Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Selasa 30 Desember 2025

Jakarta, ICMES. Ali Shamkhani, penasihat politik Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei, tampak menanggapi keras ancaman Presiden AS Donald Trump terkait persenjataan Iran. “Kemampuan rudal dan pertahanan Iran tidak dapat dibendung dan tidak memerlukan izin atau otorisasi,” tegas Shamkhani

Sayap militer Hamas, Brigade Izz ad-Din al-Qassam, mengumumkan kesyahidan sejumlah tokoh senior, termasuk juru bicara resminya, Abu Ubaidah,  akibat serangan udara Israel ketika perang di Jalur Gaza.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengutuk pengakuan rezim Israel atas Somaliland, dan menyebutnya sebagai bagian dari strategi yang lebih luas  dengan tujuan mendestabilisasi kawasan.

Berita selengkapnya:

Tanggapi Ancaman Trump, Shamkhani: Rudal Iran Tak Dapat Dibendung

Ali Shamkhani, penasihat politik Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei, tampak menanggapi keras ancaman Presiden AS Donald Trump terkait persenjataan Iran.

 “Kemampuan rudal dan pertahanan Iran tidak dapat dibendung dan tidak memerlukan izin atau otorisasi,” tegas Shamkhani dan dalam sebuah postingan di platform  X  pada Senin malam (29/12).

Shamkhani memperingatkan, “Segala bentuk agresi akan dibalas dengan respon yang cepat dan keras, mungkin melebihi perhitungan dan harapan mereka yang merencanakannya.”

Dia menekankan, “Bentuk-bentuk respon tertentu telah ditentukan dalam doktrin pertahanan Republik Islam Iran, bahkan sebelum ancaman mencapai tahap implementasi.”

Donald Trump dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Ahad mengancam akan menyerang situs nuklir Iran lagi jika Teheran berupaya membangun kembali situs-situs tersebut.

 “Saya harap mereka tidak mencoba membangun kembali kemampuan mereka, karena jika mereka melakukannya, kita tidak akan punya pilihan selain melenyapkan upaya itu dengan sangat cepat,” sumbarnya.

Media Israel selama berminggu-minggu juga kerap membicarakan isu Iran, mulai dari mengulas perang 12 hari pada bulan Juni, hingga menyampaikan ancaman dari pejabat Israel, dan melaporkan pemulihan dan pengembangan kekuatan  Iran.

Sementara itu, Angkatan Bersenjata Iran pada hari Senin menegaskan pihaknya tidak akan membiarkan ancaman apa pun terhadap keamanan Iran. Dia memperingatkan bahwa setiap agresi baru terhadap  Iran akan ditanggapi dengan balasan yang jauh lebih keras, lebih menghancurkan, dan lebih merusak daripada di masa lalu.

Mereka memastikan bahwa tekanan yang sedang berlangsung, termasuk sanksi, kampanye media, dan perang psikologis, tidak akan melemahkan Iran.

Mereka memperingatkan bahwa kesalahan perhitungan musuh di masa depan akan mengakibatkan pembalasan yang jauh lebih keras, menghancurkan, dan mahal.

Secara terpisah, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan pernyataan bahwa musuh berusaha menabur benih pemberontakan di dalam masyarakat Iran melalui perang kognitif, operasi psikologis, narasi palsu, penyebaran ketakutan, dan dorongan untuk menyerah kepada mereka.

IRGC menyebut   agresi Israel-AS selama 12 hari terhadap Iran pada bulan Juni llau sebagai contoh luar biasa dari ancaman hibrida yang memiliki dimensi keamanan, psikologis, dan ekonomi yang luas, jauh melampaui konfrontasi militer.

Pasukan elit Iran itu memastikan pihaknya  gigih menjaga kemerdekaan, keamanan, martabat, dan otoritas Iran dari segala bentuk penghasutan, perang kognitif, ancaman keamanan, dan agresi teritorial. (ry/pt)

Brigade Al-Qassam Umumkan Kesyahidan Abu Ubaidah

Sayap militer Hamas, Brigade Izz ad-Din al-Qassam, mengumumkan kesyahidan sejumlah tokoh senior, termasuk juru bicara resminya, Abu Ubaidah,  akibat serangan udara Israel ketika perang di Jalur Gaza.

