Rangkuman Berita Utama Timteng  Kamis 26 Desember  2024

Jakarta, ICMES. Angkatan bersenjata Yaman menyatakan pihaknya kembali menyerang Israel dengan rudal hipersonik.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari Selasa memuji serangan Yaman dan menyatakan bahwa presisi rudal Yaman telah secara signifikan mengusik kalkulasi strategis aliansi Israel-AS.

Jurnalis senior Arab keturunan Palestina di London, Inggris, Abdel Bari Atwan, dalam narasi videonya menyatakan bahwa Rezim Zionis Israel kalang kabut dan geram diserang Yaman dengan rudal hipersonik yang tak tertangkis oleh semua sistem payung rudal Israel. Karena itu, menurut Atwan, Israel bisa jadi bukan hanya akan menyerang Yaman lagi, melainkan juga akan menggempur Iran dengan dibantu AS.

Berita selengkapnya:

Inna Lillahi, Lima Wartawan Gugur Akibat Serangan Israel di Gaza

Lima wartawan gugur akibat  pemboman langsung pasukan Zionis Israel terhadap mobil pers  di depan gerbang Rumah Sakit Al-Awda di Nuseirat, Jalur Gaza tengah pada dini hari Kamis (26/12).

Kantor media pemerintah di Gaza mengumumkan “kesyahidan sekelompok  rekan jurnalis yang bekerja di saluran Al-Quds Al-Youm , yaitu Faisal Abu Al-Qumsan (koresponden), Ayman Al-Jadi (fotografer), Ibrahim Al-Sheikh Ali ( jurnalis), Muhammad Al-Laddah (jurnalis), dan Fadi Hassouna (jurnalis).

Kantor media pemerintah Gaza mengecam tindakan rezim pendudukan tersebut dan menyerukan kepada Federasi Jurnalis Internasional, Federasi Jurnalis Arab, dan semua badan jurnalistik di dunia untuk mengutuk kejahatan sistematis terhadap jurnalis Palestina dan profesional media di Jalur Gaza.

Kantor itu juga menyatakan bahwa selain rezim Zionis sendiri, AS dan sejumlah negara Barat pendukung Israel lain, yaitu Inggris, Jerman dan Prancis, juga bertanggungjawab penuh atas kebrutalan dan kebiadaban pasukan Zionis tersebut.

Jumlah jurnalis yang gugur di Jalur Gaza, sejak awal agresi pada 7 Oktober 2023, meningkat menjadi 201 orang setelah lima wartawan saluran Al-Quds Al-Youm gugur. (alalam)

Jurnalis Kondang Mesir Tanggapi Pernyataan Sinis Al-Julani tentang Iran dan Syiah

Para pemimpin berbagai kelompok bersenjata di Suriah, terutama pemimpin Hay’at Tahrir al-Sham, Abu Muhammad Al-Julani, yang belakangan menggunakan nama Ahmad Al-Sharaa, sejak menguasai negara ini telah berulang kali mengecam Iran dan umat Islam Syiah dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam sebuah pertemuan dengan politisi Lebanon Walid Jumblatt dan para tokoh Druze.

Dalam pertemuan itu Al-Julani melontarkan pernyataan sinis terhadap Iran. Al-Julani mengaku heran atas apa yang disebutnya  sebagai retorika kebencian terhadap penduduk Syam. Syam adalah sebutan di masa silam untuk kawasan luas yang mencakup Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon, namun kini lebih dikaitkan dengan Suriah.

 “Penduduk Syam tak terbiasa melihat retorika demikian. Penduduk Syam cinta damai, dan terlampau lapang (toleran) untuk memasuki fanatisme sektarian, kultural dan historis. Mereka tak berdosa dalam hal ini. Ada berbagai peristiwa yang terjadi sejak 1400 tahun silam. Urusan apa kami dengan semua itu?” ujar Al-Julani.

Dia menambahkan, “Ada orang-orang tertentu datang untuk membalas dendam terhadap penduduk Syam berdasarkan peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi pada 1400 tahun silam. Akal sehat apa ini? Logika apa ini? Apa sangkut pautnya kami dengan masalah ini? Kami tak bersangkut paut dengannya, dan tak membunuh orang. Kami tak tahu menahu. Alhasil, Maha Suci Allah dari perolokan takdir dan aneka peristiwa yang mengenaskan sekaligus dagelan di mana Anda melihat adanya orang-orang yang mengeksploitasi masalah fikih, atau syariat, dan mengusik perasaan orang dengan dalih-dalih tertentu demi menduduki berbagai wilayah dan negara. Ada isu Palestina dan ada pula isu sejarah, yang hasilnya selalu saja jatuhnya ibu kota di negara-negara Arab ke tangan negara lain seperti Iran.”

Penulis dan jurnalis ternama Mesir Ibrahim Eissa dalam konten video yang diunggah di Youtube pada hari Rabu 25/12) menanggapi sengit dan tajam klaim Al-Julani tersebut.

