Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Senin 2 Februari 2026

Jakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) bahwa jika negara musuhnya ini sampai mengobarkan perang maka skalanya kali ini akan regional.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan komitmen Teheran untuk menyelesaikan masalah secara diplomatis, dan berharap pihak lain memahami bahwa ancaman dan kekerasan tidak akan memaksa Iran untuk bernegosiasi.

Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Laksamana Alireza Tangsiri menegaskan tekad teguh bangsa Iran dalam menghadapi ancaman eksternal.

Juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Rezaei memastikan Iran memiliki kendali intelijen tingkat tinggi atas musuh-musuhnya dan memantau semua pergerakan mereka.

Berita selengkapnya:

Kepada AS, Ayatullah Khamenei: Jika Terjadi Perang maka Skalanya akan Regional

Teheran, LiputanIslam.com –  Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) bahwa jika negara musuhnya ini sampai mengobarkan perang maka skalanya kali ini akan regional.

“Apa yang Anda lihat ialah bahwa terkadang mereka (AS) berbicara tentang perang, dan  mengancam, ‘Kami akan datang dengan (mengerahkan) jet tempur dan lain-lain untuk berbuat ini dan itu.’ Ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sejak dahulu sudah berulang kali mengancam bahwa semua opsi tersedia di atas meja, termasuk opsi perang. Mereka selalu mengatakan bahwa semua opsi tersedia di atas meja. Sekarangpun, orang ini (Presiden AS Donald Trump) juga rajin mengatakan, ‘Kami mengerahkan kapal perang dan melakukan ini dan itu,” tuturnya dalam pidato di depan ribuan masyarakat Iran dari berbagai lapisan pada momen hari pertama peringatan 10 Hari Fajar Kemenengan, Minggu (1/2).

Dia menambahkan, “Menurutku, bangsa Iran tak boleh takut kepada hal-hal seperti ini. Bangsa Iran tidak terpengaruh oleh hal-hal demikian, tidak takut berkonfrontasi demi kebenaran. Kita bukan pihak yang memulai, kita tidak ingin menzalimi siapapun, tidak ingin menyerang negara manapun. Tapi terhadap pihak yang tamak yang hendak menyerang dan menyakiti, bangsa Iran pasti akan memberikan pukulan telak.”

Ayatullah Khamenei lantas mengingatkan, “Tentu saja mereka harus tahu bahwa jika kali ini mereka mengobarkan perang maka perang ini akan menjadi perang regional.”

Pada kesempatan ini, dia juga menyinggung berbagai kemajuan Iran selama ini. “Siapa yang menyangka bahwa bangsa Iran suatu hari nanti akan mencapai titik di mana Amerika akan meniru senjata yang diproduksinya? Semua ini adalah hasil dari kepercayaan diri, harapan, dan ambisi yang ditanamkan Imam Khomeini pada bangsa ini, karena beliau adalah perwujudan harapan dan kepercayaan diri, yang menginspirasi rakyat untuk berjuang dan maju.”

Ayatullah Khamenei menyebut pernyataan Trump terkait gelombang kerusuhan di Iran beberapa waktu lalu sebagai bukti  kemunafikan pemerintah AS dan Rezim Zionis.

“Di mata mereka, para perusuh yang jumlahnya hanya ribuan orang adalah orang Iran, sedangkan jutaan orang yang berkumpul di seluruh penjuru negara ini pada 12 Januari bukan orang Iran,” terangnya.

Dia memastikan bahwa kontinyuitas permusuhan AS dan para sekutunya terhadap Iran tak lain adalah karena negara Republik Islam ini menganut paham yang berkontradiksi dengan kepentingan kekuatan-kekuatan hegemonik global.

“Permusuhan ini akan terus berlangsung sampai bangsa Iran, dengan keteguhan, tekad dan kemampuannya mengendalikannya semua urusannya, membuat musuh frustasi, dan kita juga akan mencapai tahap ini,” pungkasnya.

Presiden Iran: Negosiasi Tak Bisa Dipaksakan dengan Ancaman

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam percakapan telepon dengan sejawatnya dari  Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, Minggu, menyatakan bahwa “menyelesaikan masalah melalui diplomasi lebih diutamakan daripada perang,” dan Teheran sangat yakin perang tidak akan menguntungkan Iran, AS, dan pihak manapun di kawasan Timur Tengah.

Pezeshkian menekankan komitmen Teheran untuk menyelesaikan masalah secara diplomatis, dan berharap pihak lain memahami bahwa ancaman dan kekerasan tidak akan memaksa Iran untuk bernegosiasi.

Di pihak lain, presiden Mesir  menekankan bahwa solusi diplomatik adalah satu-satunya  cara terbaik untuk penyelesaian krisis dengan apa dapat membuat kawasan Timur Tengah terhindar dari ketegangan dan ketidakstabilan lebih lanjut. (alalam)

Iran: Separuh Kemampun Musuh akan Musnah pada Fase Pertama Perang

Juru bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Rezaei memastikan Iran memiliki kendali intelijen tingkat tinggi atas musuh-musuhnya dan memantau semua pergerakan mereka.

Dia memperingatkan bahwa jika terjadi perang maka Iran akan melenyapkan 50% kemampuan musuh pada tahap awal.

“Jika terjadi agresi, kami akan merespons pada tingkat tertinggi, dengan tegas dan menghancurkan. Kami memiliki kendali intelijen tingkat tinggi atas musuh dan memantau semua pergerakan mereka,” ujarnya, Minggu (1/2)

Dia menambahkan, “Jika AS melakukan kesalahan dan melancarkan serangan, mereka akan memasuki konfrontasi regional, dan kepentingan militer dan ekonomi AS di kawasan itu akan berada dalam jangkauan kemampuan operasional Iran.”

Dia memastikan kemampuan ofensif Iran lebih kuat daripada sewaktu Perang 12 Hari, dan kemampuannya lebih besar daripada yang telah ditunjukkan sejauh ini.

Dia lantas menegaskan, “Jika kita menyerang kepentingan musuh dalam kemungkinan perang, kita akan melenyapkan 50% kemampuan mereka pada fase pertama.”

Secara terpisah, Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Laksamana Alireza Tangsiri menegaskan tekad teguh bangsa Iran dalam menghadapi ancaman eksternal.

Dia menekankan bahwa Iran yang didukung oleh “kecerdasan, keyakinan, dan persatuan” akan tetap menjadi penghalang yang teguh terhadap konspirasi musuh-musuhnya, dan terus menjunjung tinggi panji kebanggaan Revolusi Islam.

Sehari sebelumnya, Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Amir Hatami, memperingatkan AS dan Israel agar tidak melakukan serangan, dengan mengatakan bahwa pasukan negaranya dalam keadaan siaga tinggi menyusul pengerahan militer besar-besaran Washington di Teluk.

“Jika musuh melakukan kesalahan, tanpa ragu itu akan membahayakan keamanan mereka sendiri, keamanan kawasan, dan keamanan rezim Zionis,” tegasnya.

Dia menambahkan bahwa angkatan bersenjata Iran “dalam kesiapan defensif dan militer penuh”.

ASmengirimkan kelompok serang angkatan laut ke Timur Tengah yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln.

Pada hari Jumat, Presiden AS Donald Trump mengaku memperkirakan Iran akan berupaya untuk menegosiasikan kesepakatan mengenai program nuklir dan rudalnya daripada menghadapi tindakan militer AS.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan bahwa Teheran siap untuk pembicaraan nuklir, tetapi rudal dan pertahanannya “tidak akan pernah dinegosiasikan”. (alalam/presstv/irna)