Jakarta, ICMES. Para perwira militer dan keamanan Israel memperingatkan bahwa pernyataan dan pengarahan media sesuai agenda Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dapat menyulut perang baru yang menghancurkan dengan Iran.

Militer Iran menyampaikan keterangan detail mengenai ketepatan teknologi rudal Iran, dengan menyebutkan bahwa rudal hipersonik Fattah berhasil menembus jendela kantor seorang pejabat intelijen militer senior Israel selama perang 12 hari pada bulan Juni.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Libya, Mohammed Ali Ahmed Al-Haddad, tewas bersama empat orang lainnya dalam kecelakaan pesawat setelah meninggalkan ibu kota Turki, Ankara.
Berita selengkapnya:
Israel Diingatkan untuk Perwiranya untuk Tidak Bermain Api dengan Iran
Para petinggi militer dan keamanan Israel Di Tel Aviv meyakini bahwa pernyataan yang dikaitkan dengan sumber-sumber berpangkat tinggi atau intelijen mengenai Iran dan pemulihan kekuatan negara repubblik Islam ini dimaksudkan untuk menutupi isu-isu penting lainnya yang hendak dihindari oleh pemerintahan Benjamin Netanyahu, antara lain penyelidikan atas peristiwa 7 Oktober, penarikan pasukan dari Jalur Gaza, dan pelaksanaan fase kedua gencatan senjata dengan Hamas.
Dikutip saluran berita al-Alam, Selasa (23/12), para perwira Israel itu memperingatkan bahwa pernyataan dan pengarahan media sedemikian rupa dapat menyulut perang baru yang menghancurkan dengan Iran, perang yang tidak ingin dilancarkan oleh kedua belah pihak.
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth memuat berita utama dengan judul; “Kesalahan dalam Perlakuan terhadap Iran Dapat Memicu Eskalasi Baru.”
Ahmed Rafiq Awad, direktur Institut Studi Masa Depan di Universitas Al-Quds, mengatakan,”Netanyahu mencoba memanaskan situasi sebelum kunjungannya ke (Presiden AS Donald) Trump. Tujuannya adalah pertama-tama memeras Trump dan memenuhi tuntutan, keinginan, dan tekanannya agar dapat beralih ke tahap kedua. Karena itu, peningkatan ketegangan dan pemicuan konflik di front Gaza, Suriah, Lebanon, dan bahkan Iran adalah pendahuluan yang ingin digunakan Netanyahu untuk memaksakan persyaratannya.”
Menurut situs berita Israel Walla, satu di antara lima isu penting yang akan dibawa Netanyahu ke Washington adalah masalah Iran, di tengah kekhawatiran AS terhadap kemungkinan meningkatnya situasi regional menjadi perang besar, mengingat besarnya pengaruh Iran di kawasan. Tel Aviv tidak ingin kembali ke skenario yang menyerupai atau bahkan lebih buruk dari konfrontasi sebelumnya dengan Iran, yang memiliki persediaan rudal canggih dalam jumlah besar.
Semua faktor ini, menurut situs Walla dan para pengamat, menunjukkan bahwa Netanyahu tampak tidak akan mampu membujuk Trump agar meningkatkan ketegangan dengan Teheran.
Nihad Abu Ghosh, direktur Pusat Studi Masar, mengatakan “Netanyahu ingin memprovokasi Trump agar menekan Iran, tetapi pemerintahan Trump tentu memiliki perhitungan sendiri. Mereka mungkin khawatir akan kemampuan nuklir Iran, tetapi tidak tentang kemampuan misilnya. Tel Aviv memandang membaiknya kondisi ekonomi, politik, dan keamanan Iran sebagai ancaman bagi ambisi dan proyek Israel di kawasan.”
Di Tel Aviv, mereka memahami bahwa perang berikutnya dengan Iran akan jauh lebih besar risikonya daripada konfrontasi sebelumnya.
AS sepenuhnya menyadari bahwa konfrontasi dengan Iran pada tahap ini akan berarti bahwa tidak seorang pun dapat mengendalikan api yang akan berkobar di kawasan, atau mengendalikan letak geografis tempat konfrontasi akan terjadi, atau mengendalikan waktu terjadinya konfrontasi. (alalam)
Jenderal Shekarchi: Rudal Fattah Iran Tembus Jendela Kantor Kepala Intelijen Israel
Militer Iran menyampaikan keterangan detail mengenai ketepatan teknologi rudal Iran, dengan menyebutkan bahwa rudal hipersonik Fattah berhasil menembus jendela kantor seorang pejabat intelijen militer senior Israel selama perang 12 hari pada bulan Juni.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Abolfazl Shekarchi dalam kata sambutan pada pertemuan di Universitas Sharif di Teheran, Selasa (23/12) mengatakan bahwa kecanggihan persenjataan Iran telah melampaui bahkan sistem pertahanan udara Barat yang termahal sekalipun, tak terkecuali sistem THAAD buatan Amerika, yang sering dipromosikan sebagai perisai yang tak tertembus, dengan rudal pencegatnya yang berharga sekira $10 juta hingga $12 juta per unit.
