Rangkuman Berita Utama Selasa 7 Oktober 2025

Jakarta, ICMES. Tidak ada program negosiasi Iran dengan E3 (Inggris, Prancis dan Jerman) maupun dengan Amerika Serikat (AS). Iran telah menyelesaikan semua argumennya terkait negosiasi program nuklirnya, yang hingga saat ini belum menerima laporan dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang menunjukkan non-toksisitasnya.

Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Mayjen Mohammad Pakpour menyatakan bahwa pasukan Angkatan Laut (AL) IRGC sepenuhnya siap untuk memberikan respons tegas terhadap setiap gerakan mengancam musuh di Teluk Persia atau di kepulauannya.

Dua orang gugur dan satu orang lainnya luka-luka akibat serangan pesawat nirawak Israel terhadap sebuah mobil di kota Zebdine, Nabatieh, Lebanon selatan

Berita selengkapnya:

Teheran Nyatakan Tak Ada Perundingan Iran dengan Eropa dan AS

Tidak ada program negosiasi Iran dengan E3 (Inggris, Prancis dan Jerman) maupun dengan Amerika Serikat (AS). Iran telah menyelesaikan semua argumennya terkait negosiasi program nuklirnya, yang hingga saat ini belum menerima laporan dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang menunjukkan non-toksisitasnya.

Teheran, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei, Senin (6/10), menegaskan pihaknya dewasa ini tidak akan berunding dengan Washington, dan akan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan nasional. Namun, Iran tidak akan ragu untuk menggunakan diplomasi jika bermanfaat dan efektif.

Pada saat yang sama, Iran memperingatkan perihal serangan potensial baru, dan menekankan bahwa Iran akan menanggapi setiap tindakan atau negara yang membiarkan wilayah dan zona udaranya digunakan untuk serangan terhadap Iran.

Adapun mengenai penerapan “mekanisme pemicu” (snapback) , Baghaei menekankan bahwa E3 menggunakan mekanisme ini untuk memaksakan tuntutan Washington kepada Dewan Keamanan, dan menyebut pendekatan negara-negara itu destruktif dan tidak bertanggung jawab.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan, “Kami tidak berniat bernegosiasi dengan Washington saat ini. Pada tahap ini, kami berfokus pada studi dampak dan konsekuensi tindakan E3 dan AS. Tentu saja, diplomasi tetap berjalan sebagai proses yang berbasis pada komunikasi dan konsultasi.”

Mengenai kerja sama Iran dengan IAEA, Teheran menegaskan bahwa Iran tetap menjadi anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), namun Perjanjian Kairo tidak lagi berlaku karena salah satu syaratnya adalah tidak mengaktifkan mekanisme pemicu. Teheran menekankan bahwa tidak ada inspektur IAEA di Iran.

“Kami  sekarang tidak dapat menggunakan Perjanjian Kairo sebagai dasar terpisah untuk kerja sama antara Iran dan IAEA, dan tanggung jawab atas hal ini berada di tangan pihak-pihak Eropa,” ungkap Esmail Baghaei.

Mengenai negara-negara yang menerapkan sanksi PBB dalam hubungan mereka dengan Iran, termasuk Turki, Teheran menganggap tindakan ini ilegal.

Teheran juga mengimbau negara-negara sahabat untuk tidak memberlakukan resolusi ilegal. Pintu diplomasi tetap terbuka, dan kepentingan bangsa Iran adalah dasar dari setiap posisi yang diambil Teheran. Tidak akan ada negosiasi atau kesepahaman dengan pihak mana pun yang mengabaikan dasar ini. Inilah pedoman umum Teheran. (alalam)

IRGC Tegaskan Kesiapannya Menindak Segala Gerakan yang Mengancam di Teluk Persia

Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Mayjen Mohammad Pakpour menyatakan bahwa pasukan Angkatan Laut (AL) IRGC sepenuhnya siap untuk memberikan respons tegas terhadap setiap gerakan mengancam musuh di Teluk Persia atau di kepulauannya.

Palpour menyampaikan pernyataan tersebut

“Jika musuh melakukan gerakan (mengancam) di laut dan di kepulauan, mereka akan menerima respon tegas,” ujarnya saat mengunjungi unit-unit operasional tempur AL IRGC di kepulauan Teluk Persia, Senin (6/10).

