Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Kamis 12 Februari 2026

Jakarta, ICMES. Rakyat Iran memperingati HUT ke-47 revolusi Islam dengan demonstrasi nasional yang diikuti jutaan orang, mengirimkan pesan kuat loyalitas mereka kepada cita-cita pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini, yang telah menggulingkan monarki yang didukung AS pada tahun 1979.

Laksamana Ali Shamkhani, yang menjabat sebagai sekretaris Dewan Pertahanan Iran, yang bernaung di bawah Dewan Tinggi Keamanan Nasional (SNSC), menegaskan bahwa kemampuan rudal balistik Iran adalah “garis merah” yang tidak akan pernah dibawa ke meja perundingan.

Juru bicara sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, Abu Ubaidah, menyatakan bahwa agresi terhadap Iran adalah agresi terhadap seluruh umat Islam sedunia.

Berita selengkapnya:

Peringati HUT ke-47 Kemenangan Revolusi, Jutaan Rakyat Iran Turun ke Jalanan

Rakyat Iran memperingati HUT ke-47 revolusi Islam dengan demonstrasi nasional yang diikuti jutaan orang, mengirimkan pesan kuat loyalitas mereka kepada cita-cita pendiri Republik Islam Iran, Imam Khomeini, yang telah menggulingkan monarki yang didukung AS pada tahun 1979.

Lautan massa pada hari Rabu (11/2)membanjiri alun-alun utama Teheran dan ruang publik di sekitar 1.400 kota dan desa di tengah suhu dingin, hujan, dan salju dalam sebuah demonstrasi persatuan nasional di tengah provokasi dan ancaman oleh AS dan Israel dalam beberapa minggu terakhir.

Para peserta di Teheran berkumpul mulai pukul 09.30 waktu setempat dan menuju ke Bundaran Azadi yang ikonik tempat Presiden Masoud Pezeshkian berpidato di hadapan jutaan peserta pawai dan rapat akbar.

Massa meneriakkan slogan-slogan kutukan terhadap kejahatan yang dilakukan AS selama beberapa dekade terhadap bangsa Iran, serta kekejaman rezim Israel di tanah Palestina dan sekitarnya.

Mereka juga membawa poster-poster para martir perang Irak selama delapan tahun terhadap Iran pada tahun 1980-an, perang AS dan Israel terhadap Iran selama 12 hari pada Juni 2025, dan kerusuhan yang didalangi asing beberapa waktu lalu, serta para martir lain yang kehilangan nyawa mereka dalam menjalankan tugas.

Sekitar 7.200 jurnalis domestik dan hampir 200 perwakilan media asing meliput pawai dan rapat akbar tersebut, mendokumentasikan partisipasi publik dan upacara terkait serta melawan narasi media Barat yang meremehkan ataupun mendistori pemberitaan mengenai aksi nasional tersebut.

Beberapa rudal jelajah — termasuk Soumar, Noor, dan Qadir — serta rudal balistik seperti Zolfaghar, Haj Qassem, dan Emad, dipamerkan di Lapangan Azadi.

Selain rudal-rudal tersebut, serpihan beberapa drone Israel yang konon telah ditembak jatuh selama perang 12 hari pada bulan Juni juga diperlihatkan kepada para peserta di Lapangan Azadi.

Presiden Masoud Pezeshkian juga menghadiri pertemuan para demonstran di Teheran dan menyampaikan pidato kepada para peserta di Teheran dalam beberapa jam berikutnya.

Massa pawai akbar dalam sebuah resolusi menyatakan bahwa kehadiran mereka yang besar dan menyatukan mewakili “manifestasi nyata kematangan politik bangsa Iran, kohesi nasional, dan kewaspadaan historis” dalam menghadapi plot yang kompleks, tekanan yang meningkat, dan perang hibrida yang komprehensif oleh musuh-musuh Revolusi Islam, khususnya AS, Israel, dan sekutu mereka.

Pernyataan itu mengatakan bahwa serangkaian peristiwa yang terjadi belakangan, termasuk agresi terbuka dan perang 12 hari terhadap Iran dan Poros Perlawanan, serta  kerusuhan dan aksi teror para antek AS-Zionis,  telah mengungkap permusuhan dan kekerasan musuh sekaligus menunjukkan kepada dunia ketahanan Iran dan sekutunya.

“Dengan pemahaman mendalam tentang perang hibrida, kognitif, dan media musuh, dan dengan pengalaman langsung dari perang 12 hari yang dipaksakan, kami menekankan perlunya menjaga persatuan suci, solidaritas sosial, memperkuat modal sosial, dan menghindari perpecahan atau polarisasi apa pun,” bunyi resolusi tersebut.

Resolusi itu menambahkan bahwa kohesi nasional dan ikatan erat antara rakyat dan sistem Islam merupakan dukungan terpenting negara dalam menghadapi ancaman internal dan eksternal.

Pawai akbar tersebut memperingati revolusi penggulingan diktator dinasti Pahlevi, yang menjadi antek AS, pada musim dingin tahun 1979.

