Jakarta, ICMES. Para pejabat Iran ramai-ramai menanggapi keras pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump, yang berisi ancaman untuk melakukan campur tangan militer terkait dengan pecahnya aksi protes di Iran terhadap anjloknya nilai tukar mata uang rial Iran di depan Dolar AS.

Pesawat tempur Saudi membombardir milisi separatis yang didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman selatan, hingga menewaskan dan melukai sejumlah orang di tengah ketegangan antara kedua negara Arab Teluk Persia tersebut.
Berita selengkapnya:
Para Pejabat Iran Ramai-Ramai Tanggapi Sesumbar Trump Soal Aksi Demo Protes di Iran
Para pejabat Iran ramai-ramai menanggapi keras pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump, yang berisi ancaman untuk melakukan campur tangan militer terkait dengan pecahnya aksi protes di Iran terhadap anjloknya nilai tukar mata uang rial Iran di depan Dolar AS.
Para pejabat Iran mengakui tekanan ekonomi yang dialami masyarakat, dan mengatakan bahwa protes damai adalah sah. Namun, mereka juga memperingatkan bahwaunsur-unsur yang didukung asing berupaya mengeksploitasi situasi dan memicu kekerasan.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, pada hari Jumat (2/1) menilai pernyataan itu mengungkap koordinasi tersembunyi antara musuh-musuh Iran di balik layar. Dia memperingatkan Trump agar memahami konsekuensi dari intervensi apa pun.
“Trump harus tahu bahwa campur tangan AS dalam masalah internal ini akan berarti mendestabilisasi seluruh kawasan dan menghancurkan kepentingan Amerika,” katanya. Larijani juga berbicara kepada publik AS dengan mengatakan, “Rakyat Amerika harus tahu Trump memulai petualangan ini. Mereka harus memperhatikan keselamatan tentara mereka.”
Dia menekankan bahwa otoritas Iran membedakan antara keluhan ekonomi yang sah dan tindakan sabotase.
“Kami membedakan antara sikap para pemilik toko yang berunjuk protes dan tindakan para pelaku yang mengganggu,” katanya.
Sebelumnya Trump dalam sebuah unggahan media sosial mengancam Iran dan bersumbar bahwa AS siap melakukan tindakan militer terhadap Iran.
“Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, AS akan datang untuk menyelamatkan mereka. Kami siap siaga dan siap bertindak,” kata Trump.
Aksi protes sejumlah terjadi pada hari Minggu setelah para pedagang di Teheran menutup sementara bisnis mereka untuk memrotes penurunan tajam mata uang nasional, yang anjlok ke titik terendah terhadap dolar AS.
Ekonomi Iran mengalami tekanan berkelanjutan sejak 2018, ketika AS memberlakukan kembali sanksi sepihak setelah Trump menarik diri dari perjanjian nuklir internasional selama masa jabatan pertamanya.
Ali Shamkhani, perwakilan Pemimpin Besar Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di Dewan Pertahanan, juga mengecam Trump.
Dia menegaskan, “Rakyat Iran tahu betul rekam jejak ‘penyelamatan’ AS — dari Irak dan Afghanistan hingga Gaza. Setiap campur tangan yang mendekati keamanan Iran dengan dalih apa pun akan diputus dengan respon yang menjerakan. Keamanan nasional Iran adalah garis merah, bukan bahan untuk cuitan petualang.”
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengancam akan menjadikan semua pangkalan dan angkatan bersenjata AS di Timur Tengah sebagai “target sah” bagi Teheran.
Ghalibaf menulis di platform X: “Presiden AS yang tidak hormat harus tahu bahwa, sebagai akibat dari deklarasi resmi ini, semua pangkalan dan angkatan bersenjata AS di seluruh Timur Tengah akan menjadi target sah bagi kami sebagai tanggapan terhadap potensi petualangan apa pun oleh AS.”
