Jakarta, ICMES. Delegasi Iran, yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Ali Bagheri Kani untuk Urusan Politik dan perunding nuklir terkemuka, telah menetapkan lima syarat dalam pembicaraan Wina.

Iran meujicoba pesawat nirawak (drone) “Qods Mohajer-6†yang dapat membawa empat rudal bersayap jenis “Qaem-5â€.
Tentara Yaman dan pasukan Ansarullah (kubu Sanaa) telah merebut pegunungan Al-Balagh di dekat kota Marib, dan semakin mendekati keberhasilan merebut seluruh wilayah provinsi Ma’rib yang kaya minyak. Bersamaan dengan ini mereka telah menembak jatuh drone CH-4 milik Arab Saudi.
Berita Selengkapnya:
Iran Tetapkan Lima Prasyarat dalam Perundingan Nuklir di Wina
Delegasi Iran dilaporkan telah menetapkan lima prasyarat dalam pembicaraan nuklir di Wina, Austria, yang akan dimulai lagi pada hari ini, Kamis (9/12).
Saluran berita Al Mayadeen, Rabu (8/12), mengutip sumber-sumber informasi bahwa delegasi Iran, yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Ali Bagheri Kani untuk Urusan Politik dan perunding nuklir terkemuka, telah menetapkan lima syarat dalam pembicaraan Wina.
Iran antara lain menuntut penghapusan semua sanksi terkait JCPOA dan sanksi-sanksi dengan berbagai label lain serta menunut jaminan verefikasi penghapusan sanksi.
Sumber anonim itu mengatakan bahwa Teheran juga telah mensyaratkan kompensasi atas kerusakan yang terjadi pada Iran terkait masalah nuklir, dan semua pihak kembali mematuhi perjanjian nuklir.
Menurut laporan itu, Iran memastikan tak mungkin dicapai kesimpulan cepat dalam pembicaraan nuklir, dan menyebut pernyataan Menteri Luar Negeri Inggris belakangan ini sebagai ‘pesan intimidasi yang tidak dapat diterima’.
“Kami telah mempresentasikan dua draft ke pihak JCPOA lainnya, draft ini dapat dinegosiasikan dan diubah, dan delegasi Iran sedang menunggu pendirian Eropa,†ungkap sumber tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian menegaskan kembali pendirian negaranya bahwa AS harus menghapus semua sanksi terhadap Iran.
Amir Abdollahian di harian Rusia Kommersant menyebutkan bahwa implementasi penuh dan efektif Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) serta peningkatan hubungan komersial dan kerjasama ekonomi berkelanjutan dengan Iran harus menjadi tujuan utama pembicaraan Wina.
Mengacu pada dimulainya kembali pembicaraan setelah enam putaran negosiasi yang tak kunjung membuahkan hasil akibat sikap dan tuntutan berlebihan AS, Abdollahian menekankan bahwa tujuan utama pembicaraan Wina adalah pemenuhan hak bangsa Iran dan penghapusan sanksi yang telah diberlakukan secara sepihak oleh AS terhadap Iran menyusul penarikan Washington dari kesepakatan nuklir pada bulan Mei 2018. (mna/fna)
Iran Ujicoba Drone “Qods Mohajer 6†Pembawa 4 Rudal Bersayap
Sebuah saluran berita yang dekat dengan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Rabu (8/12), memublikasi rekaman video ujicoba pesawat nirawak (drone) “Qods Mohajer-6†yang dapat membawa empat rudal bersayap jenis “Qaem-5â€.
Dalam video itu terlihat drone tersebut melesat di landasan pacu kemudian terbang dan merudal target di atas permukaan tanah hingga terjadi ledakan yang menghancurkan target tersebut.
Pada Februari 2018 Kementerian Pertahanan Iran mengumumkan dimulainya produksi drone Qods Mohajer-6 yang dilengkapi dengan bom-bom pintar.
Dalam sebuah acara peresmian yang diselenggarakan dalam rangka peringatan HUT ke-39 kemenangan revolusi Islam, Menteri Pertahanan Iran saat utu, Brigjen Amir Hatami, menyebut drone Qods Mohajer-6 sebagai “salah satu prestasi penting industri pertahanan Iranâ€.
Drone berkemampuan membawa berbagai jenis muatan “untuk pemantauan, pengintaian dan serangan†dan membuat angkatan bersenjata dapat menjalankan misinya dalam zona operasi yang luas, melakukan pantauan udara jangka panjang dan menghancurkan berbagai target dengan presisi tinggi.
Keistimewaan drone ini juga mencakup kemampuannya mengirim data secara langsung sepanjang waktu ke pusat-pusat komando dan kendali serta menyediakan pengawasan intelijen secara luas terhadap area operasi.
Pesawat nirawak ini juga dapat mendarat dan lepas landas di landasan pacu pendek. (raialyoum)
Pasukan Ansarullah Dekati Kota Ma’rib dan Tembak Jatuh Drone Pengintai Milik Saudi
Tentara Yaman dan pasukan Ansarullah (kubu Sanaa) telah merebut pegunungan Al-Balagh di dekat kota Marib, dan semakin mendekati keberhasilan merebut seluruh wilayah provinsi Ma’rib yang kaya minyak. Bersamaan dengan ini mereka telah menembak jatuh drone CH-4 milik Arab Saudi.
Sumber lokal Yaman mengatakan kepada saluran berita Al-Mayadeen yang berbasis di Lebanon bahwa pegunungan Al-Balagh Timur telah dibebaskan oleh pasukan kubu Sanaa.
Kawasan itu merupakan salah satu benteng terakhir pasukan yang berafiliasi dengan pemerintahan presiden tersingkir Abd Rabbuh Mansour Hadi di dekat kota Marib, dan pasukan kubu Sanaa telah mencapai kawasan sekitar kota Ma’rib.
Sumber-sumber lokal Yaman, Rabu (8/12), mengatakan bahwa pasukan pemerintah Hadi yang didukung oleh koalisi pimpinan Saudi melarikan diri dari medan perang segera setelah pasukan Yaman bergerak maju.
Sumber tersebut juga memperkirakan bahwa hanya beberapa hari tersisa bagi pasukan Sanaa untuk merebut kota Marib secara penuh.
Pasukan kubu Sanaa memberi ultimatum kepada pasukan yang didukung Saudi dan pasukan bayaran untuk meletakkan senjata dan menyerah.
Dari perkembangan situasi di lapangan tersebut terlihat bahwa serangan udara secara masif yang dilancarkan oleh Saudi gagal menghentikan gerak maju pasukan kubu Sanaa menuju kota Marib.
Sementara itu, sistem pertahanan udara pasukan Sanaa berhasil menembak jatuh sebuah drone tempur dan pengintai CH-4 milik Saudi, Rabu.
Juru bicara tentara Yaman, Brigjen Yahya Saree, menyebutkan bahwa drone buatan China itu tertembak jatuh dengan “senjata yang sesuai†ketika sedang menjalankan operasi agresif di angkasa kawasan Jowba, provinsi Ma’rib.
Sehari sebelumnya, pasukan Sanaa juga berhasil merontokkan drone pengintai milik Saudi jenis Scan Aegle buatan AS. (fna/alalam)







