Rangkuman Berita Utama Timteng  Jumat 10 Desember 2021

Jakarta, ICMES. Militer Israel belum lama ini memamerkan “dinding canggih” yang baru selesai dibangun secara besar-besaran di sekitar Jalur Gaza dengan tujuan mencegah infiltrasi para pejuang Palestina melalui terowongan bawah tanah. Sanggupkah para pejuang Gaza mengatasinya?

Pertemuan Komite Bersama Perjanjian Nuklir Iran dengan kelompok 4+1 (Rusia, China, Inggris, Prancis dan Jerman) berakhir di Wina, Austria.

Utusan Amerika Serikat untuk Iran Robert Malley menyatakan bahwa Washington siap bernegosiasi langsung dengan Teheran mengenai program nuklir Iran.

Pasukan Pertahanan Udara Yaman kubu Sanaa telah mencegat sebuah jet tempur pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi ketika pesawat itu sedang menjalankan misinya di angkasa provinsi Ma’rib, Yaman.

Berita Selengkapnya:

Israel Pamerkan “Tembok Besi” Canggih, Sanggupkah Para Pejuang Gaza Mengatasinya?

Militer Israel belum lama ini memamerkan “dinding canggih” yang baru selesai dibangun secara besar-besaran di sekitar Jalur Gaza dengan tujuan mencegah infiltrasi para pejuang Palestina melalui terowongan bawah tanah.

Juru bicara militer Israel Avichai Adraei dalam siaran persnya menyebutkan bahwa dinding penghalang yang membentang sepanjang 65 kilometer itu dihubungkan dengan pagar di atasnya, penghalang laut, sistem deteksi, dan pos pantau dan penembakan.

Dinding yang disebut “Iron Wall” (Tembok Besi) itu dibangun dengan biaya sebesar US$ 1,1 miliar dalam jangka waktu tiga setengah tahun serta dengan mengerahkan 1200 pekerja.

“Israel telah membangun proyek paling kompleks untuk mencegah ancaman terowongan Hamas… Israel berkomitmen untuk melindungi warganya dari bahaya apa pun yang berasal dari Jalur Gaza,” kata Adraei.

Iron Wall tersebut juga dilengkapi dengan teknologi sensor bawah tanah, radar, dan kamera untuk mengantisipasi ancaman.

Lantas seberapa jauh tembok akan efektif membendung terowongan bawah tanah para pejuang resistensi Palestina di Gaza?

Surat kabar Al-Akhbar dalam sebuah artikelnya, Kamis (9/12), menyebutkan bahwa kubu resistensi Palestina sanggup mengatasi benteng yang sedang dibangga-banggakan Israel itu.

Menurut media Lebanon ini, kubu resistensi “sudah menemukan solusi operasional untuk menembus dinding pintar rezim Zionis di perbatasan Gaza” dan hal ini “akan menyudahi euforia Tel Aviv”.

Mengutip pernyataan berbagai sumber, Al-Akhbar menuliskan bahwa faksi-faksi pejuang Palestina sejauh ini belum mengumumkan kemampuan mereka menembus Iron Wall, namun para arsitek resistensi berhasil menemukan “solusi yang akan membuat dinding itu sia-sia dalam konfrontasi militer”.

Disebutkan bahwa dalam Perang Pedang Quds pada Mei lalu para pejuang Gaza tidak menggunakan senjata terowongan karena pasukan Zionis tak jadi melancarkan serangan darat. Saat itu para pejuang Gaza juga hanya fokus pada senjata roket dan tidak mengerahkan segenap kemampuannya.

Sumber-sumber itu menjelaskan bahwa meskipun sebagian besar dinding itu tertanam hingga kedalaman 30-40 meter dari permukaan tanah, namun penggalian terowongan lebih dalam dari itu bukanlah pekerjaan yang sulit bagi para pejuang Palestina yang sudah terbiasa berjuang dengan terowongan.

Sumber-sumber itu menambahkan bahwa Israel telah memasang sensor untuk mendeteksi suara di bawa tanah dan ini semula memang menjadi kendala bagi para arsitek resistensi, tapi seiring perputaran waktu masalah ini juga dapat mereka atasi. (fna/reuters)

Pembicaraan Terbaru Nuklir Iran Berakhir, Para Delegasi di Wina Sepakat Lanjutkan Negosiasi

Pertemuan Komite Bersama Perjanjian Nuklir Iran dengan kelompok 4+1 (Rusia, China, Inggris, Prancis dan Jerman) berakhir di Wina, Austria, Kamis malam (10/12).

Pertemuan itu dilakukan dalam rangka perundingan Wina yang bertujuan untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir.  Amerika Serikat (AS) melakukan perundingan secara tidak langsung dengan Iran melalui para pihak dalam perjanjian tersebut. Namun, menurut pengumuman Kemlu AS, delegasinya yang berpartisipasi dalam negosiasi akan tiba di Wina pada akhir pekan ini.

Utusan Rusia untuk negosiasi Wina, Mikhail Ulyanov, di Twitter menyebut pertemuan itu berlangsung “singkat dan konstruktif,” dan bahwa “para peserta melihat kesamaan dalam sikap mereka, termasuk mengenai keharusan menyudahi negosiasi Wina guna menghidupkan kembali perjanjian nuklir dengan cepat dan sukses.”

Wakil Presiden Komisaris Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Enrique Mora, yang juga merupakan koordinator negosiasi dan pemimpin pertemuan Wina, dalam pernyataan kepada media  tak lama setelah pertemuan itu berakhir mengatakan, “Ada pendapat dan sudut pandang yang berbeda. antara pihak-pihak yang berunding,… Pekerjaan sedang dilakukan untuk mendekatkan mereka dan mengatasi perbedaan.”

