Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Selasa 10 Februari 2026

Jakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam sebuah pesan yang ditayangkan di televisi menyerukan kepada rakyat Iran untuk berpartisipasi dalam pawai akbar peringatan kemenangan revolusi Islam yang dijadwalkan berlangsung pada hari Selasa 11 Februari.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington menghadirkan peluang bagus untuk penyelesaian masalah nuklir Iran.

Juru bicara sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, Abu Ubaidah, menyampaikan pesan  tajam kepada milisi yang bersekongkol dengan rezim pendudukan Israel, di tengah suasana sensitif setelah gugurnya seorang anggota Qassam di Rafah, Jalur Gaza selatan.

Berita selengkapnya:

Ayatullah Khamenei Seru Rakyat Ikuti Pawai Akbar Peringatan Kemenangan Revolusi Islam demi “Frustasikan Musuh”

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam sebuah pesan yang ditayangkan di televisi pada hari Senin (9/2) menyerukan kepada rakyat Iran untuk berpartisipasi dalam pawai akbar peringatan kemenangan revolusi Islam yang dijadwalkan berlangsung pada hari Selasa 11 Februari.

Dia mengatakan bahwa partisipasi tersebut sangatlah penting untuk menunjukkan loyalitas kepada pemerintahan republik Islam Iran dan memukul mundur musuh hingga mereka frustasi terhadap Iran yang hendak mereka jadikan target ketamakan mereka.

Berikut ini pesan lengkapnya;

Bismillahirrahmanirrahim

Hari 22 Bahman (11 Februari) setiap tahun adalah hari demonstrasi kekuatan dan kemuliaan bangsa Iran. Segala puji bagi Allah, bangsa ini adalah bangsa yang bermotivasi, berkehendak, berlangkah teguh, apresiatif serta sadar maslahat dan mafsadat.

Hari di mana 22 Bahman pertama terjadi, bangsa Iran telah mencetak kemenangan besar. Mereka berhasil menyelamatkan diri dan negaranya dari campur tangan asing. Pihak asing itu selama ini selalu ingin mengembalikan keadaan dahulu.

Bangsa Iran bangkit melawan. Manifestasi kebangkitan ini adalah Hari 22 Bahman. Pawai akbar ini tidak ada bandingannya di dunia. Di manapun di dunia kita tidak menemukan setiap tahun setelah sekian dekade lamanya hari kemerdekaan dan hari nasional dapat menampak dengan skala massa sedemikian besar di seluruh penjuru negeri.

Saat ini, dengan berpawai d jalan-jalan, bangsa Iran akan pasang badan. Mereka akan memaksa mundur pihak-pihak yang tamak terhadap Iran yang Islami, Republik Islam dan kepentingan bangsa ini.  Kekuatan nasional, sebelum terkait dengan rudal dan pesawat udara, berkorelasi dengan kehendak dan resistensi rakyat.

Kalian, alhamdulillah, telah menunjukkan resistensi  dan kehendak kalian, dan terus menunjukkannya dalam berbagai isu. Frustasikanlah musuh. Selagi musuh belum putus asa, suatu bangsa akan terus terancam gangguan. Musuh harus putus asa. Keputus asaan musuh terletak pada persatuan kalian, dengan kekuatan berpikir dan kehendak kalian, dengan motivasi kalian, dengan perlawanan kalian terhadap bisikan musuh. Semua ini membentuk kekuatan nasional.

Insya Allah, para pemuda kita di berbagai bidang ilmu, amal, takwa, akhlak, kemajuan materi dan spiritual, akan terus bergerak maju sedapat mungkin, dan mencetak kebanggaan bagi tanah air, dan Peringatan 22 Bahman adalah manifestasi semua ini.

Di jalanan, semua akan menampak. Mereka akan memekikkan slogan, menerangkan fakta, mengumumkan solidaritas mereka, dan mendeklarasikan loyalitas mereka kepada Republik Islam Iran.

Saya berharap, insya Allah, 22 Bahman kali ini juga akan seperti 22 Bahman pada tahun-tahun sebelumnya; menambah dan melipatgandakan kebesaran bangsa Iran, dan membuat berbagai bangsa, negara, dan kekuatan lain akan terpaksa hormat kepada bangsa Iran. (irib)

Presiden Pezeshkian Sebut Negosiasi Nuklir Iran-AS Berpeluang Bagus

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington menghadirkan peluang bagus untuk penyelesaian masalah nuklir Iran.

 “Babak baru negosiasi nuklir, yang telah dimulai di Oman dengan bantuan dan dukungan dari negara-negara tetangga kita, merupakan peluang bagus untuk penyelesaian masalah yang adil, rasional, setara, dan saling dapat diterima,” katanya dalam kata sambutan pada upacara peringatan 47 tahun kemenangan Revolusi Islam di Teheran, yang juga dihadiri oleh para duta besar negara-negara sahabat, Senin (9/2).

Dia menyebutkan bahwa Iran menginginkan jaminan atas hak pengayaan uraniumnya berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan pencabutan sanksi, serta menyatakan harapan bahwa pihak lain akan mengesampingkan tuntutan yang berlebihan untuk memungkinkan hasil yang diinginkan.

