Rangkuman Berita Utama Timur Tengah,  Rabu 12 November 2025

Jakarta, ICMES. Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pihaknya berhasil menggulung jaringan mata-mata dan pengacau keamanan yang dikendalikan oleh badan intelijen AS dan Israel.

Sekjen Hizbullah Lebanon kata Syeikh Naim Qassem kembali menegaskan bahwa seruan AS dan Israel untuk pelucutan senjata kelompok perlawanan Islam di Lebanon tersebut dirancang untuk melemahkan Lebanon dan membuatnya rentan terhadap agresi eksternal.

Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah Yaman menegaskan akan kembali beraksi jika Israel kembali mengobarkan perang di Jalur Gaza.

Berita selengkapnya:

IRGC  Gulung Jaringan Mata-Mata AS-Israel

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pihaknya berhasil menggulung jaringan mata-mata dan pengacau keamanan yang dikendalikan oleh badan intelijen AS dan Israel.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis Selasa (11/11), IRGC mengatakan jaringan itu teridentifikasi setelah beberapa putaran pengawasan, pemantauan, dan operasi intelijen, dan terdiri dari “elemen-elemen yang tertipu dan berbahaya” serta dibentuk pada paruh kedua musim gugur untuk mengacaukan keamanan publik.

IRGC menekankan bahwa rezim Zionis Israel selaku proksi AS di kawasan Timur Tengah telah mengubah strateginya untuk mendestabilisasi Iran demi mengkompensasi “kekalahan memalukan” dalam Perang 12 Hari dengan Iran.

Menurut pernyataan tersebut, jaringan  itu merupakan bagian dari upaya Tel Aviv untuk mengkompensasi kegagalan militernya dengan membidik stabilitas internal Iran, namun operasi terpadu telah dilakukan di berbagai provinsi hingga menghasilkan penangkapan berbagai sel jaringan yang berusaha mengacaukan keamanan publik.

IRGC berjanji bahwa rincian dan laporan lebih lanjut mengenai jaringan yang dibubarkan itu akan dibagikan kepada rakyat Iran pada saatnya yang tepat. (presstv)

Soal Senjata, Hizbullah Tegaskan lagi Tidak akan Menyerah kepada AS atau Israel

Sekjen Hizbullah Lebanon kata Syeikh Naim Qassem kembali menegaskan bahwa seruan AS dan Israel untuk pelucutan senjata kelompok perlawanan Islam di Lebanon tersebut dirancang untuk melemahkan Lebanon dan membuatnya rentan terhadap agresi eksternal.

“Senjata perlawanan adalah kunci kekuatannya, dan senjata itu tidak akan diserahkan,” kata Syeikh Naim Qassem dalam pidato yang disiarkan televisi untuk memperingati Hari Syuhada pada hari Selasa (11/11).

Dia menegaskan, “Ancaman dan tekanan AS dan Israel tidak akan mengubah pendirian kami; kami akan mempertahankan tanah dan martabat kami, kami tidak akan menyerah. AS dan Israel harus putus asa. Kubu perlawanan tidak akan menyerah meskipun mengalami kerugian dan ancaman.”

Dia seruan pelucutan senjata Hizbullah sebagai “dalih” untuk melancarkan agresi terhadap Lebanon,.

“Kami menghadapi ancaman eksistensial yang nyata, dan merupakan hak kami untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk menghadapinya. Israel menolak mundur karena ingin mengendalikan masa depan Lebanon,” lanjut Syeikh Naim Qassim, mengacu pada pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata yang dicapai tahun lalu.  

Menurutnya, AS dan Israel sedang mengintervensi urusan politik, militer, dan ekonomi Lebanon, dan Washington bertujuan melumpuhkan kemampuannya  Lebanon mempersenjatai tentaranya dan melawan agresi musuh.

“Amerika memroyeksikan pendudukan dan agresi  dengan menggunakan Israel sebagai alat untuk mencapai tujuannya,” tambah pemimpin Hizbullah tersebut.

