Rangkuman Berita Utama Timur Tengah,  Sabtu 8 November 2025

Jakarta, ICMES. Rezim Zionis Israel, melalui menteri perangnya, mengancam akan memenggal kepala Hizbullah, sementara militer Zionis, melalui juru bicaranya Avichai Adraee, mengeluarkan peringatan yang mendesak penduduk Lebanon selatan untuk segera angkat kaki.  

Di pihak lain, Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem memastikan bahwa Hizbullah telah sepenuhnya pulih,  dan sudah menata ulang struktur internalnya secara militer, politik, dan komando.

AS telah menghapus penguasa Suriah Ahmed al-Sharaa alias Abu Muhammad al-Julani dari daftar sanksi “teroris” menjelang pertemuan antara dia dan Presiden AS Donald Trump minggu depan.

Berita selengkapnya:

Israel Ketar-Ketir, Hizbullah Tampilkan Wajah Baru di Tangan Para Pemuda Brilian

Rezim Zionis Israel, melalui menteri perangnya, mengancam akan memenggal kepala Hizbullah, sementara militer Zionis, melalui juru bicaranya Avichai Adraee, mengeluarkan peringatan yang mendesak penduduk Lebanon selatan untuk segera angkat kaki, dan kabinet perang menteri Israel mengadakan pertemuan darurat pada Kamis (6/11) untuk menetapkan rencana serangan ke Lebanon. Semua faktor ini sekilas menunjukkan betapa perang besar sudah sangat dekat, bahkan hanya dalam hitungan jam, bukan hari atau minggu.

Di pihak lain, Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem memastikan bahwa Hizbullah telah sepenuhnya pulih,  dan sudah menata ulang struktur internalnya secara militer, politik, dan komando. Hal ini tak pelak menjadi ancaman nyata dan eksistensial bagi Israel dengan skala yang bahkan mungkin lebih besar dari sebelumnya.

Menurut bocoran militer Israel, Hizbullah telah berhasil memulihkan kemampuan rudal presisinya yang diproduksi secara lokal, dan juga telah membuka jalur suplai senjata dari Iran melalui wilayah Suriah, tanpa sepengetahuan penguasa Suriah, yang didukung AS dan memusuhi Hizbullah.

Ancaman-ancaman Israel yang didahului serangan udara terhadap apa yang diklaimnya sebagai pabrik-pabrik rudal dan pangkalan-pangkalan pelatihan Hizbullah di lebih dari satu wilayah tidaklah mengejutkan, melainkan justru menandakan bahwa agresi terhadap Lebanon selama ini gagal mencapai tujuannya, terutama menumpas perlawanan Hizbullah.

Sebaliknya, agresi itu bisa jadi justru memperkuat Lebanon di atas fondasi baru, karena pemerintah Lebanon gagal melucuti senjata Hizbullah, gagal memicu perang saudara bermotif sektarian, dan gagal membawa Lebanon ke dalam sistem normalisasi dan Perjanjian Abraham.

Seorang narasumber Lebanon yang dekat dengan Hizbullah menyatakan bahwa kelompok pejuang ini kini bertabur para komandan muda namun matang dan brilian, yang beberapa di antaranya bergelar sarjana dari universitas Arab dan internasional, dan yang lainnya telah menjalani pelatihan di akademi militer di beberapa negara lain, yaitu Iran, Rusia dan Korut.  Ini merupakan suatu transformasi yang meremajakan performa  Hizbullah beserta lembaga militer dan  para komandannya serta melejitkan pola kepimpinan Hizbullah,  dan bahkan membangun Hizbullah baru.

Surat terbuka yang ditujukan Hizbullah beberapa hari lalu kepada tiga pemimpin Lebanon, yaitu Presiden Joseph Aoun, Ketua Parlemen Nabih Berri, dan Perdana Menteri Nawaf Salam, serta kepada rakyat Lebanon, mereflekasikan sikap para pemimpin baru Hizbullah yang lebih tegas dan solid dalam melanjutkan perlawanan terhadap konspirasi AS-Israel terhadap Lebanon dan kawasan Timur Tengah.

Surat terbuka itu belum pernah terjadi sebelumnya dan memuat empat poin utama sebagai berikut:

Pertama, Israel tidak mematuhi gencatan senjata yang dicapai November lalu dan malah melanjutkan agresinya terhadap wilayah Lebanon, melanggarnya lebih dari 5.000 kali, sehingga berarti bahwa Israel tidak lagi terikat perjanjian.

Kedua, Lebanon berkomitmen untuk mengakhiri agresi dan tidak akan menyerah desakan dan tekanan agar negara ini tergiring ke meja perundingan yang bertabur syarat  Israel dan mediator AS.

Ketiga, Hizbullah menegaskan haknya yang sah untuk melawan okupasi dan agresi Israel, yang bertujuan menundukkan dan mempermalukan negara Lebanon serta menduduki wilayah negara Arab ini secara langsung.

Keempat, Hizbullah menolak pelucutan senjata Hizbullah dan akan melawan dengan segala cara. Hizbullah menegaskan bahwa perlawanan akan terus ada selagi pendudukan masih ada.

