Jakarta, ICMES. Badan Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan pihaknya telah menggagalkan rencana teroris yang disusun oleh badan intelijen dari 10 negara asing yang bertujuan untuk memicu kekacauan dan mengancam identitas Iran.

Sekjen gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel bahwa serangan baru terhadap Iran akan memiliki konsekuensi serius bagi seluruh kawasan Asia Barat, karena Teheran akan merespons dengan keras dan tegas terhadap segala bentuk agresi.
Media militer Yaman mengungkapkan detail baru tentang operasi serangan sukses Angkatan Laut Yaman terhadap kapal tanker minyak Inggris “Marlin Luanda” di Teluk Aden, menggunakan rudal maritim sebagai tanggapan atas pelanggaran dan untuk mendukung perjuangan Palestina pada 26 Januari 2024.
Berita selengkapnya:
IRGC: 10 Badan Intelijen Asing Terlibat Upaya Menggoyahkan Iran
Badan Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan pihaknya telah menggagalkan rencana teroris yang disusun oleh badan intelijen dari 10 negara asing yang bertujuan untuk memicu kekacauan dan mengancam identitas Iran.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (26/1), IRGC mengatakan insiden kerusuhan dan teror beberapa waktu lalu merupakan bagian dari rencana besar AS-Israel untuk merusak integritas Iran dalam hal geografi dan identitas nasionalnya.
“Ruang komando musuh dibentuk segera setelah perang 12 hari dengan partisipasi 10 badan intelijen musuh,” katanya.
Sayap intelijen IRGC mengatakan rencana itu bertujuan untuk memicu kerusuhan internal yang disertai dengan intervensi asing untuk menimbulkan ancaman eksistensial terhadap Republik Islam Iran.
Rencana tersebut buyar berkat kewaspadaan pasukan keamanan Iran dan partisipasi rakyat.
Menurut pernyataan tersebut, Organisasi Intelijen IRGC menangkap 735 individu yang berafiliasi dengan jaringan anti-keamanan, memanggil 11.000 orang yang disinyalir rentan terhasut, menyita 743 senjata api ilegal, dan mengidentifikasi 46 individu yang terkait dengan dinas intelijen asing.
Disebutkan bahwa pejabat politik dan keamanan asing secara langsung mendukung tindakan musuh, termasuk penyebaran kekerasan dan eksploitasi pertemuan publik oleh teroris, penggunaan platform media sosial untuk menghasut kekerasan, dan pengerahan preman dan penjahat terorganisir sebagai bagian dari rencana untuk meningkatkan jumlah korban jiwa di pihak rakyat dan aparat keamanan.
Pernyataan tersebut mengatakan bahwa sayap intelijen IRGC berupaya untuk menyusup ke jaringan komunikasi para perusuh, mendominasi jaringan teroris perbatasan, menggunakan elemen yang tertipu untuk kontra-penyusupan, dan terus mengidentifikasi dan menghadapi secara tegas jaringan yang menyebabkan kerusuhan.
Kerusuhan yang dipicu oleh pihak asing di Iran meningkat pada tanggal 8 Januari dan berlanjut selama beberapa hari, menyusul demonstrasi protes damai di pasar-pasar Iran di mana para pedagang menyerukan pemerintah bertindak menghentikan devaluasi rial Iran.
Kekerasan tersebut, yang secara terbuka disponsori oleh rezim Israel dan Presiden AS Donald Trump, mengakibatkan kerusakan luas pada properti publik dan swasta, dengan penghancuran toko-toko, lembaga pemerintah, fasilitas layanan publik secara luas, dan pembunuhan ribuan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, serta pasukan keamanan.
Otoritas Iran telah mengkonfirmasi bahwa badan intelijen AS dan Israel terlibat langsung, memberikan pendanaan, pelatihan, dan dukungan media kepada para perusuh dan teroris bersenjata yang beraksi di jalanan.
Yayasan Syuhada dan Urusan Veteran Iran kemudian melaporkan bahwa 3.117 orang terbunuh akibat gelombang kerusuhan tersebut, termasuk 2.427 warga sipil dan personel keamanan, dan mencatat bahwa banyak orang tak bersalah dibunuh oleh elemen teroris terorganisir. (presstv)
Sekjen Hizbullah: Seluruh Timteng akan Berkobar Jika AS Menyerang Iran
Sekjen gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel bahwa serangan baru terhadap Iran akan memiliki konsekuensi serius bagi seluruh kawasan Asia Barat, karena Teheran akan merespons dengan keras dan tegas terhadap segala bentuk agresi.
“Perang baru terhadap Iran dapat membakar seluruh kawasan kali ini,” kata Syeikh Naim Qassem dalam pidato kepada ribuan simpatisan Hizbullah yang menghadiri pertemuan besar di ibu kota Lebanon, Beirut, pada Senin malam (26/1).
Para peserta menunjukkan solidaritas mereka dengan Iran dan mengutuk ancaman terhadap Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Syeikh Qassem bersumpah bahwa Hizbullah akan selalu berdiri bersama rakyat Republik Islam dan Ayatullah Khamenei.
“Hizbullah meyakini Wilayatul Fakih sebagai suatu hal yang berkaitan dengan keyakinan dan prinsip dasar,” tegasnya.
