Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Jumat 30 Januari 2026

Jakarta, ICMES. Angkatan Bersenjata Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap tindakan agresi baru terhadap Iran akan ditanggapi dengan respon segera dan tegas, sembari menekankan bahwa pengalaman perang Juni 2025 telah secara fundamental mengubah postur militer dan aturan keterlibatan Iran.

Sementara itu, menindaklanjuti perintah Panglima  Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Amir Hatami, sebanyak seribu unit drone strategis telah secara resmi diintegrasikan ke dalam organisasi tempur keempat cabang Angkatan Bersenjata.

Berita selengkapnya:

Militer Iran: Tidak ada Perang Dua Jam, Kapal Induk AS Rentan di Depan Rudal Hipersonik

Angkatan Bersenjata Iran mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap tindakan agresi baru terhadap Iran akan ditanggapi dengan respon segera dan tegas, sembari menekankan bahwa pengalaman perang Juni 2025 telah secara fundamental mengubah postur militer dan aturan keterlibatan Iran.

Berbicara dalam program televisi  Menuju Cakrawala Palestina,  Kamis (29/1), juru bicara Angkatan Bersenjata Brigjen Mohammad Akraminia mengatakan Angkatan Bersenjata Iran sekarang beroperasi di bawah instruksi yang jelas yang tidak memberi ruang untuk penundaan jika musuh mengulangi “ salah perhitungan.”

“Jika musuh melakukan langkah bodoh lagi dan kembali  salahan perhitungan, kami akan merespon  secara instan dan secara langsung. Kami belajar dalam perang 12 hari bahwa keraguan dan memberi musuh waktu sama sekali tidak dapat diterima. Respon  harus segera, dan ini telah dikomunikasikan secara resmi sebagai arahan kepada Angkatan Bersenjata,” ,” kata Akraminia.

Perang 12 hari pada bulan Juni melibatkan konfrontasi langsung dengan rezim Israel dan keterlibatan AS. Menurut juru bicara militer Iran, kegagalan utama Washington dan Tel Aviv dalam perang itu adalah kesalahan mendasar dalam memahami kemampuan, kohesi, dan kemauan nasional Iran.

Menurutnya, rancangan strategis musuh didasarkan pada asumsi bahwa Iran lemah setelah Operasi Badai Al-Aqsa dan bahwa serangan militer cepat dan kilat dapat memicu kekacauan, keresahan internal, dan pada akhirnya keruntuhan dan fragmentasi Iran.

“Inilah kesalahan perhitungan utama Amerika. Mereka percaya bahwa dengan operasi militer yang cepat, mereka dapat menciptakan kekacauan, mendorong sistem ke dalam krisis, dan bergerak menuju penggulingan rezim dan bahkan disintegrasi Iran. Tetapi dunia menyaksikan sesuatu yang sama sekali berbeda,” terang  Akraminia.

Menurut Akraminia, Iran segera menanggapi serangan militer Israel pada bulan Juni tahun lalu, memupus tujuan musuh dan mengubah apa yang dimaksudkan sebagai operasi kejutan menjadi kegagalan strategis.

“Alih-alih kekacauan dan kerusuhan gagal terwujud, persatuan nasional dan kohesi sosial tumbuh lebih kuat dari sebelumnya. Amerika menerima jawaban mereka dalam perang ini,” tuturnya.

Pembicaraan Akraminia banyak menyorot kepada Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, dan menyebut pendekatan Washington sebagai tidak dapat diprediksi dan berakar pada doktrin paksaan yang sudah usang.

“Jika berbicara tentang Amerika di bawah pemerintahan Trump, tidak mungkin membuat prediksi yang tepat. Kita berurusan dengan individu yang narsis dan delusi yang terus-menerus mengubah pendiriannya,” katanya.

Juru bicara militer Iran mengatakan Trump menginginkan Iran menyerah dalam Perang 12 Hari, tetapi dengan cepat menghentikan agresi setelah menghadapi kekuatan deterensi Iran.

“Trump ingin Iran menyerah, tetapi setelah beberapa hari ia berupaya menghentikan perang. Dalam perang ini, Angkatan Bersenjata menunjukkan kemampuan pencegahannya, dan kami memaksa rezim Zionis untuk melakukan gencatan senjata,” ungkapnya.

Dia memperingatkan perial ilusi baru di Washington bahwa serangan terbatas atau simbolis dapat diluncurkan dan diakhiri dengan cepat.

“Ini bukan skenario di mana presiden AS memerintahkan operasi dan dua jam kemudian mencuit bahwa operasi itu telah berakhir. Pemikiran semacam itu adalah fantasi belaka. Serangan seperti itu akan menyulut api yang akan melanda seluruh wilayah Asia Barat,” tegasnya.

Menanggapi kemungkinan serangan AS atau Israel di masa depan, Akraminia mengatakan Iran telah menyelesaikan rencana operasional dan mengeluarkan perintah yang diperlukan.