Dia menambahkan bahwa unit-unit operasional yang ditempatkan di Teluk Persia memiliki kesiapan tempur yang tinggi.

“Sebagaimana Angkatan Bersenjata Iran telah melumpuhkan rezim Zionis dan AS dalam perang 12 hari, jika musuh melakukan gerakan (mengancam) di laut atau di kepulauan, Angkatan Laut IRGC akan merespon dengan kesiapan penuh,” tegasnya.

Panglima IRGC menekankan bahwa kubu musuh Iran takut akan kekuatan moral dan keberanian pasukan negara ini.

Pasukan Iran telah menggempur situs-situs militer dan intelijen Israel setelah negara Zionis ilegal ini melancarkan agresi secara terbuka terhadap Iran pada 13 Juni, dengan lampu hijau dari AS.

Serangan Israel tersebut memicu perang 12 hari yang menggugurkan sedikitnya 1.064 orang di Iran. Pada 24 Juni, melalui serangan baliknya yang besar dan sukses, Iran berhasil menghentikan agresi Israel dan AS. (presstv)

Israel Kembali Serang Lebanon Selatan, Dua Orang Gugur

Dua orang gugur dan satu orang lainnya luka-luka akibat serangan pesawat nirawak Israel terhadap sebuah mobil di kota Zebdine, Nabatieh, Lebanon selatan, Senin (6/10).

Serangan ini terjadi di tengah pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata dan kedaulatan Lebanon melalui penembakan dan serangan udara, laut, dan darat, yang mengakibatkan gugurnya puluhan warga Lebanon.

Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata dan kedaulatan Lebanon melalui penembakan dan serangan udara, laut, dan darat sejak perjanjian tersebut ditandatangani tahun lalu. Serangan Israel kali ini menggugurkan seorang pria dan istrinya serta melukai empat warga sipil dalam serangan pesawat nirawak di Lebanon selatan.

Radio militer Israel mengklaim serangan tersebut ditujukan terhadap kamp pelatihan militer Hizbullah dan depot senjata di Lembah Bekaa, manakala drone Israel terbang rendah di atas beberapa desa di Bekaa selatan dan barat.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) beberapa hari yang lalu mengumumkan bahwa lebih dari 100 warga sipil gugur di Lebanon selatan akibat serangan Israel sejak gencatan senjata.

Bersamaan dengan serangan terbaru Israel, Dewan Menteri Lebanon, yang dipimpin oleh Presiden Joseph Aoun, menggelar rapat yang membahas berbagai topik, terutama penarikan bendera dan berita dari Asosiasi Resalat yang berafiliasi dengan Hizbullah serta rencana militer untuk pembatasan senjata hanya untuk negara.

Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Rodolphe Heikal menyampaikan laporan bulanan tentang rencana sentralisasi senjata dan hambatan yang menghalangi implementasinya.

Laporan pers juga menyebutkan bahwa Heikal berbicara tentang pelanggaran Israel dan hambatan yang dihadapi tentara Lebanon dari pihak Israel, di samping kerja sama antara Angkatan  Bersenjata Lebanon dan UNIFIL.

Di pihak lain, Hizbullah menyatakan bahwa pemerintah Lebanon sebaiknya mempersenjatai tentaranya guna menghadapi Israel, daripada memonopoli senjata. Hal ini dinyatakan oleh Anggota Parlemen Hassan Fadlallah, anggota blok Loyalitas kepada Perlawanan, yang menekankan bahwa pemerintah saat ini “tidak dapat membuat keputusan sepihak tanpa melibatkan komponen lainnya, karena ada pasukan yang berpartisipasi dan mewakili komponen besar rakyat Lebanon.”

Fadlallah menekankan bahwa alih-alih memasukkan klausul yang membahas monopoli senjata, pemerintah sebaiknya mengkaji cara-cara untuk melindungi nyawa rakyat Lebanon. Dia juga mengatakan, “Mereka yang meneriakkan slogan Perjanjian Taif hari ini adalah pihak pertama yang menentangnya dan menolak untuk melaksanakannya, terutama terkait penguatan Angkatan Bersenjata.” (alalam)