Mengenai perjanjian gencatan senjata, Syeikh Qassem menyatakan bahwa otoritas Lebanon harus bertanggung jawab memastikan pelaksanaan perjanjian ini dengan segala cara yang sah, dan bahwa Israel harus menarik diri dari Lebanon Selatan, menghentikan agresinya terhadap Lebanon, dan membebaskan tawanan Lebanon.

“Tidak akan ada stabilitas di Lebanon dengan agresi Israel yang berkelanjutan dan tekanan Amerika,” tegasnya.

Israel dan Hizbullah menyetujui perjanjian gencatan senjata yang berlaku efektif pada 27 November 2024. Berdasarkan perjanjian tersebut, Tel Aviv diharuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari wilayah Lebanon, namun kenyataannya masih tetap menempatkan pasukan di lima lokasi sehingga jelas-jelas melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 dan ketentuan perjanjian November lalu.

Sejak gencatan senjata diimplementasikan, Israel telah melanggar perjanjian tersebut beberapa kali melalui serangan berulang kali di wilayah Lebanon. Otoritas Lebanon telah memperingatkan bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh rezim tersebut mengancam stabilitas nasional. (mm/presstv)

Pasukan Yaman Tegaskan akan Beraksi lagi Jika Israel Kobarkan Perang lagi di Gaza

Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah Yaman menegaskan akan kembali beraksi jika Israel kembali mengobarkan perang di Jalur Gaza.

Pasukan Yaman itu telah melancarkan kampanye militer menyerang kapal-kapal melalui koridor Laut Merah sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina di tengah perang Israel di Gaza. Mereka telah melancarkan berbagai serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah sejak akhir 2023, dan mengincar kapal-kapal yang mereka anggap terkait dengan Israel atau para pendukungnya.

Namun, dalam surat tanpa tanggal kepada sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam, yang baru-baru ini dipublikasikan secara daring, Ansarullah telah mengindikasikan pihaknya telah menghentikan serangan mereka, meskipun belum secara resmi mengumumkan penghentian serangan terhadap kapal-kapal di wilayah tersebut.

“Kami memantau perkembangan dengan cermat dan menyatakan bahwa jika musuh melanjutkan agresinya terhadap Gaza, kami akan kembali melakukan operasi militer jauh di dalam entitas Zionis (Israel), dan kami akan memberlakukan kembali larangan navigasi Israel di Laut Merah dan Laut Arab,” demikian bunyi surat dari Yusuf Hassan al-Madani, kepala staf Angkatan Bersenjata Yaman.

Gencatan senjata rapuh yang ditengahi AS mulai berlaku di Gaza pada 10 Oktober. Israel telah berulang kali melanggar kesepakatan tersebut hingga menggugurkan lebih dari 240 warga Palestina dalam serangan berkelanjutan di Gaza.

Perang Israel di Gaza telah menggugurkan sedikitnya 69.182 warga Palestina dan melukai lebih dari 170.700 orang sejak Oktober 2023. Sebanyak 1.139 orang tewas di Israel selama serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, dan sekitar 200 orang ditawan.

Kampanye maritim Ansarullah telah menewaskan sedikitnya sembilan pelaut dan menenggelamkan empat kapal. 

Belakangan ini, otoritas Yaman menahan puluhan pegawai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah menggerebek fasilitas yang dikelola PBB di ibu kota Sanaa, PBB mengonfirmasi pada akhir Oktober. Ansarullah menuduh bahwa staf PBB yang ditahan itu melakukan aksi mata-mata untuk kepentingan Israel atau memiliki hubungan dengan serangan udara Israel yang menewaskan perdana menteri Yaman. PBB membantah keras tuduhan tersebut.

PBB mengatakan pada akhir Oktober bahwa total 36 pegawai PBB ditangkap setelah serangan Israel tersebut, dan setidaknya 59 personel PBB ditahan oleh kelompok tersebut.

Pada 31 Oktober, pejabat Ansarullah mengatakan otoritas Yaman akan mengadili puluhan staf PBB yang ditahan, dan mereka adalah warga Yaman sendiri, dan dapat dikenai hukuman mati berdasarkan hukum negara tersebut. (aljazeera)