“Entah muncul dari mana Al-Gulani ini. Al-Julani yang kini berkuasa itu mengatakan kepada Anda; ‘Kita tak mengerti  bagaimana saudara-saudara Syiah itu ingin menghukum kami, penduduk Syam, berdasarkan perselisihan yang terjadi pada 1400 tahun silam,’” ujar Eissa.

Dia lantas menegaskan, “Hei si cantik, si manis, apa yang Anda maksud dengan persilisihan 1400 tahun silam itu? Andalah yang dulu menyerbu Irak justru karena perselihan yang terjadi 1400 tahun silam. Anda di sana melakukan penghancuran dan penumpahan darah, bergabung dengan ISIS dan Al-Qaedah, membom masjid-masjid Syiah, lantaran perselisihan 1400 tahun silam.”

Ibrahim Eissa juga mengatakan, “Orang-orang Anda mendatangi kuburan Muawiyah dan mengelu-elukannya adalah lantaran perselisihan 1400 tahun silam. Tampilan Anda beserta kelompok-kelompok bersenjata Anda dengan semua model cambang mereka, semuanya menerapkan wacana 1400 tahun silam. Kalian kembali ke gaya hidup 1400 silam. Kalian berlaku jumud, kaku dan berkutat pada era 1400 tahun silam. Masing-masing kalian menggunakan nama panggilan model 1400 tahun silam.  Kalian tampil dengan cara berpikir 1400 tahun silam seolah sejarah dan akal pikiran tak mengalami perubahan.  Kalian memperlakukan kami dengan paham, pandangan dan pikiran orang-orang yang hidup 1400 tahun silam, dan memahami agama dengan cara yang berlaku pada 1400 tahun silam tanpa mempertimbangkan apapun yang berlaku saat ini.”

Ebrahim Eissa menamahkan, “Anda ingin mengembalikan khilafah Islam dan perselisihan 1400 tahun silam. Anda menertawakan pengena songkok tarbus yang duduk di hadapan Anda, atau orang yang berkeperluan atau bertegur sapa dengan Anda, atau bahkan ingin menyumbang Anda. Tapi kemudian malah ada media Barat dan Arab memuji dan mengira bahwa Anda telah berubah, dan bahwa keadaan telah berubah, padahal tetap saja tak berubah. Ada pula rezim-rezim, negara-negara, dan para penguasa serta media yang mempromosikan kepada kita semua bahwa Al-Julani telah berubah.”

Patut diingat bahwa Al-Julani tampak sedemikian fokus menyorot Iran dalam berbagai stetemennya justru ketika dia juga terlihat tidak peduli kepada kehancuran yang terjadi kawasan sekitarnya akibat ulah pasukan Zionis dan AS. Hal ini tentu saja mengundang keprihatinan dan kecurigaan banyak orang terhadap Al-Julani dan kelompoknya. (alalam/youtube)

Kerusuhan dan Bentrokan Berdarah Melanda Suriah, Jam Malam Diberlakukan

Pasukan keamanan Suriah terlibat bentrok dengan orang-orang bersenjata di kota Tartus, dan telah jatuh sejumlah korban tewas dan luka

Media Suriah mengutip pernyataan pejabat Kementerian Dalam Negeri  bahwa 14 anggota pasukan keamanan tewas dan 10 lainnya terluka akibat bentrokan di Tartus pada hari Rabu (26/12). Selain itu, tiga orang bersenjata juga tewas.

Bentrokan terjadi di tengah gelombang aksi protes dan kemarahan yang melanda banyak kota, termasuk Latakia dan Homs.

Menurut beberapa laporan, seorang pengunjuk rasa tewas dan beberapa lainnya terluka di Homs setelah pasukan keamanan melepaskan tembakan untuk membubarkan massa.

Gelombang unjuk rasa terjadi menyusul beredarnya penggalan video yang memperlihatkan serangan terhadap sebuah makam Alawite di bagian utara Suriah.

Penguasa baru Suriah telah mengumumkan jam malam di banyak kota, termasuk ibu kota Damaskus, serta Homs dan Jabaleh.

Rekaman yang memperlihatkan “penyerbuan dan serangan” terhadap makam itu adalah rekaman “lama dan berasal dari masa pembebasan” Aleppo pada awal bulan ini, ungkap pernyataan Kementerian Dalam Negeri.

Disebutkan pula bahwa serangan itu dilakukan oleh “kelompok tak dikenal” dan “penerbitan ulang” video itu bertujuan untuk “menimbulkan pertikaian di antara warga Suriah pada tahap yang sensitif ini.”

Serangan itu dilaporkan menewaskan lima penjaga makam, sementara makam itu sendiri dibakar.

“Kami menyerukan agar mereka yang menyerang makam itu dimintai pertanggungjawaban,” kata Ali Daoud, seorang pengunjuk rasa di Jableh.

Kantor berita  SANA melaporkan bahwa polisi di pusat kota Homs memberlakukan jam malam mulai pukul 6:00 malam hingga pukul 8:00 pagi waktu setempat pada hari Kamis. (presstv)