Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Sabtu 13 Desember 2025

Jakarta, ICMES. Imam Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi, Saleh bin Humaid, pada hari Jumat (12/12) menyerukan agar anak-anak Palestina dijadikan sebagai “teladan keberanian dan kepahlawanan melawan musuh Zionis” (Israel).

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis resolusi yang mendesak Israel untuk memberikan akses kemanusiaan tanpa batasan ke Jalur Gaza.

Badai Byron melanda Jalur Gaza,  menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai beberapa lainnya karena terjadi angin kencang, hujan tanpa henti, dan bangunan yang runtuh menghantam keluarga yang mengungsi akibat serangan Israel di wilayah tersebut, menurut Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza.

Berita selengkapnya:

Khatib Jumat Masjidil Haram: Anak-Anak Palestina Teladan Keberanian Melawan Zionis

Imam Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi, Saleh bin Humaid, pada hari Jumat (12/12) menyerukan agar anak-anak Palestina dijadikan sebagai “teladan keberanian dan kepahlawanan melawan musuh Zionis” (Israel).

Dikutip saluran berita Saudi Al-Ekhbariya, Syeikh Saleh bin Humaid dalam khutbah Jumatnya di Masjidil Haram  mengatakan, “Keberanian berasal dari kebijaksanaan dan karakter mulia, dan disempurnakan melalui iman dan kebajikan. Keberanian didasarkan pada kemuliaan jiwa, akhlak yang tinggi, dan menghindari hal-hal sepele.”

Dia  menambahkan, “Keberanian dibangun di atas ketaatan pada agama dan moralitas, kebanggaan akan warisan budaya, dan rasa memiliki terhadap komunitas. Kelemahan keberanian termanifestasi dalam hal-hal yang dangkal, penampilan yang mencolok, dan penggunaan media sosial yang berlebihan.”

Syeikh Bin Humaid juga mengatakan, “Jadikan anak-anak Palestina sebagai teladan yang baik, dari merekalah anak-anak Anda dapat belajar keberanian dan sikap heroik melawan musuh Zionis yang menindas. Palestina dan Al-Quds akan tetap berada di hati umat Muslim dan Arab.”

Selama dua tahun, sejak dimulainya perang pemusnahan Israel, warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diduduki, terutama anak-anak dan perempuan, telah menghadapi pelanggaran berat terhadap hak-hak mereka atas kehidupan, pendidikan, dan kehidupan yang bermartabat.

Genosida di Jalur Gaza menyebabkan lebih dari 70.000 gugur syahid dan lebih dari 171.000 warga Palestina terluka. Sebagian besar korban adalah anak-anak dan perempuan. Genosida itu juga menimbulkan kehancuran besar-besaran dengan biaya rekonstruksi yang diperkirakan oleh PBB sekitar US$ 70 miliar. (alekhbariya)

Rilis Resolusi, Majelis Umum PBB Desak Israel Akhiri Pembatasan Bantuan ke Gaza

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis resolusi yang mendesak Israel untuk memberikan akses kemanusiaan tanpa batasan ke Jalur Gaza.

Disetujui pada hari Jumat (12/12), resolusi tersebut juga menyerukan Israel untuk menjunjung tinggi integritas tempat PBB dan mematuhi kewajibannya berdasarkan hukum internasional.

Langkah ini disebutkan sebagai tanggapan terhadap pendapat penasihat dari Mahkamah Internasional (ICJ), yang belakangan ini kembali menegaskan soal tanggung jawab Israel sebagai “pasukan pendudukan” dan anggota PBB.

Diajukan oleh Norwegia dan lebih dari 12 negara lainnya, resolusi tersebut mendapat dukungan dari 139 negara, sementara 12 negara menentangnya dan 19 negara abstain.

Menjelang pemungutan suara, Perwakilan Tetap Norwegia, Duta Besar Merete Fjeld Brattested, memperingatkan bahwa tahun 2024 termasuk  tahun “paling penuh kekerasan” dalam tiga dekade, sementara tahun 2025 melanjutkan tren serupa.

Namun, dia menyebutkan adanya indikasi bahwa tren saat ini mungkin akan mereda di tahun mendatang. “Situasi di Palestina yang diduduki menjadi perhatian khusus,” imbuhnya.

Diplomat Norwegia itu mengatakan, “Warga sipil membayar harga tertinggi. Penghormatan terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan terkikis. Prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan berada di bawah tekanan.” Dia menekankan bahwa proses konsultatif di hadapan Mahkamah Internasional (ICJ) berfungsi sebagai alat untuk mengklarifikasi tanggung jawab hukum.

Brattested menekankan bahwa negara-negara anggota PBB telah meminta kejelasan tentang berbagai pertanyaan penting mengenai pengiriman bantuan kemanusiaan yang menyelamatkan jiwa kepada warga sipil di Palestina.

