Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Rabu 25 Februari 2026

Jakarta, ICMES. Teheran hampir mencapai kesepakatan dengan China untuk membeli rudal jelajah anti-kapal, sementara AS mengerahkan angkatan laut dalam jumlah besar di dekat pantai Iran untuk menggertak negara republik Islam ini.

Wakil Kepala Bidang Ideologi Politik Kantor Panglima Tertinggi Iran, Jenderal Rasoul Sanaei-Rad, mengingatkan AS untuk menyamakan Iran dengan negara-negara lain semisal Libya, Suriah, dan Venezuela.

Pasukan darat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melakukan latihan militer di selatan negara ini.

Berita selengkapnya:

Iran Dikabarkan akan Beli Rudal Jelajah Supersonik dari Tiongkok

Teheran hampir mencapai kesepakatan dengan China untuk membeli rudal jelajah anti-kapal, sementara AS mengerahkan angkatan laut dalam jumlah besar di dekat pantai Iran untuk menggertak negara republik Islam ini.

Dikutip Reuters, Selasa (24/2), enam sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa kesepakatan itu melibatkan rudal CM-302 buatan China dan hampir selesai, meskipun tanggal pengiriman belum disepakati. Rudal supersonik ini memiliki jangkauan sekitar 290 kilometer dan dirancang untuk menghindari pertahanan berbasis laut dengan terbang pada kecepatan tinggi dan ketinggian rendah.

Dua pakar senjata mengatakan bahwa pengerahan rudal demikian akan secara signifikan meningkatkan kemampuan ofensif Iran, dan menimbulkan ancaman bagi angkatan laut AS.

Enam sumber, termasuk tiga pejabat yang diberi pengarahan oleh pemerintah Iran dan tiga pejabat keamanan, mengungkapkan bahwa negosiasi dengan China untuk membeli sistem rudal tersebut dimulai setidaknya dua tahun lalu tetapi meningkat tajam setelah perang 12 hari antara Israel dan Iran Juni lalu.

Dua pejabat keamanan mengatakan bahwa pejabat militer dan pemerintah Iran berpangkat tinggi, termasuk wakil menteri pertahanan Iran, melakukan perjalanan ke China ketika negosiasi memasuki tahap akhir musim panas lalu. Kunjungan wakil menteri pertahanan tersebut belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Danny Citrinowicz, mantan perwira intelijen Israel dan peneliti Iran saat ini di Institut Studi Keamanan Nasional Israel, mengatakan, “Kemampuan Iran untuk menyerang kapal di kawasan itu dengan rudal hipersonik akan mengubah segalanya. Rudal-rudal ini sangat sulit untuk dicegat.”

Reuters tidak menyebutkan jumlah rudal dalam kesepakatan potensial tersebut, jumlah yang telah disetujui Iran untuk dibayar, atau apakah China akan melanjutkan kesepakatan tersebut sekarang, mengingat meningkatnya ketegangan.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan kepada Reuters, “Iran memiliki perjanjian militer dan keamanan dengan sekutunya, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan perjanjian-perjanjian ini.”

Rudal-rudal ini mewakili beberapa peralatan militer tercanggih yang akan ditransfer China ke Iran, menentang embargo senjata PBB yang pertama kali diberlakukan pada tahun 2006. Sanksi tersebut ditangguhkan pada tahun 2015 sebagai bagian dari perjanjian nuklir dengan AS dan sekutunya, sebelum diberlakukan kembali pada September 2025. (alalam)

Jenderal Iran: AS Harus Siapkan Barisan Peti Mayat Tentaranya Jika Nekat Bertindak Bodoh

Wakil Kepala Bidang Ideologi Politik Kantor Panglima Tertinggi Iran, Jenderal Rasoul Sanaei-Rad , mengingatkan AS untuk menyamakan Iran dengan negara-negara lain semisal Libya, Suriah, dan Venezuela.

