Rangkuman Berita Utama Timur Tengah,  Jumat 5 Desember 2025

Jakarta, ICMES. Yasser Abu Shabab, pentolan geng di Jalur Gaza yang menjadi antek Zionis Israel untuk melawan Hamas dan menjarah bantuan kemanusiaan akhirnya terbunuh.

Angkatan Laut (AL) Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memulai latihan militer berskala besar di Teluk Persia untuk menunjukkan kemampuan pertahanan dan serangan canggih yang ditingkatkan oleh kecerdasan buatan.

Pemerintah Irak mencabut keputusan kontroversial yang melabeli gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon dan Ansarullah Yaman sebagai organisasi teroris. Terorisasi itu sendiri dipandang sebagai hasil tekanan AS dan bagian dari kampanye Washington dan Tel Aviv yang lebih luas untuk melemahkan Poros Perlawanan regional.

Berita selengkapnya:

Pentolan Geng Pengkhianat Palestina Abu Shabab Akhirnya Tewas,  Begini Ceritanya

Yasser Abu Shabab, pentolan geng di Jalur Gaza yang menjadi antek Zionis Israel untuk melawan Hamas dan menjarah bantuan kemanusiaan akhirnya terbunuh.

Sebuah sumber yang dekat dengan sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, mengungkapkan bahwa pembunuhan Abu Shabab terjadi pagi ini, Kamis, dalam sebuah operasi terarah yang dilakukan oleh brigade tersebut di kota Rafah di Jalur Gaza selatan. “Pasukan Penangkal” mengumumkan pemusnahannya di kanal Telegram mereka, dengan menyatakan: “Seperti yang telah kami katakan, Israel tidak akan melindungi kalian.”

Sumber tersebut menjelaskan bahwa penyergapan itu berlangsung secara tak terduga; penilaian memperkirakan bahwa unit elit Qassam akan menyerang kelompok tersebut di atas tanah, yang membuat mereka berlindung di dekat tank-tank Israel. Namun, kejutan itu datang dari dalam kelompok itu sendiri, melalui seorang agen yang berhasil menyusup dan menghabisi mereka dari dalam.

Sumber itu menyebutkan bahwa Abu Shabab belakangan ini muncul dalam sebuah rekaman video di mana dia menyatakan niatnya untuk melancarkan kampanye “membersihkan Rafah,” sebelum ia terbunuh dalam operasi tersebut, yang digambarkan oleh sumber itu sebagai “pembersihan kota yang sesungguhnya dari geng tersebut.”

Menurut sumber tersebut, Brigade Qassam berhasil mencapai Abu Shabab melalui operasi infiltrasi cermat yang dilakukan oleh seorang pemuda dari klan Abu Shabab. Pemuda ini berpura-pura ingin bergabung dengan kelompok bersenjata yang dipimpin Abu Shabab sebelum kemudian melaksanakan rencana dan melakukan pembunuhan, yang menewaskan Abu Shabab dan beberapa rekannya.

Abu Shabab memimpin kelompok bersenjata beranggotakan sekitar 100 orang, yang direkrut dan dipersenjatai oleh pasukan pendudukan Israel di bagian timur Rafah, dengan tujuan menciptakan apa yang disebut “zona aman” untuk melayani kepentingannya dan membatasi pengaruh pejuang perlawanan.

Menurut sumber-sumber perlawanan, kawanan Abu Shabab telah melakukan berbagai pelanggaran terhadap warga Palestina dalam beberapa bulan terakhir, termasuk menggeledah rumah-rumah, membongkar alat peledak yang ditanam oleh perlawanan, serta melakukan pembunuhan terhadap anggota perlawanan dan mencuri senjata mereka, dan semua itu dilakukan dengan koordinasi langsung dengan pendudukan Israel.

Abu Shabab sebelumnya muncul dalam sebuah video yang mengklaim bahwa kelompoknya kini menguasai wilayah-wilayah yang “dibebaskan dari Hamas” dan bahwa mereka bekerja sama dengan Otoritas Palestina untuk mendistribusikan bantuan dan melindungi warga sipil.

Milisinya, yang menamakan dirinya Pasukan Rakyat, mengatakan dalam sebuah unggahan Facebook pada Kamis malam (4/12) bahwa Abu Shabab ditembak “saat ia mencoba menyelesaikan perselisihan” di antara anggota keluarga Abu Suneima. Kelompok ini mengatakan bahwa ia tidak dibunuh oleh Hamas.

Saluran 12 Israel sebelumnya melaporkan Abu Shabab tewas dalam bentrokan dengan “klan Gaza” dan kemudian dinyatakan meninggal di Pusat Medis Soroka di Israel selatan.

Abu Shabab menjadi tokoh terkenal selama perang genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza, karena gerombolannya diketahui menjarah sedikit bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk oleh otoritas Israel ke Jalur Gaza.

Penjarahan bantuan di Jalur Gaza terjadi ketika Israel memberlakukan blokade di wilayah tersebut, yang memicu krisis kemanusiaan dan kelaparan di beberapa daerah.

