Jakarta, ICMES. Laksamana Ali Shamkhani, anggota Dewan Keamanan Nasional Iran, menyatakan bahwa prioritas utama negara ini sekarang adalah “kesiapan penuh untuk mencegah setiap ancaman, sementara semua pertimbangan lain berada di urutan kedua.”

Israel memberikan informasi intelijen kepada AS mengenai program rudal balistik Iran dalam kunjungan Kepala Intelijen Militer Israel, Mayjen Shlomi Bender, ke Washington.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pembicaraan telepon dengan sejawatnya dari Iran, Masoud Pezeshkian, menawarkan kesediaan Turki untuk menjadi penengah antara Teheran dan Washington guna meredakan ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah dan mencegah eskalasi militer.
Berita selengkapnya:
Shamkhani: Perang Akan Meluas dan Israel akan Terganyang Jika AS Serang Iran
Laksamana Ali Shamkhani, anggota Dewan Keamanan Nasional Iran, menyatakan bahwa prioritas utama negara ini sekarang adalah “kesiapan penuh untuk mencegah setiap ancaman, sementara semua pertimbangan lain berada di urutan kedua.”
“Pesan kami jelas. Setiap langkah yang menunjukkan niat agresif dari pihak musuh akan dibalas dengan respon yang proporsional, efektif, dan detentif, termasuk menyerang jauh ke dalam entitas Zionis,” katanya kepada Al-Mayadeen, Jumat (30/1).
Dia juga menekankan bahwa Iran “tidak membatasi geografi konfrontasi hanya di laut saja, dan telah mempersiapkan diri untuk skenario yang lebih luas dan progresif.”
Shamkhani memperingatkan, “Perluasan perang yang tak terhindarkan hingga mencakup negara-negara lain di kawasan ini harus menjadi perhatian bersama semua pihak saat ini,” katanya, sembari menyebutkan bahwa pengalaman masa lalu telah membuktikan bahwa “perang apa pun di kawasan ini tidak akan tetap terbatas, dan percikan api apa pun dapat menyulut kobaran api yang dengan cepat lepas dari kendali para perencana awalnya.”
Dia juga menegaskan, “Peningkatan kehadiran militer di Teluk Persia dan Laut Oman tidak selalu berarti superioritas. Kawasan ini adalah rumah kita, dan kita lebih mengenal geografi, kemampuan, dan infrastruktur pertahanan komprehensifnya daripada kekuatan asing mana pun. Berdasarkan pengetahuan inilah kita telah merumuskan doktrin pertahanan dan serangan kita.”
Shamkhani memastikan Iran “telah mengungkap rencana operasional musuh, dan memiliki pengawasan penuh atasnya,” dan bahwa “serangan akan diarahkan pada waktu yang tepat di titik-titik penting rencana ini.”
“Republik Islam Iran, jika perlu, akan menggunakan opsi yang lebih substansial dan efektif untuk mempertahankan keamanan nasional dan integritas wilayahnya. Pihak yang membayangkan dapat mematahkan kehendak rakyat Iran melalui demonstrasi kekuatan militer harus bertanggung jawab atas segala konsekuensi atau hasil yang timbul,” pungkasnya.
Sebelumnya, Shamkhani menegaskan bahwa setiap tindakan militer Amerika, terlepas dari asal atau skalanya, akan merupakan awal perang dan akan ditanggapi dengan respons langsung, dan pembicaraan tentang “serangan terbatas” terhadap Iran adalah ilusi belaka. (raialyoum)
Berbagi Informasi Intelijen ke AS tentang Rudal Iran, Israel Ungkap Kekhawatirannya
Israel memberikan informasi intelijen kepada AS mengenai program rudal balistik Iran dalam kunjungan Kepala Intelijen Militer Israel, Mayjen Shlomi Bender, ke Washington, menurut media Israel.
Badan Penyiaran Israel, Kan, melaporkan pada hari Jumat (30/1) bahwa Bender, yang mengunjungi Washington Selasa dan Rabu lalu, telah “menyampaikan informasi intelijen mengenai program rudal balistik Iran.”
Melalui Bender, Israel menyampaikan kekhawatirannya kepada AS bahwa “setiap potensi kesepakatan yang mungkin dicapai Presiden AS Donald Trump dengan Iran dapat terbatas hanya pada program nuklir, tanpa memasukkan sistem rudal balistik atau aktivitas regionalnya.”
