Rangkuman Berita Utama Jumat 18 Juli 2025

Jakarta, ICMES. Provinsi Sweida, Suriah, masih ketegangan di lapangan di mana konfrontasi sengit meletus antara faksi militer Druze di satu pihak dan faksi suku di desa-desa dan kota-kota di pedesaan Sweida barat di pihak lain.

Iran akan melanjutkan perang balasannya terhadap pasukan pendudukan dari titik terakhir jika terjadi agresi lebih lanjut.

Pemimpin Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul Malik al-Houthi, mengatakan eskalasi agresi Israel belakangan terhadap Suriah merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk “pendudukan tanpa balasan apa pun.”

Berita selengkapnya:

Kontak Senjata di Sweida Berlanjut, Suku-Suku di Daraa Umumkan Mobilisasi

Provinsi Sweida, Suriah, masih ketegangan di lapangan di mana konfrontasi sengit meletus antara faksi militer Druze di satu pihak dan faksi suku di desa-desa dan kota-kota di pedesaan Sweida barat di pihak lain.

Dalam eskalasi lebih lanjut, suku-suku Daraa mendeklarasikan “mobilisasi umum” untuk mendukung suku mereka di Sweida menghadapi faksi-faksi Druze, sehingga konfrontasi berpotensi meluas di Suriah selatan.

Ketegangan juga berdampak pada mahasiswa Suriah. Sumber-sumber di Universitas Aleppo melaporkan bahwa sejumlah mahasiswa Druze diserang di asrama mereka sebelum kemudian dipindahkan ke lingkungan Ashrafieh dan Sheikh Maqsoud, dua wilayah yang berada di bawah kendali Pasukan Demokratik Suriah (SDF) Kurdi, demi keselamatan mereka di tengah ketegangan sektarian.

Sementara itu, kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan pada Kamis malam (17/7) bahwa serangan udara Israel menyasar wilayah sekitar kota Sweida.

Minggu lalu, bentrokan berdarah meletus antara kelompok Bedouin dan Druze di Sweida, yang kemudian disusul intervensi militer dan pasukan keamanan untuk memulihkan stabilitas di wilayah tersebut.

Di sisi lain, dengan dalih melindungi warga Druze, Israel memanfaatkan situasi ini dan meningkatkan agresinya terhadap Suriah dengan serangan udara intensif terhadap empat provinsi pada hari Rabu, termasuk pengeboman markas Staf Umum militer dan sekitar istana presiden di Damaskus.

Para menteri luar negeri dari 12 negara Arab menegaskan dukungan mereka kepada keamanan, persatuan, stabilitas, dan kedaulatan Suriah, serta penolakan mereka terhadap segala bentuk campur tangan asing dalam urusan negara tersebut.

Hal itu disampaikan dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah pembicaraan intensif selama dua hari terakhir, yang dihadiri oleh menteri luar negeri Yordania, UEA, Bahrain, Turki, Arab Saudi, Irak, Oman, Qatar, Kuwait, Lebanon, dan Mesir.

Mereka menyerukan dukungan bagi upaya pemerintah Suriah untuk membangun kembali negara ini. Mereka juga mengecam serangan berulang Israel terhadap Suriah, dan menganggapnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman bagi persatuan dan stabilitas Suriah.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Israel berupaya untuk menjerumuskan kawasan ke dalam pertumpahan darah, kekacauan, dan kerusuhan.

“Israel juga menyerang Lebanon, Yaman, dan Iran, membantai orang-orang tak berdosa dan mengebom wilayah sipil di sana. Seolah semua ini belum cukup, Israel menggunakan Druze sebagai dalih untuk memperluas amukannya ke tetangga kita, Suriah, selama dua hari terakhir,” kata Erdogan.

Dia menambahkan, “Saya ingin menekankan sekali lagi, dengan lantang dan jelas: Israel adalah negara teroris. Israel tidak mengakui hukum atau aturan, tidak memiliki prinsip, dan arogan.” (almayadeen/raialyoum)

IRGC: Iran Siap Mengulangi Serangan Balik terhadap Israel

Iran akan melanjutkan perang balasannya terhadap pasukan pendudukan dari titik terakhir jika terjadi agresi lebih lanjut.

Hal ini dinyatakan oleh Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayjen Mohammad Pakpour, dalam pertemuan dengan Panglima Angkatan Bersenjata, Mayjen Amir Hatami, pada hari Kamis (17/7), sembari menekankan bahwa mentalitas IRGC berada pada level tertinggi.

