Rangkuman Berita Utama Timur Tengah,  Selasa 18 November 2025

Jakarta, ICMES. Dalam pidato peringatan satu tahun gugurnya mantan pejabat hubungan media Hizbullah, Mohammad Afif, Sekjen gerakan perlawanan Islam Lebanon ini, Syeikh Naim Qassem, pada hari Senin  (17/11) menegaskan bahwa Lebanon menghadapi agresi serius dengan implikasi luas, yang harus dihadapi melalui segala cara diplomatik dan politik.

Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menyetujui penjualan jet tempur canggih F-35 ke Arab Saudi.

Lebih dari 10 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, terluka akibat serangan pesawat nirawak Israel yang dilakukan dengan menjatuhkan dua bom di dekat sebuah sekolah dan sebuah tempat penampungan di lingkungan al-Daraj, Kota Gaza.

Berita selengkapnya:

Sekjen Hizbullah: Hegemoni AS atas Lebanon Bahaya Besar

Dalam pidato peringatan satu tahun gugurnya mantan pejabat hubungan media Hizbullah, Mohammad Afif, Sekjen gerakan perlawanan Islam Lebanon ini, Syeikh Naim Qassem, pada hari Senin  (17/11) menegaskan bahwa Lebanon menghadapi agresi serius dengan implikasi luas, yang harus dihadapi melalui segala cara diplomatik dan politik.

Syeikh Qassem menekankan bahwa apa yang terjadi saat ini bukan sekadar kegagalan dalam melaksanakan gencatan senjata, melainkan agresi terang-terangan yang bertujuan untuk mengendalikan Lebanon dan melucuti seluruh kekuatannya. Dia mengingatkan pemerintah Lebanon ihwal tanggung jawabnya  untuk mengembangkan program-program guna menghadapi agresi tersebut, dan menekankan bahwa duduk persoalannya adalah agresi itu sendiri, bukan perlawanan.

“Kami adalah bagian dari pemerintah, dan negara tidak akan menerima intervensi apa pun terhadap Lebanon,” tuturnya, sembari menyebut pengerahan pasukan di selatan Sungai Litani, deklarasi penerimaan negosiasi, dan pengesahan ketentuan dokumen Barak sebagai konsesi.

“Kami adalah mitra di negara ini, dan kami memiliki hak bicara, dan kami mendapat dukungan dari sebagian besar rakyat Lebanon dan elemen-elemen sekutu,” sambungnya.

Sekjen Hizbullah menyebut peran AS di Lebanon sebagai “perwalian” dan “bahaya yang sangat serius dan tidak menguntungkan stabilitas Lebanon.”  “Amerika bukanlah mediator, melainkan sponsor agresi,” tegasnya.

Dia menambahkan, “Israel mengatakan bahwa pengeboman itu terjadi setelah koordinasi dengan AS, dan ini mereka cari, sehingga mereka menggunakannya dalam kerangka peran AS.”

Mengenai tujuan AS di Lebanon, Syeikh Qassem menyatakan, “Ada campur tangan asing, khususnya AS, yang bertujuan memicu perselisihan internal dan mengubah keseimbangan kekuatan internal.” Dia menuduh AS berada di balik kejatuhan mata uang, kebangkrutan bank, kerusakan ekonomi, dan gangguan eksplorasi dan ekstraksi minyak.

Dia juga menanggapi kunjungan delegasi Departemen Keuangan AS ke Beirut belakangan ini, dengan mengatakan bahwa kunjungan ttu bertujuan “memberikan tekanan finansial kepada Hizbullah dan seluruh warga negara Lebanon.” Dia menasihati pemerintah, gubernur Bank Sentral Lebanon, dan pihak-pihak terkait lainnya untuk “menghentikan langkah-langkah yang menekan rakyat Lebanon.” (raialyoum)

Jelang Kedatangan Bin Salman, Trump Setujui Penjualan Jet Tempur F-35 ke Saudi

Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menyetujui penjualan jet tempur canggih F-35 ke Arab Saudi.

Trump mengumumkan hal itu di Gedung Putih, pada hari Senin (17/11) hanya sehari menjelang kedatangan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. “Kami akan menjual F-35. Ya, saya berencana melakukannya. Mereka ingin membelinya. Mereka telah menjadi sekutu yang hebat,” katanya kepada wartawan.

Keputusan ini  disebut-sebut sebagai kemenangan substansial bagi Riyadh karena Trump selama ini berupaya membujuk Arab Saudi untuk menjalin hubungan resmi dengan Israel sebagai bagian dari Perjanjian Abraham.

Namun, para pejabat Saudi telah berulang kali menegaskan kembali komitmen kerajaan terhadap Prakarsa Perdamaian Arab, yang mensyaratkan pengakuan Israel atas berdirinya negara Palestina secara layak.