Pengumuman ini disampaikan dalam sebuah pernyataan yang dibacakan oleh juru bicara militer baru Brigade Al-Qassam pada Senin malam.

Pernyataan Al-Qassam tersebut dimulai dengan penghormatan panjang kepada penduduk Gaza, memuji keteguhan mereka dalam menghadapi perang dan blokade, sebelum mengumumkan “kesyahidan” sejumlah komandan yang, menurut pernyataan itu, gugur setelah pasukan pendudukan melanggar gencatan senjata dan melanjutkan operasi militernya pada Maret lalu.

Al-Qassam menegaskan bahwa Operasi Badai Al-Aqsa merupakan titik balik penting dalam perjalanan konflik, bahwa operasi tersebut “berhasil memperbaiki arah dan membangkitkan semangat perlawanan di dalam umat” setelah bertahun-tahun terblokade dan terpinggirkan, dan bahwa operasi tersebut membawa kembali perjuangan Palestina ke garis depan perhatian regional dan internasional.

Al-Qassam menambahkan bahwa tercapainya kesepakatan gencatan senjata bukanlah hasil tekanan politik, melainkan “buah dari pengorbanan rakyat kita dan kepahlawanan perlawanan mereka.” Al-Qassam menegaskan bahwa keteguhan Gaza telah menggagalkan tujuan militer dan politik Israel, terutama mematahkan tekad rakyat Palestina dan melucuti senjata perlawanan.

Al-Qassam menyerukan kepada “semua pihak terkait untuk menahan pendudukan dan memaksanya untuk mematuhi apa yang telah disepakati,” memperingatkan agar tidak terlalu terpaku pada senjata perlawanan.

Al-Qassam menekankan bahwa yang harus diprioritaskan adalah “menghentikan senjata mematikan pendudukan yang digunakan dalam perang pemusnahan,” alih-alih berfokus pada senapan Palestina.

Al-Qassam juga memastikan bahwa konfrontasi dengan Israel belum berakhir, karena pelanggaran gencatan senjata oleh Israel terus berlanjut dan terjadi peningkatan ketegangan di Gaza, Tepi Barat, dan Al-Quds. Al-Qassam  menyerukan kelanjutan gerakan rakyat dan upaya politik sampai Israel dimintai pertanggungjawaban dan tidak lolos dari hukuman. (aljazeera)

Iran Sebut Pengakuan Israel atas Somaliland Bertujuan Mendestabilisasi Kawasan

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengutuk pengakuan rezim Israel atas Somaliland, dan menyebutnya sebagai bagian dari strategi yang lebih luas  dengan tujuan mendestabilisasi kawasan.

Dalam konferensi pers pada hari Senin (29/12) dia menegaskan bahwa pengakuan atas sebagian wilayah Somalia itu tidak memiliki dasar hukum atau politik apa pun.

Menurutnya, tindakan itu diambil oleh entitas Zionis, yang mereka sendiri menderita ketidakabsahan, dengan tujuan memecah belah negara-negara Muslim, mempercepat disintegrasi regional, dan membuat kawasan itu lebih rentan terhadap ambisi dan agresi Israel.

Baghaei menyinggung pernyataan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Liga Arab, dan Uni Afrika, yang semuanya secara eksplisit menolak apa yang disebut pengakuan tersebut.

Dia menambahkan bahwa tidak ada dasar untuk tindakan tersebut dalam sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau di bawah hukum internasional, khususnya sejauh menyangkut penghormatan terhadap integritas teritorial dan kedaulatan nasional.

Dia menilai masalah ini lebih dari sekedar upaya memisahkan bagian dari negara Muslim yang merdeka, dan lebih merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mendestabilisasi wilayah geografis yang luas yang meliputi Asia Barat, Tanduk Afrika, dan Laut Merah.

Baghaei berharap perkembangan ini menjadi peringatan bagi negara-negara di kawasan dan sekitarnya, dan menekankan pandangan Iran bahwa tindakan rezim Israel “pada dasarnya anti-perdamaian” dan bertujuan untuk memicu ketegangan, perpecahan, dan konflik di seluruh wilayah.

Seperti diketahui, Israel telah mengumumkan pengakuannya atas  Somaliland yang memproklamirkan diri sebagai “negara berdaulat”. Tindakan Israel ini tak pelak mengundang kecaman internasional. (ptv)