Sementara itu, Menteri Pertahanan Iran, Brigjen Aziz Nasirzadeh, menekankan bahwa kemampuan rudal negaranya tidak dapat dinegosiasikan. Dia menyatakan bahwa tidak ada seorang pun di Iran berminat memasukkan berkas rudal ke dalam kerangka negosiasi.
“Kemampuan ini tidak dapat dihilangkan dengan bom, negosiasi, atau pembunuhan keji terhadap ilmuwan dan komandan, karena kemampuan ini telah menjadi pengetahuan yang mapan dalam pikiran rakyat Iran dan berakar kuat di universitas dan di kalangan pemuda,” ungkapnya.
Dia juga menegaskan, “Kemampuan ini tidak dapat dibongkar bahkan melalui keputusan dan tekanan politik. Penerbitan resolusi oleh negara-negara dengan sejarah tidak lebih dari 250 tahun tidak akan berdampak pada kekuatan rudal Republik Islam Iran.”
Nasirzadeh memastikan kemampuan Iran saat ini jauh melampaui apa yang dimiliki selama perang terakhir, dan setiap ancaman terhadap negara ini akan ditanggapi dengan respon yang tegas dan kuat dari angkatan bersenjata. alalam/ptv/ry)
Serangan Udara Saudi terhadap Milisi Pro-UEA Tewaskan dan Lukai Sejumlah Orang di Yaman Selatan
Pesawat tempur Saudi membombardir milisi separatis yang didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman selatan, hingga menewaskan dan melukai sejumlah orang di tengah ketegangan antara kedua negara Arab Teluk Persia tersebut.
Mohammed Abdulmalik, kepala Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA di Wadi Hadramaut dan Gurun Hadramaut, mengatakan tujuh serangan udara menghantam kamp al-Khasah pada hari Jumat (2/1), menewaskan tujuh separatis dan melukai lebih dari 20 lainnya.
Dia menambahkan bahwa serangan lebih lanjut menghantam lokasi lain di wilayah yang sama.
Serangan udara tersebut merupakan respon terhadap gerak maju milisi STC secara besar-besaran hingga merebut sebagian besar provinsi Hadramaut dan Mahra yang kaya minyak, dan mengusir pasukan yang berafiliasi dengan Pasukan Perisai Nasional yang didukung Saudi. Hal ini tak pelak memicu kemarahan Riyadh.
Serangan udara tersebut terjadi tak lama setelah pasukan pro-Saudi melancarkan kampanye untuk secara damai mengambil alih kendali situs militer di Hadramaut, yang berbatasan dengan Arab Saudi.
“Operasi ini bukanlah deklarasi perang, atau upaya untuk meningkatkan ketegangan,” kata Gubernur Hadramaut Salem al-Khanbashi, yang juga komandan pasukan yang didukung Saudi di provinsi tersebut.
“Operasi ini tidak menargetkan kelompok politik atau sosial mana pun, melainkan bertujuan menyerahkan situs-situs militer secara damai dan sistematis,”katanya.
Sumber-sumber Saudi mengkonfirmasi bahwa serangan tersebut dilakukan oleh koalisi pimpinan Saudi. Sebuah sumber yang dekat dengan militer Saudi memperingatkan, “Ini tidak akan berhenti sampai STC menarik diri dari kedua provinsi tersebut.”
Separatis selatan menyerukan agar Yaman Selatan kembali memisahkan diri dari Yaman, seperti yang terjadi dari tahun 1967 hingga 1990.
Amr al-Bidh, perwakilan urusan luar negeri untuk STC, menegaskan bahwa Riyadh tidak berniat untuk menjaga operasi balasan mereka tetap damai.
“Arab Saudi dengan sengaja menyesatkan komunitas internasional dengan mengumumkan ‘operasi damai’ yang sama sekali tidak mereka niatkan untuk tetap damai,” tulisnya di media sosial. Dia menambahkan, “Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa mereka melancarkan tujuh serangan udara beberapa menit kemudian.” (alalam)







