Jakarta, ICMES. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menanggapi keras ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump untuk kembali menyerang Iran. Pezeshkian bersumpah bahwa setiap agresi lebih lanjut akan dibalas dengan respon yang menghancurkan dan “menyesalkan”.

Tentara Israel mengumumkan bahwa 21 tentaranya melakukan bunuh diri selama tahun 2025, dari total 151 kematian sejak awal tahun ini.
Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) terkait dengan proksi masing-masing yang bersiteru di bagian selatan Yaman dilaporkan terus meningkat, dari yang semula hanya sebatas verbal berubah menjadi aksi militer dan serangan udara.
Berita selengkapnya:
Digertak Trump, Pezeshkian: Balasan Iran akan Sengit
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menanggapi keras ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump untuk kembali menyerang Iran. Pezeshkian bersumpah bahwa setiap agresi lebih lanjut akan dibalas dengan respon yang menghancurkan dan “menyesalkan”.
“Respon Republik Islam Iran terhadap setiap agresi yang menindas akan keras dan menyesalkan,” tulis Pezeshkian dalam sebuah pesan di platform media sosial X, Selasa (30/12).
Trump dalam konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Florida, AS, Senin (29/12), mengancam akan “menghapus” upaya Teheran untuk memajukan program nuklirnya atau meningkatkan kemampuan rudal balistiknya.
“Saya harap mereka tidak mencoba membangun kekuatan lagi karena jika mereka melakukannya, kita tidak akan punya pilihan selain dengan cepat memberantas pembangunan kekuatan itu,” ancam Trump, sembari bersumbar bahwa serangan AS di masa mendatang “mungkin akan lebih dahsyat daripada sebelumnya.”
Ini memerupakan yang pertama kalinya Trump secara blak-blakan mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap program rudal konvensional Iran, yang merupakan landasan doktrin pertahanan negara republik Islam ini.
Tidak Takut Perang
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada hari Selasa juga menanggapi ancaman Trump dengan menegaskan kesiapan penuh angkatan bersenjata Iran.
“Dengan mengambil pelajaran dari pengalaman bulan Juni dan Juli dan mempertahankan tingkat kesiapan tertinggi, pasukan Iran dari berbagai kesatuan siap memberikan respon telak terhadap agresi apa pun; respons yang bahkan disebut oleh Presiden Trump sebagai sangat keras,” ungkap Araghchi.
Araghchi mengingatkan, “Tidak boleh ada kesalahan perhitungan. Rakyat Iran tidak takut perang, seperti yang ditunjukkan pada saat itu. Namun, Iran tidak pernah mencari konflik dengan AS, dan pengekangan Teheran – yang tidak boleh disalahartikan sebagai kelemahan – adalah satu-satunya alasan mengapa pangkalan militer AS di kawasan itu tetap aman.”
Dia juga menyebutkan bahwa Washington dapat terus bergantung pada narasi palsu yang dipicu oleh rezim Zionis, atau mengambil jalan realisme, diplomasi, dan saling menghormati.
“Semakin banyak analis dan politisi yang sampai pada kesimpulan bahwa Israel bukanlah sekutu, tetapi beban tambahan bagi AS; sebuah realitas yang menjadi sangat jelas pada bulan Juni dan Juli,” ungkap Araghchi , mengacu pada peningkatan suara kritis di AS dan negara-negara Barat.
Dia juga menegaskan, “Rakyat Iran tidak akan pernah mundur dari hak-hak hukum dan sah mereka, yang merupakan hak generasi sekarang dan masa depan.”
Israel Rahasiakan Kerugiannya
Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Mayjen Ali Abdollahi, menyatakan bahwa Rezim Zionis Israel merahasiakan kerugiannya dalam Perang 12 Hari dengan Iran pada Juni lalu.
“Rezim Zionis menderita pukulan yang sangat berat dalam Perang 12 Hari, dan informasi yang kami peroleh dari wilayah pendudukan (Palestina) menunjukkan hal ini, namun rezim ini menyensor statistik korban dan pukulan yang dideritanya. Pukulan berat ini menyebabkan Rezim Zionis secara sepihak meminta gencatan senjata,” tegasnya. (tasnim)
Israel Umumkan 151 Tentaranya Tewas, 21 Diantaranya Bunuh Diri, pada Tahun 2025
Tentara Israel mengumumkan bahwa 21 tentaranya melakukan bunuh diri selama tahun 2025, dari total 151 kematian sejak awal tahun ini.
Dalam pengumuman pada Selasa malam (30/12) itu disebutkan bahwa 151 perwira dan tentara terbunuh selama tahun 2025, di antaranya 88 terbunuh dalam kegiatan operasional.
Disebutkan pula bahwa tiga tentara tewas dalam serangan dan permusuhan, 15 mati karena sakit, 17 tewas dalam kecelakaan lalu lintas sipil, satu tewas dalam kecelakaan lalu lintas militer, satu tewas lagi tewas karena kecelakaan senjata, dan lima tewas dalam insiden lainnya.
