Rangkuman Berita Utama Timur Tengah,  Jumat 21 November 2025

Jakarta, ICMES. Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan dalam laporan statistik hariannya bahwa rumah sakit di Jalur Gaza menerima 33 korban gugur dalam 24 jam terakhir, termasuk 12 anak-anak, 8 perempuan, dan satu korban yang jenazahnya baru ditemukan, di samping 88 korban luka baru akibat agresi Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.

Israel berencana melakukan perampasan tanah Situs Arkeologi Sebastia bernilai tinggi di wilayah pendudukan Tepi Barat sehingga juga mengancam perkebunan zaitun dan mata pencaharian warga Palestina dengan dalih pembangunan.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigjen Ali Mohammad Naeini, menyatakan bahwa Perang 12 Hari Iran melawan Israel dan AS telah memperlihatkan kemampuan dan kekuatan nyata dan detentif rudal Iran, dan menyadarkan AS bahwa menghadapi rudal balistik Iran bukanlah pekerjaan yang mudah.

Berita selengkapnya:

Serangan Israel di Gugurkan 32 Orang, Termasuk 12 Anak, danLukai  88 Lainnya

Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan dalam laporan statistik hariannya bahwa rumah sakit di Jalur Gaza menerima 33 korban gugur dalam 24 jam terakhir, termasuk 12 anak-anak, 8 perempuan, dan satu korban yang jenazahnya baru ditemukan, di samping 88 korban luka baru akibat agresi Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.

Kementerian tersebut menekankan bahwa sejumlah korban masih tertimbun reruntuhan dan atau bertebaran di jalanan, karena ambulan dan tim pertahanan sipil tidak dapat menjangkau mereka akibat kontinyuitas agresi Israel dan kurangnya peralatan penyelamatan, yang dicegah oleh pasukan pendudukan untuk memasuki Jalur Gaza dengan dalih “penggunaan ganda”.

Jumlah korban sejak gencatan senjata diumumkan pada 11 Oktober 2025 telah meningkat menjadi 312 gugur dan 760 luka-luka, dan sebanyak 572 jenazah ditemukan.

Kementerian Kesehatan juga mengonfirmasi bahwa total korban akibat agresi Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 bertambah menjadi 69.546 gugur dan 170.833 luka-luka. (almayadeen)

Israel Rencanakan Perampasan Tanah Tepi Barat dengan Dalih Pembangunan

Israel berencana melakukan perampasan tanah Situs Arkeologi Sebastia bernilai tinggi di wilayah pendudukan Tepi Barat sehingga juga mengancam perkebunan zaitun dan mata pencaharian warga Palestina dengan dalih pembangunan.

Rencana tersebut melibatkan perampasan hampir 1.800 dunam (1.800.000 meter persegi) tanah milik desa Palestina Burqa dan Sebastia, yang berdampak pada nasib ribuan pohon zaitun.

Dalam pemberitahuan terbaru, otoritas Israel mengumumkan niat mereka untuk menyita situs arkeologi Sebastia demi pembangunan dan dengan klaim supaya situs tersebut akan dapat diakses oleh publik.

Tanah ini merupakan milik pribadi dan terdaftar sebagai milik orang Palestina. Warga dan pemilik tanah diberi waktu 14 hari untuk mengajukan keberatan agar perintah tersebut tidak berlaku.

Penyitaan ini akan menjadi perampasan tanah terbesar yang tercatat untuk barang antik, yang terletak di dekat rumah-rumah desa dan berbatasan dengan Area B, yang berdampak pada ribuan kebun zaitun milik pribadi.  Perampasan tanah ini sangat tidak lazim mengingat lokasi situs dan aturan administratif yang mendasari pelaksanaannya.

Sejak 1967, perampasan tanah di Tepi Barat untuk pengembangan barang antik telah terjadi lima kali, menurut kelompok anti-permukiman Israel, Peace Now. Dalam kasus Deir Qala dan Deir Samaan, situs-situs tersebut telah menjadi bagian dari permukiman Alei Zahav dan Peduel, sehingga warga Palestina tidak memiliki akses.

Meskipun perampasan tanah ini dibenarkan karena melayani kepentingan publik, tindakan tersebut secara efektif telah mengecualikan warga Palestina dari situs-situs tersebut.

Kasus Sebastia unik karena menyasar situs arkeologi yang secara historis berfungsi sebagai pusat ekonomi, budaya, dan pariwisata bagi warga Palestina setempat, namun tetap dapat diakses oleh publik.

Langkah-langkah yang diambil oleh rezim pendudukan Israel bertujuan mengecualikan warga Palestina dari tanah mereka sekaligus memfasilitasi permukiman Israel di wilayah tersebut.

Kelompok Peace Now menyatakan bahwa upaya otoritas Israel untuk “perampasan dan aneksasi tidak mengenal batas, dan mereka siap melanggar hukum internasional secara terbuka untuk mewujudkannya.”