Dia juga menegaskan urgensi kesimpulan ICJ dengan menunjuk pada berbagai insiden yang terjadi belakangan ini, termasuk kecaman Sekretaris Jenderal Antonio Guterres terhadap “masuk tanpa izin” Israel ke markas besar Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (UNRWA) untuk pengungsi Palestina, yang terletak di lingkungan Sheikh Jarrah di kota al-Quds (Yerussalem) yang diduduki.

“Seperti yang dinyatakan oleh Sekjen, ini jelas merupakan pelanggaran terhadap kewajiban Israel untuk menghormati kekebalan hukum di lingkungan PBB,” katanya, sembari mendesak semua negara anggota untuk mendukung resolusi tersebut.

Dana Anak Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) pada hari Selasa (12/12) memperingatkan bahwa ribuan anak di Gaza mengalami kekurangan gizi akut, yang disebabkan oleh pembatasan berkelanjutan Israel terhadap makanan dan pasokan kemanusiaan meskipun ada perjanjian gencatan senjata yang seharusnya memungkinkan bantuan untuk bergerak bebas.

UNICEF mengatakan bahwa sekitar 9.300 anak telah dirawat karena kekurangan gizi akut di Gaza sejak Oktober, angka yang mengkhawatirkan bagi populasi yang terkepung dan sudah berada di ambang batas kemampuan mereka.

Gencatan senjata antara gerakan perlawanan Palestina Hamas dan Israel, yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, mewajibkan Israel untuk membuka perbatasan dan mengizinkan masuknya makanan, bahan bakar, dan pasokan kemanusiaan tanpa batasan.

Namun Israel mengabaikan komitmen ini dengan tetap menutup sebagian besar perbatasan dan hanya mengizinkan pengiriman terbatas ke wilayah yang hancur akibat hampir dua tahun perang dan genosida.

Sejak Oktober 2023, tentara Israel telah membunuh sekitar 70.400 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai 171.000 lainnya dalam perang genosida selama dua tahun di Gaza, yang telah menghancurkan sebagian besar wilayah Palestina yang diblokade ini. (presstv)

Badai Byron Renggut 14 Nyawa Orang di Jalur Gaza

Badai Byron melanda Jalur Gaza,  menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai beberapa lainnya karena terjadi angin kencang, hujan tanpa henti, dan bangunan yang runtuh menghantam keluarga yang mengungsi akibat serangan Israel di wilayah tersebut, menurut Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza.

Kementerian tersebut mengatakan lima orang tewas pada Kamis malam hingga Jumat (12/12) setelah sebuah rumah yang menampung warga sipil pengungsi di Bir an-Naaja, di Gaza utara, runtuh ketika terjadi badai.

Pada dini hari, dua orang lagi tewas ketika sebuah tembok roboh dan menimpa tenda-tenda di lingkungan Remal di Kota Gaza. Sehari sebelumnya, satu orang lagi meninggal setelah bangunan runtuh di kamp pengungsi Shati, sementara seorang bayi baru lahir di al-Mawasi meninggal karena suhu yang sangat dingin.

Staf medis di Gaza melaporkan peningkatan yang mengkhawatirkan dalam jumlah kematian yang terkait dengan paparan cuaca ekstrem. Sebuah sumber di Rumah Sakit al-Shifa mengatakan kepada Al Jazeera Arabic bahwa Hadeel al-Masri yang berusia sembilan tahun meninggal di tempat penampungan di sebelah barat Kota Gaza, sementara bayi Taim al-Khawaja meninggal di kamp Shati.

Di Khan Younis, Rahaf Abu Jazar yang berusia delapan bulan meninggal setelah hujan membanjiri tenda keluarganya.

Kerabat mengatakan keluarga itu telah mencari perlindungan di rumah yang hancur akibat bom dan tanpa atap setelah serangan udara Israel menghancurkan rumah mereka sendiri.

“Kemarin, kami terkejut mendengar ibunya berteriak, mengatakan, ‘Anakku membiru!’ jadi kami menggendong anak itu dan pergi ke Rumah Sakit al-Rantisi,” kata kakek anak itu. Dia menjelaskan. “Suhu tubuhnya tetap antara 33 dan 34 derajat Celsius yang telah memengaruhi semua organnya. Otaknya mulai memburuk, dan itulah akhirnya.”

Badai Byron dilaporkan telah mengubah tempat perlindungan yang rapuh menjadi jebakan mematikan. Tenda-tenda juga hancur akibat hujan lebat dan angin kencang. Sebagian besar garis pantai telah runtuh, semakin membahayakan tenda-tenda yang didirikan beberapa meter dari laut.

Para pejabat memperingatkan bahwa mungkin akan terjadi banjir, hujan lebat, dan hujan es, yang berlanjut hingga hari ini. Badai diperkirakan mengancam sekitar 850.000 orang, termasuk banyak anak-anak, yang berlindung di 761 lokasi.

Warga yang terusir dari satu tempat ke tempat lain selama lebih dari dua tahun pemboman Israel, kini menghadapi  penderitaan tambahan. (aljazeera)