Jakarta, ICMES. Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigjen Reza Talaei-Nik, memastikan negara ini memiliki rudal yang lebih baik dan lebih dahsyat dibandingkan dengan yang digunakan dalam Perang 12 Hari melawan Rezim Israel Zionis pada juni 2025.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigjen Reza Talaei-Nik, memastikan negara ini memiliki rudal yang lebih baik dan lebih dahsyat dibandingkan dengan yang digunakan dalam Perang 12 Hari melawan Rezim Israel Zionis pada juni 2025.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berterima kasih kepada Pakistan atas dukungan kuatnya kepada Iran, dan atas sikap berani yang diambilnya dalam membela Iran di Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa.
Berita selengkapnya:
Iran Pastikan akan Ada Kejutan Senjata Baru
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigjen Reza Talaei-Nik, memastikan negara ini memiliki rudal yang lebih baik dan lebih dahsyat dibandingkan dengan yang digunakan dalam Perang 12 Hari melawan Rezim Israel Zionis pada juni 2025.
Talaei-Nik mengatakan bahwa Iran juga telah meningkatkan jumlah rudalnya sejak berakhirnya perang dengan Israel pada akhir Juni.
“Kapasitas kuantitatif dan kualitatif kekuatan rudal Iran telah meningkat dibandingkan dengan perang 12 hari yang dipaksakan, dan kemampuan pertahanan rudal negara telah diperkuat dan menjadi lebih efektif berkat pengalaman yang diperoleh dalam perang,” kata Talaei-Nik, Sabtu (24/1)..
Dia menambahkan bahwa negaranya telah mengembangkan kemampuan rudal yang canggih untuk menanggapi ancaman yang ada, dan bahwa negaranya merahasiakan kemajuan tersebut demi mengejutkan musuh pada waktu yang tepat.
Dia menepis ancaman serangan militer belakangan ini terhadap Iran. Menurutnya, retorika ragu-ragu musuh terhadap Iran membuktikan bahwa mereka takut terhadap kapasitas pertahanan dan kekuatan rudal Iran.
Rudal Iran yang digunakan dalam perang dengan Israel menimbulkan kerusakan yang cukup besar pada rezim tersebut, menghantam banyak target militer dan ekonomi di seluruh wilayah pendudukan dengan tingkat presisi yang tinggi.
Para ahli militer percaya bahwa meningkatnya dampak rudal Iran yang ditembakkan terhadap target Israel merupakan faktor utama dalam keputusan AS memaksa rezim Zionis menerima gencatan senjata pada 24 Juni.
Para pejabat dan komandan militer Iran telah memperingatkan bahwa pihaknya akan menggunakan kekuatan rudalnya yang besar terhadap target yang terkait dengan AS di kawasan sekitar jika AS memutuskan untuk menyerang Iran.
Siap Membalas Sengit
Sementara itu, Wakil Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Ahmad Vahidi, menegaskan Iran sepenuhnya siap membalas sengit terhadap segala bentuk agresi terhadap Iran, dan memperingatkan musuh agar tidak melakukan tindakan yang lebih gegabah.
Vahidi menyatakan Iran telah menggagalkan rencana musuh dalam agresi AS-Israel selama 12 hari pada bulan Juni 2025 dan kerusuhan yang didukung asing belakangan ini.
“Sama seperti dalam Perang 12 Hari dan kerusuhan beberapa waktu lalu, semua rencana musuh untuk mengalahkan Iran gagal, kami siap untuk memberikan balasan yang menjerakan terhadap setiap tindakan gegabah oleh musuh bebuyutan bangsa Iran,” tandas Vahidi.
Dia menilai musuh-musuh Iran, setelah menderita kemunduran dalam Perang 12 Hari, mencoba untuk mengimbanginya melalui kerusuhan, tetapi kembali dikalahkan berkat persatuan nasional dan solidaritas publik.
Jumlah Korban Kerusuhan
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah klaim yang mengemuka belakangan ini bahwa sekitar 30.000 orang tewas selama kerusuhan yang didukung asing di Iran.
Baghaei pada hari Minggu (25/1) menyatakan bahwa angka tersebut, yang muncul dalam unggahan terbaru di X oleh Open Source Intel, mengingatkan pada metode yang digunakan di Jerman Nazi di bawah Adolf Hitler, yang mengandalkan pengulangan tanpa henti dari “Kebohongan Besar.”
“Kebohongan BESAR ala Hitler: bukankah ini jumlah yang mereka rencanakan untuk dibunuh di jalanan Iran?!” kata Baghaei dalam sebuah unggahan di akun X-nya sendiri.
Dia merujuk pada laporan yang menuduh para perusuh yang didukung asing berusaha membunuh sejumlah besar warga sipil dan menyalahkan pemerintah.
“Namun, mereka gagal, dan sekarang mereka mencoba MEMALSUKANNYA di media. Sungguh kejam!” lanjut unggahannya.
Angka resmi pemerintah Iran melaporkan bahwa lebih dari 3.000 orang tewas dalam kerusuhan dan aksi terorisme di berbagai kota dan daerah pada awal Januari.
Kerusuhan meningkat pada tanggal 8 Januari dan berlanjut selama beberapa hari, menyusul protes damai di pasar-pasar Iran di mana para pedagang menyerukan tindakan pemerintah untuk menghentikan devaluasi rial Iran.