“Pesan kami kepada dunia jelas: Iran adalah negara yang menepati janjinya, asalkan melihat kejujuran dan kepatuhan terhadap komitmen dari pihak lawan,” katanya.

Dia menilai dialog merupakan jalan yang berkelanjutan untuk menghadapi tantangan regional dan global, dan bahwa kebijakan luar negeri Iran ditentukan berdasarkan interaksi bermartabat.

Menurut Pezeshkian, Teheran menyambut baik setiap negosiasi yang berlandaskan hukum internasional, martabat dan penghormatan terhadap kedaulatan nasional, dengan kedudukan yang setara dan konsisten pada prinsip saling menguntungkan.

Negosiasi tidak langsung Iran-AS terbaru diadakan di Muscat, Oman, pada 6 Februari, setelah sekian minggu terjadi eskalasi ketegangan akibat pengerahan militer AS di kawasan sekitar Iran dan ancaman aksi militer terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Iran, menyebut negosiasi itu sebagai “awal yang baik,” dan kedua belah pihak bermaksud melanjutkan diskusi.

Pezeshkian mengatakan Iran mengulurkan tangan persahabatan kepada semua negara yang menginginkan kerja sama tulus dengan Teheran.

Dia juga menyoroti kemampuan Iran di bidang ekonomi, transportasi, dan industri berbasis pengetahuan sebagai bidang kerja sama multilateral dengan negara lain, termasuk negara tetangga dan negara-negara regional.

“Prioritas Iran adalah meningkatkan kerja sama dengan negara-negara mitra dan kekuatan-kekuatan baru yang berupaya memperkuat multilateralisme dan menghormati hukum internasional dalam hubungan mereka,” pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dalam kata sambutannya pada seremoni penyambutan para duta besar negara-negara sahabat Republik Islam Iran dalam rangka peringatan ke-47 kemenangan Revolusi Islam, mengatakan: “Kami berupaya melakukan negosiasi yang tulus untuk mencapai hasil.”

Dia juga mengatakan, “Setiap kali rakyat Iran disapa dengan bahasa kekerasan, mereka akan melawan; dan setiap kali mereka disapa dengan bahasa penghormatan, mereka akan membalasnya dengan cara yang sama.”

Dia mengingatkan bahwa ketidakpercayaan Iran terhadap AS  adalah akibat dari tindakan AS sendiri, dan menekankan bahwa Iran “terlibat dalam negosiasi yang sangat serius, dan kami berupaya melakukan negosiasi yang tulus untuk mencapai hasil, asalkan pihak lain serius dan siap untuk melakukan negosiasi yang berorientasi pada hasil.” (presstv/alalam)

Tegas dan Keras, Abu Ubaidah Ancam Milisi Antek Israel

Juru bicara sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, Abu Ubaidah, menyampaikan pesan  tajam kepada milisi yang bersekongkol dengan rezim pendudukan Israel, di tengah suasana sensitif setelah gugurnya seorang anggota Qassam di Rafah, Jalur Gaza selatan.

Dia memperingatkan bahwa ajal “anjing-anjing pelacak” dan para agen rezim pendudukan sudah dekat, dan bahwa akhir mereka akan berupa kematian dan kebinasaan yang tak terhindarkan.

Dia menegaskan bahwa musuh tidak akan dapat melindungi mereka dari pengadilan rakyat, dan bahwa tanah Palestina tidak akan menerima mereka, bahkan sebagai kuburan sekalipun.

Abu Ubaidah secara khusus memberi penghormatan kepada “para pahlawan perlawanan yang terkepung di lingkungan Rafah,” yang menolak penghinaan dan penyerahan diri serta lebih memilih mati syahid daripada menyerah. Dia menegaskan bahwa kisah mereka akan diajarkan kepada generasi mendatang dan nama mereka akan terukir dalam sejarah kejayaan.

Pesan tegas tersebut disampaikan setelah Ghassan al-Dahini, komandan agen pendudukan di sebelah timur Rafah, mengumumkan gugurnya seorang pejuang perlawanan, sementara pasukan pendudukan mengumumkan pembunuhan empat pejuang perlawanan yang bentrok dengan tentara mereka setelah keluar dari terowongan yang terkepung di Rafah, Jalur Gaza selatan.

Ibrahim al-Madhoun, direktur Yayasan Media Palestina, nada Abu Ubaidah kali ini mencerminkan ketegasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam mengidentifikasi musuh internal. Abu Ubaidah menyebut mereka sebagai “agen yang diarabkan,” sebuah istilah dengan implikasi politik dan militer yang signifikan.

Al-Madhoun menyebutkan bahwa pesan intinya adalah adanya “krisis besar” yang berasal dari kelompok-kelompok yang telah “memilih untuk bersekongkol dengan rezim pendudukan,” sebuah langkah yang mendapat penolakan luas dari masyarakat, faksi-faksi, dan perlawanan Palestina.

Dia menilai pernyataan Brigade Al-Qassam mengandung ancaman langsung kepada mereka dan bahwa bahwa tindakan mereka pasti akan membawa mereka pada konfrontasi langsung dengan kubu perlawanan.  (alalam/aljazeera)