Jakarta, ICMES. Jubir Angkatan Bersenjata Irak Brigjen Yahya Rasool menyebutkan rincian dugaan upaya pembunuhan Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhimi dengan serangan drone.

Sekjen Asaib Ahl Al-Haqq Syekh Qais Al-Khazali menyerukan pembentukan komite teknis khusus dan terpecaya untuk penyelidikan kasus tersebut.
Angkatan Bersenjata Iran, Ahad 7 November 2021 mulai menggelar latihan militer besar-besaran di wilayah pesisir tenggara Iran dan zona angkatan laut di Laut Oman dengan melibatkan semua unit udara, pasukan khusus, dan brigade reaksi cepat.
Orientalis Israel Prof. Eyal Zisser menyatakan bahwa kebijakan luar negeri Iran hanya didasarkan pada prinsip bahwa AS tak memahami kecuali bahasa kekuatan.
Berita Selengkapnya:
Upaya Pembunuhan Perdana Menteri Irak, Upaya Pengkambing Hitaman Kelompok Pejuang?
Jubir Angkatan Bersenjata Irak Brigjen Yahya Rasool menyebutkan rincian dugaan upaya pembunuhan Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhimi dengan serangan drone.
Dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi Irak, Ahad (7/11), Yahya Rasool mengatakan bahwa tempat peluncuran drone sudah diketahui dan dalam peristiwa itu sebanyak dua drone telah diterbangkan dengan ketinggian rendah demi menghindari deteksi radar.
“Upaya pembunuhan itu mencakup peledakan kedua melalui sebuah drone, dan upaya ini telah digagalkan dengan penembakan jatuhan drone tersebut,†ungkapnya.
Sebelumnya, Sel Media Keamanan Irak mengumumkan bahwa pada dini hari Ahad terjadi upaya gagal pembunuhan Al-Kadhimi dengan drone pembawa bom.
Menurut informasi yang didapat RT, sebuah drone telah terbang selama lebih dari tiga menit di kawasan sekitar tempat kediaman Al-Kadhimi di Zona Hijau Baghdad. Staf perlindungan lantas melepaskan tembakan untuk menjatuhkannya namun gagal.
Begitu drone itu mendekati rumah Al-Kadhimi, penembakan diintensifkan sesuai perintah para pejabat kantor Al-Kadhimi, bersamaan dengan diambil tindakan untuk melindungi Al-Kadhimi, tapi drone itu berhasil menjatuhkan bom.
Menurut informasi itu, sasaran serangan adalah rumah pribadi Al-Kadhimi, yang dekat dengan rumah mantan perdana menteri Nouri Al-Maliki.
Al-Kadhimi mengutuk serangan itu dan menyatakan bahwa pemerintahannya mengetahui siapa pelakunya dan akan mengungkapnya.
“Kami akan mengejar para pelaku kejahatan kemarin, kami mengetahui dengan baik dan akan mengungkapnya,†tegasnya.
Pengkambing Hitaman Kelompok Pejuang
Sekjen Asaib Ahl Al-Haqq Syekh Qais Al-Khazali menyerukan pembentukan komite teknis khusus dan terpecaya untuk penyelidikan kasus tersebut.
“Kami menekankan keharusan penyelidikan atasnya oleh komite teknis ahli dan terpercaya untuk pemastian penyebab dan motifnya,†ungkap Al-Khazali.
Dia juga mengatakan, “Jika peledakan ini bukan insidental dan semisalnya, dan memang serangan, maka kami dengan tegas mengutuk perbuatan ini, dan pelakunya harus dicari dengan sungguh-sungguh dan dihukum sesuai undang-undang.â€
Al-Khazali menyebut peristiwa itu “upaya untuk mengacaukan kartu sehari setelah kejahatan nyata pembunuhan pengunjuk rasa serta serangan dan pembakaran tenda merekaâ€.
Dia kemudian menegaskan, “Kami sudah memperingatkan beberapa hari sebelumnya mengenai adanya niat berbagai pihak yang terkait dengan pihak-pihak intelijen untuk pemboman Zona Hijau dan kemudian pelemparan tuduhan terhadap faksi-faksi resistensiâ€.
Al-Khazali juga mengatakan, “Tak seorang mementingkan pembunuhan perdana menteri yang masa jabatannya sudah berakhir. Orang yang ingin membunuhnya tidak akan menggunakan drone, dan kami punya cara yang lebih murah yang juga jauh lebih efektif kalau memang kami ingin menyerangnya.â€
Pemerintah Iran, pemerintah Suriah dan kelompok pejuang Hizbullah Lebanon mengutuk keras serangan tersebut.
Menteri Luar Negeri Irak Fouad Hossein mengatakan bahwa serangan itu tak menjatuhkan korban, dan para pejabat Irak terus mengikuti proses penyelidikannya. (alalam/rt/raialyoum)
Pasukan Iran Memulai Latihan Perang Besar-Besaran di Laut Oman
Angkatan Bersenjata Iran, Ahad 7 November 2021 mulai menggelar latihan militer besar-besaran di wilayah pesisir tenggara Iran dan zona angkatan laut di Laut Oman dengan melibatkan semua unit udara, pasukan khusus, dan brigade reaksi cepat.