Peace Now menegaskan, “Ini adalah bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengambil alih kendali dan memperluas permukiman di wilayah barat laut Nablus yang dievakuasi Israel selama penarikan pasukan. Sebastia adalah situs warisan yang terletak di dalam sebuah desa Palestina, bagian dari sejarahnya dan bagian dari negara Palestina di masa depan.”

Berdasarkan Perjanjian Oslo, yang ditandatangani oleh Israel, wilayah tersebut seharusnya telah diserahkan kepada administrasi Palestina sejak lama. (presstv)

IRGC: Dunia Melihat Fakta Kekuatan Rudal Iran dalam Perang 12 Hari Melawan Israel dan AS

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigjen Ali Mohammad Naeini, menyatakan bahwa Perang 12 Hari Iran melawan Israel dan AS telah memperlihatkan kemampuan dan kekuatan nyata dan detentif rudal Iran, dan menyadarkan AS bahwa menghadapi rudal balistik Iran bukanlah pekerjaan yang mudah.

“Perang ini adalah yang paling kompleks di dunia, dan kesalahan perhitungan musuh terhadap komponen kekuatan Iran serta ketergantungannya pada infrastruktur fisik merupakan faktor utama kekalahannya,” kata Naeini pada acara  Penjaga Perdamaian untuk Pembebasan , Kamis (20/11).

“Musuh semula yakin bahwa perang ini akan membuahkan hasil sesuai dengan kalkulasi mereka. Strategi operasional perang ini adalah memberikan pukulan cepat dan telak terhadap puncak komando perang Iran untuk merampas kemampuan Iran bertempur tepat waktu,” terangnya.

Naeini menyebutkan bahwa di pucuk pimpinan komando perang terdapat empat tokoh kunci: Brigjen Jenderal Rashid, Brigjen Bagheri, Brigjen Salami, dan Brigjen Hajizadeh, dan musuh menduga bahwa dengan menghabisi mereka maka militer Iran akan lumpuh dan pertahanannya akan runtuh, sehingga memicu perang di wilayah Iran.

Dia menjelaskan, “Musuh memperkirakan bahwa setelah runtuhnya infrastruktur pertahanan, masyarakat akan menerima pesan kekacauan, dan kekacauan itu akan berpuncak pada serangan jalanan dan masuknya kawanan penyabot melintasi perbatasan. Perang 12 hari ini adalah perang paling kompleks di dunia; mereka melihat segalanya dan membuat segala perhitungan.”

Dia menambahkan, “Namun, musuh gagal memahami komponen kekuatan kita. Kesalahan terbesar mereka adalah meyakini bahwa Republik Islam memperoleh kekuatannya semata-mata dari struktur keamanan dan pertahanannya. Mereka melakukan kesalahan yang sama dalam peristiwa perang delapan tahun (Iran-Irak, 1980-1988). Musuh meremehkan kekuatan sejati sistem, yaitu rakyat, dan menganggapnya sebagai bentuk kekuatan lunak dalam perhitungan mereka, dan mereka tidak mampu memperkirakannya.”

Juru bicara IRGC juga menegaskan, “Kesalahan musuh terletak pada analisisnya yang keliru tentang karakteristik kekuatan Iran. Kesalahan perhitungan dan kesalahpahaman ini bersumber dari perhitungan berbasis material musuh—yaitu, akumulasi kemampuan materialnya. Meskipun Iran sepenuhnya mengandalkan kekuatannya sendiri dalam menghadapi dua kekuatan nuklir global dan seluruh kemampuan gabungan Eropa dan regional, dalam perang ini, musuh sendiri menjadi korban perang persepsinya sendiri; artinya, ia percaya pada ‘Iran yang lemah’, persepsi yang mereka ciptakan dan ditindaklanjuti.”

Naeini menambahkan, “Sebaliknya, dalam Perang 12 Hari, dunia percaya pada Iran yang kuat. Terlihat jelas bahwa kekuatan rudal kita faktual dan detentif, dan AS menyadari bahwa menghadapi rudal balistik Iran bukanlah pekerjaan yang mudah.”

Brigjen Naeini menegaskan bahwa Perang 12 Hari merupakan “titik balik strategis dan merupakan “satu-satunya konfrontasi langsung Iran dengan NATO dan Komando Pusat AS (CENTCOM), yang kemudian mengubah perimbangan kekuatan di Asia Barat (Timur Tengah).”

Dia juga menyebutkan bahwa beberapa analis militer di dunia telah menunjukkan bahwa sejarah perang modern dan kontemporer terbelah menjadi pra dan pasca Perang 12 Hari, yang berarti bahwa Perang 12 Hari ini sedemikian krusial sehingga mereka menyajikannya sebagai peristiwa paling penting dan khas dalam peperangan di dunia. (alalam)