“Angkatan bersenjata berada dalam kesiapan dan koordinasi penuh untuk mengulangi serangan terhadap musuh,” tegas Pakpour.

Menyinggung perang yang telah berlangsung selama 12 hari melawan AS dan Israel, dia menyebutkan bahwa pasukan Iran dengan dukungan rakyat berhasil menetralisir perang dan agitasi terberat dan paling komplek dalam sejarah Iran.

Pada 13 Juni, Israel melancarkan tindakan agresi terbuka terhadap Iran hingga menggugurkan sejumlah perwira tinggi, ilmuwan nuklir, dan warga sipil Iran. Lebih dari seminggu kemudian, AS melibatkan diri dengan mengebom tiga lokasi nuklir Iran.

Dalam serangan balik, ratusan rudal balistik dan drone Iran melesat dan menjebol pertahanan udara Israel dan menghantam fasilitas-fasilitas penting militer, intelijen, industri, energi, dan riset di seluruh wilayah Palestina pendudukan.

Pasukan Iran juga melancarkan serangan rudal balistik terhadap pangkalan udara al-Udeid di Qatar, pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah.

Jenderal Pakpour menegaskan, “Kehendak dan martabat rakyat Iran dan pasukan bersenjata telah menang. Kita semua bersatu. Iran tercinta tidak pernah kalah dalam konfrontasi dengan musuh-musuhnya.”

Dia menambahkan, “Pada hari-hari terakhir perang, Israel menyaksikan neraka yang dijanjikan dengan mata kepala mereka sendiri. Kami tidak akan membiarkan para agresor dan penjajah lolos begitu saja. Kami akan melanjutkan perang dan pertempuran melawan penyerang persis dari titik terakhirnya.”

Senada dengan pernyataan tersebut, Mayjen Hatami, menyebut rezim Israel sebagai biang ancaman bagi perdamaian dan keamanan di Timur Tengah.

“Rezim keji Zionis merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan di kawasan dan dunia, dan musuh umat Islam. Jika diberi kesempatan, mereka juga akan menyerang negara-negara lain di kawasan ini,” tegasnya.

Dia menambahkan, “Kami berjanji bahwa Angkatan Bersenjata dan IRGC akan berdiri berdampingan dan bergandengan tangan—sebagai prajurit ilahi—untuk bekerja demi pengibaran bendera kebanggaan Iran dan keamanan serta kekuatan Iran yang Islami.”

Pada 24 Juni, Israel melalui Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian sepihak atas agresinya setelah serangan balik Iran membuat Israel kewalahan. (alalam)

Pemimpin Ansarullah Ingatkan Rencana Israel Menginvasi Semua Kawasan Sekitarnya

Pemimpin Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul Malik al-Houthi, mengatakan eskalasi agresi Israel belakangan terhadap Suriah merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk “pendudukan tanpa balasan apa pun.”

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Kamis (17/7), Sayid al-Houthi menilai  Israel bertujuan untuk menyerang semua negara di kawasan sekitarnya tanpa menghadapi pembalasan.

“Meskipun para penguasa di Suriah secara terbuka menyatakan keinginan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, agresi terhadap Suriah terus berlanjut,” ujarnya.

Menurutnya, Israel berusaha mengendalikan dinamika internal Suriah dengan dalih mendukung komunitas Druze dan minoritas, dan bertujuan menguasai sebagian besar wilayah Suriah hingga pinggiran Damaskus, serta mendikte hubungan dan kebijakan Suriah untuk menjamin keamanannya sendiri.

Menanggapi meningkatnya agresi Israel terhadap Lebanon, Sayid al-Houthi menyinggung tekanan AS terhadap faksi-faksi di Lebanon agar menerima rencana Israel untuk melucuti senjata Hizbullah.

Dia juga mengutuk kontinyuitas genosida Israel terhadap rakyat Palestina dan penghancuran kota-kota dan permukiman di Gaza.

Dia mengungkapkan bahwa terjadi penurunan angka kelahiran di Gaza sebesar 41% dibandingkan tahun lalu, di samping penurunan populasi secara keseluruhan sebesar 10%.

“Genosida rakyat Gaza adalah tujuan bersama Amerika Serikat dan Israel,” tegasnya, seraya menjelaskan bahwa Israel sangat bergantung pada bom AS, dan bahan peledak dilaporkan dijatuhkan lebih sering daripada peluru. (presstv)