“AS belum mengambil keputusan mengenai serangan militer terhadap Iran, sementara Israel menilai bahwa pemerintah AS lebih memilih untuk menyelesaikan jalur negosiasi sebelum menggunakan tindakan militer apa pun,” ungkap Kan.
Israel khawatir akan terulangnya apa yang mereka sebut sebagai “celah” dalam perjanjian sebelumnya dengan Iran, yang dibatalkan secara sepihak oleh Trump pada periode pertama kepresidenannya, khususnya pengabaian isu-isu di luar program nuklir, seperti program rudal, di samping kurangnya kerangka waktu yang jelas untuk perjanjian tersebut.
Dalam konteks ini, Kan mengutip sumber-sumber di lembaga keamanan Israel yang menyatakan “kekhawatiran mereka bahwa tuntutan Washington akan terbatas pada pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir saja, tanpa membahas isu-isu lainnya.”
Pada hari Kamis, Channel 12 Israel, mengutip keterangan pejabat AS bahwa Bender melakukan kunjungan mendadak ke Washington, D.C., pada hari Selasa dan Rabu untuk membahas “isu-isu sensitif” terkait potensi serangan AS terhadap Iran.
Laporan tersebut menambahkan bahwa Bender “mengadakan pertemuan dengan pejabat senior di Pentagon, Gedung Putih, dan CIA, di mana ia memberikan informasi intelijen terbaru tentang target potensial di wilayah Iran.”
Sebelumnya, Trump mengungkapkan bahwa Iran serius ingin mencapai kesepakatan dengan AS, dan menyatakan harapannya agar hal ini dapat terwujud.
Trump menyebutkan bahwa negaranya saat ini mengirimkan sejumlah besar kapal ke arah Iran, tetapi juga menyatakan harapannya untuk mencapai kesepakatan.
“Jika kita mencapai kesepakatan, itu akan bagus. Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan lihat apa yang terjadi,” sumbarnya.
Iran percaya bahwa AS menggunakan sanksi, tekanan, dan penghasutan kerusuhan untuk menciptakan dalih bagi intervensi asing yang bertujuan untuk menggulingkan rezim. Iran bersumpah akan memberikan respon “komprehensif dan belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap segala bentuk serangan terhadapnya, meskipun hal itu digambarkan sebagai “terbatas” oleh beberapa pernyataan dan bocoran informasi dari AS. (raialyoum)
Erdogan Tawarkan Mediasi Teheran- Washington, Ini Tanggapan Pezeshkian
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan pembicaraan telepon dengan sejawatnya dari Iran, Masoud Pezeshkian, Jumat (30/1).
Erdogan menawarkan kesediaan Turki untuk menjadi penengah antara Teheran dan Washington guna meredakan ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah dan mencegah eskalasi militer.
Menanggapi tawaran ini, Pezeshkian menekankan bahwa upaya diplomatik membutuhkan pembangunan suasana saling percaya.
Kedua pihak sepakat tentang perlunya memperkuat diplomasi dan menghindari konfrontasi di tengah ketegangan regional dan global saat ini, serta menekankan pentingnya dialog langsung berdasarkan prinsip saling menghormati untuk memastikan stabilitas regional.
Pezeshkian menekankan bahwa pendekatan Iran didasarkan pada dialog dan saling menghormati, menolak ancaman dan bahasa kekerasan, serta berlandaskan logika saling menguntungkan.
Dia menjelaskan bahwa membangun saluran diplomatik yang efektif membutuhkan penciptaan suasana saling percaya, dan menunjukkan bahwa keberhasilan inisiatif diplomatik membutuhkan ekspresi iktikad baik dan meninggalkan agresifitas.
Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya mendukung diplomasi terhormat berdasarkan hukum internasional dan kesetaraan, menghindari intimidari dan paksaan, sambil memperingatkan agar tidak menggunakan negosiasi sebagai kedok agresi.
Teheran telah menuntut jaminan yang jelas untuk hal ini, sementara Trump mengungkapkan niatnya untuk mengadakan pembicaraan dengan Teheran, di tengah ancaman AS untuk menggunakan semua opsi dengan dalih mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. (alalam)








