Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Jumat 19 Desember 2025

Jakarta, ICMES. Serangan udara Israel telah menghantam beberapa lokasi di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa, bertepatan dengan pembicaraan tingkat tinggi di Paris yang bertujuan untuk menekan Lebanon agar melucuti senjata Hizbullah.

Badai musim dingin dan gelombang dingin telah menewaskan lebih dari selusin warga Palestina di Jalur Gaza pada bulan ini, menurut otoritas setempat, sementara Israel tetap memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya material tempat tinggal dan bantuan kemanusiaan lainnya ke Jalur Gaza.

Pasukan Pendukung Cepat (RSF) melancarkan serangan drone skala besar di Sudan timur, dengan sasaran antara lain pembangkit listrik utama hingga memutus aliran listrik secara meluas di kota-kota besar, dan mengakibatkan kematian tiga orang.

Berita selengkapnya:

Israel Tingkatkan Serangan Udara di Seluruh Lebanon

Serangan udara Israel telah menghantam beberapa lokasi di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa, bertepatan dengan pembicaraan tingkat tinggi di Paris yang bertujuan untuk menekan Lebanon agar melucuti senjata Hizbullah.

Jaringan berita Elnashra Lebanon melaporkan bahwa serangan pada hari Kamis (18/12) menyasar kan daerah-daerah di Lebanon selatan, termasuk al-Jabour, al-Qatrani, dan al-Rayhan, serta Buday dan wilayah Hermel di Lembah Bekaa.

Kantor Berita Nasional (NNA) melaporkan bahwa serangan menghantam dasar sungai dekat Zawtar di distrik Nabatieh dan antara Deir Siryan dan al-Qusayr di Marjayoun.

Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan setidaknya empat orang terluka di Taybeh, sementara beberapa karyawan perusahaan listrik negara terluka ketika truk mereka lewat di samping kendaraan yang menjadi sasaran.

Menurut Proyek Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata (ACLED), pasukan Israel telah melakukan 1.846 serangan terhadap Lebanon sejak gencatan senjata dimulai.

Frekuensi serangan meningkat pada bulan Desember, dengan rata-rata enam serangan per hari, atau satu serangan setiap empat jam. UNIFIL melaporkan bahwa gencatan senjata telah dilanggar lebih dari 10.000 kali, termasuk lebih dari 2.500 aktivitas darat militer Israel dan lebih dari 7.800 pelanggaran wilayah udara Lebanon.

Citra satelit menunjukkan Israel membangun pangkalan baru di Lebanon selatan sambil mempertahankan kendali atas empat pangkalan lainnya di sepanjang perbatasan.

Kelompok hak asasi manusia telah mendokumentasikan penargetan sistematis terhadap peralatan rekonstruksi, dan melaporkan bahwa antara Agustus dan Oktober empat serangan menghancurkan lebih dari 360 buldoser dan ekskavator yang sangat penting untuk rekonstruksi rumah.

Penduduk setempat telah memberi tahu para penyelidik bahwa mereka sekarang membersihkan puing-puing dengan tangan untuk menghindari paparan mesin terhadap serangan udara.

Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, mengutuk serangan hari Kamis, dan menyebutnya sebagai “pesan Israel kepada konferensi Paris yang didedikasikan untuk mendukung tentara Lebanon”. Dia menyebutkan bahwa serangan itu bertepatan dengan diskusi tentang pelucutan senjata Hizbullah.

Berri menambahkan secara sarkastis bahwa serangan itu dilakukan “untuk menghormati pertemuan besok” dari mekanisme yang memantau gencatan senjata. Menurutnya, serangan di Lebanon timur dan selatan sebagai serangan yang sengaja diatur waktunya untuk mengirimkan pesan politik.

Mahmoud Qamati, wakil ketua dewan politik Hizbullah, menegaskan pihaknya tidak akan menyerahkan senjatanya “dalam keadaan apa pun”.

Dia memperingatkan bahwa pasukan Hizbullah tidak akan sepenuhnya mundur dari daerah di selatan Sungai Litani, akan mempertahankan kehadiran di sana, dan siap menghadapi segala bentuk agresi.

Sekjen Hizbullah, Syeikh Naim Qassem, belum lama ini menegaskan kembali bahwa pihaknya tidak akan pernah meletakkan senjata. (presstv)

17 Orang Palestina Meninggal Akibat Cuaca Dingin di Gaza

Badai musim dingin dan gelombang dingin telah menewaskan lebih dari selusin warga Palestina di Jalur Gaza pada bulan ini, menurut otoritas setempat, sementara Israel tetap memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya material tempat tinggal dan bantuan kemanusiaan lainnya ke Jalur Gaza.