Mula-mula dia menyinggung pergerakan kapal-kapal AS belakangan ini di sekitar Iran. “Dulu pergerakan kapal induk dan pengiriman beberapa pesawat tempur dapat menimbulkan kepanikan dan memengaruhi tekad; tetapi kini kondisinya benar-benar berbeda,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Iran adalah bangsa yang telah melalui delapan tahun perang pertahanan suci, ada generasi baru yang mengalami epik perlawanan dalam perang 12 hari yang dipaksakan. Mereka juga punya latar belakang peradaban yang cemerlang, sebuah negara yang telah berdiri melawan kekaisaran global; musuh datang, tetapi pergi dengan penghinaan dan aib. Karena itu, jangan samakan negara kami dengan berbagai negara lain yang tidak memiliki latar belakang peradaban dan sejarah nasional; Iran bukanlah Libya, Suriah, atau Venezuela.”

Dia juga mengatakan, “Apa yang kita saksikan sekarang adalah semacam pertunjukan kekuatan oleh musuh agar mereka, menurut pendapat mereka, dapat menggunakannya di meja perundingan. Padahal ini juga salah, karena di meja perundingan, ada dukungan yang sama untuk kita seperti pada pertahanan suci delapan tahun dan epik 12 hari.”

Jenderal Sanaei-Rad menjelaskan, “Amerika memiliki pemahaman yang tidak lengkap dan salah persepsi tentang rakyat dan negara kami dan berpikir bahwa tindakan yang telah berhasil di beberapa bagian dunia juga akan efektif di sini. Karena itu, tampaknya mereka tidak akan mendapatkan apa pun selain kerusakan materi dan reputasi bagi diri mereka sendiri, dan jika mereka ingin melakukan tindakan bodoh, Republik Islam Iran tentu memiliki pengalaman berharga yang akan mereka gunakan.”

Sembari menekankan peralatan, fasilitas, dan tekad bangsa Iran, dia menegaskan, “Kehendak kami adalah  berdiri teguh, karena kami tahu bahwa setiap langkah mundur dapat membawa musuh ke ruang ilusi ketika menghadapi kita. Saat ini, sebagian dari kesalahan perhitungan Amerika disebabkan oleh pengaruh rezim Zionis, yang telah menyampaikan kesan palsu kepada Gedung Putih bahwa Iran berada dalam keadaan lemah, bahwa persenjataan regional Iran telah rusak, dan bahwa tidak ada kemungkinan bagi Iran untuk menanggapi AS secara serius.”

Jenderal Sanaei Rad terakhir memperingatkan, “Jika Amerika ingin melakukan kesalahan, mereka harus siap menerima banyak barisan peti mati tentara mereka sendiri. Masalah ini akan lebih disesalkan bagi Amerika sendiri, yang hari ini, dengan provokasi Netanyahu dan sejalan dengan tujuan gerakan Zionis, harus menanggung korban ini,sebuah gerakan yang paling dibenci di dunia, dan Amerika tidak seharusnya dipaksa untuk membayar harga kebencian ini.” (alalam)

IRGC Berlatih Tempur di Teluk Persia

Pasukan darat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melakukan latihan militer di selatan negara ini pada hari Selasa (24/2).

Menurut kantor berita semi-resmi Mehr, IRGC melakukan latihan tembak langsung di wilayah selatan dan di pulau-pulau di Teluk Persia.

Rekaman yang disiarkan di televisi Iran memperlihatkan beberapa kelompok bersenjata beroperasi secara bersamaan dalam latihan tersebut.

Iran sebelumnya telah melakukan latihan di Teluk Persia dan Selat Hormuz pada 17 Februari untuk “menangkal ancaman keamanan.”

Manuver-manuver tersebut digelar bersamaan dengan upaya AS, atas hasutan Israel, memperkuat kekuatan militernya di Timur Tengah dan mengancam akan melakukan aksi militer terhadap Iran untuk memaksanya meninggalkan program nuklir dan rudalnya serta “proksi-proksinya di kawasan Timteng.” (raialyoum)