Kekerasan tersebut mengakibatkan kerusakan luas pada properti publik dan swasta, dengan penghancuran toko-toko, lembaga pemerintah, dan fasilitas layanan publik secara luas.
Pihak berwenang Iran mengatakan bahwa badan intelijen AS dan Israel terlibat langsung, memberikan pendanaan, pelatihan, dan dukungan media kepada para perusuh dan teroris bersenjata yang beraksi di jalanan. (alalam/presstv)
Hizbullah Irak Serukan Mujahidin di Dunia Bersiap Perang Besar Membela Iran
Sekjen Brigade Hizbullah Irak, Abu Hussein al-Hamidawi, menyerukan kepada para mujahidin di seluruh dunia untuk bersiap menghadapi perang skala penuh dan siap siaga di lapangan untuk mendukung Republik Islam Iran.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu (25/1), al-Hamidawi menekankan keharusan kekuatan poros mendukung Republik Islam dan memberikan semua bantuan yang memungkinkan, dan menegaskan bahwa perang terhadap Iran bukanlah pekerjaan yang mudah.
Ditujukan kepada “musuh” al-Hamidawi berkata, “Kalian akan merasakan kematian yang paling pahit, dan tidak akan ada yang tersisa dari kalian di wilayah kami.”
Hizbullah Irak menyerukan demikian di tengah maraknya laporan tentang rencana AS-Israel untuk menyerangIran, tanpa menyebutkan jangka waktu tertentu, sementara para pejabat Iran menegaskan kesiapan negara tersebut untuk “membela diri dan menghadapi agresi.”
Kepala Asosiasi Jurnalis Iran dan anggota dewan media pemerintah Iran, Mashallah Shamsolvaezin, dalam sebuah wawancara dengan Al-Mayadeen kemarin menyatakan bahwa Teheran telah diberitahu oleh Washington, melalui pihak ketiga, bahwa Iran akan menjadi sasaran serangan terbatas terhadap fasilitasnya, dan bahwa Iran harus menanggung serangan-serangan ini “tanpa tanggapan yang kuat.” Ia menjelaskan bahwa pernyataan yang dibuat oleh para pejabat Iran kepada Reuters merupakan tanggapan terhadap tuntutan ini.
Seorang pejabat senior Iran sebelumnya telah memperingatkan Reuters bahwa negaranya “akan menganggap setiap serangan terhadapnya sebagai perang skala penuh.”
Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan bahwa konsekuensi serangan terhadap Iran akan sangat buruk.
Dalam sebuah unggahan di platform X, Azizi mengatakan, “Jika AS melakukan kesalahan berdasarkan salah perhitungan presidennya yang delusional, saya harap tentara mereka di kawasan sekitar sudah mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga mereka.”
Unggahan tersebut disertai dengan foto tentara Amerika yang melihat peti mati tentara Amerika yang tewas dalam perang sebelumnya. (raialyoum)
Iran Puji Penolakan Pakistan terhadap Resolusi Anti-Iran di Dewan HAM PBB
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berterima kasih kepada Pakistan atas dukungan kuatnya kepada Iran, dan atas sikap berani yang diambilnya dalam membela Iran di Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa.
Dalam percakapan telepon dengan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar pada hari Sabtu (24/1), Araghchi menyatakan bahwa Islamabad meminta pemungutan suara mengenai resolusi anti-Iran di UNHRC dan memvetonya.
Araghchi menenakan bahwa langkah tersebut menandai dukungan tegas Pakistan kepada Iran, dan pendiriannya yang berprinsip melawan inisiatif anti-Teheran.
Araghchi juga menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada bangsa Pakistan, pemerintah, dan Perdana Menteri Shahbaz Sharif.
Kedua diplomat senior tersebut juga bertukar pandangan tentang perkembangan regional dan internasional terkini.
Duta Besar Iran untuk Islamabad, Reza Amiri-Moghaddam, juga memuji dukungan konsisten Pakistan dan adopsi pendirian prinsipalnya dalam mendukung Teheran pada sesi Dewan HAM PBB terbaru.
“Dukungan Pakistan jelas mencerminkan keyakinannya pada keadilan, HAM, multilateralisme, dan kedaulatan nasional, dan Iran sangat menghargai sikap berprinsip tersebut yang diambil tanpa tekanan apa pun,” kata diplomat Iran tersebut.
Dewan HAM PBB mengadakan sesi khusus pada hari Jumat (23/1) untuk membahas kondisi HAM di Iran. Dewan ini mengadopsi resolusi yang memperpanjang mandat yang disebut Misi Pencarian Fakta Independen tentang Iran selama dua tahun, dan mandat Pelapor Khusus tentang kondisi HAM di Iran selama satu tahun.
Resolusi tersebut juga menyerukan penyelidikan mendesak oleh Misi Pencari Fakta, dalam konteks apa yang disebutnya sebagai penindakan terhadap kerusuhan yang didukung asing baru-baru ini di Iran.
Resolusi tersebut diadopsi dengan suara 25 mendukung, tujuh menentang, dan 14 abstain.
Pakistan termasuk di antara negara-negara yang menentang resolusi anti-Iran tersebut, bersama dengan Tiongkok, Kuba, India, Irak, dan Vietnam.
Resolusi tersebut diusulkan oleh Islandia, Jerman, Makedonia Utara, Republik Moldova, dan Inggris. (presstv)