Surat terbuka ini merupakan penolakan tegas terhadap pernyataan Presiden Aoun bahwa negosiasi dengan Israel merupakan satu-satunya pilihan bagi Lebanon.  Seandainya surat ini tidak segera diterbitkan, Presiden Aoun bisa jadi sudah menuruti desakan utusan AS Tom Barrack untuk menelepon langsung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu guna memulai negosiasi.

Tentara telah melakukan manuver darat, laut, dan udara selama dua minggu di dekat perbatasan Lebanon sebagai persiapan, dengan biaya $150 juta. Jika tentara Israel kemudian jadi melancarkan serangan terhadap Lebanon maka Israel bisa jadi melakukan kesalahan politik dan militer yang fatal di mana rezim Zionis jatuh ke dalam perangkap Hizbullah, yang selama ini enggan menjadi pihak yang memulai perang, dan telah bertahan selama lebih dari 12 bulan dalam pengekangan, serta tidak jatuh ke dalam perangkap provokasi dan pelanggaran Israel.

Sumber yang dekat dengan Hizbullah mengatakan ,”Iran hanya menggunakan 500 rudal presisi (Fatah, Sejjil, Khaibar) dalam perang 12 hari, namun mampu menembus semua pertahanan udara canggih Israel buatan AS, berhasil menghancurkan separuh Tel Aviv, dan Institut Teknologi Weizmann, yang notabene terbesar di dunia, dan membunuh serta melukai ratusan atau bahkan ribuan orang Israel, sementara Hizbullah kini memiliki 7.500 rudal presisi dengan jenis yang hampir sama, atau bahkan lebih, dan rudal-rudal ini tidak akan tersisa di gudangnya jika terjadi agresi Israel.”

Dalam perang  Hizbullah-Israel, yang berlangsung selama sekira satu tahun di mana Hizbullah bangkit membela Gaza, lebih lebih dari 150.000 pemukim Zionis mengungsi dari Galilea, sehingga praktis menimpakan kerugian miliaran dolar bagi entitas Zionis akibat kompensasi, akomodasi, dan biaya hidup. Hanya seperempat dari mereka yang kembali setelah gencatan senjata.

Lantas berapa banyak pemukim  Zionis Israel yang akan mengungsi, termasuk mungkin dari Tel Aviv, Haifa, Acre, dan semua kota pesisir dan pusat, jika rudal baru Hizbullah mencapai mereka sebagai respon terhadap agresi Israel? Bisa jadi ratusan ribu atau jutaan pemukim.  Dan jangan lupa, rudal-rudal Yaman juga akan menghujani mereka sebagai bentuk dukungan dan solidaritas dengan Hizbullah. (raialyoum)

AS Hapus Presiden Suriah dari Daftar Sanksi “Teroris” Global

AS telah menghapus penguasa Suriah Ahmed al-Sharaa alias Abu Muhammad al-Julani dari daftar sanksi “teroris” menjelang pertemuan antara dia dan Presiden AS Donald Trump minggu depan.

Departemen Keuangan AS pada hari Jumat (7/11) menghapus al-Sharaa, mantan pentolan kelompok teroris yang terkait dengan al-Qaeda, dari daftar Teroris Global yang Ditunjuk Khusus. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada yang sama turut menghapus al-Sharaa dari daftar sanksi yang sebagian besar bersifat simbolis.

Penghapusan resmi al-Sharaa dari daftar itu disebut-sebut sebagai langkah terbaru yang bertujuan menghilangkan potensi hambatan bagi Suriah dalam mencapai integrasi ekonomi dan politik setelah bertahun-tahun dilanda perang yang menghancurkan dan berujung penggulingan presiden yang sah, Bashar al-Assad dari kekuasaan pada bulan Desember 2024.

Washington dan PBB juga mencoret Anas Hasan Khattab, mantan pejuang yang terkait dengan al-Qaeda tetapi kini menjabat sebagai menteri dalam negeri Suriah, dari daftar tersebut.

“Dengan pengesahan teks ini, dewan mengirimkan sinyal politik kuat yang mengakui bahwa Suriah berada di era baru sejak Assad dan rekan-rekannya digulingkan pada Desember 2024,” ujar Mike Waltz, duta besar AS untuk PBB, dalam pernyataannya setelah pemungutan suara DK PBB pada hari Kamis.

Presiden AS diperkirakan akan menjamu al-Sharaa di Gedung Putih pada 10 November. Trump bertemu al-Sharaa untuk pertama kalinya pada bulan Mei dalam sebuah pertemuan puncak di Arab Saudi. Di situ dia mengumumkan pencabutan beberapa sanksi AS terhadap Suriah yang diberlakukan selama pemerintahan Assad, sehingga menurut beberapa analis, menyulitkan negara tersebut untuk membangun kembali perekonomiannya.

Kongres AS menyatakan pihaknya sedang berupaya mencabut sanksi tambahan terhadap Suriah yang masih berlaku, sementara Komite Hubungan Luar Negeri Senat menyambut baik pencabutan sanksi PBB tersebut dan menyatakan sudah waktunya untuk “membawa perekonomian Suriah ke abad ke-21”. (presstv)