Menurut Pertahanan Sipil Palestina di Gaza, sedikitnya 17 orang telah kehilangan nyawa mereka pada bulan Desember akibat hujan lebat, angin kencang, dan suhu beku menghantam tempat penampungan pengungsian dan menyebabkan runtuhnya dinding, rumah, dan tenda, yang banyak di antaranya sudah rusak akibat serangan Israel.

Sumber medis mengatakan korban jiwa termasuk empat anak, yang meninggal karena suhu beku.

Juru bicara Pertahanan Sipil Mahmoud Bassal mengatakan, “Suhu turun secara signifikan selama jam-jam malam. Dingin yang menusuk mengancam nyawa anak-anak kecil tanpa tempat berlindung dan pemanas.”.

Ia menambahkan, “Apa yang kita alami sekarang di Gaza adalah bencana kemanusiaan yang nyata. Selamatkan anak-anak Gaza sebelum kedinginan merenggut nyawa mereka.”

Selama bulan Desember, 17 bangunan tempat tinggal runtuh sepenuhnya karena curah hujan yang deras dan angin kencang terus menerpa wilayah pesisir tersebut. Sekitar 90 persen tempat penampungan sementara bagi para pengungsi, yang rumahnya hancur akibat serangan Israel, tergenang air hujan, menurut Pertahanan Sipil.

Penderitaan ini terjadi ketika Israel tetap enggan memenuhi semua kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata, yang mulai berlaku pada 10 Oktober.

Kewajiban itu antara lain mematuhi protokol kemanusiaannya, terutama mengizinkan masuknya bahan-bahan untuk tempat penampungan dan 300.000 tenda dan rumah mobil yang ditujukan untuk para pengungsi, suatu hal yang telah berulang kali ditekankan oleh Kantor Media Pemerintah di Gaza.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan dalam laporan hariannya pada hari Rabu bahwa “persediaan untuk menghadapi musim dingin” tetap “terbatas” di Gaza di tengah hujan lebat dan kondisi dingin.

OCHA melaporkan bahwa 44 tempat penampungan darurat yang ditunjuk menghadapi banjir parah minggu ini karena saluran drainase yang tersumbat. Ini termasuk 21 tempat penampungan di Khan Younis di Gaza selatan, 22 lainnya di Kota Gaza, dan satu di provinsi Gaza Utara.

“Hal ini menyebabkan gangguan sementara dalam pengiriman air minum dan makanan, dan beberapa keluarga terpaksa pindah ke kamar mandi, ruang administrasi, dan ruang belajar sementara karena tenda yang rusak dan barang-barang yang basah kuyup,” kata OCHA.

“Secara total, 4.721 pengungsi terdampak, dan lebih dari 691 tenda rusak atau terkena dampak banjir” pada hari Senin dan Selasa, lapor badan tersebut.

OCHA juga menyebutkan, “Tim manajemen lokasi segera merespons dengan memobilisasi warga untuk membersihkan lubang got yang tersumbat, saluran air hujan, pipa pembuangan air hujan, dan memompa air dari daerah yang tergenang ke dalam sistem drainase.”

Sejak Oktober 2023, Israel telah membunuh setidaknya 70.667 warga Palestina, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak, dengan 171.151 lainnya terluka, di Gaza. (mpresstv)

Serang Pembangkit Listrik, Drone Milisi RSF Gelapkan Sudan Timur

Pasukan Pendukung Cepat (RSF) pada hari Kamis (18/12) melancarkan serangan drone skala besar di Sudan timur, dengan sasaran antara lain pembangkit listrik utama hingga memutus aliran listrik secara meluas di kota-kota besar, dan mengakibatkan kematian tiga orang.

Sebuah sumber militer anonim mengatakan kepada AFP , “Milisi itu meluncurkan 35 drone ke kota-kota Atbara, Ad-Damir, dan Berber di Negara Bagian Nil, dengan sasaran fasilitas sipil.”

Serangan udara terhadap transformator listrik di pembangkit listrik Al-Muqran di Atbara, Negara Bagian Sungai Nil, Sudan timur, menewaskan dua orang, menurut seorang pejabat di pembangkit listrik tersebut.

Pejabat itu juga menyebutkan bahwa serangan itu dilancarkan oleh  RSF, yang telah memerangi tentara Sudan sejak April 2023. Dua korban jiwa, yang dikonfirmasi oleh pemerintah Negara Bagian Sungai Nil, adalah anggota Pertahanan Sipil yang tewas dalam serangan drone kedua saat mencoba memadamkan api yang disebabkan oleh serangan pertama.

Kelompok Pengacara Darurat, yang mendokumentasikan kekejaman dalam konflik tersebut, melaporkan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan udara di Atbara menyasar rumah-rumah penduduk, menewaskan seorang anak dan melukai empat warga sipil, selain membakar salah satu rumah yang rusak. (raialyoum)