“Rudal Fattah, yang diproduksi dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada rudal THAAD, berhasil menembus sistem pertahanan tercanggih di dunia,” kata Shekarchi.
Dia mengatakan bahwa serangan Iran dalam perang melawan Israel bukanlah serangan “membabi buta atau tanpa sasaran” melainkan membidik koordinat yang telah ditentukan dengan akurat.
“Salah satu target itu adalah jendela ruang kerja kepala intelijen militer rezim Zionis. Rudal itu menembus jendela tersebut dan menghancurkan bangunan itu. Mereka sama sekali tidak dapat mentolerir kemajuan ini,” ujarnya.
Shekarchi juga mengungkapkan bahwa selama beberapa bulan menjelang Perang 12 Hari dan selama perang ini, pasukan keamanan Iran berhasil menciduk sekitar 2.000 individu yang terindikasi berafiliasi dengan jaringan luas spionase musuh.
“Jaringan mata-mata dan agen musuh yang luas telah dibuat dengan upaya bertahun-tahun dan sejumlah besar uang. Membangun kembali jaringan seperti itu bukanlah pekerjaan sederhana dan akan membutuhkan waktu dan biaya bertahun-tahun,” terangnya.
Menurut Shekarchi, meskipun rezim Israel merasakan fatalnya dampak serangan Iran, pasukan Iran hanya menggunakan sebagian kecil dari total kekuatan militernya.
“Kami memiliki kekuatan besar di laut, serta di pasukan darat kami. Sebagian besar kapasitas Angkatan Laut, Angkatan Darat, dan Basij kami belum dikerahkan,” tegasnya.
Dia juga menyebutkan bahwa meskipun Iran telah menunjukkan ketepatan rudalnya, sebagian besar kekuatan rudal strategisnya tetap “siap sepenuhnya dan belum digunakan.”
Dia menilai bahwa setelah gagal dalam Perang 12 Hari, Israel menggeser taktiknya ke arah “perang lunak” dan operasi psikologis untuk menekan mental publik Iran. (presstv)
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Libya Tewas dalam Kecelakaan Pesawat di Turki
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Libya, Mohammed Ali Ahmed Al-Haddad, tewas bersama empat orang lainnya dalam kecelakaan pesawat setelah meninggalkan ibu kota Turki, Ankara, Selasa (23/12).
“Ini menyusul insiden tragis dan menyakitkan saat mereka kembali dari perjalanan resmi dari kota Ankara, Turki. Kehilangan ini merupakan kehilangan besar bagi bangsa, bagi lembaga militer, dan bagi seluruh rakyat,” kata Perdana Menteri Libya Abdulhamid Dbeibah dalam sebuah pernyataan.
Dia mengatakan bahwa komandan pasukan darat Libya, direktur otoritas manufaktur militer, seorang penasihat kepala staf, dan seorang fotografer dari kantor kepala staf juga berada dalam pesawat itu.
Menteri Dalam Negeri Turki Ali Yerlikaya mengatakan di platform media sosial X bahwa pesawat itu lepas landas dari Bandara Esenboga Ankara pada pukul 17.10 GMT menuju Tripoli, dan kontak radio terputus pada pukul 17.52 GMT. Dia mengatakan pihak berwenang menemukan puing-puing pesawat di dekat desa Kesikkavak di distrik Haymana Ankara.
Dia menambahkan bahwa jet tipe Dassault Falcon 50 telah mengajukan permintaan pendaratan darurat saat berada di atas Haymana, tetapi tidak terjalin kontak.
Penyebab kecelakaan itu belum segera jelas. Menteri Kehakiman Turki Yilmaz Tunc mengatakan penyelidikan atas kecelakaan itu sedang berlangsung.
Pemerintah Persatuan Nasional yang berbasis di Tripoli mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa perdana menteri mengarahkan menteri pertahanan untuk mengirim delegasi resmi ke Ankara untuk menindaklanjuti proses tersebut.
Walid Ellafi, menteri negara urusan politik dan komunikasi untuk Pemerintah Persatuan Nasional (GNU), mengatakan kepada stasiun televisi Libya Alahrar bahwa belum jelas kapan laporan kecelakaan akan siap, tetapi jet tersebut adalah pesawat sewaan dari Malta. Dia menambahkan bahwa para pejabat tidak memiliki “informasi yang cukup mengenai kepemilikan atau riwayat teknisnya,” tetapi mengatakan bahwa masalah ini akan diselidiki.
Pemerintah Persatuan Nasional Libya yang diakui PBB mengumumkan masa berkabung resmi di seluruh negeri selama tiga hari.
Kementerian Pertahanan Turki mengumumkan kunjungan Haddad sebelumnya, dengan mengatakan bahwa Haddad telah bertemu dengan Menteri Pertahanan Turki Yasar Guler dan mitranya dari Turki Selcuk Bayraktaroglu, bersama dengan komandan militer Turki lainnya.
Kecelakaan itu terjadi sehari setelah parlemen Turki mengesahkan keputusan memperpanjang mandat penempatan tentara Turki di Libya selama dua tahun lagi. (ry/reuters)








