Jakarta, ICMES. Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam, Mayjen Mohammad Ali Jafari, mengatakan bahwa Iran tidak memiliki batasan jumlah rudal yang dimilikinya, kemampuan ini mencakup berbagai jenis rudal dengan jangkauan yang bervariasi, dan kemampuan negara di bidang ini sangat luas dan tak terbatas.

Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem memastikan pihaknya siap membela diri jika diserang, meskipun belum siap untuk menyulut perang.
Pembatasan Israel terhadap masuknya alat berat melumpuhkan upaya Kota Gaza untuk membersihkan puing-puing dan membangun kembali infrastruktur penting, karena diperkirakan ada puluhan puluhan ribu ton bom Israel belum meledak sehingga mengancam nyawa warga di seluruh wilayah Jalur Gaza.
Berita selengkapnya:
Jenderal Jafari: Kota-Kota Bawah Tanah Iran Masih Penuh Rudal
Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam, Mayjen Mohammad Ali Jafari, mengatakan bahwa Iran tidak memiliki batasan jumlah rudal yang dimilikinya, kemampuan ini mencakup berbagai jenis rudal dengan jangkauan yang bervariasi, dan kemampuan negara di bidang ini sangat luas dan tak terbatas.
“Lihatlah kekuatan rudal ini, dan fokus padanya. Ada banyak kota rudal di bawah pegunungan di pelbagai penjuru Iran, dan semuanya penuh rudal. Sebagiannya memang terkurangi, tapi masih ada persediaan yang cukup,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan wartawan Iran yang disiarkan pada hari Sabtu (15/10).
Ditanya apakah kota-kota rudal bawah tanah itu mengalami kerusakan, dia menjawab, “Tak ada satupun yang rusak, semuanya ada di bawah pegunungan. Bisa jadi ada kerusakan pada pintu masuk sebagian di antaranya, atau bisa jadi ada peluncur rudal yang rusak ketika keluarkan, tapi kota rudal itu sendiri tak ada yang mengalami kerusakan.”
Ditanya sampai berapa lama persediaan rudal Iran bisa bertahan, dan benarkah klaim Martir Mayjen Hajizadeh bahwa satu saja di antaranya bisa bertahan sampai dua tahun seandainya setiap minggu dibuka, Jaafari mengatakan, “Rudal dengan berbagai jarak jangkauannya memang sebanyak itu. Kita sungguh tak punya batasan mengenai kuantitas rudal kita.
Mengenai mengapa AL Iran di Teluk Persia dan Selat Hormuz tidak terlibat dalam Perang 12 Hari, dia mengatakan, “Ada hal-hal yang harus kita jaga untuk situasi di masa mendatang. Kita tidak boleh menunjukkan semua kartu kita. Menurut saya, situasi Perang 12 Hari belum mencapai keadaan yang mengharuskan penggunaan fasilitas ini. Jika di masa mendatang keadaan menjadi lebih sulit daripada Perang 12 Hari maka kita akan menggunakannya.”
Ditanya apakah hal itu akan efektif, dia mengatakan, “Pasti demikian.” Ditanya mengenai asumsi publik mengenai perang di Teluk Persia, yang umumnya terkait kapal-kapal serang Syahid Mahdavi produk tahun 1987, Ali Jaafari mengatakan, “Tidak begitu, kapal-kapal itu sudah usang dan berkenaan dengan masa hampir 40 tahun silam. Sekarang, Angkatan Laut kita memiliki rudal laut ke laut, rudal darat ke darat, dan bahkan rudal balistik, yang pernah digunakan untuk menyerang ISIS dan bahkan belakangan ini untuk menyerang target-target lain seperti Tel Aviv. Rudal-rudal itu dapat menghantam kapal-kapal perang yang sedang bergerak.”
Mengenai kondisi Hizbullah sekarang setelah berperang dengan Israel, dia mengatakan, “”Seperti yang dikatakan oleh Pemimpin Revolusi Islam (Ayatullah Khamenei), perlawanan bukanlah fenomena fisik yang dapat dikalahkan. Seandainya perlawanan adalah fenomena fisik maka Hizbullah sudah tidak ada wujudnya sekarang.”
Dia menambahkan: “Meskipun terkena pukulan berat, termasuk kehilangan para pemimpin kuncinya, Hizbullah tetap tangguh. Musuh mungkin telah menyasar sekira 30% kemampuan Hizbullah, tetapi 70% dari kemampuan ini tetap utuh, dan ini sendiri merupakan bukti kedalaman dan dinamisme perlawanan.”
Dia juga mengatakan, “Hizbullah terkena pukulan mendadak, tetapi tetap teguh dan telah mencegah gerak maju pasukan rezim pendudukan (Israel). Perlawanan tetap teguh, memukul mundur musuh, dan akhirnya negosiasi diadakan untuk mengakhiri perang. Hari ini, kita mendengar kabar tentang mundurnya rencana pelucutan senjata Hizbullah, dan ini menunjukkan ketangguhan kubu perlawanan.” (alalam)
Syeikh Naim Qassem: Hizbullah Tak Siap Mengobarkan Perang, Tapi Siap Melawan Jika Diserang
Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem memastikan pihaknya siap membela diri jika diserang, meskipun belum siap untuk menyulut perang.
“Kubu perlawanan (Hizbullah) siap untuk membela diri, tetapi belum siap untuk menyulut perang,” katanya dalam sebuah wawancara dengan saluran al-Manar milik Hizbullah pada Ahad malam (26/10).
