Jakarta, ICMES. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya akan tetap teguh menghadapi tekanan asing dan terus meniti jejak para komandan yang telah gugur sebagai martir dalam perlawanan terhadap AS dan Israel.

Kepala delegasi perunding Yaman kubu Ansarullah yang menguasai Yaman utara, Mohammed Abdul Salam, mengomentari perang proksi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman selatan.
Israel dan AS telah mencapai kesepahaman untuk melanjutkan ke fase kedua perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza.
Berita selengkapnya:
Haul Jenderal Soleimani, Pezeshkian: Iran akan Melanjutkan Jejak Perjuangan Para Syuhada
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya akan tetap teguh menghadapi tekanan asing dan terus meniti jejak para komandan yang telah gugur sebagai martir dalam perlawanan terhadap AS dan Israel.
Dalam kata sambutannya pada rapat akbar haul para martir terkemuka Iran, termasuk jenderal legendaris Qassem Soleimani, di komplek Mushalla Agung di Teheran, Kamis (1/1) Pezeshkian memastikan bangsa Iran akan tetap berkomitmen pada jalan yang telah dipilihnya, dan tidak akan terintimidasi oleh ancaman, tekanan, atau pembunuhan.
“Kita tidak takut mati syahid, dan untuk bangsa kami, revolusi kami, dan negara kami, kami siap mengorbankan apa pun. Kita akan berdiri teguh di jalan ini sampai akhir,” tegasnya.
Jenderal Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds IRGC, gugur akibat serangan drone AS di Baghdad pada Januari 2020.
Pezeshkian memperingatkan musuh-musuh Iran untuk tidak mengandalkan ancaman sebagai cara menekan Iran, karena hanya akan sia-sia belaka.
“Musuh-musuh kita yang khianat dan menindas tidak boleh berpikir mereka dapat menakut-nakuti kita dengan mati syahid,” katanya, sembari menekankan negaranya akan melanjutkan “jalan para martir” melalui ketekunan dan upaya berkelanjutan untuk mengatasi masalah yang dihadapi rakyat.
Presiden menggambarkan Jenderal Soleimani sebagai panutan yang unik dan abadi, memuji perilakunya di berbagai bidang etika, sosial, dan militer.
Dia memuji Jenderal Soleimani sebagai sosok yang mengabdikan diri pada keadilan, persatuan, dan pembelaan kaum tertindas, dan status ini telah membuatnya dihormati bahkan jauh di luar perbatasan Iran.
“Martir Soleimani adalah pendukung kaum tertindas, kebenaran, dan keadilan. Beliau bekerja tanpa klaim, tanpa nama, dan tanpa pamrih. Secara etnis atau sosial, tidak ada yang berbeda baginya,” ujar Presiden Iran.
Pezeshkian juga menyatakan bahwa partisipasi rakyat menunjukkan tekad bersama untuk melestarikan warisan Jenderal Soleimani dan tokoh-tokoh lain yang gugur.
“Kita berjanji bahwa kami akan melanjutkan jalan ini dengan segenap kekuatan kita, dan tidak akan membiarkannya ditinggalkan. Kita berdiri melawan para penindas dan tidak akan tunduk,” tandasnya.
Sembari mengutuk terorisme negara AS dan Israel di kawasan Timteng, Presiden Pezeshkian menekankan keharusan menjaga solidaritas nasional, dan menyerukan kepatuhan kepada arahan Pemimpin Besar Iran Sayyid Ali Khamenei dalam melawan tekanan asing. (ptv)
Ansarullah Yaman Komentari Buyarnya Koalisi Arab-UEA
Kepala delegasi perunding Yaman kubu Ansarullah yang menguasai Yaman utara, Mohammed Abdul Salam, mengomentari perang proksi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman selatan.
Dalam sebuah unggahan di platform X, Kamis (1/1) mula-mula dia menyinggung blokade koalisi Saudi-UEA yang didukung AS dan Israel terhadap Yaman kubu Ansarullah.
“Penutupan berkelanjutan Bandara Internasional Sanaa dan pemberlakuan blokade terhadap bandara dan pelabuhan laut Yaman tidak dapat dibenarkan dan merupakan hukuman kolektif, yang mengakibatkan konsekuensi kemanusiaan yang meluas dan menghambat upaya kemanusiaan atau politik apa pun untuk mengatasi situasi di negara ini,” tulisnya.
