konferensi Akademi Internasional ke-21 untuk Kajian Baitul Maqdis yang diadakan di Istanbul, Turki, via aplikasi Zoom, Jumat (17/12).

Dia menyebut Quds sebagai “poros konflik menyeluruh dengan musuh, Zionis, serta simbol kesatuan dan persatuan umat”, memastikan resistensi menyeluruh sebagai jalan pembebasan, dan menekankan bahwa Hamas sekarang sudah semakin dekat dengan penuntasan konflik.

Haniyeh mengangkat empat poin sebagai kerangka kognitif dalam konflik dengan Israel dan perlindungan bagi kesucian; pertama, menegaskan kembali bahwa masalah Palestina adalah urusan umat,  bukan bangsa; kedua, mengkonsolidasikan kesadaran bahwa Zionis adalah musuh utama umat; ketiga, Quds adalah pusat konflik; dan keempat, memperkuat perlawanan komprehensif sebagai opsi strategis untuk pembebasan.

Dia memastikan bangsa Palestina sanggup melanjutkan intifada dan ketahanannya sampai tercapai kemenangan dan pembebasan, sebagaimana terlihat dalam operasi serangan yang dilancarkan oleh salah seorang pejuang Palestina di Tepi Barat pada Kamis lalu, yang menewaskan seorang Zionis.

Haniyeh memaparkan rencana dan upaya Israel pada bulan suci Ramadhan mendatang untuk Judaisasi Quds, namun dia menegaskan, “Kami yakin sepenuhnya bahwa rencana ini akan gagal dan hancur membentur batu keras keteguhan, kesadaran dan resistensi Palestina dan umat.” (alalam)

Bagheri Kani: Eropa Menyetujui Perspektif Iran sebagai Dasar Pembicaraan Nuklir

Kepala perunding nuklir Iran Ali Bagheri Kani mengatakan bahwa tiga kekuatan Eropa (E3; Inggris, Prancis dan Jerman) bersedia menerima perspektif Teheran sebagai dasar  pembicaraan “serius, berorientasi pada hasil”.

Hal itu dia katakan kepada wartawan di akhir putaran pembicaraan terbaru di Wina antara Iran dan lima negara penandatangan kesepakatan nuklir multilateral Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Pembicaraan itu bertujuan menghapus sanksi AS yang dikenakan secara sepihak terhadap Iran dan menyelamatkan perjanjian.

Bagheri Kani menilai akselarasi untuk mencapai kesepakatan bergantung pada kehendak pihak lawan Iran.

“Jika pihak lain menerima pandangan dan pendirian rasional Republik Islam Iran, putaran baru pembicaraan bisa menjadi yang terakhir dan kita bisa melakukannya, mencapai kesepakatan dalam tempo sesingkat mungkin.”

Diplomat senior Iran itu menambahkan bahwa negaranya dan P4+1 (Inggris, Prancis, Rusia, China plus Kerman) mencapai “dua dokumen baru untuk pembicaraan mengenai sanksi (AS) maupun masalah nuklir”.  

Dia menekankan bahwa putaran selanjutnya pembicaraan Wina akan dimulai dalam waktu dekat berdasarkan teks-teks baru yang menggabungkan sudut pandang dan pendirian Iran.

Bagheri Kani  mencatat bahwa tim perunding barunegaranya membawa sikap dan pandangannya sendiri ke Wina, mengingat terjadinya peralihan pemerintahan di Iran dari Hassan Rouhani ke Sayid Ebrahim Raisi.

Dalam pernyataan lain via Twitter, dia menyebutkan, “Kami telah membuat kemajuan yang baik minggu ini. Hari ini, Jumat, komite bersama akan diadakan, dan setelah istirahat beberapa hari, kami akan melanjutkan negosiasi.”

Dia menambahkan, “Setelah berkonsultasi dengan delegasi lain yang berpartisipasi dalam negosiasi Wina, saya kemarin (Kamis) malam bertemu dengan Enrique Mora (koordinator Uni Eropa untuk negosiasi nuklir), guna menilai situasi dan membahas langkah selanjutnya. Pertemuan-pertemuan ini dilakukan dalam kerangka pembicaraan putaran ketujuh, yang dimulai pada tanggal 29 November lalu, dengan tujuan menghidupkan kembali perjanjian nuklir yang dicapai Iran dan kekuatan global di Wina pada tahun 2015.”

Di pihak lain, Enrique Mora mengatakan delegasi perunding hanya memiliki waktu sekian minggu, bukan berbulan-bulan, untuk menyelamatkan JCPOA.

“Kami tidak punya waktu berbulan-bulan, melainkan berminggu-minggu, untuk mencapai kesepakatan,” katanya dalam konferensi pers.

Dia  menambahkan, “Ada rasa urgensi yang sangat penting jika kita benar-benar ingin mencapai kesuksesan dalam negosiasi.” (mna/raialyoum)

Perkembangan Perang di Ma’rib, 10 Pasukan Bayaran Saudi Asal Sudan Tewas

Sebanyak 10 tentara bayaran Saudi asal Sudan tewas dan 17 lainnya menderita luka dalam pertempuran terbaru dengan dengan pasukan Ansarullah (Houthi) di kawasan Al-Huthaira, provinsi Hajja, dan wilayah perbatasan Yaman-Saudi, Kamis (16/12).

Dalam perkembangan itu, pasukan Ansarullah yang melanjutkan operasi militernya menyerang posisi-poisisi pasukan bayaran asal Sudan serta markas militer pemerintahan presiden pelarian Yaman, Abd Rabbuh Mansour Hadi, di kawasan militer ke-5.

Peristiwa tersebut terjadi manakala pertempuran di provinsi Ma’rib, Yaman, terus berkecamuk antara pasukan Ansarullah dan sekutunya di satu pihak dan pasukan Hadi yang didukung koalisi pimpinan Saudi di pihak lain.

Pemerintah Saudi menyerahkan sebagian besar keamanan perbatasannya kepada pasukan bayaran asal Sudan dan Yaman.

Tak ada data yang akurat mengenai jumlah tentara Sudan di Yaman, namun pada 2 November 2019 Mohammad Hamdan Humaidati yang saat itu menjabat sebagai kepala Dewan Pemerintahan Sudan mengatakan bahwa jumlahnya mencapai 30.000, yang sebagian besar berasal dari pasukan reaksi cepat.

Kemudian, pada 14 Januari 2020, juru bicara pasukan reaksi cepat Sudan Jamal Jomaah mengatakan bahwa tentara negaranya yang bercokol di Yaman sudah berkurang menjadi 657 orang.

Di Sudan sendiri sudah banyak kampanya dari masyarakat luas agar semua tentara negara ini ditarik pulang dari Yaman. (mayadeen)