“Kami tidak memiliki keputusan untuk berperang atau keputusan untuk memulai perlawanan, tetapi jika pertempuran dipaksakan kepada kami, bahkan jika kami tidak memiliki apa-apa selain kayu, kami tidak akan membiarkan Israel melintas,” imbuhnya.
Dia juga mengatakan, “Israel mengikuti laju serangan yang kita saksikan setiap hari di bawah tekanan dari AS supaya dalam politik dapat mencapai apa yang belum mereka capai di lapangan…. Jika musuh mengobarkan perang terhadap Lebanon, mereka tidak akan mencapai apapun.”
Mengenai gencatan senjata, dia mengatakan, “Semua akan diuntungkan jika perjanjian ini diterapkan. Sedangkan jika tidak diterapkan maka mereka tidak akan meraih hasil apapun, dan kami akan tetap siap melawan invasi yang mungkin terjadi.”
Mengenai pelanggaran gencatan senjata oleh pasukan Israel, dia mengatakan, “Kami masih terus melakukan penyelidikan, dan jika sudah selesai kami akan mengumumkan hasilnya kepada masyarakat. Kami sudah pernah menjanjikan hal ini, dan janji ini akan dipenuhi, insya Allah.”
Pasukan Ridwan Hizbullah Masih Eksis
Syekh Naim Qassem mengatakan bahwa Pasukan Radwan, yang merupakan bagian penting dari kekuatan Hizbullah, “telah menderita kerugian yang sama seperti pasukan perlawanan pada umumnya. Pasukan ini telah menderita kerugian dan pengorbanan, sebagaimana halnya kekuatan, kemampuan, dan lingkungan pendukung lainnya.”
Dia menjelaskan, “Pasukan Radwan telah menderita, kehilangan, dan berkorban, tetapi tetap bertahan dan terus berlanjut, sebagaimana kubu perlawanan tetap ada dan berlanjut hingga saat ini. Kubu perlawanan menderita kerugian signifikan dan juga telah menimbulkan kerugian (pada pihak musuh), serta memberikan pengorbanan signifikan, yang tidak semuanya terungkap.”
Sekjen Hizbullah menambahkan bahwa pengorbanan ini “meneguhkan bahwa kita masih berdiri kokoh di atas kaki kita, dan bahwa hakikat kekuatan tidak hanya terletak pada senjata, melainkan juga pada iman dan tekad, dan iman serta tekad ini tetap hadir dengan kuat.” (almayadeen)
Penduduk Gaza Terancam oleh Puluhan Ribu Ton Sisa Bom Israel yang Belum Meledak
Pembatasan Israel terhadap masuknya alat berat melumpuhkan upaya Kota Gaza untuk membersihkan puing-puing dan membangun kembali infrastruktur penting, karena diperkirakan ada puluhan puluhan ribu ton bom Israel belum meledak sehingga mengancam nyawa warga di seluruh wilayah Jalur Gaza.
Dalam konferensi pers, Ahad (26/10), Wali Kota Gaza Yahya al-Sarraj mengatakan kota ini membutuhkan setidaknya 250 kendaraan berat dan 1.000 ton semen untuk memelihara jaringan air dan membangun sumur.
Setidaknya 9.000 warga Palestina masih terkubur di bawah reruntuhan. Namun, peralatan baru tersebut diprioritaskan untuk menemukan jenazah tawanan Israel, alih-alih membantu warga Palestina menemukan keluarga mereka yang masih terjebak di bawah reruntuhan.
Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan kendaraan Palang Merah tiba setelah pertemuan dengan sayap bersenjata Hamas, Brigade Qassam, untuk memandu mereka ke lokasi seorang tawanan Israel di Rafah selatan.
Seorang juru bicara pemerintah Israel mengatakan bahwa untuk mencari jenazah para tawanan, tim Palang Merah dan Mesir telah diizinkan melewati “garis kuning” gencatan senjata, yang memungkinkan Israel mempertahankan kendali atas 58 persen wilayah yang terblokade itu.
Israel menghabiskan waktu dua minggu untuk bersikeras bahwa Hamas mengetahui lokasi semua jenazah para tawanan.
Rekonstruksi di Gaza menghadapi kendala lebih lanjut dari persenjataan yang belum meledak. Nicholas Torbet, direktur Timur Tengah di HALO Trust di Inggris, mengatakan bahwa Gaza “pada dasarnya adalah satu kota raksasa” yang setiap bagiannya telah terkena bahan peledak.
“Beberapa amunisi dirancang untuk bertahan, tetapi yang kami khawatirkan di Gaza adalah persenjataan yang diperkirakan akan meledak saat terkena dampak tetapi tidak meledak,” ujarnya.
Torbet mengatakan pembersihan bahan peledak memperlambat proses rekonstruksi. Timnya berencana untuk bekerja langsung di dalam komunitas untuk membersihkan bom dengan aman daripada menandai area yang luas tanpa batas waktu. “Cara terbaik untuk membuang bom adalah dengan menggunakan sedikit bahan peledak untuk meledakkannya,” jelasnya.
Torbet menambahkan bahwa peralatan yang dibutuhkan relatif sederhana dan dapat diangkut dengan kendaraan kecil atau manual, dan kemajuan mulai terlihat.
Skala bahan peledak yang dijatuhkan Israel telah membuat Gaza dipenuhi sisa-sisa bahan peledak yang mematikan.
Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Palestina, mengatakan bahwa Israel menjatuhkan setidaknya 200.000 ton bahan peledak di wilayah tersebut, dengan sekitar 70.000 ton gagal meledak. (aljazeera)