Potensi kesepakatan senjata antara Washington dan Riyadh menimbulkan pertanyaan tentang upaya mempertahankan keunggulan militer kualitatif Israel, yang diabadikan dalam hukum AS. Beberapa pejabat Israel telah menyuarakan penolakan terhadap transfer jet F-35 ke Arab Saudi.

AS memiliki komitmen yang telah berlangsung puluhan tahun untuk memastikan Israel mempertahankan kemampuan militer yang unggul atas musuh-musuh potensial di kawasan Timteng.

Prinsip tersebut, yang pertama kali ditetapkan di bawah Presiden Lyndon Johnson pada tahun 1968 dan secara resmi diadopsi oleh Presiden Ronald Reagan, telah memandu penjualan senjata AS di Timur Tengah selama lebih dari empat dekade.

Sejak saat itu, setiap pemerintahan AS telah berjanji untuk menjaga kemampuan Israel agar muncul sebagai pemenang melawan segala kemungkinan kombinasi kekuatan regional.

F-35, yang diproduksi oleh Lockheed Martin, secara luas dianggap sebagai jet tempur tercanggih di dunia, dengan teknologi yang menyulitkan deteksi sistem pertahanan musuh.

Para kritikus di Israel telah memperingatkan bahwa penjualan tersebut dapat mengikis superioritas militer Israel di kawasan.

Yair Golan, seorang politisi oposisi dan mantan wakil kepala tentara Israel, mengatakan langkah tersebut berisiko memicu “perlombaan senjata di Timur Tengah” yang dapat merusak keunggulan yang telah dipegang Israel selama beberapa dekade. Dia juga mengecam pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai “rentan gagal”.

Kunjungan Bin Salman dilakukan di tengah gencatan senjata rapuh di Gaza yang terus berlanjut di tengah pelanggaran Israel yang terjadi hampir setiap hari.

Pada hari Senin, ketika ditanya tentang potensi kesepakatan F-35 dengan Riyadh, Trump menyinggung serangan AS terhadap Iran pada bulan Juni, sembari mengklaim telah “menghancurkan” fasilitas nuklir Iran.

Arab Saudi tidak terlibat dalam serangan tersebut, tetapi kantor berita resmi Saudi, SPA, melaporkan pada hari Senin bahwa Pangeran Mohammed menerima surat tulisan tangan dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelum kunjungannya ke Washington,  tanpa memberikan detail tentang isinya.

Jika penjualan F-35 itu terwujud, Arab Saudi akan menjadi negara Arab pertama dalam program F-35.

Pada tahun 2020, Trump menyetujui penjualan jet F-35 ke Uni Emirat Arab setelah Abu Dhabi setuju untuk menjalin hubungan formal dengan Israel. Namun kesepakatan itu gagal setelah Joe Biden menggantikan Trump pada tahun 2021 di tengah kekhawatiran anggota parlemen AS atas keamanan teknologi tersebut.

Kongres AS dapat menolak penjualan senjata yang disahkan oleh presiden dan menteri luar negerinya. (raialyoum/aljazeera)

Kembali Langgar Gencatan Senjata, Israel Lukai 10 Warga Palestina, Termasuk Anak-Anak

Lebih dari 10 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, terluka akibat serangan pesawat nirawak Israel yang dilakukan dengan menjatuhkan dua bom di dekat sebuah sekolah dan sebuah tempat penampungan di lingkungan al-Daraj, Kota Gaza, Senin (17/11).

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Bassal, dalam sebuah pernyataan mengatakan, “Pesawat nirawak tersebut menjatuhkan sebuah bom di gerbang sekolah dan satu lagi di sebuah tenda di dalam tempat penampungan di belakangnya, melukai lebih dari 10 warga sipil, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia.”

Bassal menambahkan bahwa semua korban luka telah dibawa ke Rumah Sakit Nasional Arab untuk perawatan, dan mencatat bahwa salah satu anak yang terluka berada dalam kondisi kritis.

Dia juga menekankan bahwa sekolah dan tempat penampungan tersebut berada di area yang dianggap aman, bukan di dalam “zona merah atau kuning”, sehingga berarti bahwa warga sipil berada di tempat yang seharusnya terlindungi dan aman.

Serangan tersebut merupakan pelanggaran terbaru terhadap perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel, yang mulai berlaku pada 10 Oktober.

Laporan-laporan sebelumnya dari pemerintah, faksi, dan lembaga hak asasi manusia menyatakan Israel telah melakukan puluhan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata. Beberapa pelanggarannya  telah menggugurkan 266 warga Palestina dan melukai 635 lainnya sejak 11 Oktober, menurut pernyataan yang dikeluarkan pada hari Minggu oleh Kementerian Kesehatan Gaza. (raialyoum)