Jakarta, ICMES. Angkatan Bersenjata Iran memastikan pihaknya siap melancarkan serangan balik dengan cepat dan sengit terhadap siapapun yang mengagresi negara republik Islam ini meskipun agresi itu terbatas.

Perbincangan dan perdebatan tentang Iran mewarnai Israel seiring dengan berlangsungnya pembicaraan nuklir Iran dengan sejumlah negara besar dunia di Wina. Perdebatan itu terbelah dalam pro dan kontra rencana serangan militer terhadap Iran, yang belakangan ini kerap didengungkan oleh media Israel.
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohamed bin Salman (MbS) mengkonfirmasi urgensi pencapai solusi politik bagi perang yang berkobar di Yaman sejak tahun 2015.
Berita Selengkapnya:
Militer Iran: Serangan Terbataspun akan Kami Balas
Angkatan Bersenjata Iran memastikan pihaknya siap melancarkan serangan balik dengan cepat dan sengit terhadap siapapun yang mengagresi negara republik Islam ini meskipun agresi itu terbatas.
“Pada tataran strategi, kami tak berniat mengagresi siapapun, tapi tataran lapangan, Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran siap memberikan balasan tegas, cepat dan sengit terhadap segala agresi, yang terbatas sekalipun,†tegas Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Mohammad Bagheri.
“ Strategi dan tujuan kami di bidang pembangunan kekuatan deterensi bertumpu pada ide, kebijakan dan metode yang cerdas, lebih besar dari mengandalkan rudal, dan kami mengembangkan kekuatan ini sesuai tuntutan serta tingkatan dan jenis ancaman yang tergambar terhadap negara,†terangnya.
Bagheri juga menandaskan, “Kami tak abai barang sesaat dari pengembangan daya defensif dan deterensi kami. Sanksi dan tekanan justru memperkaya spirit resistensi dan rasa percaya diri, melipat gandakan kebertumpuan kami pada kekuatan dalam negeri, dan memperbesar upaya pasukan pertahanan negara.â€
Di pihak lain, di tengah kebuntuan negosiasi nuklir yang sedang berlangsung di Wina serta memudarnya harapan untuk segera mencapai konsensus, Penasihat Keamanan Nasional AS, Jack Sullivan, diperkirakan akan berkunjung ke Israel minggu depan untuk membahas isu nuklir Iran.
Sullivan akan mengadakan pertemuan dengan para petinggi Rezim Zionis Israel, yaitu Perdana Menteri Naftali Bennett, Menteri Pertahanan Benny Gantz, dan Menteri Luar Negeri Yair Lapid.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa dalam beberapa hari terakhir ini Israel mengembangkan skenario untuk menyerang situs dan fasilitas di Iran, setelah berulang kali menyatakan ketidakpuasannya terhadap pembicaraan nuklir Iran sembari menyebutnya tidak akan mengarah pada hasil dan malah mendorong Teheran bergerak maju dengan program nuklir di belakang layar. (raialyoum)
Pakar Israel: Israel Tak Sanggup Mencegah Iran Menjadi Negara Nuklir
Perbincangan dan perdebatan tentang Iran mewarnai Israel seiring dengan berlangsungnya pembicaraan nuklir Iran dengan sejumlah negara besar dunia di Wina. Perdebatan itu terbelah dalam pro dan kontra rencana serangan militer terhadap Iran, yang belakangan ini kerap didengungkan oleh media Israel.
Di tengah keriuhan itu, berbagai artikel di media Israel banyak mempertanyakan daya cegah Israel, meskipun negara Zionis ilegal ini memiliki senjata inkonvensional.
Pengamat Israel Rogel Alpher di surat kabar Haaretz, misalnya, menyebutkan bahwa nuklir Israel sama sekali tak menjadi faktor deterensi di hadapan kelompok pejuang Hizbullah yang bersekutu dengan Iran di Lebanon.
Alpher juga menyebutkan bahwa sebagian besar pakar dan analis ternama dan terpercaya di Israel menilai negara ini masih memerlukan waktu beberapa tahun untuk dapat mengandalkan opsi militer terhadap Iran.
Alpher mencontohkan Amos Harel, pakar militer yang dekat dengan lingkaran pengambil keputusan di Tel Aviv, yang menekankan bahwa jika Israel sudah mencapai kesiapan untuk melancarkan agresi terhadap Iran maka Israel harus mempelajari berbagai aspek dan dampaknya serta ekspektasi keberhasilannya.