Syeikh Qassem mengatakan bahwa ketika Presiden AS Donald Trump mengancam Ayatullah Khamenei, ia mengancam puluhan juta umat Muslim di seluruh dunia yang menganggapnya sebagai otoritas keagamaan mereka.
“Diam bukanlah pilihan ketika ancaman pembunuhan ditujukan kepada Ayatullah Khamenei. Kami memandang ancaman terhadap beliau juga ditujukan kepada kami. Kami memiliki wewenang penuh untuk mengambil tindakan apa pun yang kami anggap tepat,” tegas pemimpin Hizbullah tersebut.
Syeikh Qassem kemudian memuji Iran sebagai mercusuar kebebasan, dan menyatakan bahwa Republik Islam telah berhasil maju di berbagai bidang sains, sosial, moral, dan budaya.
Sekjen Hizbullah menyebutkan bahwa Iran mengalami agresi militer yang terang-terangan dan tanpa provokasi selama 12 hari pada Juni tahun lalu, tetapi berhasil tetap tangguh dan menggagalkan rencana AS-Israel melalui kerja sama dan di bawah kepemimpinan bijaksana Ayatullah Khamenei.
“Musuh baru-baru ini berupaya menggulingkan pemerintahan Islam di Iran dengan mengeksploitasi kondisi sosial-ekonomi, dan menyusupkan perusak dan sabotase ke dalam protes damai yang sah,” katanya.
Dia mengecam kemunafikan Barat terkait HAM di Iran, sembari menyinggung dukungan publik yang besar di dalam Iran kepada pemimpin besar Iran.
Sekjen Hizbullah itu juga menegaskan hak Iran untuk memiliki program nuklir damai, kekuatan rudal, dan kemampuan militer lainnya untuk membela diri dalam menghadapi potensi ancaman. Dia mengatakan Republik Islam Iran juga berhak untuk mendukung kaum tertindas.
“Amerika Serikat dan Israel mencoba menghubungkan perkembangan yang terjadi di Lebanon, Gaza, Suriah, Iran, dan tempat lain di kawasan ini sebagai bagian dari proyek kolonial yang lebih luas,” kata Syeikh Qassem.
Pemimpin Hizbullah itu menyatakan bahwa musuh-musuh bertekad untuk menyerang setiap inisiatif perlawanan, di mana pun ia berkembang di kawasan ini.
Syeikh Qassem mengatakan para mediator internasional telah menghubungi Hizbullah selama dua bulan terakhir, dan bertanya apakah kelompok perlawanan itu akan tetap berada di luar serangan AS-Israel terhadap Iran.
“Para mediator memberi tahu kami dengan jelas bahwa Israel dan AS sedang mempertimbangkan apakah akan lebih baik untuk menyerang Hizbullah terlebih dahulu dan kemudian Iran, atau menyerang Iran terlebih dahulu dan kemudian Hizbullah, atau menyerang keduanya secara bersamaan,” katanya.
Dia menambahkan, “Pesan-pesan demikian berarti bahwa Hizbullah termasuk dan menjadi sasaran dalam setiap potensi tindakan agresi [terhadap Iran]. Kami bertekad untuk membela diri.”
Pemimpin Hizbullah itu menekankan bahwa kelompok tersebut tidak akan bersikap netral dan metode intervensinya akan dipilih berdasarkan keadaan di medan perang.
Syekh Qassem juga berjanji bahwa kelompoknya tidak akan pernah menyerah.
“Dengan konsesi dan penyerahan diri, kita akan kehilangan segalanya. Sama sekali tidak ada batasan. Tetapi dengan pertahanan, harapan tetap ada. Kita selalu memiliki berbagai pilihan… Jangan mengancam kami dengan kematian. Kematian bukan di tangan Anda. Kematian hanya ada di tangan Allah Yang Maha Kuasa,” pungkasnya. (alalam/presstv)
Pasukan Yaman Rilis Rincian Mengenai Serangannya terhadap Kapal Inggris di Teluk Aden
Media militer Yaman mengungkapkan detail baru tentang operasi serangan sukses Angkatan Laut Yaman terhadap kapal tanker minyak Inggris “Marlin Luanda” di Teluk Aden, menggunakan rudal maritim sebagai tanggapan atas pelanggaran dan untuk mendukung perjuangan Palestina pada 26 Januari 2024.
Seorang perwira di Pusat Komando Gabungan Yaman pada hari Senin (26/1) mengumumkan bahwa Angkatan Bersenjata Yaman sengaja menargetkan kapal tersebut di Teluk Aden, meskipun kapal itu melewati Laut Merah, dengan rudal tipe Bahr al-Ahmar (Laut Merah). Dia menjelaskan bahwa penargetan kapal di Teluk Aden dimaksudkan untuk mengirim pesan kepada musuh bahwa semua titik di dalam zona terlarang berada dalam jangkauan mereka.
Dia mengungkapkan bahwa kapal Inggris Marlin Luanda menjadi sasaran rudal tipe Laut Merah, dan menegaskan bahwa rudal Bahr al-Ahmar diproduksi secara lokal dan dikembangkan dari rudal Sa’ir, rudal jarak menengah yang beroperasi dengan sistem termal dan radar.
Rekaman yang dirilis oleh media militer mencakup momen pelacakan kapal dan lokasi di mana pasukan maritim dan rudal mengambil keputusan untuk menargetkan kapal Inggris tersebut. (alalam)