Terdapat juga 21 tentara mati bunuh diri, 11 di antaranya adalah pasukan wajib militer, dan sembilan lainnya adalah pasukan cadangan, dan satu sisanya dari unit pasukan reguler.
Menurut data militer yang dipublikasikan, 923 tentara tewas dan 3879 terluka sejak dimulainya perang di Jalur Gaza pada 8 Oktober 2023.
Di sisi lain, tentara Israel di kalangan Zionis sendiri dituduh menyembunyikan jumlah korban jiwa yang sebenarnya demi menjaga mental pasukan di tengah perang propaganda.
Pada tanggal 16 Desember lalu, seorang tentara Israel bunuh diri dengan menembak peluru pada tubuhnya di sebuah pangkalan militer di wilayah utara, menurut surat kabar Haaretz.
Menurut data Israel, jumlah tentara yang bunuh diri sejak awal perang di Gaza bertambah menjadi 61 orang.
Biasanya, tentara Israel menderita gangguan mental yang parah setelah terlibat dalam kejahatan genosida di Jalur Gaza, yang dihuni oleh sekitar 2,4 juta warga Palestina.
Seperti diketahui, dengan dukungan AS, serangan Israel di Jalur Gaza mengakibatkan lebih dari 71.000 orang Palestina gugur, dan 171.000 lainnya terluka. Para korban itu sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Serangan itu juga menyebabkan kehancuran besar-besaran, dengan biaya rekonstruksi yang ditanggung AS sekitar 70 miliar dolar.
Sejak 10 Oktober, perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel telah dilanggar setiap hari, mengakibatkan 418 warga Palestina gugur, dan 1.141 warga Palestina terluka, menurut kantor media pemerintah di Gaza. (ry)
Ketegangan Antara Saudi dan UEA di Yaman Selatan Meningkat
Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) terkait dengan proksi masing-masing yang bersiteru di bagian selatan Yaman dilaporkan terus meningkat, dari yang semula hanya sebatas verbal berubah menjadi aksi militer dan serangan udara.
Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung oleh UEA dalam beberapa minggu terakhir telah menguasai sebagian besar wilayah provinsi Hadramaut dan Al-Mahra, yang kaya minyak dan strategis di Yaman timur. Langkah ini telah mendapat penentangan keras dari pemerintahan Rashad Al-Alimi, yang didukung Saudi.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, juru bicara STC menyebut tindakan Rashad Al-Ulaimi sebagai tindakan di luar kesepakatan dan wewenangnya, dan sebagai kudeta terhadap Dewan Kepresidenan (kolektif).
“Keputusan Al-Alimi berada di luar kerangka kesepakatan dan batas wewenangnya,” ujarnya.
Dia menegaskan, “Wewenang telah dialihkan ke Dewan Kepresidenan, bukan kepada Al-Alimi secara pribadi. Al-Alimi tidak berhak membatalkan perjanjian pertahanan bersama.”
Dia mengaku prihatin atas serangan udara Saudi terhadap fasilitas dan pusat militer UEA di Yaman selatan, dan menyebut peran UEA di Yaman selatan terbatas pada pelatihan dan kehadiran dalam kerangka pasukan internasional.
Sebelumnya, Al-Alimi menyebut tindakan STC sebagai kudeta terhadap lembaga-lembaga pemerintah, dan karena itu dia membatalkan perjanjian pertahanan bersama dengan UEA.
Pertukaran tuduhan dan pernyataan keras ini, bersamaan dengan aksi-aksi di lapangan berupa pendudukan wilayah, serangan udara terbatas, dan suplai senjata , menunjukkan peningkatan ketegangan proksi antara dua kelompok yang semula bersekutu di koalisi Saudi dan UEA di Yaman.
Perang kata-kata ini, menurut para pengamat, tidak hanya kembali ke perselisihan lama dan persaingan pengaruh di Yaman selatan, melainkan juga meningkatkan risiko perang proksi langsung antara Saudi dan UEA di wilayah Yaman.
Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman menyerukan kepada STC agar merespon upaya para mediator dan menarik pasukannya dari provinsi Al-Mahra dan Hadramaut serta menyerahkan pasukan tersebut secara damai kepada pemerintah Aden yang berafiliasi dengan Riyadh.
Menanggapi permintaan ini, STC justru menyerukan kepada para pendukungnya untuk mengadakan demonstrasi besar-besaran pada hari Minggu di wilayah Siyun, ibu kota Hadramaut, untuk mendukung STC dan aksinya memperluas kendali atas Hadramaut dan Al-Mahra.
STC juga menyerukan deklarasi resmi kemerdekaan Yaman Selatan dan menolak tindakan yang diambil oleh koalisi Saudi.
Laporan terbaru menyebutkan terjadinya serangan udara Saudi terhadap konvoi militer STC di Hadramaut timur. Turki al-Maliki, juru bicara pasukan koalisi Arab, pada hari Selasa (30/12) mengumumkan serangan terhadap senjata dan kendaraan lapis baja UEA di pelabuhan Mukalla di Yaman selatan. (tasnim)