Imam Khomeini kembali dari pengasingan pada 1 Februari 1979, menerima sambutan luar biasa dari rakyat beberapa minggu setelah kepergian Shah pada pertengahan Januari.

Kejatuhan rezim Pahlavi dipastikan pada 11 Februari 1979, ketika militer meninggalkan kesetiaannya kepada Shah dan memilih berpihak dengan revolusi rakyat. (presstv)

Tanggapi Tekanan AS, Iran Tegaskan Masalah Rudal Tak Bisa Dinegosiasikan

Laksamana Ali Shamkhani, yang menjabat sebagai sekretaris Dewan Pertahanan Iran, yang bernaung di bawah Dewan Tinggi Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC), menegaskan bahwa kemampuan rudal balistik Iran adalah “garis merah” yang tidak akan pernah dibawa ke meja perundingan.

Pernyataan tersebut di tengah suasana pawai dan rapat akbar peringatan Revolusi Islam Iran ke-47, Rabu (11/2) setelah Washington terus mencoba menekan Iran agar memperluas pembicaraan nuklir dengan memasukkan masalah pengembangan rudal Teheran. Komentar Shamkhani tersebut merupakan tanggapan langsung terhadap seruan baru dari pemerintahan Presiden Donald Trump untuk pembatasan rudal.

Meskipun Iran telah menyatakan kesediaan untuk membahas aktivitas nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi, Iran secara konsisten memisahkan program rudal pertahanannya dari negosiasi tersebut.

Shamkhani mengatakan “kebiasaan” Washington menggabungkan ancaman dengan diplomasi adalah taktik usang yang digunakan untuk memberikan “kredibilitas” pada sikap negosiasinya, tetapi Teheran tetap tidak terpengaruh oleh sikap tersebut.

Shamkhani mengatakan bahwa provokasi militer sebesar apapun akan dibalas dengan respon yang total. Dia memperingatkan AS perihal “serangan terbatas” terhadap kepentingan Iran, dengan mengatakan bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah memberi sinyal melalui pernyataan resmi dan demonstrasi kekuatan di lapangan bahwa agresi apa pun akan dianggap sebagai awal dari perang besar.

“Konflik militer di wkawasan dengan tingkat sensitivitas dan kepadatan kepentingan seperti itu tidak dapat dibatasi pada geografi tertentu atau hanya dua pihak,” tegas Shamkhani.

Menurutnya, karena infrastruktur energi bersifat vital di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya, konflik apa pun akan memiliki “konsekuensi global” yang memengaruhi kehidupan jauh di luar Timur Tengah.

Shamkhani mengatakan satu-satunya jalan logis ke depan bagi Barat adalah mengejar “dialog serius” dan meninggalkan “perilaku teatrikal dan propaganda” yang hanya dimaksudkan untuk semakin menggoyahkan stabilitas wilayah tersebut.

Penegasan tersebut mengemuka ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berkunjung ke Washington dan diperkirakan akan bertemu dengan Trump untuk mendorong sikap AS yang lebih keras, khususnya menuntut agar kesepakatan di masa mendatang mencakup batasan ketat pada persenjataan rudal balistik Iran.

Pada malam sebelum pertemuan di Gedung Putih, Presiden Trump memberi sinyal bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengirim “armada” angkatan laut kedua ke Timur Tengah untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Pada tanggal 8 Februari, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan kembali bahwa program rudal Iran “tidak pernah, dan tidak akan pernah,” menjadi bagian dari agenda dalam pembicaraan nuklir. (presstv)


Jubir Brigade Al-Qassam: Serangan terhadap Iran adalah Serangan terhadap Seluruh Umat Islam

Juru bicara sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, Abu Ubaidah, menyatakan bahwa agresi terhadap Iran adalah agresi terhadap seluruh umat Islam sedunia.

Abu Ubaidah di saluran Telegramnya menyatakan solidaritas penuhnya dengan pemimpin, pemerintah, dan rakyat Iran, dan menegaskan bahwa setiap agresi terhadap Iran adalah serangan terhadap Dunia Islam, pelanggaran kedaulatan negara pendukung perlawanan, dan tindakan premanisme terkutuk yang bertujuan untuk memaksakan realitas baru dengan menggunakan cara kekerasan.

Brigade Qassam menyatakan keyakinan mereka terhadap tekad dan keteguhan Angkatan Bersenjata Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang telah memberi pelajaran kepada musuh Zionis selama Operasi Janji Nyata 3 pada Juni 2015.

Brigade al-Qassam menilai pasukan Iran tersebut telah membuktikan kemampuannya melawan agresi, menjalankan hak inheren mereka untuk membela diri, dan memberikan pukulan telak kepada para agresor.

Abu Ubaida juga menekankan bahwa ancaman, serangan, dan blokade terhadap Iran merupakan upaya putus asa untuk membalas dendam kepada rakyat dan pemimpin perlawanannya atas dukungan langsung mereka kepada rakyat dan para pejuang Palestina, yang terus bertahan dan menghancurkan prestise kaum Zionis, dan menggagalkan tujuan mereka dalam invasi militer terhadap Gaza. (alalam)