Harel mengingatkan bahwa agresi itu akan menyulut perang regional di mana semua wilayah Israel “telanjang bulat†di depan puluhan ribu rudal yang akan dihujankan oleh Hizbullah dan akan menyebabkan kerusakan dengan tingkat keparahan yang mencetak rekor di kedalaman wilayah Israel.
Alpher mengritik media Israel yang belakangan ini mengesankan bahwa Israel sudah siap menyerang Iran ketika sejak dua pekan lalu Israel melakukan persiapan manakala ideologi diplomasi yang diadopsi Presiden AS Joe Biden kandas.
Menurutnya, media itu sendiri di hadapan publik menutupi fakta bahwa dunia sama sekali tidak mempertimbangkan “gertak sambal†itu, yang oleh Harel disebut sebagai ancaman dengan “pistol tak berpeluruâ€.
Alpher menambahkan bahwa media Israel memuja Angkatan Udara (AU) Israel seolah “sapi suciâ€, padahal penyebabnya hanyalah faktor internal semata.
Analis Israel ini lantas membuat kesimpulan bahwa sangat penting bagi semua media Isael untuk sepenuhnya mengungkap realitas kepada publik bahwa jika Iran ingin berubah menjadi negara nuklir maka negara ini mampu melakukannya, dan Mossad serta AU tak akan dapat mencegahnya.
“Iranlah yang memutuskan, bukan Israel,†tegasnya.
Senada dengan ini, pakar militer Israel Amos Harel sendiri di Haaretz mengutip pernyataan forum-forum keamanan bahwa kalau Israel memang ingin menyerang Iran maka itu seharusnya dilakukan sejak masa-masa silam, sedangkan sekarang Israel justru sudah tak sanggup dan siap lagi melakukannya.
Harel menilai Israel tahu persis bahwa nuklir Iran adalah bagian dari persaingan strategi antara Israel dan Iran, sesuai pernyataan berbagai sumber yang dipercaya oleh Tel Aviv. (raialyoum)
Putra Mahkota Arab Saudi Tekankan Urgensi Pencapaian Solusi Politik di Yaman
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohamed bin Salman (MbS) mengkonfirmasi urgensi pencapai solusi politik bagi perang yang berkobar di Yaman sejak tahun 2015.
Dalam pidato pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dewan Kerjasama Teluk (GCC) ke-42 di Riyadh, ibu kota Saudi, Selasa (14/12), MbS mengatakan, “Kerajaan Arab Saudi terus memperkuat keamanan dan stabilitas di kawasan, dan memperdalam dialog untuk penyelesaian konflik.â€
Dia lantas menekankan “urgensi pencapaian solusi politik di Yaman†dan pentingnya optimalisasi “persatuan Teluk†sesuai visi Raja Salman bin Abdul Aziz dari Saudi.
Lebih lanjut, MbS menyebutkan pentingnya penguatan stabilitas di Irak dan optimalisasi “persatuan ekonomi Telukâ€.
Hadir dalam KTT GCC itu para pemimpin negara dan delegesi dari negara-negara anggota, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait dan Oman.
Arab Saudi dan sejumlah sekutu regionalnya melancarkan invasi militer Yaman pada Maret 2015 dengan tujuan memulihkan pemerintahan mantan presiden Yaman, Abd Rabbuh Mansur Hadi, dan menumpas gerakan Ansarullah yang telah menggerakkan revolusi rakyat terhadap pemerintahan Hadi.
Perang telah menjatuhkan banyak korban jiwa dan luka serta menimbulkan banyak kehancuran pada infrastruktur negara dan fasilitas publik di Yaman, termasuk rumah sakit, sekolah, masjid dan pabrik.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan pada akhir tahun 2020 bahwa perang di Yaman telah menyebabkan 233.000 kematian sejak 2015, 131.000 di antaranya adalah akibat dampak tidak langsung perang berupa kekurangan makanan dan penyakit mematikan.
Menurut PBB, setidaknya 80 persen dari 30 juta orang Yaman membutuhkan beberapa bentuk bantuan dan perlindungan.
Ansarullah, yang didukung oleh Angkatan Bersenjata Yaman dan kelompok-kelompok rakyat, telah semakin kuat melawan pasukan pendudukan yang dipimpin Saudi, berhasil mempertahankan Yaman di depan agresi, dan membuat Riyadh dan sekutunya terperangkap dalam peperangan yang tak lagi mereka kendalikan. (mm/alalam)