Abdul Salam menambahkan, “Tahun baru, bagi mereka yang memahami dan menyadari, menghadirkan peluang nyata untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul dari agresi dan blokade Saudi-Amerika.”
Dia lantas menyatakan, “Berakhirnya koalisi dan kesendirian Arab Saudi di garis depan merupakan perkembangan signifikan pada akhir tahun lalu, dan membuktikan kesia-siaan bertaruh pada kontinuitas agresi dan blokade, yang hanya akan menyebabkan kerugian mereka lebih lanjut.”
Abdul Salam menekankan bahwa rakyat Yaman, meskipun terlibat dalam pertempuran untuk mendukung Gaza, tidak mengabaikan masalah internal dan kesulitan yang mereka hadapi akibat permusuhan Saudi terhadap kubu Sanaa.
Dia menambahkan, “Setelah satu tahun yang penuh tantangan dan pengorbanan, ada tantangan dan peluang lain yang harus dihadapi bangsa ini, terutama terkait perjuangan Palestina melawan entitas musuh, Israel, di berbagai front.”
Dia menegaskan, “Sikap kendur dalam menghadapi Israel dan AS merupakan kerugian yang pasti.”
Dia lantas berharap tahun baru akan menjadi tahun kebaikan dan kemenangan bagi rakyat Yaman dan Palestina serta seluruh umat Islam.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Yaman, Mayjen Yusuf Hassan al-Madani, menegaskan kembali dukungan negaranya terhadap perlawanan Palestina dan memuji para komandan Hamas yang gugur dalam perjuangan melawan pasukan pendudukan Israel di medan perang.
Dalam pesan kepada Hamas, al-Madani berjanji untuk membersamai faksi-faksi perlawanan hingga Palestina sepenuhnya dibebaskan dan pasukan Zionis diusir dari tanah pendudukan.
“Kami berdiri bersama Anda dalam setiap pilihan yang Anda pilih dan di setiap arena yang Anda masuki, hingga Allah memberikan kemenangan yang nyata, kemerdekaan penuh tercapai, dan tentara Zionis terusir dari tanah suci Palestina.”
Pesan tersebut dirilis setelah Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas, mengkonfirmasi bahwa juru bicara mereka, Abu Obeida, gugur dalam serangan Israel di Jalur Gaza. (almayadeen/ptv)
Israel dan AS Sepakat Melanjutkan ke Fase Kedua Perjanjian Gaza
Israel dan AS telah mencapai kesepahaman untuk melanjutkan ke fase kedua perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, menurut laporan Perusahaan Penyiaran Publik Israel, Kan, pada hari Kamis (1/1).
Dilaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali ke Tel Aviv setelah mencapai kesepahaman dengan pemerintahan AS untuk berlalih ke fase kedua perjanjian mengenai Jalur Gaza, setelah pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Miami.
Kan mengutip keterangan sumber resmi yang tidak disebutkan namanya bahwa fase kedua mencakup persiapan Israel untuk membuka penyeberangan Rafah dalam waktu dekat, bersamaan dengan persiapan berkelanjutan untuk pembangunan apa yang disebut “Kota Hijau” di wilayah Rafah (selatan). Ini adalah rencana yang diusulkan oleh pemerintahan AS untuk membangun kota baru bagi penduduk Jalur Gaza tanpa kehadiran Hamas atau pun tentara Israel.
Kan juga mengutip pernyataan beberapa sumber bahwa Hamas mengamati kecenderungan di pihak Israel untuk menunjukkan fleksibilitas dan mencapai kompromi tertentu pada tahap ini, sementara Hamas percaya bahwa isu perlucutan senjatanya tidak akan berhasil, terutama dengan cara yang dapat secara signifikan melemahkannya.
Pada tanggal 10 Oktober, fase pertama perjanjian gencatan senjata Gaza mulai berlaku. Namun, Israel melanggar ketentuan-ketentuannya dan menunda transisi ke fase kedua.
Fase kedua mencakup pembentukan komite teknokrat sementara untuk mengelola Jalur Gaza, menangani proses rekonstruksi, membentuk dewan perdamaian, menciptakan pasukan internasional, penarikan militer Israel lebih lanjut dari Jalur Gaza, dan pelucutan senjata Hamas.
Fase kedua perjanjian Gaza mencakup ketentuan-ketentuan seperti pelucutan senjata Hamas, penarikan Israel dari Jalur Gaza, pembentukan pemerintahan teknokrat, dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional. (ry)