Para pejabat Israel kemudian mengatakan mereka bekerja sama dengan kelompok-kelompok bersenjata di Gaza, termasuk yang dipimpin oleh Abu Shabab, untuk membentuk pasukan lokal anti-Hamas. (alalam/aljazeera)

AL IRGC Gelar Latihan Militer Besar-Besar di Teluk Persia, Kapal-Kapal AS Diperingatkan

Angkatan Laut (AL) Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memulai latihan militer berskala besar di Teluk Persia untuk menunjukkan kemampuan pertahanan dan serangan canggih yang ditingkatkan oleh kecerdasan buatan.

Angkatan Laut IRGC memulai latihan itu dengan sandi Shahid Mohammad Nazeri pada hari Kamis (4/11), sembari menekankan peningkatan kesiapan intelijen dan menunjukkan semangat serta ketahanan dari para pelautnya dalam menghadapi ancaman apa pun.

Selama latihan, unit-unit angkatan laut menyampaikan pesan tegas mereka dengan mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal AS yang berada di wilayah tersebut.

Sistem pertahanan udara canggih termasuk Nawab, Majid, dan Misagh dikerahkan dalam skenario peperangan elektronik. Dengan menggunakan kecerdasan buatan, sistem-sistem ini mampu mengidentifikasi target terbang dan target laut dalam waktu singkat dan mengenai target tersebut dengan akurasi tinggi.

Latihan militer ini berlangsung di Teluk Persia, zona maritim Nazeat – Kepulauan Abu Musa, Tunb Besar, Tunb Kecil, dan Siri, Selat Hormuz, serta Laut Oman.

Nazeri adalah komandan unit komando elit AL IRGC. Ia dikenal luas di Iran atas keterlibatan langsungnya dalam penangkapan 10 pelaut AS yang memasuki perairan teritorial Iran pada 12 Januari 2016.

Latihan ini menyampaikan pesan ganda: perdamaian dan persahabatan bagi negara-negara tetangga, dan peringatan yang jelas bagi musuh bahwa setiap kesalahan perhitungan akan mendapat respon  tegas.

AL Iran dan Amerika telah memiliki sejarah panjang pertempuran di Teluk Persia, Laut Oman, dan Selat Hormuz sejak tahun 1980-an.

Angkatan Laut Iran sering melakukan latihan skala besar di Teluk Persia dan Laut Oman, menunjukkan kemampuannya dan mengisyaratkan pencegahan terhadap kekuatan asing. Panglima Angkatan Bersenjatra Iran, Mayjen Amir Hatami, dalam pertemuan dengan anggota Komisi Perencanaan, Anggaran, dan Akuntansi Parlemen pada hari Kamis menegaskan kembali bahwa Iran “tidak menyia-nyiakan waktu” untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya. (presstv)

Irak Cabut Keputusan Pencantuman Hizbullah dan Ansarullah dalam Daftar Organisasi Teroris

Pemerintah Irak mencabut keputusan kontroversial yang melabeli gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon dan Ansarullah Yaman sebagai organisasi teroris. Terorisasi itu sendiri dipandang sebagai hasil tekanan AS dan bagian dari kampanye Washington dan Tel Aviv yang lebih luas untuk melemahkan Poros Perlawanan regional.

Jagad politik Irak gempar setelah Lembaran Negara menerbitkan Resolusi No. 61 rilisan Komite Pembekuan Dana Teroris,  yang mencantumkan 24 entitas, termasuk Hizbullah dan Ansarullah, sebagai “teroris”

Media Irak segera mengungkapkan bahwa daftar tersebut muncul dalam Edisi No. 4848 dari Lembaran Negara, tertanggal 17 November, meskipun konon revisi akhirnya belum final.

Menurut lembaran itu, langkah tersebut didasarkan pada laporan “rahasia” yang diserahkan oleh Kantor Anti Pencucian Uang dan Anti Pendanaan Terorisme Irak.

Dalam sebuah pernyataan, Komite Pembekuan Dana Teroris Bank Sentral Irak menyebutkan bahwa resolusi tersebut didasarkan pada permintaan dari Malaysia dan resolusi Dewan Keamanan PBB terkait pembekuan aset yang terkait dengan kelompok teroris ISIS atau al-Qaeda.

Menurut daftar tersebut, aset bergerak dan tidak bergerak milik Hizbullah dan Ansarullah di Irak akan dibekukan, diduga karena “berpartisipasi dalam serangan teroris.”

Publikasi itu tak pelak memicu kemarahan karena kedua kelompok tersebut merupakan elemen perlawanan regional dan tidak memiliki hubungan apa pun dengan ISIS atau al-Qaeda.

Kecaman keras dari anggota parlemen, partai politik, dan publik berlangsung cepat. Para legislator Irak semisal Muqdad Khafaji, Hussein Munes, dan Mustafa Sanad mengecam langkah tersebut sebagai tindakan memalukan, ilegal, dan belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka mengingatkan bahwa rezim Arab yang memusuhi kelompok-kelompok perlawanan pun bahkan tidak bersikap sedemikian jauh.

Kantor media Perdana Menteri Irak mengumumkan bahwa Perdana Menteri Mohammed Shia al-Sudani telah mengeluarkan perintah segera untuk melakukan penyelidikan mendesak atas masalah ini dan mengambil tindakan hukum terhadap mereka yang bertanggung jawab atas keputusan tersebut.

Sumber-sumber Irak mengatakan bahwa komite yang beroperasi di bawah Bank Sentral telah bertindak berdasarkan arahan dari Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) Departemen Keuangan AS. (alalam/presstv)