“Untuk potensi serangan musuh, rencana yang diperlukan telah disiapkan dan arahan telah dikeluarkan. Untuk berbagai skenario musuh, kami akan memiliki respons yang tepat dan proporsional,” ujarnya.

Dia menekankan bahwa bahkan serangan terkecil sekalipun terhadap Iran tidak akan dibiarkan begitu saja.

Dia mengatakan, “Mereka mungkin menyerang kita secara militer, tetapi mereka sekali lagi menderita akibat salah perhitungan. Jika kita terkena serangan sekecil apa pun, kita akan membalas, dan balasan itu mungkin tidak diinginkan oleh AS.”

Akraminia menjelaskan bahwa cakupan geografis konflik di masa depan tidak akan terbatas.

“Cakupan perang pasti akan meluas ke seluruh wilayah. Dari rezim Zionis hingga negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika, semuanya akan berada dalam jangkauan rudal dan drone kita,” ujarnya.

Dalam salah satu peringatannya yang paling eksplisit, juru bicara militer itu mengatakan bahwa pangkalan militer AS di seluruh wilayah sepenuhnya berada dalam jangkauan serangan Iran.

“Kita dapat menargetkan pangkalan Amerika dengan senjata semi-berat, drone, dan rudal,” katanya, sembari memastikan bahwa kapal induk dan aset Angkatan Laut AS juga tidak kebal.

“Kapal perang adalah alat penting dalam peperangan modern, tetapi bukan berarti semua kekuatan militer Amerika terkonsentrasi di armada-armada ini. Kapal-kapal induk ini rentan terhadap kemampuan rudal dan rudal hipersonik Republik Islam Iran,” kata Akraminia.

Dia juga menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara yang rusak dengan cepat diperbaiki atau diganti dan sistem baru telah diperkenalkan untuk lebih memperkuat jaringan pertahanan Iran. Ia juga menunjuk pada langkah-langkah baru yang diambil di angkatan udara, angkatan laut, angkatan darat, dan unit pertahanan udara.

Menyoroti peran Pemimpin Besar, Ayatullah Seyyed Ali Khamenei,  Juru bicara militer Irn memuji tindakannya selama perang sebagai tindakan yang menentukan dan menginspirasi.

Dia menjelaskan, “Pemimpin Besar memainkan peran komandonya dengan sangat baik selama perang 12 hari melalui penunjukan komandan secara langsung dan penyampaian pesan langsung kepada para pemimpin militer senior. Di luar Angkatan Bersenjata, beliau juga menjalankan kepemimpinan dan manajemen yang luas, membentuk narasi perang dengan pesan yang kuat dan epik.” (mm/presstv)

Seribu  Drone Terintegrasi ke dalam Struktur Tempur Iran

Menindaklanjuti perintah Panglima  Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Amir Hatami, sebanyak seribu unit drone strategis telah secara resmi diintegrasikan ke dalam organisasi tempur keempat cabang Angkatan Bersenjata.

Drone-drone tersebut, yang dikembangkan sesuai dengan ancaman yang muncul dan berdasarkan pelajaran yang dipetik dari agresi AS-Israel pada bulan Juni, diproduksi oleh para ahli Angkatan Bersenjata bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan.

Drone-drone tersebut mencakup berbagai kelas drone tempur, ofensif, pengintaian, dan peperangan elektronik , yang dirancang untuk menghancurkan target tetap dan bergerak tertentu di wilayah darat, laut, dan udara.

“Sesuai dengan ancaman di masa depan, mempertahankan dan meningkatkan keunggulan strategis untuk memastikan kesiapan tempur yang cepat dan memberikan respons yang tegas terhadap agresi atau agresor apa pun selalu menjadi agenda Angkatan Bersenjata,” ungkap Hatami usai mengeluarkan perintah untuk mengintegrasikan drone berbasis darat dan laut , Kamis (29/1).

Di hari yang sama, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan komitmen Iran terhadap dialog dan diplomasi, dan menekankan bahwa Iran tidak mencari perang atau konflik, namun tidak akan ragu untuk membela diri terhadap ancaman apa pun.

Pezeshkian membahas perkembangan regional terkini dalam dua panggilan telepon terpisah dengan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dan Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif, menyusul tindakan AS yang telah meningkatkan ketegangan dan menggoyahkan stabilitas kawasan.

Dalam pembicaraan tersebut, Pezeshkian menyampaikan apresiasinya atas dukungan persaudaraan yang berkelanjutan dari Qatar dan Pakistan, dan menyuarakan harapannya untuk memperkuat persatuan, solidaritas, dan kerja sama di antara negara-negara Islam.

Pezeshkian mengatakan, “Iran tidak pernah memulai perang dan tidak menyambut konflik. Kami percaya bahwa perang bukanlah kepentingan pihak mana pun, tetapi kami tidak akan membiarkan keamanan dan rakyat kami terancam, dan kami akan membela diri dengan tegas.” (presstv/alalam)