Dalam seminggu terakhir, Iran telah mempresentasikan proposal pencabutan sanksi dan masalah nuklir, yang dianggap pihak Barat bertentangan dengan apa yang dicapai selama putaran sebelumnya. Mora menekankan “perlunya setiap proposal didasarkan pada apa yang dicapai negosiasi pada 20 Juni” lalu dalam putaran keenam.

Dia menekankan bahwa Badan Energi Atom Internasional “akan menjadi satu pihak” untuk setiap kesepakatan dengan Iran. Dia juga menyebutkan bahwa para delegasi mengumumkan kesiapan mereka tinggal di Wina sampai kesepakatan dicapai untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir.

Sementara itu, kepala negosiator Iran, Ali Bagheri Kani, menyatakan,  “Pihak lawan memiliki keinginan yang lebih serius untuk terlibat dalam negosiasi yang efektif dan bermanfaat.”

Mengenai perbedaan pendapat soal pencabutan sanksi selama negosiasi Wina, Bagheri Kani mengatakan, “Pencabutan sanksi berkaitan dengan kemauan serius dan kesiapan operasional mereka, dan ketika kami merasakan adanya kemauan itu maka kami dapat bergerak menuju pencabutan sanksi.”

Dia menambahkan,  “Penghapusan sanksi akan membawa terobosan serius untuk mencapai kemajuan dalam negosiasi, terutama pada masalah nuklir”. Dia menyebut sanksi AS baru-baru ini terhadap 12 individu dan entitas Iran sebagai “tindakan tidak konstruktif dan mengganggu.”

Bagheri Kani menjelaskan bahwa beberapa pihak yang bernegosiasi menyatakan keberatan mereka terhadap sanksi ini dan menuntut Washington menghindari “langkah-langkah destruktif.” (alaraby/isna)

AS Siap Berdialog Langsung dengan Iran,Teheran: Barat Percuma Gunakan Bahasa Intimidasi

Saluran berita TV Al Jazeera mengutip pernyataan Utusan Amerika Serikat (AS) untuk Iran Robert Malley, Kamis (9/10), bahwa Washington siap bernegosiasi langsung dengan Teheran mengenai program nuklir Iran.

Malley menyebut negosiasi langsung itu sebagai solusi paling ideal untuk mengatasi kerumitan. Dia juga menilai Iran tidak mengajukan proposal yang konstruktif dalam perundingan-perundingan sebelumnya, dan bahkan malah menarik kembali konsesi-konsensi yang telah dibuatnya.

Laporan lain menyebutkan bahwa Nasralah Bajmanfar, anggota dewan pimpinan Komisi Kontitusi Parlemen Iran, menegaskan bahwa Barat tak bisa berbicara dengan Iran dengan “bahasa kekuatan”, dan bahwa ancaman terhadap Teheran hanya “akan memberatkan mereka (Barat)” sendiri.

“Terlepas dari klaim mereka, Barat menghadapi krisis yang parah, dan pada gilirannya tak bisa berbicara dengan Iran dengan bahasa kekuatan. Siapa menggunakan bahasa kekuatan terhadap kami akan menerima tamparan-tamparan kuat dari Iran, dan mereka tahu persis bahwa ancaman terhadap Iran akan memberatkan mereka,” sumbarnya.

Dia menambahkan, “Kami tak akan menon-aktifkan urusan internal negara lantaran perundingan. Sambil mengikuti perundingan, kami akan terus melanjutkan hubungan kami dengan negara-negara dunia lainnya, dan ini memainkan  peran penting dalam penggagalan sanksi dan penanggulangan atasnya. Kami harus melanjutkan penggagalan sanksi.”

Dia lantas memperingatkan, “Barat hendaklah mengetahui bahwa Iran tak akan selamanya melanjutkan perundingan jika tak berguna. Kami akan terus mengikuti perundingan dengan syarat berdampak positif bagi bangsa Iran dan semua sanksi dicabut.” (raialyoum)

Pasukan Ansarullah Yaman Cegat Jet Tempur Saudi di Angkasa Ma’rib

Pasukan Pertahanan Udara Yaman kubu Sanaa telah mencegat sebuah jet tempur pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi ketika pesawat itu sedang menjalankan misinya di angkasa provinsi Ma’rib, Yaman.

Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman yang bersekutu dengan Ansarullah (Houthi) Brigjen Yahya Saree, menyatakan “Pada hari kamis Sore (9/12) sebuah jet tempur F-15 milik Angkatan Udara Saudi telah tercegat ketika sedang menjalankan operasi agresifnya di angkasan kawasan Jowba, provinsi Ma’rib.”

Dia menambahkan bahwa operasi pencegatan jet tempur F-15 itu dilakukan dengan menggunakan rudal darat-ke-udara jenis Fatir-1 buatan lokal, dan selanjutnya akan ada penayangan operasi pencegatan tersebut.

Sementara itu, organisasi Entisaf untuk Hak Perempuan dan Anak merilis laporan hak asasi manusia yang menyatakan bahwa sejak dimulainya invasi militer Saudi dan sekutunya di Yaman pada 26 Maret 2015 hingga 8 Desember 2021, tercatat 2.412 wanita tewas dan 2.825 wanita lainnya terluka akibat serangan udara pasukan koalisi.

Laporan itu dirilis bersamaan dengan Hari Hak Asasi Manusia Internasional dan akhir kegiatan organisasi tersebut untuk kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Laporan itu membahas kondisi tragis yang dialami kaum perempuan di Yaman selama hampir tujuh tahun akibat agresi dan blokade. (alalam)