Latihan perang bersandi Zolfaqar-1400 itu meliputi kawasan seluas lebih dari satu juta kilometer persegi, yang membentang dari bagian timur Selat Hormuz hingga ujung utara Samudra Hindia dan sebagian Laut Merah.
Pasukan infanteri Angkatan Bersenjata, unit lapis baja, resimen mekanik, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Pertahanan Udara telah mengambil bagian dalam tahap utama latihan militer itu.
Juru bicara latihan militer Laksamana Muda Mahmoud Mousavi mengatakan unit taktis dan pesisir dalam latihan perang telah menggunakan berbagai peralatan perang elektronik dan drone,
termasuk berbagai jenis drone buatan dalam negeri seperti Ababil-3, Yasir, Sadeq, Mohajer-4 dan Simorgh, selain pesawat P3F, RF4, dan Boeing 707.
Mousavi mengapresiasi kontinyitas komunikasi selama latihan, dan menyebutkan bahwa unit pertahanan udara menghadapi target musuh buatan.
Juru bicara itu juga mengatakan latihan itu membawa pesan bagi negara-negara regional sebagai persiapan untuk penggalangan perdamaian dan persahabatan berdasarkan kapasitas intra-regional.
Dia menambahkan bahwa sejarah telah membuktikan bahwa para aktor ekstra-regional menyukai perang dan kacaunya keamanan di kawasan tersebut.
Sehari sebelumnya, Wakil Panglima Angkatan Bersenjata untuk Urusan Koordinasi Laksamana Habibollah Sayyari dalam konferensi pers menyebutkan bahwa latihan militer itu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tempur dan pertahanan unit Angkatan Bersenjata dalam melindungi integritas wilayah negara.
Sayyari juga mencatat bahwa pasukan Iran akan mendemonstrasikan kekuatan Republik Islam di perairan terpencil selama latihan perang itu, dan memperingatkan musuh bahwa segala bentuk agresi terhadap Iran akan mendapat “balasan yang menghancurkan†dari Angkatan Bersenjata Iran.
Angkatan Bersenjata Iran menggelar latihan militer rutin sepanjang tahun.
Pakar dan teknisi militer Iran dalam beberapa tahun terakhir telah menempuh langkah-langkah besar dalam pengembangan dan produksi berbagai alusista sehingga praktis membuat Angkatan Bersenjata Iran menjadi mandiri.
Para pejabat Teheran telah berulang kali menegaskan bahwa Iran tak ragu dalam memperkuat kemampuan militernya dengan tujuan semata demi pertahanan sehingga juga tidak akan dapat dikaitkan dengan perundingan nuklir. (tasnim/mna)
Orientalis Israel: Iran Konsisten Pada Prinsip AS Tak Mengerti Kecuali Bahasa Kekuatan
Orientalis Israel Prof. Eyal Zisser menyatakan bahwa kebijakan luar negeri Iran hanya didasarkan pada prinsip bahwa AS tak memahami kecuali bahasa kekuatan.
Dikutip Rai Al-Youm, Ahad (7/11), dalam sebuah artikel yang diterbitkan di surat kabar Israel Hayom Zisser menyebutkan bahwa para pengambil keputusan di Iran tidak mengubah kebijakan ini sejak persitiwa pengambil alihan kedutaan AS di Teheran di masa revolusi Islam yang dipimpin oleh Imam Khomeini pada tahun 1979.
Menurutnya, Iran sekarang sedang mencari waktu, dan masih menolak masuk dalam negosiasi baru yang bertujuan mencapai kesepakatan baru tentang program nuklirnya, sementara AS sejak kepresidenan Joe Biden mencari kesepakatan dengan Iran.
Wakil Rektor Universitas Tel Aviv itu dalam analisanya menekankan bahwa kebijakan luar negeri Iran yang puritan memperoleh momentum dengan tampilnya Ebrahim Raisi sebagai presiden yang disebutnya penjagal dari Teheran.
Dia menambahkan bahwa sejak pemilihan presiden baru, Teheran telah meningkatkan laju kemajuannya dalam program nuklir, dan secara resmi mengumumkan peningkatan empat kali lipat dalam produksi uranium, sementara di sisi lain Iran juga meningkatkan tekanannya terhadap AS dengan terus bekerja untuk mengusirnya dari wilayah pengaruh Iran di Suriah, Irak dan Yaman.
Orientalis Israel itu menilai operasi Iran terhadap AS mencapai klimaksnya ketika serangan militer Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menerjang pangkalan militer AS, dan respons AS adalah malah kontras dengan semua harapan; alih-alih menanggapi provokasi Iran yang “kurang ajarâ€, Washington AS malah makin berhasrat mencapai kesepakatan nuklir dengan Teheran. (raialyoum)







